Showing posts with label Konsultasi. Show all posts

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya berniat memasukkan anak saya yang masih 7 tahun ke pesantren. Kami menginginkan pendidikan yang terbaik buat anak-anak kami. Apakah kewajiban saya sebagai ibu masih bisa maksimal, mengingat jarak antara rumah kami dan pesantren cukup jauh? Apa yang sebaiknya kami lakukan sebagai orang tua? Pada usia berapa sebetulnya saat yang tepat melepaskan anak untuk belajar di pesantren yang kuantitas pertemuan dengan orang tuanya dibatasi? Jazakillah atas jawabannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Brebes
Wa’alaikumsalam Wr.Wb.
Ibu TT yang baik,
Anak adalah anugerah yang diberikan Allah pada para orang tuanya. Kehadiran anak disebut sebagai berita baik, hiburan, dan perhiasan hidup di dunia. Anak juga sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah, pelanjut, penerus dan pewaris orang tua, sekaligus juga ujian. Sebagai amanah, semua yang dilakukan orang tua terhadap anaknya (bagaimana merawat, membesarkan dan mendidiknya) akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak, dan sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan sebaik-baiknya agar taat pada perintah Allah.
Ibu TT yang baik,
Anak usia 7 tahun  mulai memasuki masa tamyiz. Pada usia ini, anak belum memiliki kemampuan melaksanakan syariat secara sempurna. Kesempurnaan dalam melaksanakan syariat dibutuhkan dua kemampuan yaitu kemampuan memahami perintah yang membutuhkan kesempurnaan akal, dan kekuatan atau kemampuan secara fisik dalam menjalankannya. Mendidik anak di usia ini di samping melalui pembiasaan dan teladan, juga dengan cara memotivasi agar anak siap menjalankan ketaatan dan disiplin, hingga pola ketaatan dan disiplin senantiasa hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Ibu TT yang baik,
Rasulullah SAW telah memberikan contoh kepada kita bagaimana mengajarkan keterikatan terhadap hukum syara’ pada anak usia tamyiz, di antaranya adalah  dalam mendidik anak untuk membiasakan shalat. Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada para orang tua agar mengajarkan shalat kepada anak-anaknya sejak mereka berusia 7 tahun dan memukul mereka bila meninggalkannya pada usia 10 tahun. Sehubungan dengan hal ini, beliau telah bersabda:
Ajarilah anak shalat oleh kalian sejak usia 7 tahun dan pukullah dia karena meninggalkannya bila telah berusia 10 tahun”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud)
Nabi membariskan anak-anak pada shaf paling belakang dan memerintahkan kepada mereka untuk meluruskan shafnya. Ibnu Mas’ud berkata: ”Dahulu Rasulullah mengusap pundak kami sebelum shalatnya dan bersabda:
“Luruskanlah shaf kalian dan janganlah kalian tidak merapikannya, karena nanti hati kalianpun akan bertentangan” (HR. Muslim)
Ibu TT yang baik,
Pesantren sebaiknya tidak dijadikan solusi instan untuk mendidik anak, bisa jadi anak akan sejak dini mendapatkan ilmu. Akan tetapi kita perlu juga memperhatikan kebutuhan psikologis anak. Anak usia 7 tahun, masih membutuhkan kasih sayang dan kedekatan dengan orang tua secara intensif.Kehidupan di pesantren biasanya terdiri atas anak-anak dengan tipe karakter, kebiasaan dan latar belakang bermacam-macam. Anak usia 7 tahun, meski ketrampilan sosialnya sudah mulai berkembang, tetapi ketrampilan untuk menghadapi banyak karakter anak masih perlu bimbingan dan pengawasan.Kematangan emosinya terkadang juga masih bermasalah, seiring dengan akalnya yang belum sempurna. Tidak jarang anak-anak mengalami stres terkait dengan pola kebiasaan pendidikan di pesantren atau kehidupan bersosialisasi dengan teman-temannya. Keberadaan orang tua masih sangat dibutuhkan  untuk melindungi, menjaga, dan mendampingi anak dalam melakukan berbagai ketrampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan yang lebih mandiri. Tunda dulu keinginan Anda untuk memesantrenkan anak. Persiapkan dahulu anak dengan baik, dan kapan usia yang tepat, sebaiknya paling cepat setelah lulus SD, atau di usia sekolah menengah (SMP) sekitar 12 tahun.
[www.globalmuslim.web.id]



Dra (Psi) Zulia Ilmawati
Assalaamu’alaikum Wr.Wb
Saya seorang ibu RT dengan dua anak, satu putra dan satu putri. Si sulung 6 tahun dan si bungsu baru 3 tahun. Perlu ibu Zulia ketahui, saya masih tinggal dengan mertua. Anak-anak kami alhamdulillah tumbuh sehat dan menjadi cucu kesayangan kakek dan neneknya. Kami sekeluarga cukup bahagia, hanya saja ada sedikit masalah mengenai perbedaan cara pengasuhan terhadap anak-anak antara saya, neneknya dan sikap suami yang kurang peduli dengan perbedaan ini. Saya pernah  menyampaikan masalah ini pada suami. Tetapi dia malah mengatakan kalau hal yang demikian itu wajar dilakukan seorang nenek. Mungkin bagi dia ini masalah sepele, tetapi menurut saya tidak, karena perbedaan ini akan mengacaukan aturan yang selama ini saya terapkan. Saya bingung Bu, apa yang mesti saya lakukan. Saya tidak ingin persoalan ini berlarut-larut dan membuat hubungan saya dengan mertua menjadi bermasalah. Mohon bantuannya. Jazzakillah.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Ibu Nana
Bogor

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb
Ibu Nana yang baik,
Insya Allah saya bisa memahami kegelisahan yang Anda rasakan. Saya rasa persoalan seperti yang sedang Anda hadapi banyak juga dialami oleh keluarga yang lain. Hal ini sebenarnya wajar saja, di mana hubungan kekerabatan antara anak dengan orang tua dan cucu dengan kakek nenek dalam kehidupan masyarakat kita memang sangat dekat. Keberadaan grandparents memang terkadang tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Kedekatan hubungan antara cucu dengan kakek dan neneknya juga memiliki manfaat bagi kedua belah pihak. Bagi cucu, grandparenting bermanfaat untuk melengkapi pemenuhan kasih sayang selain dari orang tuanya yang memang merupakan salah satu hak anak, yaitu untuk mendapatkan kasih sayang yang utuh dari keluarga besar dan orang-orang di sekelilingnya. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang akrab dan hangat hubungan kekeluargaannya, akan tumbuh menjadi anak yang penuh kepercayaan diri, dan hidupnya Insya Allah akan kaya dengan kasih sayang.
Ibu Nana yang baik,
Sebagai orang tua, kita tentu sama-sama ingin mendidik anak-anak menjadi anak yang shalih dan shalihah.  Hanya saja keinginan itu terkadang tidak berjalan dengan mulus. Salah satu hal yang bisa menghambat proses pendidikan anak adalah, jika ada banyak pihak yang turut berperan dalam pendidikan anak-anak kita, tapi tidak satu jalan. Agak sulit memang mengatasi situasi yang demikian. Apalagi kalau yang mengacaukan program pendidikan yang sudah dibuat justru orang-orang terdekat seperti misalnya kakek dan nenek. Kondisi seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan terus menerus. Efek buruknya sangat besar bagi perkembangan anak. Anak-anak akan menjadi bingung perlakuan mana yang akan dipilihnya. Layaknya anak-anak biasanya memiliki kecenderungan untuk memilih dan mengikuti orang-orang yang selalu menuruti kemauannya (memuaskannya). Akibat selanjutnya bisa jadi mereka akan lebih nurut dengan kakek neneknya dari pada orang tuanya.
Ibu Nana yang baik,
Usahakan persoalan ini segera dibicarakan dengan suami dan mertua Anda. Sesibuk apapun suami Anda tentu tidak bisa begitu saja menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada ibu. Bagaimanapun peran ayah juga sangat penting, karena memang mendidik anak merupakan tanggung jawab bersama. Bicarakan baik-baik dengan suami, sampaikan padanya kegelisahan Anda selama ini. Sampaikan juga pentingnya mengarahkan anak-anak dengan pendekatan dan cara asuh yang sama. Bukankah sebuah kapal tidak akan sampai ke tujuan, jika banyak nahkoda yang menentukan arahnya? Ajaklah mertua berdiskusi tentang pentingnya pola asuh yang seragam, makna kasih sayang, dan cara mengekspresikannya. Tanpa diskusi dan komunikasi, pola asuh grandparenting dapat menimbulkan banyak konflik dan pertengkaran.  Bukan hanya antara anak dengan orang tua namun juga antara orang tua dan  kakek-nenek. Carilah suasana yang tepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang justru akan mengakibatkan persoalan baru. Insya Allah jika dibicarakan dengan cara baik-baik suami dan mertua akan dapat memahaminya. Toh semua ini demi kebaikan cucu-cucunya juga. Agar ketegangan tidak terjadi terus menerus ambillah sisi positifnya jika kakek nenek bisa tinggal bersama dengan keluarga. Anda akan merasa lebih tenang ketika meninggalkan rumah karena ada kakek nenek yang menemani anak-anak. Semoga Allah SWT menjadikan keluarga Anda sakinah. Amiin…



Dra (Psi) Zulia Ilmawati
Assalamu'alaikum Wr Wb
Ustadzah yang dimuliakan Allah, saya ingin bertanya. Bagaimana cara mengatasi anak yang suka sekali merengek, apalagi jika keinginannya tidak terpenuhi, maka rengekannya akan semakin menjadi-jadi. Sedangkan ketika saya mencoba memberi pengertian kepadanya, atau sesekali menolak permintaannya, maka si anak langsung diambil oleh neneknya (dialihkan perhatiannya agar tidak menangis). Apakah membiasakan dia menghindari masalah berpengaruh pada perkembangan emosinya ke depan? Bagaimana cara mengatasi rengekannya yang kadang sulit sekali untuk diberi pengertian? Bagaimana saya bersikap sebagai orang tua yang - maaf - kadang kebijakan saya kepada anak masih dicampuri oleh neneknya? Atas jawabannya saya ucapkan terimakasih banyak.
Wassalaamu’alaikum Wr.Wb
NN
Jawa Timur

Wa’alaikumsalam Wr.Wb
Ibu NN yang baik,
Setiap anak diberikan potensi hidup oleh Allah SWT yang salah satunya berupa naluri untuk mempertahankan diri. Rengekan merupakan salah satu manifestasi dari naluri mempertahankan diri pada anak, karena merengek biasanya dijadikan senjata ampuh anak-anak usia balita ketika meminta sesuatu yang diinginkan atau saat menerima ketidakadilan. Rengekan juga menjadi cara efektif yang dilakukan anak-anak untuk menarik perhatian orang tuanya. Meski sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar, orang tua sebaiknya menghadapi rengekan anak dengan cara yang tepat. Selalu mengabulkan permintaan si kecil ketika merengek, akan membuatnya belajar bahwa ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan merengek. Dan tentu saja ini bukan suatu pendidikan yang baik buat anak.
Ibu NN yang baik,
Hal penting yang semestinya kita pahami adalah jangan pernah membiarkan si kecil menjadikan rengekan sebagai kebiasaan. Ajarkan pada anak, bagaimana seharusnya mengekspresikan keinginannya. Berilah contoh yang baik bagaimana cara berkomunikasi yang efektif. Misalnya, jika si kecil menginginkan sesuatu, ajarkan dia berkata, "Mi, aku mau mobil-mobilanan itu. Boleh, tidak?” Selain itu, biasakan anak untuk membagi perasaannya. Seorang anak yang dapat mengutarakan perasaannya, kemungkinan besar tidak akan gampang merengek. Saat anak meminta sesuatu sambil menangis, jelaskan rengekannya itu tidak akan berhasil, sampaikan bahwa Anda hanya mau mendengarkannya jika dia menggunakan suara biasa. Jika rengekan si kecil mulai berkurang atau dia meminta sesuatu dengan manis, berikan reward. Penghargaan tak harus berbentuk barang. Pujian Anda yang tulus juga bisa membuat anak senang.
Ibu NN yang baik,
Bila cara-cara tadi belum berhasil, tak ada salahnya Anda mengalihkan konsentrasinya pada hal lain yang menarik perhatiannya. Hal ini bukan berarti menghindarkan anak pada suatu masalah. Tapi mengajarkan pada anak untuk menunda atau mengalihkan bahwa setiap keinginan yang merupakan manifestasi dari naluri tidak harus dipenuhi. Kondisi lelah, lapar, atau sakit bisa juga membuat anak rewel dan suka merengek. Karenanya, pastikan anak selalu terpenuhi kebutuhan jasmaninya secara cukup, dan mendapatkan lingkungan yang nyaman. Orang tua juga harus dapat menjadi contoh. Karena anak banyak belajar dari apa yang dia lihat dan dengar. Jika sekali waktu, tanpa sadar, Anda meminta pada anak atau pasangan, dengan cara merengek, jangan salahkan anak bila mencontohnya.
Ibu NN yang baik,
Jika ada nenek di rumah terkadang memang sulit untuk konsisten dengan pola asuh yang ingin kita terapkan pada anak. Tidak jarang nenek juga ikut mencampuri dan mewarnai pola asuh yang sudah kita terapkan. Tentu hal ini dilakukan nenek karena rasa sayang beliau pada cucunya. Hanya saja terkadang mengganggu karena apa yang dilakukan nenek biasanya cenderung untuk menuruti dan membuat senang cucunya. Sebaiknya komunikasikan dengan baik. Ajak nenek berbicara dan berdiskusi tentang pentingnya pola asuh yang konsisten agar anak tidak bingung. Jika Anda merasa tidak enak menyampaikannya, ajaklah suami untuk membicarakan masalah ini dengan nenek. Sampaikan pada nenek tentang pentingnya pola asuh yang seragam. Jika tidak terkomunikasikan dengan baik, tidak jarang campur tangan nenek akan menimbulkan kesalahpahaman, sekaligus juga dapat berakibat buruk pada perkembangan anak. Carilah suasana yang tepat agar keinginan Anda bisa tersampaikan dengan baik. Insya Allah jika dikomunikasikan dengan baik, nenek akan dapat memahaminya. Toh semua ini demi kebaikan cucunya juga. Semoga Allah SWT menjadikan ananda anak yang shalih…. Amiin…



Dra (Psi) Zulia Ilmawati
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Ustadzah yang dirahmati Allah, saya menikah tujuh bulan lalu. Tapi sampai saat ini rasa cinta saya kepada suami belum tumbuh. Bagaimana untuk menumbuhkan rasa cinta antara suami istri.   Kira-kira apa yang harus saya lakukan agar cinta itu tumbuh. Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Vivi
Tangerang

Wa’alaikumsalam Wr.Wb
Vivi yang baik,
Menikah adalah menjalankan sunnah Nabi, sesuai dengan fitrah manusia. Hikmah yang dapat diambil kalau sunnah Nabi ini dijalankan adalah munculnya ketentraman jiwa. Dengan pernikahan akan tumbuhlah kecintaan, kasih sayang, dan kesatuan antara pasangan suami istri. Dengan pernikahan, keturunan umat manusia akan tetap berlangsung semakin banyak dan berkesinambungan. Rasulullah SAW bersaksi tentang rumah tangganya dengan ungkapan yang sederhana, ”Baiti jannati”, ”Rumahku Surgaku”. Rumah laksana surga akan dapat dirasakan jika orang-orang yang ada di dalamnya dapat menjalin hubungan dengan penuh kasih sayang. Bukankah salah satu tujuan dari pernikahan agar tercipta kehidupan rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah.
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram bersamanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda (kekuasanan-Nya) bagi kaum yang berpikir". (QS. Ar-Ruum:30).
Vivi  yang baik,
Anda menikah dengan suami Anda sekarang tidak terpaksa kan? Karena dalam pernikahan ada syarat-syarat yang wajib dipenuhi. Salah satunya adalah kerelaan calon istri. Wajib bagi wali untuk menanyai terlebih dahulu kepada calon istri dan mengetahui kerelaannya sebelum diaqadnikahkan. Kelanggengan, keserasian, persahabatan tidaklah akan terwujud apabila kerelaan pihak calon istri belum diketahui. Islam melarang menikahkan dengan paksa, baik gadis atau janda dengan laki-laki yang tidak disenanginya. Kalau memang tidak terpaksa, insya Allah itu hanya soal waktu. Ada baiknya Anda mencari tahu sebabnya, kenapa sudah tujuh bulan rasa cinta itu belum muncul.
Vivi yang baik,
Cinta memang diperlukan dalam kehidupan suami istri. Dengan cinta akan muncul kasih sayang dan ketentraman. Kehidupan suami istri yang kering dan dingin tentu tidak akan memberikan kebahagiaan pada keduanya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan dan merawat cinta kasih di antara suami-istri. Misalnya dengan menumbuhkan rasa saling mengerti dan memahami sifat dan karakter masing-masing. Tidak ada salahnya bila Anda memahami dan mengerti dunia kerja, kesibukan atau kegiatan suami. Hal ini akan menumbuhkan sikap saling mendukung dan menguatkan bila suatu saat suami mengalami permasalahan. Memperhatikan hal-hal yang terkesan remeh, juga bisa menumbuhkan rasa cinta. Contohnya, menjaga penampilan atau mengucapkan kata-kata romantis pada pasangan kita. Jangan lupa berilah perhatian yang tulus dan luangkan waktu untuk bersama. Rasulullah SAW mengajarkan agar kebahagiaan dan rasa cinta  terjalin di dalam rumah tangga, salah satunya adalah dengan  mengerjakan shalat tahajud bersama pasangan hidup kita. Sebab, perbuatan tersebut dapat mengisi rumah tangga kita dengan kebahagiaan, kegembiraan, dan cinta.
Rasulullah SAW bersabda,
"Semoga Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun pada sebagian waktu malam, kemudian mengerjakan shalat (malam) dan membangunkan istrinya, dan jika sang istri enggan untuk bangun maka ia akan memercikkan air ke wajah istrinya; dan semoga Allah menyayangi seorang perempuan yang bangun pada sebagian waktu malam, kemudian mengerjakan shalat (malam) dan membangunkan suaminya, dan ketika suami enggan bangun maka ia akan memercikkan air ke wajah suaminya." (HR. Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Insya Allah shalat tahajud bersama akan memberikan tidak hanya suasana yang romantis, tetapi juga kekuatan cinta. Menumbuhkan cinta, dan menambah kedekatan hati dengan pasangan hidup kita. Saat itulah waktu yang sangat jernih untuk menemukan makna cinta dalam satu biduk rumah tangga. Insya Allah.



Diasuh oleh: Dra (Psi) Zulia Ilmawati
Assalaamu'alaikum Wr.Wb.
Saya ibu rumah tangga yang baru beberapa bulan lalu menikah. Saya punya persoalan yang agak rumit berkaitan dengan bagaimana mengatur keuangan. Apalagi menjelang lebaran yang harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Perlu ibu ketahui, sebelum menikah saya tidak pernah mengalami kesulitan dalam masalah ini. Kebetulan saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup secara finansial. Sewaktu masih kuliah dulu, kalau kehabisan uang saya tinggal telepon orang tua dan akan segera dikirim sesuai dengan yang saya perlukan. Setelah menikah saya terkaget-kaget juga. Apalagi penghasilan suami saat ini pas-pasan. Saya bisa memaklumi karena dia juga karyawan baru di sebuah perusahaan. Bagaimana caranya agar saya bisa sukses mengatur keuangan keluarga? Saya akui kalau saya memang tipe orang yang agak boros. Terima kasih atas saran-saran ibu.
Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.
Yuli
Bogor 


Wa'alaikumsalam Wr.Wb.

Ibu Yuli yang baik,
Menjadi ibu rumah tangga baru memang bukan sesuatu yang mudah. Saya bisa memahami kesulitan yang Anda hadapi, karena masalah ini merupakan persoalan baru dalam kehidupan Anda. Kalau dulu Anda perlu uang tinggal minta orang tua, sekarang tentu tidak bisa lagi. Anda sudah punya suami, dan sekarang orang tua sudah menyerahkan tanggung jawabnya pada suami Anda. Suami sebagai kepala keluarga memang wajib mencukupi kebutuhan nafkah isteri dan anak-anaknya dengan berbagai usaha yang halal. Nafkah yang cukup  merupakan unsur penting untuk terpenuhinya kebutuhan hidup dalam keluarga. Kebutuhan hidup sejatinya mencakup kebutuhan asasi seperti sandang, papan dan pangan, kebutuhan dharuri seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dan kebutuhan kamali. Keluarga akan dapat hidup sejahtera, mandiri, bahkan bisa memberi secara finansial jika cukup materi. Merasa cukup dengan nafkah yang diberikan suami sesungguhnya tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimiliki, tapi oleh perasaan qanaah (perasaan cukup) atas rizki yang Allah karuniakan. Karena sebesar apapun pendapatan kita, tidak akan bisa cukup kalau kita sendiri tidak merasa cukup dengan yang kita dapat. 

Ibu Yuli yang baik,
Munculnya kesadaran bahwa Anda tipe orang yang boros merupakan langkah awal yang baik untuk sukses mengatur keuangan. Langkah berikut bisa dilakukan. Cobalah buat anggaran sesuai kebutuhan bukan keinginan. Belajarlah untuk membuat skala prioritas mengenai kebutuhan keluarga. Aturlah sebaik mungkin jangan sampai lebih besar pasak dari pada tiang. Sebelum berbelanja Anda juga bisa melakukan survei harga-harga di toko. Carilah toko yang menjual barang-barang dengan harga miring tanpa mengurangi kualitas. Di sinilah diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam merencanakan, menyusun, dan melaksanakan rencana keuangan keluarga.

Ibu Yuli yang baik,
Walau Anda merasa keadaan yang dihadapi saat ini cukup sulit, apalagi dengan harga-harga kebutuhan hidup yang terus merangkak naik, tetaplah berusaha untuk selalu bersyukur. Dengan bersyukur, maka nikmat Allah akan terus bertambah.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (TQS. Ibrahim:7)

Bagaimana pun, Anda dan keluarga termasuk orang yang masih beruntung. Begitu lulus sekolah, langsung dapat suami. Tidak sedikit wanita yang harus menghidupi dirinya sendiri begitu selesai kuliah karena orang tua sudah tidak mau menyuplai terus menerus. Walau mungkin gaji suami pas-pasan, alhamdulillah dia masih bisa bekerja, di tengah sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Yang terpenting rezeki yang didapat adalah halal dan berkah, serta hidup berhemat. Cobalah mulai Anda pikirkan untuk mencari usaha tambahan yang mungkin bisa dilakukan tanpa mengabaikan peran utama sebagai ummun dan rabbatul bait. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan dan karuniaNya kepada Ibu dan keluarga. Amiin.[]



Diasuh oleh: Dra (Psi) Zulia Ilmawati
Assalaamu'alaikum Wr.Wb. 
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi keluarga yang saya hormati, Alhamdulillah kita dapat bertemu kembali dengan Bulan Ramadhan. Bulan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari siksa api neraka. Suasana Ramadhan sangat tepat untuk mengenalkan anak-anak dengan berbagai kegiatan ibadah. Salah satunya adalah mengajarkan Alquran. Anak saya sekarang berusia 3 tahun. Sejak kapan sebenarnya waktu yang tepat mengajar-kan Alquran pada anak, dan bagaimana cara mengajarkan Alquran untuk anak usia 3 tahun. Terima kasih untuk jawabannya.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Lia
Bogor



Wa'alaikumsalam Wr.Wb. 
Ibu Lia yang baik,
Setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya menjadi anak yang shalih dan shalihah.  Salah satu yang wajib diajarkan kepada anak adalah segala hal tentang Alquran karena Alquran adalah pedoman hidup manusia. Mengajari anak Alquran berarti mengajak anak untuk dekat kepada pedoman hidupnya. Dengan cara itu, mudah-mudahan kelak ketika dewasa anak-anak benar-benar dapat menjalani hidup sesuai dengan Alquran. Tak heran bila Rasulullah mengingatkan kita untuk mendidik anak dengan Alquran. Rasulullah SAW bersabda:

“Didiklah anak-anak kamu pada tiga perkara: mencintai Nabi kamu, mencintai ahli baitnya dan membaca Alquran, sebab orang-orang yang memelihara Alquran itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari tidak ada perlindungan selain dari pada perlindungan-Nya beserta para Nabinya dan orang-orang suci. (HR. Ath-Thabrani)


Ibu Lia yang baik,
Sejak kapan Alquran sebaiknya diajarkan pada anak? Tentu, sedini mungkin. Semakin dini semakin baik. Akan sangat bagus bila sejak anak dalam kandungan seolah-olah calon anak kita itu sudah terbiasa “hidup bersama” Alquran. Sang ibu harus senantiasa akrab dan terus berinteraksi dengan Alquran, baik dengan membaca langsung atau mendengarkan irama (murotal Alquran). Kalau ada teori yang mengatakan bahwa mendengarkan musik klasik pada janin dalam kandungan akan meningkatkan kecerdasan, Insya Allah memperdengarkan Alquran akan jauh lebih baik pengaruhnya buat janin. Apalagi jika sang ibu yang membacanya. Ketika membaca Alquran, suasana hati dan pikiran ibu akan menjadi lebih khusyu' dan tenang. Kondisi seperti ini, akan sangat membantu perkembangan psikologis janin yang ada dalam kandungan. Ibu yang sering mengalami stres, tentu akan berpengaruh buruk pada kandungannya.

Ibu Lia yang baik,
Mengajarkan Alquran pada anak usia 3 tahun dapat dilakukan dengan mengenalkan, memperdengarkan, dan menghafalkan. Sesekali cobalah Anda perlihatkan Alquran kepada anak sebelum mereka mengenal buku-buku lain. Memperdengarkan ayat-ayat Alquran bisa dilakukan secara langsung atau dengan memutar kaset atau CD. Untuk anak-anak yang belum lancar berbicara, Insya Allah lantunan ayat Alquran itu akan terekam dalam memorinya. Dan jangan heran kalau tiba-tiba si kecil lancar melafadzkan surat al-Fatihah, misalnya begitu dia bisa bicara. Jika anak-anak dibiasakan memperdengar-kan ayat-ayat Alquran, Insya Allah akan memudahkan anak menghafalkannya.

Ibu Lia yang baik,
Setelah mengenalkan dan memper-dengarkan, mulailah dengan menghafal-kan Alquran sejak anak lancar berbicara. Menghafal bisa dilakukan dengan cara sering-sering membacakan ayat-ayat tertentu kepada anak, dan latihlah anak untuk menirukannya. Hal ini dilakukan berulang-ulang sampai anak hafal di luar kepala. Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Anda harus menggunakan kesem-patan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas (golden age) pada anak. Menghafal bisa dilakukan kapan saja. Usahakan di saat  anak merasa nyaman. Walau demikian, hendaknya orang tua tetap mempunyai target baik tentang ayat, atau jumlah yang akan dihafal anak. Anak yang sudah terbiasa dengan hafalan Alquran akan lebih mudah mengikuti pelajaran, karena menghafal dapat melatih konsentrasi anak. Demikian ibu Lia, Semoga keberkahan Ramadhan akan memudahkan Anda merawat, dan mendidik si kecil.[]



Diasuh oleh:
Dra (Psi) Zulia Ilmawati
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Dunia anak sekarang ini dibanjiri dengan cerita tokoh superhero khayalan semacam Superman, Spiderman, Naruto dan lain-lain. Bagaimana dampak tokoh-tokoh ini pada pekembangan anak? Apa yang bisa kita lakukan, agar anak mengidolakan tokoh-tokoh kepahlawanan yang berasal dari Islam? Selain Rasulullah SAW, tokoh-tokoh siapa lagi yang perlu dikenalkan pada anak-anak? Terima kasih banyak, untuk jawabannya.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb

Yanti
Bogor

Wa'alaikumsalam Wr.Wb.

Ibu Yanti yang baik,
Tokoh-tokoh superhero (kepahlawanan) dalam film-film selalu menarik perhatian dan disenangi anak-anak. Superhero khayalan seperti Superman, Batman, Power Ranger, Spiderman, Naruto dan lain-lain ini memang menghibur siapa pun. Punya kelebihan dan keahlian yang bisa diandalkan untuk melawan kejahatan dan menegakkan keadilan.
Kecintaan seorang anak kepada tokoh idola, tidak hanya mereka buktikan dengan memasang poster-poster dalam kamar, misalnya, tapi ternyata banyak anak yang juga menyerap pemikiran, perkataan bahkan perilaku sang idola, kemudian menduplikasikannya pada diri mereka sendiri. Dan kita tahu, tokoh-tokoh khayal kepahlawanan dalam film-film yang disukai anak-anak hampir semuanya berbau kekerasan. Disinyalir tayangan-tayangan seperti ini akan berpengaruh pada perilaku anak, mendorong anak bersikap anarkis, mencoba dan meniru adegan-adegan yang ditontonnya. 

Ibu Yanti yang baik,
Setiap orang selalu mencari sosok yang bisa dijadikan idola bagi dirinya masing-masing. Sang idola biasanya akan menjadi inspirator bagi orang yang mengidolakannya. Bukan tak mungkin pula  ada anak yang mengidolakan superhero semacam Spiderman dan Superman, karena dianggapnya bisa menolong penderitaannya dan merasa tenang jika ada superhero tersebut di sampingnya. Agar anak kita bisa meneladani sang hero, maka hero yang kita pilih semestinya adalah yang benar dan bagus. Yang tentunya lebih baik dari kita, bisa dipercaya, bisa dijadikan rujukan dalam kebaikan. Terlebih, seorang hero harus mampu memberi inspirasi yang baik. Berarti, hero yang seharusnya menjadi idola, adalah mereka yang bukan khayalan dan mampu menjadi inspirator ulung bagi setiap calon pengikutnya. Inspirator dalam melakukan kebenaran dan kebaikan tentunya, yaitu yang bersumber dari ajaran yang benar. Tidak lain adalah Islam. 

Ibu Yanti yang baik,
Seorang sosok yang semestinya menjadi idola anak-anak Muslim adalah Rasulullah SAW, para sahabat dan pejuang Islam. Peran orang tua dalam memberikan arahan yang layak menjadi idola kepada anak sangat penting. Siapa yang menjadi tokoh idola anak akan mempengaruhi arah cita-citanya. Islam sejak lama sudah menjadi magnet kuat bagi manusia yang cinta kebenaran. Sosok Muhammad SAW pasti salah satu daya tariknya. Para sahabat menjadikan Beliau guru, sahabat, sekaligus hero dalam kehidupannya.
Allah SWT menegaskan dalam firmanNya (yang artinya): 
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzab [33]: 21)
Rasulullah SAW telah menginspirasi banyak manusia. Islam yang dibawanya mampu menjadi sumber keberanian dan motivasi dalam hidup, maka banyak dari pengikut Muhammad SAW yang tadinya manusia biasa menjadi luar biasa. Mereka menjadi hero di antara para hero dan tentunya layak dan pantas dijadikan hero dalam kehidupan kita dengan cara meneladaninya.
Selain Rasulullah SAW, ada beberapa sosok lain yang bisa Anda kenalkan pada anak. Antara lain adalah Khalid bin Walid. seorang panglima perang yang termahsyur dan ditakuti di medan perang serta dijuluki sebagai "pedang Allah yang terhunus". Dia adalah salah satu dari panglima-panglima perang penting yang tidak terkalahkan sepanjang kariernya. Usamah bin Zaid seorang pemuda, yang ditunjuk sebagai panglima perang dalam usia 17 tahun dikarenakan ia dikenal sebagai pemuda yang berani dan tangguh. Muhammad Al-Fatih penakluk Konstantinopel, yang banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya. Dan masih banyak lagi pahlawan-pahlawan Islam lain yang layak untuk dijadikan idola. Mudah-mudahan anak-anak kita dapat seperti mereka. Amiin.[]



Diasuh oleh: 
Dra (Psi) Zulia Ilmawati
Assalamu'alaikum Wr.Wb
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi, saya memiliki anak perempuan yang sekarang sudah kelas 5 SD. Sifatnya keras sekali, kalau dinasihati tidak mau mendengarkan. Bagaimana menghadapi anak yang keras dan maunya sendiri seperti ini? Terus terang saya memang juga keras. Saya suka ngeyel dan susah dinasihati suami. Saya juga tidak sabaran. Tapi kenapa bisa sama ya dengan anak saya. Apakah sifat ini diturunkan? Terima kasih penjelasannya.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Hamba Allah

Wa'alaikumsalam Wr.Wb.

Ibunda yang baik,
Insya Allah saya bisa memahami kegelisahan Anda. Banyak orang tua mengeluhkan hal yang sama, merasa khawatir bahkan terkadang kesal ketika menghadapi anak yang suka melawan, memberontak dan berkemauan keras. Anak seperti ini biasanya terlihat sangat keras kepala, susah diatur, kukuh pada kemauannya, selalu merasa benar dan cenderung mengabaikan perkataan orang lain. Sebelum Anda mencoba mengatasi atau menghilangkan sikap keras anak, cobalah cari tahu dulu sebabnya. Yang pasti bukan karena keturunan.
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi timbulnya kebiasaan buruk tersebut, antara lain adalah pola asuh orang tua, perilaku orang tua dan ketidakkompakan antara ayah dan ibu. Orang tua yang terlalu membebaskan anak tanpa kontrol membuat anak merasa benar sendiri dan tidak mau mendengarkan orang tuanya. Selama masa perkembangan, sosok yang dekat dengan anak adalah orang tuanya, terutama ibu. Ketika orang tua (ibu) berperilaku demikian (berkemauan keras, suka membantah), maka anak akan dengan cepat mengimitasi perilaku tersebut. Dan salah satu hal yang juga penting dalam pendidikan anak adalah kekompakan dalam menerapkan pola asuh. Ketika ada penerapan aturan yang berbeda antara ayah dan ibu misalnya, maka anak akan mengalami kebingungan. Dan biasanya anak akan cenderung memilih aturan-aturan yang lebih menyenangkan untuknya.

Ibunda yang baik,
Menjalin kedekatan dengan anak adalah cara terbaik menangani anak yang keras kepala. Komunikasi dua arah antara orang tua harus terjalin dengan baik. Misalnya, ketika Anda memerintahkan sesuatu, jangan hanya sekadar memerintah, yakinkan bahwa anak paham maksud dari perintah tersebut. Sebaliknya, ajak anak berbicara dan tanyakan alasannya, mengapa dia membantah atau bersikeras dengan pendapatnya. Bila alasannya tidak tepat, beri larangan tegas namun tetap disertai kesabaran. Cara ini akan memberikan pemahaman tentang batasan pada anak, tanpa membuatnya merasa ditolak atau tidak dicintai.
Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Bila tidak, Anda sendirilah yang nantinya kewalahan. Berbicaralah dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Misal, ketika anak Anda menginginkan pergi ke suatu tempat dan Anda melarangnya. Kemukakan dengan bijak alasan Anda melarangnya. Jelaskan pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan hal lain dilarang. Yang harus diingat, jangan bersikap kasar atau terlampau keras pada anak. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang akan sangat membantu. Karena dengan begitu, anak akan merasa bahwa teguran atau larangan yang Anda sampaikan, bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya. Jangan lupa berikan pujian ketika anak berperilaku baik, walau hanya dengan pelukan atau belaian. Anak yang “keras” bisa jadi karena kurang mendapatkan/mera-sakan penghargaan dari orang tuanya.

Ibunda yang baik,
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa posisi tubuh bisa mempengaruhi proses berpikir seseorang. Orang yang berdiri kaku, atau duduk dalam posisi yang menyesakkan, akan membuat otaknya tidak bisa bekerja optimal dan kondisi emosional menjadi tidak stabil. Ketika menghadapi anak yang sedang emosional dan ngotot mempertahankan pendapatnya, cobalah meredakannya dengan mengganti posisi tubuhnya. Jika sedang duduk, ajaklah ia bergerak ke ruangan yang lain. Bukankah Islam juga telah mengajarkan tentang hal ini? Sikap keras, biasanya dibarengi dengan emosi yang meletup, dan tidak jarang kemudian menimbulkan ketegangan dan kemarahan.
“Jika salah seorang di antara kalian marah sementara dia berdiri, maka hendaklah ia duduk sehingga kemarahannya hilang. Jika belum juga hilang maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Ajaklah anak duduk jika ia berdiri dengan tegang, sentuh pundaknya, dan katakan dengan lembut, ”Ayo duduk dulu, umi mau mendengar pendapatmu lebih jelas lagi.” Demikian ibunda, Mudah-mudahan ananda kelak akan menjadi anak yang membanggakan orang tuanya.[]

Powered by Blogger.