Showing posts with label bush. Show all posts

Sebuah Pengadilan Kejahatan Perang di Malaysia telah menemukan bahwa mantan Presiden AS George W. Bush dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair bersalah atas kejahatan perang terkait peran mereka dalam perang Irak, lapor Press TV.
Lima panel Pengadilan Kejahatan Perang Kuala Lumpur memutuskan bahwa Bush dan Blair melakukan genosidadan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan memimpin invasi ke Irak pada tahun 2003, seorang koresponden Press TV melaporkan pada hari Selasa kemarin (22/11).
Pada tahun 2003, AS dan Inggris menginvasi Irak dalam sebuah pelanggaran terang-terangan hukum internasional atas dalih mencari senjata pemusnah massal yang diduga ditimbun oleh mantan diktator Irak Saddam Hussein.
Para hakim pengadilan Malaysia memutuskan bahwa keputusan untuk berperang melawan Irak oleh dua mantan kepala pemerintahan tersebut adalah penyalahgunaan mencolok atas hukum dan tindakan agresi mereka telah menyebabkan pembantaian besar-besaran rakyat Irak.
Pemboman dan bentuk-bentuk lain kekerasan menjadi biasa di Irak tak lama setelah invasi kedua negara itu.
Dalam putusannya, majelis hakim juga menyatakan bahwa AS, di bawah kepemimpinan Bush, membuat dokumen palsu bahwa seakan-akan Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD).
Namun, dunia kemudian mengetahui bahwa mantan rezim Irak tersebut tidak memiliki WMD dan pemimpin AS dan Inggris tahu ini semua secara bersama.
Lebih dari satu juta warga Irak tewas selama invasi, menurut organisasi yang berbasis di California.
Para hakim juga mengatakan temuan pengadilan harus disediakan untuk penandatangan Statuta Roma, yang mendirikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), dan menambahkan nama Bush dan Blair dalam daftar kejahatan perang.(fq/prtv)



KANADA – Kelompok Hak Asasi Manusia, Amnesty, memintah Pemerintah Kanada untuk menangkap mantan Presiden Amerika (Lakanatullah), George W. Bush, ketika Bush datang ke Kanada pada pekan depan untuk berpartisipasi dalam pertemuan puncak ekonomi di British Kolombia.

Hal tersebut disampaikan Amnesty pada Rabu (12/10/2011). Amnesti menyatakan bahwa Kanada harus mengadili atau mengekstradisi Bush atas “pelanggaran yang terjadi antara tahun 2002 dan 2009 terkait program CIA dalam menjalankan penjara rahasia”.
Harian berita politik online melaporkan bahwa Amnesty menyiapkan memorandum setebal 1000 halaman yang ditujukan kepada pihak yang berwenang di Kanada, meminta mereka untuk mengadili mantan Presiden Amerika atas pelanggaran hak asasi manusia.
Susan Lee, Direktur Amnesty di Amerika Serikat, menyatakan bahwa Kanada diwajibkan oleh kewajiban internasional untuk menangkap Bush dan mengirimnya ke pengadilan karena Bush telah melakukan kejahatan menurut hukum internasional, diantaranya penyiksaan tahanan.
Amnesty mengatakan bahwa Kanada memiliki kewajiban internasional untuk menangkap Bush untuk memenuhi komitmen Konvensi PBB Menentang Penyiksaan.
“Dengan menahan diri untuk mengambil tindakan, Kanada akan mendemonstrasikan penghinaan terhadap hak asasi manusia yang dijamin oleh semua undang-undang internasional dan peraturan” kata Lee.
Lee menambahkan bahwa kegagalan menangkap dan mengadili Bush akan melanggar komitmen internasional, karena Bush secara resmi memerintahkan penggunaan “teknik interogasi yang ditingkatkan, dan penggunaan dari perlakuan kejam, merendahkan dan tidak manusiawi”.
Menanggapi hal tersebut, Menteri yang Kewarganegaraan dan Imigrasi, Jason Kenney, bersikap sinis atas tuntutan Amnesty dengan mengatakan, “Amnesty tidak pernah meminta penangkapan Presiden Kuba Fidel Castro, dan diktator lainnya”.

Penjahat diminta mengadili bosnya penjahat. Yang ada bukan menahan tapi membela dengan seribu satu alasan. (dbs/arrahmah.com)

Dalam preview sebuah film dokumenter PBS Frontline yang akan datang, John Rizzo, salah satu pengacara papan atas untuk Central Intelligence Agency (CIA), mengklaim bahwa Presiden Barack Obama telah "mendukung" hampir semua program pemerintahan Bush yang kontroversial terkait perang rahasia.
"Saya adalah bagian dari briefing transisi dari tim Obama, dan mereka memberi sinyal yang cukup dari awal bahwa Presiden percaya untuk masuk dalam usaha, secara kuat dan agresif, dan melanjutkan program kontraterorisme," kata Rizzo dalam film dokumenter tersebut.
"Dengan pengecualian dari program interogasi, pemerintahan Obama datang dengan merubah kebijakan yang hampir tidak ada hubungan dengan program dan operasi CIA yang ada," kata Rizzo.
"Segalanya berlanjut. Otoritas pemerintah yang baru melanjutkan apa yang awalnya diberikan oleh Presiden Bush sesaat setelah 9/11. Semua program dijemput, dikaji dan disahkan oleh pemerintahan Obama."
Program perang rahasia di bawah pemerintahan Obama sebenarnya telah diperluas sejak tim Bush meninggalkan pemerintahannya.(fq/prtv)



Mantan Presiden AS, George W Bush bersama dengan wakilnya Dick Cheney dalam sebuah pidato selama masa pemerintahannya. Meski telah mengakhiri masa pemerintahan, duo ini diklaim masih memiliki pengaruh kuat lewat NAU. (Foto: Public Interest)
Mantan Presiden AS, George W Bush bersama dengan wakilnya Dick Cheney dalam sebuah pidato selama masa pemerintahannya. Meski telah mengakhiri masa pemerintahan, duo ini diklaim masih memiliki pengaruh kuat lewat NAU. (Foto: Public Interest)
WASHINGTON  – Presiden Barack Obama, Kongres AS, atau bahkan British Petroleum sering dijadikan sasaran dan disalahkan atas semakin memburuknya bencara tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Tapi, mungkinkah George W. Bush, Dick Cheney dan para kolega mereka masih mengendalikan Amerika?
Menurut David Jones seperti dikutip agensi berita SuaraMedia dari Le Canadian, hal itu mungkin saja masih terjadi, karena agaknya Bush dan Cheney masih menguasai Amerika melalui agenda NAU. Apa itu NAU? NAU, atau yang lebih formalnya bernama Security and Prosperity Partnership of the North American Union adalah sebuah mekanisme yang dijalankan pemerintahan George W, Bush pada tahun 2005 lalu.
"Demokrasi Amerika mati pada tahun 2005. Terus dilaksanakannya pemilihan umum di Amerika Serikat hanya sebuah alat yang sengaja dibuat untuk memberikan kesan kepada rakyat AS dan menimbulkan kesan bahwa mereka yang memegang kendali," tulisnya.
Ia menambahkan, "George W. Bush dan para koleganya membentuk kekuasaan diktator yang tampaknya dijalankan oleh gabungan politik, militer, dan industri. Pada tahun1961, Dwight D. Eisonhower, mantan presiden AS, pernah memperingatkan mengenai hal itu, menurutnya hal itu akan menghancurkan demokrasi AS."
"Namun demikian, Alex Jones melaporkan bahwa saat hujan beracun mengakibatkan kekacauan di jalanan, dengan melambungnya harga makanan, hukum sudah dipersiapkan untuk mengubah Amerika menjadi masyarakat yang dijalankan pemerintah otoriter seperti China. George W. Bush merancang aturan itu. Aturan itu disetujuai George W. Bush melalui instruksi khusus presiden dan melibatkan hukum militer.
"Barack Obama dan Kongres AS agaknya mendapatkan perintah dari sebuah persekutuan kapitalis dan aristokrat (kapitalistokrasi), termasuk Big Oil. Tampaknya, memburuknya bencana minyak Teluk memang merupakan keinginan NAU," tulis Jones.
"Jadi, mengapa harus menyalahkan Barack Obama (atau Kongres, atau bahkan BP)?. Obama (bersama Kongres) hanya menjalankan pekerjaannya. Meski (Obama) dimakzulkan, sebuah hal yang kemungkinannya kecil, itu tidak masalah karena kelompok NAU hanya tinggal menggantinya dengan perwakilan lain.
"Obama adalah seorang ‘presiden seremonial’ saja, mirip dengan Ratu Inggris. Obama hanya hadir untuk menjadi alat humas terbaik atas nama George W. Bush dan para koleganya, mengenai tumpahan minyak, perang tanpa henti di Timur Tengah, dan juga di sejumlah lokasi lain," pungkasnya.
Februari lalu, sebuah surat kabar Inggris mengatakan bahwa penjara rahasia yang dipelihara oleh pemerintahan Presiden Barack Obama di Afghanistan telah membahayakan dunia Barat.
Penyiksaan terhadap Binyam Mohamed, yang ditangkap dengan tudingan "terorisme" dan disiksa di Pakistan tampaknya merupakan sisa-sisa penyiksaan era pemerintahan George W. Bush.
Dalam sebuah artikel The Independent yang ditulis oleh Johann Hari, disebutkan: "Salah satu alasan yang membuat Obama terpilih sebagai presiden adalah keyakinan bahwa Obama akan mampu mengeluarkan kita dari perangkap ini, tapi yang terjadi justru sebaliknya, kita semakin terbenam dalam hal ini. Pemerintah Obama semakin memperluas perang Afghanistan dan menghadirkan pertempuran di negara Muslim lainnya."
Hari menambahkan bahwa CIA dan tentara bayaran kini beroperasi di Pakistan atas perintah Obama. Karena CIA mengirimkan pesawat tanpa awak dan menjatuhkan bom dan mengirimkan agen rahasia untuk menculik para tersangka. Sebagian besar korban jiwa yang ditimbulkan adalah warga sipil. "Kita mungkin tidak menyadari hal itu, tapi dunia Muslim tahu benar hal itu, tonton saja Al Jazeera setiap malam," tulis Hari.
Menurut Hari, Obama pernah berjanji akan menghapuskan jaringan penjara rahasia dan penculikan yang dioperasikan Bush. Hari menuliskan: "Saya tidak ingin mendengar pernyataan yang menyebutkan bahwa ini adalah dunia baru, dan kita menghadapi musuh baru. Saya tahu itu, tapi sebagai orangtua, saya juga bisa membayangkan bagaimana rasanya jika ada anggota keluarga saya yang diculik tengah malam dan dikirimkan ke Guantanamo tanpa diberi kesempatan bertanya dimana lokasi penahanan mereka." (dn/lc/sm/suaramedia)

WASHINGTON  – Meski perang di Afghanistan sudah berlangsung selama 10 tahun, agaknya itu belum cukup bagi George W. Bush. Bush mengatakan, masih belum waktunya menarik diri dari Afghanistan.
"Yang saya khawatirkan tentu saja jika Amerika Serikat lelah berada di Afghanistan, (merasa perang) itu tidak perlu dan pergi," kata Bush dalam wawancara pada program On the Record with Greta Van Susteren yang ditayangkan Fox News, Kamis (31/3).
"Baik Laura maupun saya sama-sama yakin bahwa jika itu terjadi, maka (kaum) wanita akan kembali menderita. Kami tidak percaya Amerika Serikat atau dunia ingin menciptakan tempat perlindungan bagi para teroris dan diam saja melihat hak-hak wanita dilanggar," tambah Bush.
Wawancara itu dilakukan saat The George W. Bush Institute di Dallas menggelar konferensi selama dua hari mengenai peluang ekonomi kaum wanita di Afghanistan, sebuah isu yang juga didukung Laura Bush saat masih tinggal di Gedung Putih.
"Kami ‘memerdekakan’ Afghanistan dari Taliban karena (mereka) menyediakan perlindungan bagi Al Qaeda," kata Bush dalam wawancara dengan Van Susteren. "Saya yakin, baik dulu maupun sekarang kita berkewajiban membantu agar demokrasi yang masih hijau di Afghanistan bisa bertahan, dan salah satu cara yang paling baik dan efektif adalah memperkuat kaum wanita," tambah Bush.
Bush menambahkan, dirinya sudah mendengar ada "perkembangan besar" di berbagai kota di Afghanistan, meski masih sering ditemui "prasangka yang sudah ada sejak lama" terhadap kaum wanita.
"Khususnya di kawasan pedesaan di Afghanistan, kaum wanita masih mendapatkan perlakuan kejam," kata Bush. "Jadi, tujuannya bukanlah melihat dan mengatakan betapa buruknya hal itu, namun memikirkan bagaimana membuatnya baik."
"Isolasi akan membantu mengakhiri perlakuan buruk terhadap beberapa orang, sebuah hal yang menurut saya tidak bisa dibiarkan oleh negara kita," kata Bush.
Setelah tidak lagi menjabat presiden, Bush tidak banyak terlihat. Wawancara itu merupakan satu dari sedikit kesempatan Bush memberikan komentar perihal invasi Afghanistan, yang diluncurkan Bush pada 2001, sejak sang mantan presiden meninggalkan Gedung Putih.
Laura Bush juga berbicara kepada Van Susteren dan menekankan kembali perlunya memperkuat kaum wanita di Afghanistan.
"Kita tahu bahwa perekonomian tidak bisa berhasil jika semua pihak tidak dilibatkan. Di sebuah negara yang separuh populasinya, yang kaum wanitanya tidak diikutsertakan dalam perekonomian dan tidak bisa bekerja, kita melihat negara dan perekonomian yang runtuh,"  kata Laura Bush.
Pada awal Maret lalu, Rajiv Chandrasekaran dari Huffington Post melaporkan bahwa pemerintahan Obama mengurangi ekspekstasi dan mengurangi fokus dalam upaya transformasi hak-hak wanita dibanding sebelumnya. Seorang pejabat senior mengatakan, "Isu gender akan disisihkan demi prioritas-prioritas lain. Tidak mungkin kita bisa berhasil jika kita tetap mempertahankan kepentingan khusus dan keinginan pribadi. Hal itu membuat kita jatuh."
Pemerintahan Obama mengatakan bahwa pihaknya akan secara perlahan menyerahkan tanggung jawab kepada pasukan keamanan Afghanistan saat AS menarik pasukannya antara musim panas ini dan akhir tahun 2014.
Tapi, sebuah laporan Government Accountability Office, lembaga pengawas pemerintah, yang dirilis Januari lalu mempertanyakan apakah inti dari strategi keluar pemerintahan Obama dari Afghanistan itu bisa berjalan sesuai yang dijanjikan. (dn/hp/cn) www.suaramedia.com

Mantan presiden AS, George W Bush berbicara dalam sebuah pidato selama masa pemerintahannya. Bush dikenal dengan kebijakannya terkait pencarian dan pemusnahan gerakan al Qaeda. (Foto: LIFE)WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Seorang pakar komputer mampu mengantongi uang lebih dari £13 juta setelah sebelumnya membodohi dinas intelijen AS, CIA. Ia mengaku telah mengembangkan sebuah perangkat lunak yang diklaimnya mampu menghentikan serangan-serangan al Qaeda. Demikian yakinnya para pejabat intelijen dengan Dennis Montgomery sehingga mantan Presiden George W. Bush, atas informasi dari Montgomery, sampai memerintahkan pesawat penumpang yang terbang dari London agar berbalik ke Atlantik karena khawatir pesawat itu dibajak.
Bahkan sempat muncul wacana untuk menembak jatuh pesawat tersebut karena mereka khawatir "para pembajak" akan menabrakkannya ke sejumlah target di AS pada 2003.
Tapi, informasi tersebut, sama seperti informasi-informasi lain dari Montgomery, 57, adalah informasi palsu.
Karena salah satu pesawat menuju ke Perancis, para pejabat pemerintahan Perancis merasa marah sehingga mereka melakukan investigasi sendiri terhadap teknologi Montgomery dan menemukan bahwa informasi yang diberikan palsu.
Seorang mantan agen CIA mengaku bahwa CIA kemudian sadar telah ditipu dan mengatakan, "Kita telah dipermainkan."
Tapi, bahkan pada 2008, ia mengklaim mendapat data intelijen bahwa teroris di Somalia berencana mengacaukan upacara pelantikan Presiden Obama di Washington D.C.
Pembuat program itu dikontrak senilai lebih dari £13 juta setelah mampu meyakinkan CIA dan Angkatan Udara AS bahwa perangkat lunaknya mampu menguraikan pesan berisi kode yang dikirimkan di antara teroris.
Montgomery mengklaim programnya mampu menemukan plot-plot tersembunyi teroris dalam siaran televisi dari Al Jazeera.
Ia juga mengaku perangkat lunaknya mampu mengidentifikasi para pentolan teroris dari foto-foto yang diambil dari pesawat tanpa awak dan mendeteksi suara dari kapal selam musuh. Ia juga mengklaim programnya "dapat menyelamatkan nyawa rakyat Amerika."
Tapi, sebuah penyelidikan yang dilakukan New York Times menemukan bahwa Montgomery adalah penipu dan dokumen-dokumen pengadilan yang membuktikan kegagalan perangkat lunak itu dirahasiakan Departemen Kehakiman AS. Tujuannya, agar para petinggi intelijen tidak malu.
Montgomery tidak mendapat tuntutan atas penipuan, ia juga tidak pernah diperintahkan untuk mengembalikan uang tersebut.
Saat ini, Montgomery tengah menunggu persidangan di Nevada atas sejumlah tuduhan tidak terkait, ia dituding memberikan cek palsu senilai £1,1 miliar di sejumlah kasino di Las Vegas.
Montgomery yang dulu pernah menjadi teknisi biomedis memang dikenal gemar berjudi.
Michael Flynn, mantan pengacara Montgomery yang kini menyebut mantan kliennya itu penipu, mengaku yakin bahwa pemerintahan Bush menutup penyelidikan terhadap Montgomery karena khawatir ketahuan telah ditipu.
"Departemen Kehakiman coba menutup-nutupi hal ini," kata Flynn. "Jika ini terungkap, maka semua bukti, semua alarm teror palsu, dan semua hal yang memalukan juga akan terungkap. Pemerintah tahu bahwa teknologi ini tipuan, tapi para pembuatnya dibayar jutaan."
Departemen Kehakiman menolak membahas kesepakatan pemerintah dengan Montgomery. (dn/dm/nt) www.suaramedia.com

Sepertinya tak ada lagi tempat aman di dunia ini buat mantan presiden AS George W. Bush, karena para aktivis hak asasi manusia bersumpah akan mengejar Bush kemanapun dia pergi. Para aktivis HAM itu sudah mengajukan gugatan hukum sebagai terhadap Bush atas tuduhan penjahat perang, ke mahkamah internasional di Jenewa, Swiss.
"Cakupan Konvensi Anti-Penyiksaan sangat luas--kasus ini sudah dipersiapkan dan tinggal menunggu Bush saja kemanapun dia pergi," kata Katherine Gallagher, pengacara dan wakil presiden International Federation for Human Rights (FIDH), Senin (7/2).
Mantan presiden AS George W. Bush belum lama ini dikabarkan membatalkan rencana perjalanannya ke Swiss. Pernyataan yang dirilis sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional menyebutkan bahwa Bush membatalkan perjalanannya karena takut ditangkap begitu tiba di negara itu setelah mereka mengajukan gugatan atas kejahatan perang dan penyiksaan yang dilakukan Bush.
Gallagher mengatakan, hukum Swiss mensyaratkan kehadiran pelaku kejahatan di negara Swiss sebelum penyelidikan awal atas kasus itu dibuka. Selain FIDH yang berbasis di Paris, organisasi HAM lainnya yang ikut mengajukan gugatan antara lain European for Constitutional and Human Rights serta Centre for Constitutional Rights.
Sementara itu, Human Rights Watch yang berbasis di New York menyatakan bahwa para pejabat pemerintahan AS sendiri yang harus mengajukan gugatan hukum terhadap Bush. "Pemerintah AS yang harus memimpin inisiatif untuk menyelidiki mantan presiden Bush dan pejabat senior lainnya, yang telah memberikan mengesahkan cara-cara penyiksaan terhadap para tersangka terorisme," kata Human Rights Watch, yang menilai urusan gugatan hukum terhadap Bush seharusnya tidak diserahkan pada negara lain. (ln/prtv)

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) - George W Bush, mantan presiden AS, telah membatalkan kunjungan ke Swiss di mana ia rencananya akan berpidato dalam sebuah acara Yahudi, karena klaim oleh kelompok hak asasi manusia bahwa ia memerintahkan penyiksaan terhadap tersangka terorisme. Bush adalah pembicara saat makan malam tahunan Keren Hayesod pada tanggal 12 Februari di Jenewa. Tapi tekanan semakin meningkat pada pemerintah Swiss untuk menangkapnya dan membuka penyelidikan kriminal atas tuduhan penyiksaan jika ia memasuki negara itu.
Juru bicara Bush David Sherzer kata presiden panjang dua diberitahu Jumat lalu oleh United Israel Banding makan malam pidatonya hari Sabtu di Jenewa telah dibatalkan.
"Kami menyesal bahwa pidato (Bush) telah dibatalkan," kata Sherzer kepada agensi berita Associated Press dalam sebuah e-mail pada hari Sabtu. "Presiden Bush sudah tak sabar untuk berbicara tentang kebebasan dan menawarkan renungan dari waktu ia menjabat."
Keluhan pidana terhadap Bush telah diajukan di Jenewa dan beberapa kelompok hak asasi manusia mengisyaratkan bahwa mereka siap untuk mengambil tindakan hukum lebih lanjut.
Pejabat Swiss mengatakan bahwa Presiden Bush masih akan menikmati kekebalan diplomatik tertentu sebagai seorang mantan kepala negara. Tapi Keren Hayesod penyelenggara merasa suasananya telah menjadi terlalu mengancam, takut bahwa protes yang akan diselenggarakan bertepatan dengan kunjungan itu bisa menjadi sebuah kerusuhan.
"Kami tidak ingin menempatkan orang dan harta benda di Jenewa berisiko. Gala ini akan tetap berlangsung namun George Bush tidak akan mengambil bagian," kata pengacara kelompok itu, Robert Equey kepada Tribune de Geneve.
Penyelenggara Protes menyerukan untuk setiap peserta untuk masing-masing membawa sepatu ke reli yang direncanakan berlangsung di luar tepi danau Hotel Wilson - dinamai untuk menghormati mantan Presiden Woodrow Wilson - mana makan malam itu akan diadakan. Sepatu itu dimaksudkan untuk mengingat saat ketika seorang wartawan Irak yang melemparkan sepatu kepada  Bush saat konferensi pers di Baghdad pada tahun 2008.
Beberapa kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Pusat untuk Hak Konstitusi berbasis di New York, berencana untuk meminta jaksa Swiss untuk membuka penyelidikan pidana terhadap Bush atas pengakuan bahwa dia secara pribadi mengijinkan praktek waterboarding pada tersangka terorisme.
Kepala Jaksa Jenewa, Daniel Zappelli, telah menerima pengaduan pidana tentang penyiksaan yang berhubungan dengan Bush, seorang jurubicara pengadilan mengatakan. "Kami menerima sejumlah keluhan. Kami tidak akan membuat komentar lebih lanjut," kata Christophe Tournier kepada Reuters.
Penyiksaan adalah kejahatan di bawah hukum internasional dan para ahli hak asasi manusia mengatakan bahwa larangan tersebut mutlak.
Bush, dalam bukunya "Decision Point", memoir pada masa kepresidenannya tahun 2001-2009, sangat membela penggunaan waterboarding, suatu bentuk simulasi tenggelam, pada tersangka terorisme sebagai kunci untuk mencegah terulangnya serangan mematikan 11 September di Amerika Serikat.
Sebagian besar hak asasi manusia para ahli menganggap praktek tersebut merupakan bentuk penyiksaan, dilarang oleh Konvensi  Penyiksaan, sebuah perjanjian internasional yang melarang penyiksaan dan perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan atau hukuman lainnya. Swiss dan Amerika Serikat termasuk di antara 147 negara yang telah meratifikasi perjanjian 1987 tersebut.
Dominique Baettig, seorang anggota parlemen Swiss dari blok sayap kanan, People's Party, menulis surat kepada pemerintah federal Swiss minggu lalu menyerukan penangkapan Presiden Bush atas tuduhan kejahatan perang jika ia datang ke negara itu.
The World Organisation Against Torture telah mengatakan bahwa Swiss adalah wajib di bawah kedua hukum domestik dan internasional untuk membuka penyelidikan atas tindak penyiksaan terhadap setiap individu di wilayahnya yang terlibat dalam kejahatan tersebut. (iw/tg/wt) www.suaramedia.com

Mantan Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld mengatakan dalam memoarnya bahwa mantan Presiden George W. Bush memerintahkan perang Irak hanya dua minggu setelah peristiwa 11 September.
Dalam otobiografinya yang dijadwalkan akan dirilis pada tanggal 8 Februari, Rumsfeld menulis bahwa 15 hari setelah insiden 9/11, ketika fokus Pentagon adalah pada perang Afghanistan, Bush memanggilnya ke kantornya dan memerintahkan untuk meninjau rencana bagi perang Irak.
“Dua minggu setelah serangan teror terburuk dalam sejarah bangsa kami ini, bagi kami di Departemen Pertahanan telah penuh dengan persoalan,” tetapi Bush menyerukan pilihan kreatif dengan memilih untuk menyerang Irak, The Huffington Post melaporkan pada hari Kamis kemarin (3/2).
Namun, Rumsfeld mengatakan perang Irak telah sepadan dengan biaya yang dikeluarkan dan ia tidak akan menawarkan permintaan maaf atas caranya menangani konflik di sana.
Dia mengatakan jika rezim mantan Presiden Irak Saddam Hussein tidak digulingkan, Timur Tengah akan jauh lebih berbahaya daripada sekarang ini.
Dia dan pejabat AS lainnya menyatakan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal sebagai alasan mereka untuk menyerang negara ini, tapi senjata tersebut tidak pernah ditemukan.
Pada tahun 2006, Rumsfeld dipecat setelah perang AS di Irak yang datang dalam kebuntuan setelah tiga setengah tahun.
Sejak invasi pimpinan Amerika ke Irak pada tahun 2003, setidaknya 4.440 tentara AS tewas dan lebih dari 31.830 orang lainnya terluka.
Perang yang menghancurkan juga telah menyebabkan lebih dari 1.300.000 warga sipil Irak tewas dan sekitar 4,7 juta warga Irak menjadi mengungsi, menurut laporan.
Di tempat lain di memoarnya, Rumsfeld melemparkan keraguan atas keterlibatan penuh militer AS di Afghanistan, mengatakan ia “tidak melihat lebih banyak pasukan AS sebagai solusi untuk banyak tantangan Afghanistan.”
“Mengirim lebih banyak tentara ke desa dan lembah-lembah di Afghanistan tidak akan memecahkan masalah negara itu dalam jangka panjang. Bahkan, mereka bisa memperburuk rakyat Afghan dengan mendorong kebencian di antara rakyat dan memberikan target lebih untuk musuh-musuh kita menyerang, “tambahnya.  (eramuslim.com, 4/2/2011)

Mantan presiden AS, George H.W. Bush memberikan hormat kepada para anggota kadet Texas A&M Coprs pada 30 Oktober 2010 di College Station, Texas. (Foto: AP)HOUSTON (Berita SuaraMedia) – Mantan presiden AS, George H.W. Bush mengaku tidak menyesali cara pemerintahnya menangani Perang Teluk, termasuk keputusan menarik keluar pasukan Amerika. Bush mengaku merasa nyaman bahwa saat-saat yang menentukan dalam kepemimpinannya adalah Perang Teluk yang pada pekan ini memasuki peringatan ke-20 tahun.
Dalam wawancara dengan Associated Press semalam, Bush juga mengaku merasa lega bahwa jumlah korban jiwa di kubu Amerika kala itu minimal setelah sebelumnya para pengkritik memperingatkan mengenai "ribuan kantong mayat" yang akan dibutuhkan untuk para korban. Ia juga mengaku tidak menyesal menghentikan perang itu saat Saddam Hussein tetap berkuasa di Irak.
Bush mengaku menurutnya ia tidak akan melakukan hal yang berbeda. Meski ia mengaku berharap Saddam akan "memperbaiki diri dengan cara tertentu," ia mengatakan bahwa misinya adalah memerdekakan Kuwait, bukan menggulingkan sang pemimpin Irak.
Bush mengatakan, jika dirinya memaksa untuk menggulingkan atau membunuh Saddam, maka ia menanggung risiko kehilangan dukungan dari negara-negara lain yang mendukung perang tersebut setelah invasi Kuwait.
James A. Baker III, menteri luar negeri Bush, ada bersama Bush dalam kantornya saat wawancara berlangsung. Baker mengatakan bahwa mengubah arah misi itu di tengah jalan justru akan membahayakan.
"(Jika itu dilakukan) kami akan mengingkari kata-kata kami kepada seluruh dunia," kata Baker. "Perang pembebasan akan berubah menjadi perang penjajahan."
Bush akan memperingati perang tersebut dalam reuni para pejabat tinggi pemerintahan AS di perpustakaan kepresidenannya di Texas A&M University.
Di perpustakaan yang terletak sekitar 100 mil sebelah barat laut Houston tersebut, yang dijadwalkan hadir di antaranya adalah mantan wakil presiden Dan Quayle, menteri pertahanan kala itu Dick Cheney, mantan pemimpin gabungan kepala militer Colin Powell, serta penasihat keamanan nasional Bush, Brent Scowcroft.
Emir Kuwait Sheikh Sabah Al-Ahmed Al-Jaber Al-Sabah adalah salah satu petinggi Kuwait yang dijadwalkan turut hadir.
Menurut Bush, meski dirinya sering bertemu para mantan koleganya dari waktu ke waktu, reuni tersebut akan menjadi yang pertama bagi tim yang "benar-benar pergi ke sana, melakukan yang kami katakan akan kami lakukan, kemudian pulang."
Yang akan absen adalah Jenderal Norman Schwarzkopf, komandan pasukan koalisi yang kondisi kesehatannya tidak baik. Bush mengatakan, kondisi kesehatannya membuat "seorang pahlawan hebat" tidak hadir.
Bush mengaku yakin Pendeta Billy Graham ada di Gedung Putih pada malam 16 Januari 1991, saat serangan udara dimulai. Mereka menyaksikan liputan televisi.
"Lalu kami mendengar mereka mengatakan pengeboman berhenti," kata Bush. "Ada kekhawatiran bahwa akan ada banyak anak yang tewas. Memang ada, tapi untunglah jumlahnya tidak sebanyak yang diprediksikan."
"Menurut saya, kapan pun seorang presiden harus memutuskan nasib putra atau putri seseorang dalam bahaya, itu adalah keputusan yang sulit. Anda mengkhawatirkannya. Tapi, kami yakin bahwa kami harus melakukan ini. Kami harus mengirimkan pesan bahwa kami akan menegakkan resolusi PBB dan memerdekakan negara itu."
Bush dan Baker mengingat perjuangan untuk meyakinkan Kongres yang kala itu didominasi Demokrat bahwa perang yang dijuluki Desert Storm itu merupakan keputusan yang tepat setelah pasukan Irak menginvasi Kuwait pada Agustus 1990.
"Ada banyak komentar yang menyebutkan mengenai ribuan kantong mayat kala itu, dan hal itu terus berlangsung disertai anggapan bahwa perang itu akan menjadi banjir darah bagi banyak orang," kata Bush.
"Mereka mengecam kami dengan gencar," kenang Baker. "Bagaimana bisa kalian melakukan ini? Ada berapa ribu orang yang akan tewas? Tapi, tidak hanya itu, bagaimana bisa kalian mengerahkan sumber daya negara ini untuk petualangan ini saat rakyat keelaparan dan situasi dalam negeri dan bla, bla, bla."
Menurutnya, di bawah arahan dari Bush, dia dan para pejabat pemerintahan lainnya "berkeliling dunia dengan membawa cangkir timah (wadah peminta-minta)" dan mendapatkan $15 miliar dari Kuwait, $15 miliar lainnya dari Arab Saudi, serta miliaran dolar dari yang lainnya.
"Kami mampu membuat perang ini sebagian besarnya dibayar oleh orang-orang yang kami selamatkan," kata Baker. Menurutnya, perang itu adalah perang pertama dan satu-satunya dalam sejarah AS yang biayanya didapat dari pihak-pihak lain.
Pengeluaran AS berjumlah "$10 miliar dalam sebuah perang yang pada akhirnya menelan biaya $70 miliar," kata Baker. "Ya, kita memang membayar bagian kita dan kehilangan 370 orang warga Amerika pemberani. Itu tidak ternilai, tapi ini merupakan perang pertama dan satu-satunya dalam sejarah negara ini yang dibayari orang-orang lain."
Bush dan Baker mengatakan, sejumlah penentang perang kemudian mengakui kritikan mereka salah.
"Itu jauh lebih baik dari yang kami khawatirkan," kata Bush mengenai hasil akhir perang. "Kami khawatir (perang) itu akan menjadi buruk. Tapi, hasilnya jauh lebih bersih, jauh lebih cepat, kehilangan nyawa di kubu kita dan Irak jauh lebih kecil dibanding yang kami khawatirkan. Itu merupakan hal yang berarti."
"Kami katakan yang akan kami lakukan, kami melakukannya, mengambil pesan moral dari seluruh dunia, memerdekakan sebuah negara, kemudian mengirimkan pesan dalam proses itu bahwa Amerika Serikat bersedia menggunakan kekuatannya di seluruh dunia. Bahkan di belahan bumi yang tidak diperkirakan oleh orang-orang yang mendiaminya, dan saya rasa hal itu merupakan peristiwa sejarah yang dikenang."
"(Perang itu) tidak terasa seperti 20 tahun (lalu)," kata Baker. (dn/ta/lt) www.suaramedia.com


Tariq Ramadhan akhirnya mau tak mau selalu dihubung-hubungkan dengan nama Ikhwan. Bagaimana tidak, ia adalah cucu dari Imam Syahid Al-Bana. Tariq lahir dan tinggal di Swiss, dan sepanjang karirnya, ia mencoba untuk mencari berbagai titik temu antara Barat dan Islam, sekularisme dan keyakinan, bahwa semua itu akan bisa hidup damai berdampingan.
Pada era George W Bush, ia dilarang memasuki wilayah Amerika. Sekarang, larangan itu sudah dicabut. Berikut ini adalah petikan wawancaranya dengan Foreign Policy baru-baru ini.
Apa fokus Anda sebenarnya selama ini?
Saya sangat tertarik pada apa yang namanya solidaritas. Setelah lulus, saya pergi ke Amerika Selatan dan memulai dialog antaragama. Inilah titik balik dimana saya mulai memercayai keyakinan saya sepenuhnya. Saya melihat banyak orang miskin dan bagaimana mereka begitu mempertahankan keyakinan mereka. Itu adalah jawaban dari semua perjalanan saya.
Tapi di Jerman, Kanselir Angela Merkel mengatakan bahwa multikultur sudah gagal….
Tidak. Kenyataannya semua itu berjalan dengan baik. Sebenarnya hanya ada dalam pikiran kita saja bahwa Islam dan Barat itu tidak bisa berintegrasi. Sukses dari integrasi dua hal itu bukan untuk dibicarakan.
Bagaimana menurut Anda tentang George Bush—mantan Presiden AS itu?
Ketika ia menyebut Islam sebagai agama yang damai, itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Ia bisa saja menyebut Islam itu sebagai agama perang, seperti Kristen atau Yudaisme. Ketika saya berpergian ke banyak negara Muslim, saya selalu bilang: kita ini bukan korban. Tapi orang –orang di negara Muslim, selalu merasakan dalam posisi sebagai korban.
Anda selalu menjadi target dari orang-orang yang populis dengan agenda yang spesifik….
Biar saja. Politisi selalu bermain untuk pemilu berikutnya. Saya berkiprah untuk generasi saya berikutnya…
Pendapat Anda tentang perang Afghanistan?
Amerika tak akan pernah menang di Afghanistan. Mereka sudah kalah, bahkan. Untuk negara-negara Muslim, masalahnya adalah rasa frustasi terhadap Amerika begitu dalam, dan semua negara Muslim ini gembira, AS sudah kalah di Afghanistan. Tapi banyak orang tidak tahu dan tidak paham apa yang akan menjadi lebih buruk lagi terhadap Afghanistan daripada keadaan yang sekarang ini tengah terjadi. (sa/foreignpolicy)

Mantan presiden AS, George W Bush nampak memeluk Presiden Afghanistan, Hamid Karzai dalam pertemuan di gedung kepresidenan di Kabul pada Desember 2008 silam. (Foto: This is London)KABUL (Berita SuaraMedia) – Menurut sebuah dokumen diplomatik dari Duta Besar AS di Afghanistan, Presiden Hamid Karzai termakan "konspirasi anti-AS" dan yakin bahwa para pejabat AS menentangnya, oleh karena itu, Karzai merindukan tahun-tahun awal masa pemerintahan Bush. Kawat tersebut dikirimkan pada Juli 2009, bulan yang menjadi bulan paling mematikan bagi pasukan asing sejak invasi ke Afghanistan diawali pada 2001. Meningkatnya angka kematian prajurit terjadi akibat serangan untuk menyingkirkan Taliban di Provinsi Helmand yang dikenal kaya ladang opium, selain itu, meningkatnya kekuatan bom pinggir jalan juga menjadi faktor.
Pada 7 Juli, saat Duta Besar Karl Eikenberry bersua Karzai, sang presiden Afghanistan justru menengok ke belakang, bukannya ke depan. Karzai merindukan masa-masa awal pemerintahan Bush yang disebutnya "masa keemasan".
"Karzai kemudian kembali membahas tema yang familier, yakni keinginannya agar hubungan AS-Afghanistan memulihkan kembali semangan tahun 2002-2004, sebuah rentang waktu yang dianggap Karzai sebagai ‘masa keemasan’ dalam hubungan kedua negara," tulis Eikenberry dalam kawat tertanggal 16 Juli yang didapat WikiLeaks dan dipublikasikan New York Times.
"Dia (Karzai) ingin pasukan AS kembali dapat mengemudikan jip-jip humvee melalui desa-desa di Afghanistan, mendapat sambutan hangat dari para penduduk desa yang menyapa, ‘Selamat pagi, Sersan Thompson.’ Karzai  mengklaim, seperti yang sering ia lakukan, bahwa kekhawatirannya seiring terkikisnya kepercayaan publik terhadap AS merupakan faktor pendorong meningkatnya kritikan terkait jatuhnya korban sipil, serbuan dan penangkapan di malam hari," tulisnya.
Eikenberry mempermasalahkan keinginan Karzai yang mendambakan "zaman keemasan" dan mengingatkan sang presiden bahwa ia semestinya menatap ke depan, ke arah masa depan ketimbang harus menengok balik ke masa lalu.
Bahkan pada periode 2002-2004, kata Eikenberry kepada Karzai, sudah jelas "masalah timbul saat fokus keamanan dan rekonstruksi bergeser dan mengalami penurunan seiring kurangnya sumber daya dan strategi yang menyeluruh."
"Saya menekankan kepada Karzai bahwa tujuan utama kita (AS) di Afghanistan bukanlah memenangkan dukungan publik bagi AS, tapi membantu pemerintah Afghanistan merebut hati dan pikiran rakyatnya sendiri dengan memudahkan penyediaan layanan dasar serta pemerintahan yang efektif untuk rakyat," tulis Eikenberry.
"Dalam waktu lima tahun, kami perkirakan pasukan kami masih ada di Afghanistan, namun sebagian besarnya berperan sebagai penasihat dan pelatih untuk mendukung Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan di berbagai sektor, seperti logistik, bantuan udara, intelijen, dan lain-laon. Mengembalikan harapan masa depan kepada Karzai. Saya katakan kepadana bahwa Amerika tidak ingin para prajuritnya dipuji di seluruh penjuru Afghanistan, mereka justru semakin tidak sabar menantikan pasukan dan kepolisian Afghanistan yang benar-benar mampu menyediakan keamanan kepada penduduk Afghanistan. Waktu ada batasannya."
Dita Besar William Taylor, wakil presiden di Institut Perdamaian Amerika Serikat, berada di Afghanistan pada 2002 hingga 2003 dan bekerja untuk menteri keuangan Afghanistan serta Kedutaan AS, mengoordinasikan bantuan internasional yang masuk ke negara itu. Ia kembali ke Afghanistan dua atau tiga kali setahun, terakhir dilakukannya beberapa pekan lalu. Ia mengatakan, keamanan dan hubungan antarmanusia menjadi lebih baik sesaat setelah invasi, meski ada kekurangan signifikan di berbagai bidang lain.
"Saya bepergian bersama militer, tapi saya juga bepergian dengan para pemberi bantuan, USAID serta sebagian mitra-mitra mereka, tanpa pengamanan yang terlalu banyak," katanya kepada Huffington Post, Selasa (28/12).
"Jadi, kami dapat bepergian sesuka kami. Saat kami dalam perjalanan, saya dikejutkan dengan sikap hangat warga Afghanistan terhadap (orang) Amerika. Itu adalah saat yang amat baik bagi hubungan rakyat kedua negara," katanya.
Akan tetapi, kala itu pasokan sumber daya dari luar ke Afghanistan tidak memadai, hal itu mempersulit terjadinya perkembangan.
"Tentu saja, secara khusus masalahnya adalah sumber daya yang tersedia untuk Amerika Serikat, dan secara umum untuk para mitra aliansi lainnya. Yang tersedia bahkan tidak mendekati yang diperlukan untuk mencapai perkembangan, baik dalam rekonstruksi dan pelatihan, serta perlengkapan pasukan dan polisi," tambah Taylor.
"Jadi, mengenai hal itu, itulah yang kami tahu karena kini kami mampu mengirimkan sumber daya ke sana. Sumber daya yang tersedia bagi kedutaan dan koalisi saat ini, dalam hal bantuan prajurit dan dana, jauh lebih kecil jika dibanding tahun 2002 dan 2003," tambahnya.
Menurut laporan itu, Karzai juga disebut berfokus pada "teori konspirasi anti-AS" dan mengambil pendekatan "menyalahkan Amerika" yang membuat resah Eikenberry dan lebih lanjut lagi, membuatnya dan pemerintah Afghanistan tidak lagi terlihat sebagai mitra yang saling percaya. Ia sering mengatakan kepada para pejabat senior AS yang berkunjung bahwa AS telah gagal di Afghanistan, dan ia menolak mengakui perkembangan apa pun akibat kontribusi AS.
Selain itu, Karzai juga yakin bahwa para pejabat pemerintahan Obama membantu lawan-lawannya, termasuk Abdullah Abdullah dan Ashraf Ghani, bukannya membantu dirinya untuk memenangkan kembali pemilu.
"Jelas bahwa Karzai memperkirakan (atau mengharapkan) mendapat dukungan pencalonan dari AS yang sama seperti yang diterimanya pada pemilu 2004 dan ia menganggap posisi netral kita dalam pemilihan umum kali ini sebagai bukti bahwa AS ‘menentangnya’," tulis Eikenberry.
James Dobbins adalah perwakilan pemerintahan Bush untuk kubu oposisi Afghanistan. Ia dikirim ke Afghanistan setelah 11 September 2001. Kepada Huffington Post, ia mengatakan bahwa meski hubungan pribadi lebih kuat dibanding tahun-tahun awal pemerintahan Bush, banyak harapan dari masing-masing kubu yang berlebihan sehingga menimbulkan kekecewaan setelahnya.
"Menurut saya, secara pribadi Karzai berterima kasih kepada AS," kata Dobbins. "AS berperan penting dalam prosesnya menjadi pemimpin, dan AS juga pastinya berperan dalam mendukung upayanya melawan Taliban. AS pun senang dengan munculnya Karzai sebagai pemimpin di belahan dunia tempat terjadinya ekstremisme dan kebencian terhadap orang asing. Ia agaknya memiliki pandangan yang modern, kosmopolitan, dan progresif. Secara keseluruhan, populasi Afghanistan berterima kasih kepada AS dan komunitas internasional yang mempertahankan rezim Taliban yang secara umum tidak populer, serta menjanjikan bantuan eksternal yang berlimpah, menurut saya sebagian dari pengharapan-pengharapan awal tersebut mengecewakan kedua belah pihak," tambahnya. (dn/hp) www.suaramedia.com
Powered by Blogger.