Showing posts with label Analisis. Show all posts

Cerita (Tolikara) Belum Usai

Penyerangan terhadap muslim di Tolikara sepertinya akan menemui ‘happy ending’. Setidaknya itu yang ditampakkan di media massa. Sejumlah tokoh masyarakat dan pemuka agama baik di Tolikara maupun di luar Tolikara tampak saling duduk bersama, berjabat tangan dan berangkulan. Ujungnya deklarasi bersama untuk menjaga kerukunan umat beragama.


Selesaikah? Seharusnya belum. Umat harus memahami bahwa akar persoalan yang terjadi di tanah Papua, khususnya yang dialami kaum muslimin belum diselesaikan. Ada sejumlah hal yang mendesak untuk segera diselesaikan dalam konflik Tolikara; Pertama, wajib diselidiki dan ditindak pihak yang mengeluarkan perda pembatasan ibadah di wilayah tersebut. Sudah berlaku lama di Tolikara bahwa rumah ibadah yang boleh dibangun hanyalah gereja yang berafilial ke GIDI (Gereja Injil Di Indonesia).

Hal ini dibenarkan oleh Ketua GIDI Papua Lipiyus Biniluk adanya peraturan daerah (Perda) mengenai pembatasan pembangunan tempat ibadah di Tolikara. Lipiyus mengungkap, keberadaan Perda ini didasari dengan adanya otonomi khusus Papua. Perda ini juga disetujui oleh Bupati Usman Wanimbo yang juga anggota GIDI.

Lipiyus berdalih bila otonomi khusus Papua ini akan dievaluasi seharusnya semua perda serupa juga dievaluasi. Kelihatan bahwa ia membela diri dengan adanya sejumlah perda syariah yang berlaku di sejumlah daerah di tanah air. Menurutnya hal itu tidak adil bagi warga non-muslim.

Adanya perda ini jelas kebijakan diskriminatif dari pihak GIDI terhadap warga non-GIDI, apalagi kepada kaum muslimin. Karena selain terdapat larangan membangun rumah ibadah, larangan mengadakan hari raya keagamaan, juga terdapat larangan berbusana muslimah di daerah Tolikara.

Bila pihak GIDI berdalih dengan bermunculannya perda-perda syariah di tanah air, sebetulnya logika yang ia gunakan amat dangkal. Pada faktanya perda syariah yang berlaku di sejumlah daerah di Nusantara, sama sekali tidak bersikap diskriminatif. Sama sekali tidak ada larangan melaksanakan ibadah bagi kalangan non-muslim, larangan mendirikan rumah ibadah, larangan menggunakan pakaian keagamaan masing-masing, atau memaksa warga non-muslim mengenakan pakaian Islami. Bahkan di Nangroe Aceh Darussalam yang memberlakukan sejumlah syariat, tidak berlaku larangan beribadah bagi warga nonmuslim.

Bandingkan dengan perda Injil yang berlaku di Papua, atau di Tolikara, larangan beribadah dan mengenakan busana muslimah justru diberlakukan. Atau di Propinsi Bali misalnya berlaku larangan mengenakan busana pelajar muslimah di sekolah, atau bagi karyawati di sejumlah mall atau hotel. Maka alasan yang dikemukakan oleh pihak GIDI adalah ilusif dan sarat dengan muatan diskriminatif.

Selain itu, perda yang dikeluarkan oleh GIDI juga bermasalah secara administratif. Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Soedarmo mengatakan peraturan daerah yang mengatur larangan pembangunan rumah ibadah di Tolikara telah disetujui Bupati Usman Wanimbo dan DPRD Tolikara. Namun, perda tersebut tak pernah sampai ke pemerintah pusat. Padahal, Kemendagri harus mendapat tembusan perda untuk kemudian diverifikasi. Apabila melanggar hak asasi atau bertentangan dengan Undang-Undang di atasnya, pemerintah pusat akan meminta pemerintah daerah merevisi beleid tersebut.

Kedua, kasus penyerangan terhadap muslim di Tolikara juga bukan sekedar serangan atas nama agama, tapi juga bermuatan politik dan ideologis. Pihak GIDI yang menjadi aktor politik serangan tersebut sudah lama dikenal mensponsori aktifitas separatisme di Papua. Tokoh-tokoh seperti Pendeta Dorman Wandikbo dan Pendeta Benny Giay berulangkali menyuarakan separatisme Papua dari Nusantara.
Dalam situs tabloiddjubi.com bulan Januari 2014, Pendeta Dorman Wandikbo dengan tegas menyatakan, “Papua merdeka adalah hak dasar orang Papua. Orang Papu minta merdeka bukan karena penderitaan, kelaparan dan kemiskinan, tapi mau lepas karena ideologi yang harus kita pahami.” (lihat link http://tabloidjubi.com/2014/01/30/wandikbo-kalau-bicara-hukuman-mati-apakah-perjuangan-papua-merdeka-itu-teroris/).

Apa yang dilakukan GIDI dan para tokohnya seharusnya mengingatkan umat akan peran Uskup Belo yang berhasil mendorong terpisahnya Timor Leste dari wilayah Indonesia. Sayangnya, sampai hari ini gerakan separatisme Papua tak kunjung mendapat tindakan tegas.

BNPT sampai hari ini tidak pernah memasukkan OPM sebagai kelompok teroris yang harus diperangi. Beda dengan perlakuan yang diberikan kepada sejumlah muslim yang baru terduga teroris tapi langsung mendapatkan tindakan represif bahkan dieksekusi mati tanpa penyidikan apalagi pengadilan.

Padahal kelompok OPM berkali-kali melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap warga dan kepada aparat keamanan seperti TNI dan Polri. Tapi hingga hari ini kelompok separatis bersenjata ini tak juga dikategorikan sebagai kelompok teroris yang berbahaya oleh BNPT.

Lunaknya sikap pemerintah terhadap OPM dan para pendukungnya tidak lepas dari besarnya tekanan asing terhadap Indonesia. Negara-negara Barat seperti khususnya Amerika Serikat menjadikan Papua sebagai pusaran politik luar negeri mereka untuk menekan Indonesia .

Belum lagi perusahaan tambang rakus Freeport McMoran yang sudah beroperasi sejak jaman Orde Lama selalu mendapat perlakuan istimewa dari pemerintah. Betapapun ngeyelnya mereka kepada negeri ini selalu untouchable.

Diduga kuat kelompok separatis OPM mendapat sokongan dari negara-negara Barat tersebut. Ini terlihat dalam setiap propagandanya, tak sedikitpun mereka menyerang kebijakan negara-negara Barat, khususnya AS yang telah memiskinkan wilayah mereka. Tetapi yang mereka persoalkan selalu pemerintah Indonesia. Padahal, wilayah mereka justru dibuat miskin oleh perusahaan tambang asal AS yang leluasa beroperasi karena tekanan negara asalnya terhadap pemerintah Indonesia.

Ending yang kini nyaris ditemui di atas meja perundingan, kita khawatirkan hanya berlangsung di atas permukaan dan sesaat saja. Karena tekanan dan intimidasi terhadap muslim yang minoritas belum tentu sirna selama spirit diskriminatif dan separatisme masih dianut oleh GIDI dan kelompok-kelompok Kristen di wilayah Papua.
Harus ada solusi tuntas untuk persoalan keagamaan, sosial, ekonomi dan politik di tanah Papua. Sayangnya selama Indonesia belum lepas dari cengkraman neoliberalisme dan neoimperialisme, persoalan itu bukannya selesai malah akan membara. Satu-satunya jalan adalah membebaskan negeri ini dari neoliberalisme dan neoimperialisme. [IJ – LS DPP HTI]
[www.globalmuslim.web.id]

5:55 PM
[Al-Islam edisi 730, 21 Muharram 1436 H-14 November 2014 M]
Pemerintahan Jokowi–JK tampaknya sudah berkeputusan bulat untuk segera menaikkan harga BBM. Presiden Jokowi kembali menegaskan hal itu dalam pertemuan APEC di Tiongkok pada 10 November lalu (Beritasatu.com, 10/11). Aba-aba menaikkan harga BBM bersubsidi pun sudah disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). “Pokoknya bulan ini,” kata JK di kantornya, Senin pekan lalu (Inilah.com, 11/11).
Ditolak Pendukung Sendiri
Koordinator Forum Relawan Pemenangan Jokowi-JK Indro Tjahyono menyatakan siap turun ke jalan jika BBM jadi dinaikkan (Beritasatu.com, 10/11). Menurut dia, kenaikan BBM merupakan agenda para mafia minyak. Teman sejawat Jokowi, Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo, yang juga Ketua DPC PDI-P Kota Solo, secara tegas siap menggelar aksi demonstrasi jika rencana tersebut jadi diwujudkan akhir November ini. Sebagian kepala daerah juga telah mengungkapkan penolakan atau ketidaksetujuan atas rencana kenaikan harga BBM itu.
Anggota DPR dari Fraksi PDI-P Effendi Simbolon juga meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak terburu-buru menaikkan harga BBM (Beritasatu.com, 10.11).
Tidak Konsisten
Kebijakan menaikkan harga BBM juga menunjukkan bahwa Jokowi dan PDI-P tidak konsisten. Tentu masyarakat masih ingat, PDI-P dan Jokowi keras menolak rencana kenaikan harga BBM pada 2012 lalu. Jokowi yang saat itu menjadi walikota Solo menolak rencana kenaikan harga BBM. Menurut dia, semua rakyat pasti menolak rencana kenaikan BBM (27/3/2012). Jokowi bahkan meminta agar menanyai satu-persatu masyarakat. Menurut dia, rakyat pasti menolak rencana itu. Namun, mengapa sekarang Jokowingotot ingin naikkan harga BBM, padahal dia sudah tahu rakyat pasti menolak?
Kala itu Sekjen DPP PDI-P Tjahjo Kumolo menginstruksikan ke seluruh struktur partainya se-Indonesia untuk menolak rencana pencabutan subsidi dan kenaikan harga BBM (Republika, 17/3/2012). PDI-P bahkan menginstruksikan kadernya untuk turun ke jalan. PDI-P juga membuat buku putih. Di dalamnya disebutkan bahwa banyak cara lain selain menaikkan harga BBM. Jika kini PDI-P mendesak bahkan menginstruksikan petugas partainya, Jokowi, untuk segera menaikkan harga BBM, sudah lupakah dengan semua itu?
Alasan Ngawur
Untuk membenarkan rencana kenaikan harga BBM, berbagai alasan diungkapkan Pemerintah. Sebagiannya terkesan ngaco dan ngawurPertama: dikatakan bahwa anggaran yang digelontorkan selama ini salah arah. Menurut Menteri ESDM Sudirman Said, subsidi BBM harus dialihkan untuk hal-hal produktif. “Selama lima tahun ini subsidi BBM sudah mencapai Rp 700 triliun lebih. Jadi, kalau kita lihat ke belakang, ternyata kita telah mengeluarkan uang hanya untuk dibakar saja,” katanya (InilahREVIEW, Edisi 12/IV). Bahkan ada ungkapan, “Masak Rp 400 triliun hanya dibakar jadi asap.” Ini sungguh ungkapan ngawur.
BBM itu seperti makanan untuk tubuh agar bisa melakukan berbagai aktivitas produktif. Jika ditotal, ribuan triliun habis untuk makan rakyat negeri ini. Tentu tidak ada yang berani mengatakan, “Ternyata selama ini ribuan triliun hanya dimakan dan jadi kotoran yang dibuang.” Faktanya, BBM digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi. Hasil dari “pembakaran” BBM itu sangat besar dan “menghidupkan” masyarakat.
Kedua: dinyatakan bahwa subsidi BBM itu konsumtif. Alasan ini tak kalah ngaco-nya. Harus diingat, kehidupan sehari-hari rakyat negeri ini banyak bergantung pada BBM. Ada jutaan nelayan yang mencari ikan; jutaan petani yang menggerakkan traktor mereka; jutaan mahasiswa, pelajar dan pegawai/pekerja pulang-pergi menggunakan kendaraan; jutaan pengusaha kecil dan menengah menggunakan BBM untuk menggerakkan usaha mereka. Semua itu tentu kegiatan produktif. Semuanya bisa berjalan karena adanya BBM yang dibakar itu. Jadi, ngawur yang bilang semua itu hanya konsumtif.
Ketiga: Dinyatakan bahwa subsidi BBM salah sasaran karena lebih banyak dinikmati orang kaya, artinya BBM subsidi lebih banyak diminum mobil mewah. Faktanya tidak begitu. Hasil Sensus Ekonomi Nasional (SUSENAS 2010) menunjukkan bahwa pengguna BBM 65%-nya adalah rakyat kelas bawah dan miskin, 27% menengah, 6% menengah ke atas, dan hanya 2% orang kaya.
Data Korp Lalu Lintas Kepolisian RI mencatat, jumlah kendaraan yang masih beroperasi di seluruh Indonesia pada 2013 mencapai 104,211 juta unit. Mayoritasnya, 86,253 juta unit adalah sepeda motor. Lalu mobil penumpang 10,54 juta unit; mobil barang (truk, pikap, dan lainnya) 5,156 juta unit; bus 1,962 juta unit dan kendaraan khusus 297.656 unit. Dari mobil penumpang yang 10,54 juta unit, hanya sebagian kecil yang berupa mobil mewah, kira-kira 5%-nya. Itu artinya, BBM subsidi yang dinikmati oleh orang kaya dan pemilik mobil mewah sangatlah kecil, apalagi tak sedikit mobil mewah yang memakai BBM non-subsidi.
Menyusahkan Rakyat
Alasan utama Pemerintah menaikkan harga BBM adalah untuk mengurangi beban subsidi yang dikatakan sudah sangat membebani APBN. Dalam APBN-P 2014 memang disebutkan subsidi ditetapkan sebesar Rp 403 triliun (subsidi BBM Rp 246,5 triliun, subsidi listrik Rp 103,8 triliun dan subsidi non-energi Rp 52,7 triliun). Subsidi ini dianggap beban sehingga harus dihilangkan. Caranya yang paling gampang tentu dengan mencabut subsidi tersebut.
Padahal ada beban yang jauh lebih besar dari sekadar subsidi, yakni beban utang. Akibat utang yang terus membesar (total utang Pemerintah per 30 September 2014 adalah Rp 2.601,72 triliun), APBN tiap tahun tersedot untuk bayar cicilan pokok dan bunga. Sampai September 2014, pembayaran bunga mencapai Rp 103,352 triliun dan cicilan pokok Rp 170,062 triliun, total Rp 273,412 triliun. Dalam pagu APBN 2014, cicilan pokok Rp 247,696 triliun dan cicilan bunga Rp 121,386 triliun, totalnya Rp 368,981 triliun. Dalam APBN-P 2014, cicilan bunga Rp 135,453 triliun. Sejak 2010 total cicilan pokok dan bunga utang selalu di atas 230 triliun pertahun. Mengapa ini tidak dianggap beban? Mengapa bukan beban utang dan bunganya ini yang dikurangi atau dihilangkan? Apalagi selama ini utang sering mengalami kebocoran. Belum lagi bunganya yang jelas-jelas haram karena merupakan riba, sementara riba termasuk dosa besar.
Jika Pemerintah kreatif dan mau kerja keras, sebenarnya potensi pemasukan APBN itu sangat besar. Sekadar contoh, produksi batu bara di negeri ini pada tahun 2013 mencapai 421 juta ton. Jika biaya produksi rata-rata perton sebesar US$ 20 dan harga pasar tahun 2014 US$ 74 perton maka potensi pendapatannya mencapai Rp 250 triliun. Contoh lain, tembaga. Menurut Data BPS, tahun 2012 produksi tembaga 2.385.121 metrik ton. Jika mengacu pada rata-rata biaya produksi dan harga jual tembaga PT Freeport tahun 2012 sebesar US$ 1,24 dan US$3.6 per-pound, maka potensi pemasukan dari tembaga Rp 124 triliun. Dari dua komoditas ini saja potensi pendapatannya sudah mencapai Rp 374 triliun. Sayangnya, pos pemasukan tambang non-migas pada RAPBN 2015 hanya Rp 30 triliun. Padahal komoditas tambang di negeri ini amat melimpah. Selain minyak dan gas, ada emas, nikel dll yang bernilai ribuan triliun rupiah. Jika Pemerintah mau kerja keras mengelola sendiri SDA tambang dan migas itu (tidak diserahkan kepada swasta/asing), maka ribuan triliun bisa didapat Pemerintah tiap tahun.
Begitu pula jika Pemerintah mau kerja keras mengalihkan gas Tangguh yang selama ini dijual ke Fujian Tiongkok, Korsel, Jepang dan AS dengan harga murah; lalu dialihkan untuk PLN meski dengan harga sama, tentu bisa dihemat puluhan triliun bahkan bisa mencapai Rp 100 triliun.
Sayangnya, Pemerintah maunya cari cara yang gampang, enggan kerja keras dan yang pasti ingin selalu menyenangkan pihak asing meski harus dengan menyusahkan rakyat sendiri.
Wahai Kaum Muslim:
Kebijakan menaikkan harga BBM tidak lain untuk menyukseskan liberalisasi sektor hilir (sektor niaga dan distribusi) setelah liberalisasi sektor hulu (eksplorasi dan eksploitasi) sempurna dilakukan. Liberalisasi migas hakikatnya adalah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada swasta (asing) seraya mengurangi peran negara. Kebijakan ini jelas akan sangat merugikan dan menyengsarakan rakyat. Padahal rakyatlah pemilik sejati sumberdaya alam itu. Yang lebih menyakitkan, liberalisasi dilakukan sekadar untuk memenuhi tuntutan pihak asing (IMF, Bank Dunia, ADB, USAID, dll). Hanya demi menyenangkan pihak asing, Pemerintah tega mengabaikan keinginan mayoritas rakyatnya. Jika demikian, kebijakan menaikkan harga BBM itu pantas disebut sebagai bentuk pengkhianatan terhadap rakyat!
Andai saja Pemerintah bersikap amanah dan mau kerja keras, niscaya kisruh BBM tidak akan terjadi. Jika Pemerintah yang katanya mendapat mandat rakyat mau mendengarkan rakyat, niscaya juga tidak akan berpikir menaikkan harga BBM yang akan menyusahkan rakyat.
Hendaknya siapapun yang mengurusi rakyat, apalagi mereka Muslim, takut konsekuensi buruk kebijakan itu, baik di dunia maupun di akhirat. Apalagi Rasul saw. telah berdoa:
«اللَّهُمَّ مَن ْوَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِن أَمْرِأُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِم ْفَارْفُقْ بِهِ»
Ya Allah, siapa saja yang mengatur suatu urusan umatku, lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia; dan siapa saja yang mengatur suatu urusan umatku, lalu dia berlaku baik kepada mereka, maka perlakukan dia dengan baik (HR Ahmad dan Muslim).
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-Islam:
Presiden Jokowi mengemukakan kepada Obama untuk terus mencegah tindakan ekstremisme dan radikalisme di Tanah Air (Beritasatu.com, 10/11).
  1. Pada awal pemerintahannya, seolah penting bagi Presiden Jokowi untuk menegaskan tekadnya kepada para mister (tuan) barat dan Taoke (juragan) timur untuk membasmi ekstremisme dan radikalisme.
  2. Padahal dalam kamus AS dan Tiongkok, radikalisme dan ekstremisme (termasuk terorisme) itu adalah Islam dan kaum Muslim yang ingin menjalankan ajaran dan hukum-hukum agama mereka.
[www.globalmuslim.web.id]

10:12 PM

[Al-Islam edisi 728, 7 Muharram 1436 H-31 Oktober 2014 M]
Akhirnya Presiden Joko Widodo bersama Wapres Jusuf Kalla pada Ahad (26/10) mengumumkan susunan kabinetnya. Kabinet yang terdiri dari 34 menteri itu dinamakan “Kabinet Kerja”. Esoknya, Senin (27/10), kabinet tersebut dilantik, dilanjutkan dengan sidang kabinet pertama yang langsung dipimpin Presiden Jokowi. Presiden mengawali sidang dengan meminta seluruh menteri untuk langsung bekerja. “Kita harapkan para menteri bisa langsung kerja dan tancap gas” (Republika, 28/10).
Selama lima tahun ke depan Kabinet Kerja menghadapi tantangan besar. Pasalnya, kondisi negeri ini terpuruk di berbagai lini. Karena itu cukup berat mewujudkan janji-janji Jokowi-JK—setidaknya ada 60 janji—yang pernah mereka sampaikan sebelumnya selama masa kampanye Pilpres.
Sebagian besar janji itu akan diwujudkan selama lima tahun. Beberapa janji akan diwujudkan segera sejak keduanya terpilih dan dilantik. Membangun e-government, e-budgeting, e-procurement, e-catalog dan e-audit, misalnya, dijanjikan terwujud kurang dari dua minggu (http://news.detik.com).
Namun, masyarakat tampaknya harus siap kecewa jika janji-janji itu tak terwujud. Pasalnya, pada awal pembentukan kabinet saja, beberapa janji tidak terpenuhi. Jokowi, misalnya, pernah berjanji tidak akan bagi-bagi kursi menteri ke partai pendukungnya (http://m.merdeka.com); juga tidak akan berada di bawah bayang-bayang Megawati (http://www.solopos.com, 22/7). Faktanya, dari 34 menteri dalam Kabinet Kerja, 14 menteri berasal dari orang-orang berlatar belakang parpol (PDIP 4 menteri, PKB 4 menteri, Nasdem 3 menteri, Hanura 2 menteri dan PPP 1 menteri). Alokasi menteri untuk parpol pendukung sebenarnya selalu terjadi. Dalam sistem demokrasi, itu adalah wajar, bahkan merupakan keniscayaan. Karena itu sejak awal janji koalisi tanpa syarat dianggap tak mungkin atau sekadar pencitraan.
Dalam sistem demokrasi, penguasa juga tidak mungkin lepas dari pengaruh parpol. Pasalnya, sejak awal parpollah yang menentukan mereka menjadi calon penguasa. Suara, kepentingan dan pengaruh parpol tentu tidak bisa diabaikan. Ketua umum adalah pihak yang sangat menentukan dalam sebuah parpol. Itu artinya, dalam sistem demokrasi, penguasa pasti banyak dipengaruhi oleh parpol, khususnya ketua umumnya. Apalagi jika penguasa itu bukan termasuk orang kunci di dalam parpol pengusungnya. Karena itu janji untuk lepas dari pengaruh parpol atau ketum parpol sulit bahkan mustahil terwujud.
Faktanya, Presiden Jokowi dan Wapres JK meminta pertimbangan para ketua umum partai politik, termasuk Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam menyusun kabinetnya. JK mengatakan, masukan dari pimpinan partai politik penting. “Karena di ujungnya nanti kalau ada apa-apa, yang dukung, yang bela itu parpol juga, maka konsul dengan pimpinan parpol penting itu, apalagi parpol usulkan calon bagian koalisi partai itu,” kata Kalla dalam wawancaranya dengan Najwa Shihab pada acara Mata Najwa yang disiarkan Metro TV, Selasa (22/10) malam (Kompas.com, 23/10).
Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Bambang Wuryanto mengatakan, empat nama kader PDI Perjuangan yang ditunjuk sebagai menteri di Kabinet Jokowi semuanya berasal dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. “Kalau PDI Perjuangan, itu keluar dari Ibu Ketum,” kata Bambang (Inilah.com, 28/10).
Jokowi pun pernah berjanji membentuk kabinet ramping (slim cabinet). Bahkan ketika Tim Transisi dibentuk, santer diberitakan kabinet nanti akan dirampingkan maksimal hanya 30 menteri. Alasannya, kementerian yang ada terlalu gemuk. Negara dengan jumlah penduduk lebih banyak dan skala ekonomi lebih besar saja jumlah menterinya sedikit (AS 15 menteri dan Tiongkok 25 menteri). Kenyataannya, Jokowi-JK mengambil jatah maksimal yang dibolehkan oleh pasal 15 UU No. 39/2008 tentang Kementerian Negara, yaitu 34 kementerian.
Kabinet Kerja justru tampak lebih gemuk. Ada tambahan kementerian koordinator baru, yaitu Kementerian Koordinator Kemaritiman, dan satu kementerian, yaitu Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Agar bisa ditambah, kementerian yang ada dipecah dan digabungkan. Kementerian Kehutanan digabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup menjadi Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Ditjen Dikti dipisahkan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu digabungkan ke Kementerian Ristek menjadi Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi. Ditjen Tata Ruang dipisahkan dari Kementerian PU dan digabung dengan BPPN menjadi Kementerian Agraria dan Tata Ruang. Kementerian Perumahan Rakyat digabungkan ke Kementerian PU menjadi Kementerian PU dan Perumahan Rakyat. Urusan Transmigrasi dipisahkan dari Kementerian Tenaga Kerja dan digabungkan ke Kementerian PDT menjadi Kementerian PDT dan Transmigrasi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dikurangi bidang ekonomi kreatif menjadi Kementerian Pariwisata. Adapun untuk urusan ekonomi kreatif akan dibentuk badan sendiri.
Selain itu ada tiga lembaga yang akan dibentuk Presiden Jokowi, yaitu kepala staf kepresidenan dengan beberapa direkturnya yang—menurut Andi Widjojanto, mantan Deputi Tim Transisi Jokowi—akan dibentuk pada Februari 2015 (Inilah.com, 27/10). Selain itu, menurut Menteri PPN/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago, juga akan dibentuk dua lembaga ekonomi, yaitu badan ekonomi kreatif dan badan promosi ekspor nasional (Liputan6.com, 28/10). Padahal selama ini sudah ada puluhan badan dan lembaga yang oleh banyak pihak dianggap jadi salah satu biang pemborosan anggaran dan sering tumpang-tindih. Tentu Kabinet Kerja menjadi lebih gemuk, apalagi dengan adanya pembentukan badan baru.
Konsekuensinya, Presiden Jokowi dan Wapres JK akan dihadapkan pada masalah baru yang muncul dari lahirnya delapan kementerian baru. Lima di antaranya hasil penggabungan sejumlah kementerian itu. Pengamat kebijakan publik Universitas Airlangga Surabaya, Gitadi Tegas Supramudyo, meramalkan bahwa masalah akan muncul karena tidak mudah menggabungkan urusan di dua kementerian terpisah ke kementerian yang baru. Menurut dia, “Memindahkan kewenangan ini rumit, namun harus diselesaikan pada awal pemerintahan. Kalau tidak, tumpang-tindih urusan antar-kementerian seperti yang terjadi selama ini kembali terulang.”
Menurut Ketua Tim Pengkaji Arsitektur Kementerian Lembaga Administrasi Negara Anwar Sanusi, “Ini persoalan serius yang harus diselesaikan pada awal pemerintahan Jokowi-JK. Jika tidak, Pemerintah tidak bisa maksimal dalam menjalankan tugasnya.” (Kompas, 28/10).
Yang jelas, dengan lahirnya kementerian baru serta adanya pemisahan dan penggabungan kementerian itu, sebagian kabinet tidak bisa langsung kerja dan tancap gas seperti yang dijanjikan oleh Presiden. Dalam sistem yang ada, kementerian baru itu belum memiliki anggaran, lantas dari mana bisa jalan? Apalagi agar bisa jalan normal, untuk delapan kementerian baru itu harus terlebih dulu dilakukan restrukturisasi, re-manajemen, re-budgetting, reorientasi dan reformulasi kerja. Dari pengalaman yang ada selama ini, semua itu perlu waktu bahkan hingga setahun atau lebih.
Selain itu Kabinet Kerja diisi oleh banyak menteri pebisnis, baik berlatar belakang pengusaha atau direktur/komisaris perusahaan. Setidaknya sembilan menteri seperti itu. Mungkin hal itu tidak aneh karena Presiden dan Wapres sendiri juga berlatar belakang pengusaha. Apalagi banyak diungkap bahwa di belakang keduanya juga banyak pengusaha, taipan dan pemilik modal. Tentu tidak berlebihan jika ada kekhawatiran bahwa “kabinet pengusaha” seperti itu nantinya akan lebih pro bisnis dan pragmatis; kepentingan penguasa dan pemilik modal akan lebih banyak diutamakan daripada kepentingan rakyat.
Apalagi Kabinet Kerja nanti tetap tidak bisa lepas dari karakter neo-liberal karena dua sebab. Pertama: kerangka sistem yang dibentuk oleh berbagai UU yang ada adalah kerangka neo-liberal. Kedua: rekam jejak Presiden dan Wapres serta sebagian besar menteri—terutama menteri ekonomi dan menteri teknis—diwarnai corak neo-liberal. Salah satu ciri neo-liberal adalah doktrin bahwa peran negara harus seminimal mungkin dalam perekonomian dan pelayanan publik, sementara peran swasta harus sebesar-besarnya.
Peringatan
Dalam hal ini semua pihak perlu mengingat pesan Rasulullah saw., bahwa kepemimpinan dan jabatan itu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, sebagaimana sabdanya:

«وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا»
Sesungguhnya jabatan itu adalah amanah. Sesungguhnya jabatan itu pada Hari Kiamat akan menjadi kerugian dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambil jabatan itu dengan benar dan menunaikan kewajiban di dalamnya (HR Muslim, Ibn Khuzaimah dan al-Hakim).
Dalam konteks ini, baik pejabat dan pihak yang mengangkat dia tentu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, apakah amanah itu ditunaikan atau tidak. Amanah kekuasaan atas pemimpin dan penguasa bukan hanya datang dari rakyat, namun juga dari Allah. Amanah kekuasaan dari Allah itu harus digunakan untuk memelihara kemaslahatan rakyat. Amanah kekuasaan itu juga harus digunakan untuk memutuskan segala perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan, yakni syariah Islam. Rakyat yang mengangkat penguasa juga harus menjaga amanah dengan terus mengontrol penguasanya. Tujuannya adalah agar penguasa senantiasa berjalan di atas kebenaran dan mengurusi rakyat menurut petunjuk yang diturunkan oleh Allah SWT dan dibawa oleh Rasul saw.
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar Al-Islam:
Wacana kenaikan harga bahar bakar minyak (BBM) pada 1 November memicu keresahan di sejumlah daerah. Kekhawatiran terlihat dari pedagang yang mulai menaikkan harga bahan pokok sampai penimbunan bahan bakar. (Republika, 28/10).

  1. Belum dinaikkan saja sudah berdampak negatif. Saat benar-benar dinaikkan, pasti dampak negatifnya brkali-kali lipat. Akibat kenaikan harga BBM, rakyat buntung, sementara asing dan kapitalis untung.
  2. Wacana dan kebijakan tidak peduli rakyat seperti itu akan terus ada selama doktrin yang dipegang Pemerintah adalah neo-liberal dan ideologinya adalah kapitalisme demokrasi.
[www.globalmuslim.web.id]

10:09 PM
Nama-nama menteri yang diumumkan Jokowi di kompleks Istana Negara minggu lalu (26/10), tidak luput dari perhatian banyak pihak. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto juga memberikan tanggapan terhadap susunan kabinet Jokowi tersebut.
jubir-hti-ismail-yusantoKepada Mediaumat.com (28/10), Ismail mengungkapkan, “Pertama, dikatakan bahwa menteri-menteri Jokowi dipilih dengan cermat dari orang-orang yang bersih. Akan tetapi, saat ini ternyata di luar beredar bahwa kabinet sekarang diisi oleh orang-orang yang punya masalah. Rini M. Sumarno misalnya, dia mendapatkan raport merah dari KPK terkait kasus BLBI dan mark up Sukhoi.Kedua, revolusi mental yang dimaksud itu bagaimana kan tidak jelas? Dikatakan pro rakyat tapi menterinya pro kepentingan pengusaha.”
Ismail menyatakan bahwa kabinet baru ini tidak akan membawa Indonesia ke arah perubahan yang lebih baik, “Tidak ada perubahan, yang baru paling hanya orangnya saja.”
Ismail juga menambahkan bahwa sikap HTI akan tetap konsisten dalam perjuangan syariah dan Khilafah, tidak akan sekalipun mendukung sistem yang bertentangan dengan Islam. “HT konsisten bahwa kalau bukan syariah, kita nggak mendukung,” pungkasnya. (mediaumat.com, 28/10/2014)
[www.globalmuslim.web.id]

9:55 PM

Pasar Bebas Alat Penjajahan Ekonomi
Pasar Bebas Alat Penjajahan Ekonomi

TASIKMALAYA, (HTI).-

Pasar bebas merupakan alat penjajahan ekonomi yang dilakukan negara-negara maju terhadap negara berkembang. Sebabnya, dengan pasar bebas, peran negara dalam penerapan tarif dan kuota terhadap lalu lintas barang, modal, maupun jasa otomatis akan berkurang bahkan hilang. Akibatnya, negara dengan kondisi industri yang lebih maju tentu akan memenangkan persaingan pasar. Sementara negara berkembang dan miskin hanya menjadi objek pemasaran dari industri negara yang lebih kuat.
Hal tersebut disampaikan Direktur Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Islam Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Arim Nasim ketika memberikan materi dalam Seminar Nasional Ekonomi Syariah “Konsep Ekonomi Islam dalam Memasuki Era Perdagangan Bebas ASEAN 2015” di Universitas Negeri Siliwangi, Jln. Siliwangi, Tasikmalaya, Selasa (10/6/2014).

“Selain itu, dengan adanya kebebasan pada lalu lintas modal, maka perusahaan besar dari negara maju dapat menguasai dan memiliki perusahaan negara miskin yang lebih kecil ketika kalah dalam persaingan. Bila yang terjadi adalah demikian, maka apa bedanya hal tersebut dengan penjajahan. Sistem ekonomi Islam dengan tegas menolak hal seperti ini,” ujar Arim.

Sebab, dalam pandangan ekonomi Islam, peran negara justru menjadi penting karena berkaitan dengan fungsinya sebagai ra’in atau pelindung bagi rakyatnya. Sementara di sisi lain, pasar bebas dengan jelas merupakan sarana penjajahan yang paling efektif dan membahayakan rakyat. Sejumlah fenomena yang menunjukan hal tersebut saat ini telah jelas terlihat.

“Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap sejumlah komoditas pangan penting masih sangat tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2012, total impor komoditas pangan seperti beras pada tahun tersebut yakni 1,8 juta ton dengan nilai 945,6 juta dolar AS, jagung 1,7 juta ton dengan nilai 501,9 juta dolar AS, kedelai 1,9 juta ton dengan nilai 1,2 miliar dolar AS, dan gandum 6,3 juta ton dengan nilai 2,3 miliar AS,” ujar Arim memaparkan.

Sementara itu, menurut Pakar Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Yadi Janwari, pasar bebas merupakan konsekuensi dari diterapkannya liberalisasi ekonomi. Adanya liberalisasi ekonomi akan menghilangkan peran negara dalam aktivitas ekonomi dan lebih mengedepankan peran individu dalam hal ini pihak swasta.

Memang terdapat dampak positif dari adanya pasar bebas seperti terbukanya akses pasar ekspor ke luar negeri, meningkatnya arus investasi antara negara, dan meningkatnya kerja sama antara perlaku bisnis antar negara. Akan tetapi, dampak negatifnya yakni sektor-sektor ekonomi negara berkembang hancur, negara lemah mengalami deindustrialisasi, menumbuhkan ekspor bahan mentah ketimbang bahan jadi, menumbuhkan depedensi perekonomian dalam negeri, dan adanya pergeseran jenis usaha dari produsen menjadi importir atau pedagang. (Rizqi Ibnu Askari/MI Tasik)
[www.globalmuslim.web.id]

3:48 PM


Peristiwa Sleman dan Kegagalan Demokrasi Menjaga Kemajemukan
Rumah Pendeta Nico Lomboan di Segel Pemda Sleman
Oleh: Ali Mustofa, Kantor Penerangan HTI Soloraya

Tudingan sikap intoleransi kembali ditujukan kepada umat Islam. Kali ini dipicu saat sekelompok orang menyerang rumah pendeta Nico Lomboan, di dusun Pangukaan RT 03/10, Trida, Sleman. Banyak kalangan kemudian ramai-ramai hanya menyalahkan sepihak yang melakukan penyerangan. Namun tak peduli dengan apa sebenarnya penyebab pengrusakan itu terjadi. Padahal tentu tak ada asap tak ada api.

Perlu ditelisik, kejadian itu disulut dengan sikap “ngeyel” pendeta Nico yang tetap menggunakan kediamannya untuk acara ibadah bersama. Tentunya juga dengan disertai syiar agama mereka dalam usaha kristenisasi.

Nico terbukti melanggar hukum dikarenakan rumah itu sebelumnya telah di segel. Menurut informasi dari Pemkab setempat, rumah itu digunakan sebagai tempat ibadah sejak tahun 1990 lalu disulap menjadi gereja pada tahun 2010. Karena terjadi pelanggaran IMB, akhirnya tempat itu di segel oleh warga dan disaksikan pemerintahan Sleman pada tahun 2011.

Klimaksnya terjadi kemarin 29 Mei, Warga kesal lalu melakukan pengrusakan tempat itu. Benar, tindakan pengrusakan itu patut disayangkan. Tapi menyalahkan hanya satu pihak tanpa mempermasalahkan apa dan siapa penyebab kejadian tersebut. Tidak adil dan diskriminatif itu namanya. Harapannya, pihak berwenang segera mengusut tuntas kejadian dan menegakkan hukum yang seadil-adilnya.

Diskriminasi dalam tuduhan Intoleran

Tudingan sikap intoleransi memang acap dilayangkan kepada umat Islam. Seperti halnya peristiwa Sleman, beberapa pihak kemudian pada mengecam pihak tertuduh (pelaku umat Islam). Mulai dari Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) hingga Istana Negara juga bersuara. “Menanggapi penyerangan umat Katolik di Sleman, saya tidak bosan ingatkan agar semua elemen masyarakat saling hormati kebebasan beragama. *SBY*,”Demikian tulis Presiden di akun twitternya.

Namun kenapa teramat sedikit yang bersuara ketika tindakan intoleransi dilakukan umat agama lain. Di Bali misalnya, kebebasan beragama justru di coreng dengan adanya larangan jilbab bagi siswi di sekolahan setempat. Kasus lain, adanya peniadaan ajaran Islam bagi siswa muslim di sekolah-sekolah Kristen misalnya dan dipaksa mengikuti ajaran agama bersangkutan yang bukan menjadi keyakinan siswa-siswi tersebut.

Dan lebih universal lagi, kemana suara LSM-LSM yang sering menuduh umat Islam intoleran ketika terjadi penganiayaan dan pembunuhan terhadap kaum muslim di Palestina, Rohingnya, Afrika Tengah dan tempat-tempat lain?. Dan kemana suara mereka ketika di negara-negara Eropa terjadi larangan jilbab, ibadah sholat di mata-matai di Masjid, dan pelemparan batu serta coret-coret dinding Masjid dengan kata-kata kotor seperti “Babi”, dsb. Suara mereka nyaris tak terdengar seperti radio rusak.

Demokrasi gagal menjaga kemajemukan

Ini merupakan bukti kesekian kali bahwa sejatinya sistem sekulerisme-demokrasi yang telah diterapkan di negri ini tak mampu untuk menjaga kemajemukan. Sudah berapa banyak terjadi gesekan antar kelompok, baik itu kelompok ras, agama maupun suku. Lebih-lebih ditahun-tahun politik begini, banyak pihak bermain yang justru terkadang berusaha memanfaatkan suasana guna memuluskan kepentingan mereka.

Ini bukan tentang Scapegoat Theory, tapi fakta yang berbicara begitu. Menurut A. Harsono, peneliti Human Rights Watch, gesekan agama terus terjadi dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 sebanyak 216 kasus, tahun 2011 sebanyak 242 kasus, tahun 2012 sebanyak 264 kasus. (hrw.org, 14/05). Gesekan politik dan sosial adalah lebih banyak lagi.

Banyak faktor yang menyebabkan konflik komunal ini terus terjadi. Diantaranya karena lemahnya penegakkan hukum, lemahnya kepemimpinan, dan lemahnya sistem kenegaraan yang diterapkan itu sendiri. Ambil contoh misalnya, kejadian Sleman ini sejatinya bisa dihindari. Semestinya Pendeta Nico yang telah melanggar hukum IMB harus dikenai sanksi yang tegas karena berulang kali nekat melanggar aturan soal tempat ibadah. Tak sekedar disegel rumahnya, sementara orangnya tetap bebas berseliweran menjalankan misi kristenisasinya.

Hanya Islam yang bisa menjaga kemajemukan

Maka jangan salah dalam mengambil solusi. Sekedar dialog antar agama, jalan rukun bersama antar agama yang diselenggarakan oleh Pemda, kampanye toleransi antar umat beragama. Semua itu terbukti tak mampu mengobati. Apalagi sebatas mengambil slogan dongeng “dewa”untuk memotivasi persatuan, seperti halnya kalimat ini, :

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhineki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwati

Maksudnya, seperti yang ditulis Charles K, konon Budha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu (walaupun berbeda-beda), tetapi satu jua. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. (Charles K, Kala Agama Menjadi Bencana, PT. Mizan Pustaka, 2003, Bandung).

Demikianlah salah satu potret buram demokrasi dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Ironisnya masih ada yang memuji dan memuja. Herannya lagi ada yang menuduh penegakkan sistem Islam dalam bingkai khilafah adalah ancaman bagi kemajemukan. Itu jelas tuduhan yang keliru.

Secara lebih rinci, Syaikh Taqiyyudin An-Nabhaniy dalam kitab Daulah Islam, telah menjabarkan seperti apa pengaturan secara teknis dalam negara khilafah Islam berikut ini:

Pertama: Seluruh hukum Islam diterapkan kepada penduduk muslim. Kedua: Penduduk non muslim dibolehkan tetap memeluk agama mereka dan beribadah berdasarkan keyakinannya. Ke-tiga: Memberlakukan non muslim dalam urusan makan dan pakaian sesuai agama mereka dalam koridor peraturan umum. Ke-empat: Urusan pernikahan dan perceraian antar non muslim diperlakukan menurut aturan agama mereka.

Ke-lima: Dalam bidang publik seperti mu’amalah, uqubat (sanksi), sistem pemerintahan, perekonomian, dan sebagainya, negara menerapkan syariat Islam kepada seluruh warga negara baik muslim maupun non muslim. Ke-enam: setiap warga Negara yang memiliki kewarganegaraan Islam adalah rakyat Negara, sehingga Negara wajib memelihara mereka seluruhnya secara sama, tanpa membedakan muslim maupun non muslim.

Karena itu, sistem Islam-lah formula terbaik untuk mengatur keberagaman bangsa. Yang telah terbukti selama berabad-abad mampu memberikan kegemilangan dalam mengatur kemajemukan. Seperti pada massa Rasulullah Saw, umat Islam dapat hidup rukun berdampingan dengan umat nasrani maupun Yahudi. Mereka hidup bersama dalam naungan negara yang berdasar sistem Islam.

Keberhasilan sistem Islam dalam mengatur kemajemukan ini juga diakui oleh para pemikir-pemikir barat. Bisa dilihat seperti Will Durrent dalam The story of Civilization, atau T.W. Arnold dalam The Preaching of Islam. Perlu bukti apalagi. Islam adalah rahmat untuk seluruh alam. Wallahu A’lam. [www.al-khilafah.org]
[www.globalmuslim.web.id]

3:47 PM
Logo Resmi Indonesia Milik Allah

[Al-Islam edisi 709, 8 Sya’ban 1435 H – 6 Juni 2014 M ]
Sejak merdeka, negeri ini menerapkan sistem politik demokrasi dan ekonomi kapitalisme. Beragam corak dari keduanya sudah dicoba. Meski begitu, negeri ini justru terasa makin jauh dari cita-cita.

Demokrasi dan Kapitalisme: Ancaman Sejati
Demokrasi dipercaya sebagai sistem politik yang akan menampung seluas-luasnya aspirasi rakyat. Pemimpin pilihan rakyat diyakini akan bekerja demi kepentingan rakyat. Demikian pula sistem ekonomi kapitalisme dipercaya akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat.
Nyatanya, bukan aspirasi rakyat yang mengemuka. Dari para wakil rakyat di Parlemen justru lahir banyak undang-undang yang merugikan rakyat. Banyak pula kebijakan Pemerintah pilihan rakyat yang tidak berpihak kepada rakyat.
Melalui konsep dasar demokrasi, yakni kedaulatan rakyat, negeri ini mempraktikkan kesyirikan yang dilakukan Bani Israel (QS at-Taubah [9]: 31). Sebagaimana diketahui, para pemuka agama Bani Israel itu biasa menghalalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa saja yang telah Allah halalkan. Semua itu kemudian diikuti dan ditaati oleh umat mereka. Demikian seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam riwayat Imam at-Tirmidzi. Itu sama persis dengan praktik kedaulatan rakyat dalam demokrasi.
Atas nama demokrasi, kaum Muslim dipaksa bermaksiat dengan menyalahi hukum-hukum Allah SWT; mereka diwajibkan terikat dengan hukum-hukum buatan manusia. Atas nama demokrasi, riba dan transaksi ribawi harus diambil dan dijalankan. Atas nama demokrasi dan kebebasannya, zina dianggap lumrah dan bukan kesalahan. Padahal Rasul saw. mengingatkan:

« إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ »
Jika zina dan riba telah menonjol di suatu kampung, maka mereka sesungguhnya telah menghalalkan untuk mereka sendiri azab Allah (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Tentu, betapa besar azab Allah SWT akan menimpa warga negeri ini karena masih banyak kemaksiatan lainnya yang “diharuskan” oleh demokrasi.
Sistem politik demokrasi yang mahal membuat penguasa dan wakil rakyat tidak lagi bekerja sebagai pelayan umat dan pemelihara urusan rakyat. Mereka malah mengabdi demi kepentingan elit pengusaha dan para cukong pemilik modal. Mereka bahkan menjadi pelayan pihak asing. Akibatnya, lahirlah negara korporasi; lahirlah persekongkolan penguasa dengan pengusaha. Jadilah hubungan penguasa dengan rakyat layaknya hubungan penyedia produk dan jasa dengan konsumen. Rakyat diposisikan sebagai konsumen yang harus membayar pelayanan dari negara dan membeli apa saja yang disediakan negara.
Melalui proses politik demokrasi pula lahir peraturan yang menguntungkan para pemilik modal. Bahkan pihak asing, yang notabene penghisap kekayaan negeri ini, lebih dihormati daripada rakyatnya sendiri.
Penerapan demokrasi di bidang politik dibarengi dengan penerapan sistem kapitalisme di bidang ekonomi. Akibat penerapan kapitalisme itu, alih-alih tercipta kesejahteraan bersama, yang ada justru kesenjangan kelompok kaya dan miskin makin meningkat. Hal itu ditunjukkan oleh terus meningkatnya indeks gini rasio dalam lima tahun terakhir yakni 0,37; 0,38; 0,39; 0,40 dan 0,41 tahun 2013. Indeks gini rasio diukur dari 0-1; makin mendekati 1 berarti kesenjangan makin total.
Pertumbuhan ekonomi ternyata hanya dinikmati oleh segelintir orang. Kekayaan lebih banyak dinikmati oleh golongan kaya. Data distribusi simpanan di bank umum Maret 2014 yang dilansir Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi bukti. Total ada 148.342.861 rekening simpanan. Jika diasumsikan satu orang punya satu rekening, artinya lebih dari 100 juta penduduk negeri ini tidak punya rekening simpanan. Sangat mungkin karena mereka memang tak punya uang untuk disimpan. Kesenjangan itu ternyata lebih parah lagi. Rekening simpanan dengan nominal di atas 1 miliar rupiah jumlahnya 396.814 rekening atau hanya 0,27%, tetapi total nominalnya sebesar Rp 2.213.436,73 miliar atau 61,3% dari total nominal simpanan. Itulah hasil dari kapitalisme. Hanya 0,27% penduduk menguasai 61,3% kekayaan. Sebaliknya, 99,63% penduduk memperebutkan 38,7% kekayaan negeri.
Akibat lainnya, sektor pangan, air minum, energi, kesehatan, perbankan, keuangan dan sektor strategis lainnya dikuasai oleh pihak asing. Pihak asing menguasai sektor migas 70% dan sektor tambang 80%. Menurut Riza Damanik dari Indonesia for Global Justice dalam Jurnalparlemen.com (8/7/2013),usaha benih tanaman pangan dikuasai pihak asing hingga 95%. Begitu juga budidaya tanaman pangan dan sektor perkebunan. Pihak asing juga menguasai 95% bisnis air minum, 75% sektor industri farmasi dan 80% industri asuransi. Sektor keuangan dan perbankan, sektor perikanan dan kelautan, sektor kesehatan, pelayanan rumah sakit dan klinik spesialis serta sektor strategis lainnya sebagian besar juga dikuasai oleh pihak asing.
Syariah dan Khilafah Melindungi Kebhinekaan
Berdasarkan fakta sejarah, syariah Islam datang melindungi kebhinekaan dan kemajemukan di masyarakat. Sebab, Islam merupakan agama rahmatan lil alamin. Tak tercatat dalam sejarah, di Indonesia atau di negeri lainnya, kekuasaan Islam menindas umat beragama lain.
Dalam penerapan syariah di bawah sistem Khilafah, penindasan terhadap ahludz-dzimmah dan mu’ahad—atau yang sekarang disebut kaum minoritas—tidak terjadi. Sebab, Rasul saw. bersabda:
«أَلاَ مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَداً أَوْ اِنْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئاً بِغَيْرِ طَيِبَةِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
Ingat, siapa yang menzalimi mu’ahad, mengurangi haknya, membebani dirinya di atas kesanggupannya atau mengambil dari dirinya sesuatu tanpa kerelaannya, maka aku akan memperkarakan dia pada Hari Kiamat (HR Abu Dawud).

Karena itu tidak aneh, sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam hubungan antara Muslim dan non-Muslim pun harmonis (Lihat: Hourani A.  2005. A History of the Arab Peoples. hlm. 33).
Syariah dan Khilafah Mewujudkan Kemakmuran
Di bidang ekonomi, penerapan syariah di bawah Khilafah akan mengembalikan kekayaan alam seperti tambang, migas, hutan, dll kepada seluruh rakyat. Pasalnya, semua kekayaan itu secara syar’i memang milik rakyat. Semua itu harus dikelola oleh negara yang seluruh hasilnya wajib dikembalikan kepada rakyat; untuk membiayai pendidikan, kesehatan dan berbagai pelayanan publik. Harta milik umum dan berbagai sumber pemasukan negara lainnya lebih dari cukup untuk mendanai pembangunan dan pelayanan kepada rakyat. Sangat mungkin dihasilkan surplus seperti pada masa Harun ar-Rasyid. Pada masa itu negara surplus sebesar 900 juta dinar emas (Najeebabadi, 2001, The History of Islam. hlm.  375). Jumlah itu setara Rp 1.912,5 triliun (asumsi emas Rp 500.000/gram). Bandingkan dengan APBN Indonesia tahun 2013 yang hanya Rp 1.683 triliun.
Syariah dan Khilafah dengan sistem ekonomi Islam akan sanggup mendistribusikan kekayaan secara adil dan merata. Kekayaan tidak akan dinikmati oleh segelintir orang kaya saja. Kesejahteraan dan kemakmuran akan dirasakan oleh seluruh rakyat, Muslim dan non-Muslim. Dalam sejarah penerapan syariah di bawah Khilafah, hal itu benar-benar terwujud. Fakta ini telah diakui termasuk oleh para sejarahwan Barat (Lihat: Bloom and Blair Islam – A Thousand Years of Faith and Power,  hlm. 97-98).

Syariah dan Khilafah: Wajib dan Mendesak!
Kewajiban menerapkan syariah dan Khilafah adalah perkara yang sudah sangat dimaklumi. Dengan itu kewajiban kita untuk memutuskan hukum dengan apa yang telah Allah turunkan (QS al-Maidah [5]: 48) bisa ditunaikan. Tanpa penerapan syariah dan penegakan Khilafah; banyak kewajiban akan terlantar, banyak hukum tidak akan terlaksana seperti kewajiban qishash (QS al-Baqarah [2]: 178), had bagi pezina (QS an-Nur [24]: 2), had bagi pencuri (QS al-Maidah [5]: 38) dan banyak hukum Allah SWT lainnya.
Banyaknya hukum agama yang ditelantarkan, banyaknya kemaslahatan rakyat yang diabaikan, terjadinya eksploitasi atas manusia, dan banyaknya persoalan yang tak kunjung selesai saat ini, semua itu menunjukkan bahwa penerapan syariah dan Khilafah amat mendesak.
Imam al-Mawardi, ulama mazhab Syafii, dalam bukunya Al-Ahkâm as-Sulthâniyah wa al-Wilayât ad-Dîniyah (hlm. 3), mengatakan:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ اللهَ جَلَتْ قُدْرَتُهُ نَدَبَ لِلْأُمَّةِ زَعِيْماً خَلَفَ بِهِ النُّبُوَّةَ، وَحَاطَ بِهِ الْمِلَّةَ، وَفَوَّضَ إِلَيْهِ اَلسِّيَاسَةَ، لِيَصْدُرَ التَّدْبِيْرُ عَنْ دِيْنٍ مَشْرُوْعٍ، وَتَجْتَمِعُ الْكَلِمَةُ عَلَى رَأْيٍ مَتْبُوْعٍ، فَكَانَتْ الْإِمَامَةُ أَصْلاً عَلَيْهِ اِسْتَقَرَتْ قَوَاعِدُ الْمِلَّةِ، وَاِنْتَظَمَتْ بِهِ مَصَالِحُ الْأُمَّةِ.
Ammâ ba’du. Sungguh Allah Yang Maha Tinggi kekuasaan-Nya menyuruh umat mengangkat pemimpin untuk menggantikan kenabian, melindungi agama dan mewakilkan kepada dirinya pemeliharaan urusan umat. Hal itu bertujuan agar pengaturan itu keluar dari agama yang disyariatkan dan agar kalimat menyatu di atas pendapat yang diikuti. Karena itu Imamah (Khilafah) adalah pokok yang menjadi fondasi kokohnya pilar-pilar agama dan teraturnya kemaslahatan-kemaslahatan umat.

Dengan demikian syariah dan Khilafah sejatinya merupakan jalan keselamatan dan penyelamatan bagi negeri ini dan penduduknya. Karena itu seruan untuk menerapkan syariah dan menegakkan Khilafah harus segera kita penuhi.
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ﴾
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (TQS al-Anfal [8]: 24).

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar al-Islam:
Ratusan kepala daerah akan meninggalkan tugas pokoknya selama kampanye Pemilu Presiden 2014. Sebanyak 534 kepala daerah yaitu gubernur, wakil gubernur, bupati dan wali kota mengajukan cuti untuk mengikuti kampanye yang dimulai pada Rabu (4/6) hingga 5 Juli 2014. (Republika, 3/6).
  1. Itulah bukti bahwa kepentingan politik dan kekuasaan lebih diutamakan dari kepentingan rakyat.
  2. Itulah demokrasi, kepentingan rakyat hanya jadi komoditi. Alhasil, campakkan demokrasi!
  3. Penguasa pemelihara urusan rakyat yang sejati hanya terwujud jika syariah dan Khilafah diterapkan. Karena itu segeralah kita wujudkan, jangan ditunda-tunda lagi.
[www.globalmuslim.web.id]

3:44 PM
jokowi-prabowoPeneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng menyatakan kesamaan capres Prabowo maupun capres Jokowi. “Keduanya sama-sama tunduk pada ekonomi liberal,” ungkapnya seperti diberitakan tabloid Media Umat Edisi 129: Prabowo atau Jokowi? Jum’at (6-19 Juni).
Itu terlihat dari visi misi pasangan Prabowo-Hatta dan pasangan Jokowi-JK yang dianggap tidak menyentuh dampak dari penerapan ekonomi liberal. “Jadi kalau melihat visi misi mereka sama sekali tidak mencerminkan adanya respon terhadap problem nasional yang dihadapi sekarang, baik problem dominasi asing, kemiskinan, korupsi dan kerusakan moral yang sangat luas itu,” ungkapnya.
Sedangkan, isu nasionalisme untuk membendung dominasi asing yang mereka katakan itu tidak lebih dari sekedar slogan saja. Karena yang dihadapi adalah perjanjian internasional yang mengikat serta UU yang sangat neoliberal. “Bagaimana mengatasinya? Karena partai-partai mereka sendiri yang membuatnya,” beber Daeng.
Ia juga menyatakan kemiskinan terjadi lantaran politik ekonomi nasional yang liberal. Itu dicirikan dengan anti subsidi, ketimpangan di dalam akses terhadap sumber daya alam dan sumber keuangan. Serta distribusi pendapatan yang sangat minim. “Seperti politik upah murah, tidak ada perhitungan harga bagi petani, semua harga diserahkan kepada mekanisme pasar, sementara tingkat inflasi dan harga-harga semakin tinggi,” ujarnya.
Ada pun korupsi, marak lantaran mekanisme demokrasi. “Mekanisme demokrasi kita kan bertumpu pada kekuatan parpol atau propaganda media. Sementara parpolnya dibiaya oleh dua sumber. Yakni sumbangan dari kadernya yang korupsi dan sumbangan dari pengusaha-pengusaha yang membajak kekayaan alam kita,” tegasnya.
Daeng juga menyebut kerusakan moral sudah terjadi pada seluruh level karena sistem politiknya penuh dengan manipulasi dan penyuapan, dsb. hingga mekanisme pengambilan keputusan politik oleh elite-elite politik yang moralnya sudah ambruk. “Motivasinya hanya untuk memperkaya dan menyelematkan diri, tidak ada lagi ketaatan terhadap nilai-nilai moral yang baik, berpolitik diterjemahkan sebagai kekuasaan semata, bukan untuk mengabdi kepada rakyat,” bebernya.
Maka, menurut Daeng, mengharapkan presiden terpilih memperbaikinya jelas tidak akan bisa. Karena presiden hanyalah bagian kecil daripada kekuasaan. Kekuasaan itu ada di DPR, MK, KPK, ada IMK, BI, OJK, BPJS dll. “Jadi bagaimana mau memperbaiki keadaan dengan sistem demokrasi pecah belah seperti ini? Jadi tidak ada yang bisa diharapkan,” simpulnya.
Walhasil, siapa saja yang menang, rakyat akan tetap menderita. “Sama saja buat kita sebagai rakyat mah, tidak ada perbedaan, karena ruang lingkup masalahnya seperti dominasi asing, kemiskinan, korupsi dan rusaknya moral akibat sistem ekonomi liberal tidak mereka sentuh,” pungkasnya.[]Joko Prasetyo
[www.globalmuslim.web.id]

3:13 PM

Photo: ‘Sukses’ Pemilu 2014

Oleh: Farid Wadjdi

Pileg sudah berakhir. Hasilnya pun sudah bisa diduga. PDIP merebut suara terbanyak, meskipun tidak dominan. Adapun partai-partai yang mencantumkan asas Islam atau berbasis massa Islam, peraihan suaranya, ada yang naik ada yang turun. Namun, kalau ditotal seluruhnya ada peningkatan suara. Adapun golput diperkirakan jumlahnya meningkat, ada yang menyatakan sekitar 30% lebih. Artinya, suara golput mengungguli suara yang diraih PDIP.

Pemilu demokratis  kemarin juga meraih kesuksesan dalam bentuk lain. Pertama: Pemilu demokratis sukses memperdaya rakyat, seolah-seolah Pemilu ini sangat penting untuk rakyat; menentukan masa depan Indonesia ke depan. Namun, belajar dari pengalaman Pemilu sebelumnya, suara rakyat justru dipakai untuk membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Privatisasi, menambah utang luar negeri, menaikkan harga BBM, semuanya atas nama rakyat. Padahal omong-kosong Pemilu demokratis untuk perbaikan selama tidak ada perubahan sistem kapitalisme yang menjadi pangkal derita rakyat.

Kedua: Pemilu demokratis sukses mengokohkan kembali sistem kapitalisme yang menjadi pangkal derita rakyat Indonesia. Apalagi pemenang Pemilu adalah partai atau elit politik yang punya trackrecord buruk dengan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang menambah derita rakyat.

Hal ini yang ditegaskan pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy. Menurut dia, pemenang Pemilu akan melanjutkan neoliberal dan ikut arus globalisasi (Media Umat, Edisi 126).

Ketiga: Pemilu demokratis sukses membongkar elit politik yang tunduk kepada negara-negara imperialis Barat dengan berupaya mencari restu dari mereka. Belum berkuasa, Jokowi sudah sowan  meminta restu pihak asing dalam pertemuan dengan para dubes asing termasuk Dubes Amerika. Penting dicatat, pertemuan ini dilakukan di rumah pengusaha Jacob Soetoyo yang juga pernah tercatat dalam barisan dewan pengawas Center of Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2005. CSIS adalah lembaga thinktank penting era Orde baru. CSIS selama Orde Baru  dikenal dengan pemikirannya yang sekular, liberal dan cendrung anti Islam.

Pertemuan ini dikecam keras Jubir HTI. Menurut Ismail Yusanto. Pertemuan ini menujukkan Jokowi sangat bergantung pada restu pihak asing, khususnya Amerika. Kalau sudah seperti ini bagaimana kita bisa berharap ada kemandirian dan kedaulatan atas negeri ini?
Keempat: gebyar Pemilu dengan perbagai pencitraan partai dan elitnya sukses menghapuskan memori rakyat. Rakyat menjadi lupa siapa penjahat-penjahat politik yang selama ini membuat mereka menderita. Lewat pencitraan media yang dikuasa pemilik modal mereka muncul seolah-olah pro rakyat, bisa membawa perubahan untuk rakyat.

Padahal PDIP dan Golkar sebagai dua partai besar yang berasas nasionalis-sekular sebagai pemegang Pemilu sarat dengan cacat politik. Golkar dengan kejayaannya di masa Orde Baru, dengan kebijakan yang represif dan liberal. PDIP dan elit-elit partai Gerindra juga terjerat berbagai masalah.

Saat jadi pesiden, Megawati mengeluarkan kebijakan outsourcing kaum buruh yang membawa derita buruh. Pemberian release & discharge (R & D) kasus Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI), penjualan Indosat dengan harga murah ke SingTel, penjualan kapal tanker VLCC milik Pertamina dan kemudian pihak Pertamina harus menyewa dengan harga mahal serta penjualanan aset yang dikelola BPPN ke pihak asing. Semuanya terjadi pada masa rezim Megawati.

Pada masa  Megawati pula, Indonesia menjadi surga bagi konglomerat hitam. Mereka mendapatkan Release and Discharge (R & D), yang arti harfiahnya adalah bebaskan dan bayar utang. Para pengemplang uang negara dalam kasus BLBI ini oleh Megawati diberi kemudahan dengan mengembalikan cicilan kerugian negara dengan potongan 16-36 persen. Mereka pun bebas dari tuntutan pidana. Ketentuan itu diatur dalam MSAA (Master of Acquisition and Agreement) dan merupakan perjanjian penyelesaian utang di luar pengadilan (settlement out of court).

Kelima: Pemilu demokratis  sukses memandulkan partai-partai yang menyebut Islam sebagai asas. Partai Islam yang seharusnya menyerukan ideologi Islam dengan tegas, menyerukan syariah Islam sebagai solusi dan kewajiban menegakkan Khilafah Islam sebagai instusi negara, nyaris tidak bersuara berdasarkan tuntutan Islam.

Mereka hanya membangun opini yang  mendorong umat Islam untuk memilih. Dibangun opini seolah-olah kalau tidak ikut Pemilu, orang kafir akan berkuasa, kelompok sesat akan duduk di parlemen dan lain-lain.

Memang, kita tidak ingin orang kafir berkuasa, atau kelompok sesat memimpin. Namun perlu kita catat, semua itu terjadi justru karena kita menganut sistem demokrasi sekular. Kalau kita menerapkan sistem Islam, orang-orang kafir tidak akan punya jalan berkuasa. Negara imperialis kafir tidak akan punya peluang untuk menjajah umat Islam. Seharusnya pangkal masalah inilah disampaikan kepada umat.

Kalau benar-benar serius umat ini tidak dijajah oleh negara-negara kafir kapitalis, mengapa tidak menyerukan secara massif keharaman sistem demokrasi dan kewajiban menegakkan Khilafah yang menerapkan seluruh syariah Islam?

Keenam: Pemilu demokratis menunjukkan kesenjangan antara harapan umat Islam dan prilaku partai-partai Islam.  Umat Islam termasuk ormas-ormas Islam ingin partai Islam bersatu. Namun, partai-partai umat Islam sendiri lebih memilih jalan pragmatis, mencari koalisi yang memungkinkan untuk ikut berkuasa, tanpa melihat lagi apakah asasnya Islam atau tidak.

Karena itu apa yang disampaikan oleh Ustadz Rachmat S. Labib, Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesa, perlu kita perhatikan. Dalam pertemuan tokoh-tokoh Islam dengan tema Membaca Realitas Umat Pasca Pemilu Legislatif, Rabu (16/4) di Kantor DPP Hizbut Tahrir Indonesia, Rokhmat mengingatkan bahwa umat seharusnya bukan hanya berpikir orang, tetapi juga mempertimbangkan sistemnya.  Kita seharusnya bukan hanya menjadikan orang Islam berkuasa, tetapi harus juga sistem Islam berkuasa (syakhsun wa nizham).

Dengan tegas disampaikan, calon pemimpin, selain  harus memenuhi syarat pengangkatan (in’iqad)—yakni Muslim, laki-laki, balig, berakal, merdeka, adil dan mampu—wajib pula pemimpin itu hanya menerapkan hukum Islam, bukan hukum yang lain. Adapun sistem pemerintahannya  haruslah yang menerapkan seluruh hukum Islam di dalam negeri dan menyebarkan dakwah dan jihad ke luar negeri. Itulah sistem pemerintahan Islam atau yang biasa kita sebut Khilafah.

Tanpa Islam, syariah Islam dan Khilafah Islam, tidak akan ada perubahan yang berarti untuk Indonesia dan negeri-negeri Islam. Perubahan tanpa Islam, syariah dan Khilafah adalah mimpi yang utopis. []

http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/25/sukses-pemilu-2014/

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda.
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================

Oleh: Farid Wadjdi

Pileg sudah berakhir. Hasilnya pun sudah bisa diduga. PDIP merebut suara terbanyak, meskipun tidak dominan. Adapun partai-partai yang mencantumkan asas Islam atau berbasis massa Islam, peraihan suaranya, ada yang naik ada yang turun. Namun, kalau ditotal seluruhnya ada peningkatan suara. Adapun golput diperkirakan jumlahnya meningkat, ada yang menyatakan sekitar 30% lebih. Artinya, suara golput mengungguli suara yang diraih PDIP.

Pemilu demokratis kemarin juga meraih kesuksesan dalam bentuk lain. Pertama: Pemilu demokratis sukses memperdaya rakyat, seolah-seolah Pemilu ini sangat penting untuk rakyat; menentukan masa depan Indonesia ke depan. Namun, belajar dari pengalaman Pemilu sebelumnya, suara rakyat justru dipakai untuk membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Privatisasi, menambah utang luar negeri, menaikkan harga BBM, semuanya atas nama rakyat. Padahal omong-kosong Pemilu demokratis untuk perbaikan selama tidak ada perubahan sistem kapitalisme yang menjadi pangkal derita rakyat.

Kedua: Pemilu demokratis sukses mengokohkan kembali sistem kapitalisme yang menjadi pangkal derita rakyat Indonesia. Apalagi pemenang Pemilu adalah partai atau elit politik yang punya trackrecord buruk dengan kebijakan-kebijakan neo-liberal yang menambah derita rakyat.

Hal ini yang ditegaskan pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy. Menurut dia, pemenang Pemilu akan melanjutkan neoliberal dan ikut arus globalisasi (Media Umat, Edisi 126).

Ketiga: Pemilu demokratis sukses membongkar elit politik yang tunduk kepada negara-negara imperialis Barat dengan berupaya mencari restu dari mereka. Belum berkuasa, Jokowi sudah sowan meminta restu pihak asing dalam pertemuan dengan para dubes asing termasuk Dubes Amerika. Penting dicatat, pertemuan ini dilakukan di rumah pengusaha Jacob Soetoyo yang juga pernah tercatat dalam barisan dewan pengawas Center of Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2005. CSIS adalah lembaga thinktank penting era Orde baru. CSIS selama Orde Baru dikenal dengan pemikirannya yang sekular, liberal dan cendrung anti Islam.

Pertemuan ini dikecam keras Jubir HTI. Menurut Ismail Yusanto. Pertemuan ini menujukkan Jokowi sangat bergantung pada restu pihak asing, khususnya Amerika. Kalau sudah seperti ini bagaimana kita bisa berharap ada kemandirian dan kedaulatan atas negeri ini?
Keempat: gebyar Pemilu dengan perbagai pencitraan partai dan elitnya sukses menghapuskan memori rakyat. Rakyat menjadi lupa siapa penjahat-penjahat politik yang selama ini membuat mereka menderita. Lewat pencitraan media yang dikuasa pemilik modal mereka muncul seolah-olah pro rakyat, bisa membawa perubahan untuk rakyat.

Padahal PDIP dan Golkar sebagai dua partai besar yang berasas nasionalis-sekular sebagai pemegang Pemilu sarat dengan cacat politik. Golkar dengan kejayaannya di masa Orde Baru, dengan kebijakan yang represif dan liberal. PDIP dan elit-elit partai Gerindra juga terjerat berbagai masalah.

Saat jadi pesiden, Megawati mengeluarkan kebijakan outsourcing kaum buruh yang membawa derita buruh. Pemberian release & discharge (R & D) kasus Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI), penjualan Indosat dengan harga murah ke SingTel, penjualan kapal tanker VLCC milik Pertamina dan kemudian pihak Pertamina harus menyewa dengan harga mahal serta penjualanan aset yang dikelola BPPN ke pihak asing. Semuanya terjadi pada masa rezim Megawati.

Pada masa Megawati pula, Indonesia menjadi surga bagi konglomerat hitam. Mereka mendapatkan Release and Discharge (R & D), yang arti harfiahnya adalah bebaskan dan bayar utang. Para pengemplang uang negara dalam kasus BLBI ini oleh Megawati diberi kemudahan dengan mengembalikan cicilan kerugian negara dengan potongan 16-36 persen. Mereka pun bebas dari tuntutan pidana. Ketentuan itu diatur dalam MSAA (Master of Acquisition and Agreement) dan merupakan perjanjian penyelesaian utang di luar pengadilan (settlement out of court).

Kelima: Pemilu demokratis sukses memandulkan partai-partai yang menyebut Islam sebagai asas. Partai Islam yang seharusnya menyerukan ideologi Islam dengan tegas, menyerukan syariah Islam sebagai solusi dan kewajiban menegakkan Khilafah Islam sebagai instusi negara, nyaris tidak bersuara berdasarkan tuntutan Islam.

Mereka hanya membangun opini yang mendorong umat Islam untuk memilih. Dibangun opini seolah-olah kalau tidak ikut Pemilu, orang kafir akan berkuasa, kelompok sesat akan duduk di parlemen dan lain-lain.

Memang, kita tidak ingin orang kafir berkuasa, atau kelompok sesat memimpin. Namun perlu kita catat, semua itu terjadi justru karena kita menganut sistem demokrasi sekular. Kalau kita menerapkan sistem Islam, orang-orang kafir tidak akan punya jalan berkuasa. Negara imperialis kafir tidak akan punya peluang untuk menjajah umat Islam. Seharusnya pangkal masalah inilah disampaikan kepada umat.

Kalau benar-benar serius umat ini tidak dijajah oleh negara-negara kafir kapitalis, mengapa tidak menyerukan secara massif keharaman sistem demokrasi dan kewajiban menegakkan Khilafah yang menerapkan seluruh syariah Islam?

Keenam: Pemilu demokratis menunjukkan kesenjangan antara harapan umat Islam dan prilaku partai-partai Islam. Umat Islam termasuk ormas-ormas Islam ingin partai Islam bersatu. Namun, partai-partai umat Islam sendiri lebih memilih jalan pragmatis, mencari koalisi yang memungkinkan untuk ikut berkuasa, tanpa melihat lagi apakah asasnya Islam atau tidak.

Karena itu apa yang disampaikan oleh Ustadz Rachmat S. Labib, Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesa, perlu kita perhatikan. Dalam pertemuan tokoh-tokoh Islam dengan tema Membaca Realitas Umat Pasca Pemilu Legislatif, Rabu (16/4) di Kantor DPP Hizbut Tahrir Indonesia, Rokhmat mengingatkan bahwa umat seharusnya bukan hanya berpikir orang, tetapi juga mempertimbangkan sistemnya. Kita seharusnya bukan hanya menjadikan orang Islam berkuasa, tetapi harus juga sistem Islam berkuasa (syakhsun wa nizham).

Dengan tegas disampaikan, calon pemimpin, selain harus memenuhi syarat pengangkatan (in’iqad)—yakni Muslim, laki-laki, balig, berakal, merdeka, adil dan mampu—wajib pula pemimpin itu hanya menerapkan hukum Islam, bukan hukum yang lain. Adapun sistem pemerintahannya haruslah yang menerapkan seluruh hukum Islam di dalam negeri dan menyebarkan dakwah dan jihad ke luar negeri. Itulah sistem pemerintahan Islam atau yang biasa kita sebut Khilafah.

Tanpa Islam, syariah Islam dan Khilafah Islam, tidak akan ada perubahan yang berarti untuk Indonesia dan negeri-negeri Islam. Perubahan tanpa Islam, syariah dan Khilafah adalah mimpi yang utopis. []


[www.globalmuslim.web.id]

3:11 PM

Photo: Pemilu 2014 : Tak Ada Perubahan Mendasar, Cuma Ganti Orang

Perubahan yang selalu dibicarakan adalah perubahan orang, siapa presidennya, siapa wakil rakyatnya. Padahal justru yang paling penting adalah sistem apa digunakan.

Jika demokrasi memiliki prinsip one man one vote, ada fenomena baru dalam demokrasi Indonesia yakni one envelope (amplop) one vote. Itulah yang dikemukakan oleh Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman ketika membuka Halqah Islam dan Peradaban di Jakarta, Sabtu (26/4) bertajuk Prospek Masa Depan Umat Islam Pasca Pemilu 2014.

Menurut Yahya, melihat hasil pemilu legislatif, pemilu tahun 2014 tidak banyak menunjukkan perubahan yang berarti. Memang terjadi perubahan orang dengan muka baru sebesar 50 persen. Tapi, dari muka-muka baru itu banyak muka-muka nekat. “Kenapa dikatakan muka nekat, karena sangat jor-joran untuk menang dalam pemilu,” katanya.

Fenomena serangan fajar terbukti nyata. Kalau seperti ini, ujar Yahya, modal politik DPR makin besar dan membuat elite politik menjadi buruk dan terbelenggu oleh uang. Hasil pemilu legislatif menujukkan bagaimana kekuatan uang menuntukan, bukan kekuatan ide, gagasan dan ideologi.

“Apakah pemilu dengan hasil seperti ini akan membawa perubahan untuk kehidupan masyarakat?” ungkap Yahya.

Pimpinan redaksi Tabloid Media Umat, Farid Wadjdi dalam kesempatan yang sama mengatakan sistem demokrasi memang diformat bukan untuk melakukan perubahan sistem tapi hanya untuk mengganti rezima atau orang. Kalaupun ada perubahan kebijakan sifatnya parsial bukan untuk perubahan mendasar.

Menurutnya,  sebagian besar yang terpilih karena kekuatan modal dan popularitas, ditambah tidak adanya suara partai yang dominan yang mengharuskan mereka berkoalisi. Sementara koalisi tak jarang terjebak politik dagang sapi, yang hanya untuk kepentingan elit politik, bukan rakyat.

“Bagaimana kita bisa berharap orang-orang terpilih ini akan membawa perubahan yang signifikan. Bahkan bisa jadi anggota legislatif tahun ini bisa lebih parah dari periode lalu,” tuturnya.

Farid menambahkan, anggota DPR tidak akan memiliki kinerja baik untuk rakyat selama sistemnya demokrasi, karena kebijakan keluar akan dipengaruhi oleh pemilik modal. Sementara itu keinginan pemilik modal kerap kali bersebrangan dengan kepentingan masyarakat. “Tidak ada kinerja baik kalau sistemnya demokrasi,” ujarnya.

Pembicara yang lain, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menjelaskan problem utama dalam politik politik Islam adalah apa cita-cita kongkrit dari politik Islam sulit diidentifikasi. “Apa yang sebenarnya menjadi  cita-cita partai politik Islam  dari PKS, PKB dan PPP, sulit dijelaskan,” jelasnya.

Sedangkan, Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib mengatakan ketika membahas perubahan selalu dibicarakan adalah perubahan orang, siapa presidennya, siapa wakil rakyatnya. Padahal justru yang paling penting adalah sistem apa digunakan orang tersebut jika berkuasa. Perubahan itu terbentuk dari sistem dan penerapan hukum yang orang gunakan.

“Jika sistemnya sejak awal bermasalah maka seluruhnya akan bermasalah,” tuturnya

Perubahan terjadi jika kaum itu menginginkan perubahan, jika tidak,  maka perubahan itu pun tidak akan terjadi. Karena itu penting bagi umat untuk memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan. Itulah yang dilakukan Hizbut Tahrir, mengajak umat melakukan perubahan paling mendasar yakni perubahan sistem dengan Islam.

“Kita harus mengarahkan umat pada perubahan Islam, jika tidak maka perubahan yang terjadi semakin buruk dan lebih buruk,” paparnya.

Walau tidak bisa menghadiri forum HIP, pengamat politik dari UI Boni Hargens menyatakan partai Islam harus bersatu. Kenapa? Sebab politik kita sedang mengalami krisis moral. “Saya setuju perlu ada orang-orang bermoral dan saya yang pertama kali mengusulkan Pan-Islamisme,” ujarnya dalam sambungan telpon.

Lalu, Boni menambahkan jika partai Islam bersatu, partai sekuler akan diuji apakah benar-benar mereka demokratis dan nasionalis seperti mereka kampanyekan.

“Kita harus uji benarkah partai-partai sekuler itu demokratis dengan membiarkan partai Islam berkuasa kalau partai Islam menang pemilu,” lanjutnya.

“Jangan-jangan justru mereka yang sekuler tidak siap berdemokrasi,” pungkasnya.[] 

http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/29/tak-ada-perubahan-cuma-ganti-orang/

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda.
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================

Pemilu 2014 : Tak Ada Perubahan Mendasar, Cuma Ganti Orang

Perubahan yang selalu dibicarakan adalah perubahan orang, siapa presidennya, siapa wakil rakyatnya. Padahal justru yang paling penting adalah sistem apa digunakan.

Jika demokrasi memiliki prinsip one man one vote, ada fenomena baru dalam demokrasi Indonesia yakni one envelope (amplop) one vote. Itulah yang dikemukakan oleh Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman ketika membuka Halqah Islam dan Peradaban di Jakarta, Sabtu (26/4) bertajuk Prospek Masa Depan Umat Islam Pasca Pemilu 2014.

Menurut Yahya, melihat hasil pemilu legislatif, pemilu tahun 2014 tidak banyak menunjukkan perubahan yang berarti. Memang terjadi perubahan orang dengan muka baru sebesar 50 persen. Tapi, dari muka-muka baru itu banyak muka-muka nekat. “Kenapa dikatakan muka nekat, karena sangat jor-joran untuk menang dalam pemilu,” katanya.

Fenomena serangan fajar terbukti nyata. Kalau seperti ini, ujar Yahya, modal politik DPR makin besar dan membuat elite politik menjadi buruk dan terbelenggu oleh uang. Hasil pemilu legislatif menujukkan bagaimana kekuatan uang menuntukan, bukan kekuatan ide, gagasan dan ideologi.

“Apakah pemilu dengan hasil seperti ini akan membawa perubahan untuk kehidupan masyarakat?” ungkap Yahya.

Pimpinan redaksi Tabloid Media Umat, Farid Wadjdi dalam kesempatan yang sama mengatakan sistem demokrasi memang diformat bukan untuk melakukan perubahan sistem tapi hanya untuk mengganti rezima atau orang. Kalaupun ada perubahan kebijakan sifatnya parsial bukan untuk perubahan mendasar.

Menurutnya, sebagian besar yang terpilih karena kekuatan modal dan popularitas, ditambah tidak adanya suara partai yang dominan yang mengharuskan mereka berkoalisi. Sementara koalisi tak jarang terjebak politik dagang sapi, yang hanya untuk kepentingan elit politik, bukan rakyat.

“Bagaimana kita bisa berharap orang-orang terpilih ini akan membawa perubahan yang signifikan. Bahkan bisa jadi anggota legislatif tahun ini bisa lebih parah dari periode lalu,” tuturnya.

Farid menambahkan, anggota DPR tidak akan memiliki kinerja baik untuk rakyat selama sistemnya demokrasi, karena kebijakan keluar akan dipengaruhi oleh pemilik modal. Sementara itu keinginan pemilik modal kerap kali bersebrangan dengan kepentingan masyarakat. “Tidak ada kinerja baik kalau sistemnya demokrasi,” ujarnya.

Pembicara yang lain, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menjelaskan problem utama dalam politik politik Islam adalah apa cita-cita kongkrit dari politik Islam sulit diidentifikasi. “Apa yang sebenarnya menjadi cita-cita partai politik Islam dari PKS, PKB dan PPP, sulit dijelaskan,” jelasnya.

Sedangkan, Ketua DPP HTI Rokhmat S Labib mengatakan ketika membahas perubahan selalu dibicarakan adalah perubahan orang, siapa presidennya, siapa wakil rakyatnya. Padahal justru yang paling penting adalah sistem apa digunakan orang tersebut jika berkuasa. Perubahan itu terbentuk dari sistem dan penerapan hukum yang orang gunakan.

“Jika sistemnya sejak awal bermasalah maka seluruhnya akan bermasalah,” tuturnya

Perubahan terjadi jika kaum itu menginginkan perubahan, jika tidak, maka perubahan itu pun tidak akan terjadi. Karena itu penting bagi umat untuk memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan. Itulah yang dilakukan Hizbut Tahrir, mengajak umat melakukan perubahan paling mendasar yakni perubahan sistem dengan Islam.

“Kita harus mengarahkan umat pada perubahan Islam, jika tidak maka perubahan yang terjadi semakin buruk dan lebih buruk,” paparnya.

Walau tidak bisa menghadiri forum HIP, pengamat politik dari UI Boni Hargens menyatakan partai Islam harus bersatu. Kenapa? Sebab politik kita sedang mengalami krisis moral. “Saya setuju perlu ada orang-orang bermoral dan saya yang pertama kali mengusulkan Pan-Islamisme,” ujarnya dalam sambungan telpon.

Lalu, Boni menambahkan jika partai Islam bersatu, partai sekuler akan diuji apakah benar-benar mereka demokratis dan nasionalis seperti mereka kampanyekan.

“Kita harus uji benarkah partai-partai sekuler itu demokratis dengan membiarkan partai Islam berkuasa kalau partai Islam menang pemilu,” lanjutnya.

“Jangan-jangan justru mereka yang sekuler tidak siap berdemokrasi,” pungkasnya.[]

[www.globalmuslim.web.id]

12:43 PM

Photo: Lima Faktor Pendukung Maraknya Pencabulan Anak

Mediaumat.com- Maraknya pencabulan terhadap anak, termasuk pelecehan seksual terhadap bocah TK di Jakarta baru-baru ini, menurut pengamat sosial Iwan Januar setidaknya didukung lima faktor. “Tak ada asap kalau tak ada api, setidaknya ada lima faktor yang membuat kian hari kian marak predator anak ini,” ungkapnya kepada mediaumat.com, Ahad (20/4) melalui surat elektronik.

Pertama, semakin gampangnya orang mengakses pornografi. “Dampaknya bisa ditebak; pelaku menjadi porn addict dan akhirnya mencari pelampiasan. Korban yang paling mudah disasar adalah anak kecil. Mereka mudah dibujuk, diancam, atau dibunuh sekalian,” ungkapnya.

Kedua, banyak wanita yang senang memakai busana minim dan ketat. Pria dewasa normal akan terangsang dan sebagian dari mereka akan mencari pelampiasan hasrat seksualnya. “Lagi-lagi, korban yang paling gampang disasar adalah anak-anak,” lontarnya.

Ketiga, keteledoran orang tua. Banyak bocah perempuan didandani dengan pakaian tanktop, rok mini, dsb. Ini menimbulkan godaan bagi kaum pedofil untuk menyasar mereka. “Orang tua seharusnya memberikan pakaian yang wajar, lebih baik lagi menutup aurat kepada anak-anak laki atau perempuan sekalipun mereka belum baligh,” sarannya.

Keempat, orang tua lengah dalam mengawasi lingkungan pergaulan anak.

Kelima, orang tua tidak membekali anak etika pergaulan. Sekalipun masih kanak-kanak, orang tua sudah semestinya mengajarkan rasa malu bila aurat mereka terlihat, ajarkan juga dimana tempat membuka pakaian, larangan mencium dan dicium lawan jenis, termasuk berani bercerita bila ada orang yang berani memegang organ kelamin mereka.

“Terakhir saya ingin speak out, kita harus melawan kaum predator ini. Jangan ada orang tua yang bungkam melawan mereka. Siapapun pelakunya: Lawan!” ajaknya tegas.[] Joko Prasetyo

http://mediaumat.com/headline-news/5406-lima-faktor-pendukung-maraknya-pencabulan-anak.html

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di www.hizbut-tahrir.or.id/gabung

Syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda.
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================

Lima Faktor Pendukung Maraknya Pencabulan Anak

Mediaumat.com- Maraknya pencabulan terhadap anak, termasuk pelecehan seksual terhadap bocah TK di Jakarta baru-baru ini, menurut pengamat sosial Iwan Januar setidaknya didukung lima faktor. “Tak ada asap kalau tak ada api, setidaknya ada lima faktor yang membuat kian hari kian marak predator anak ini,” ungkapnya kepada mediaumat.com, Ahad (20/4) melalui surat elektronik.

Pertama, semakin gampangnya orang mengakses pornografi. “Dampaknya bisa ditebak; pelaku menjadi porn addict dan akhirnya mencari pelampiasan. Korban yang paling mudah disasar adalah anak kecil. Mereka mudah dibujuk, diancam, atau dibunuh sekalian,” ungkapnya.

Kedua, banyak wanita yang senang memakai busana minim dan ketat. Pria dewasa normal akan terangsang dan sebagian dari mereka akan mencari pelampiasan hasrat seksualnya. “Lagi-lagi, korban yang paling gampang disasar adalah anak-anak,” lontarnya.

Ketiga, keteledoran orang tua. Banyak bocah perempuan didandani dengan pakaian tanktop, rok mini, dsb. Ini menimbulkan godaan bagi kaum pedofil untuk menyasar mereka. “Orang tua seharusnya memberikan pakaian yang wajar, lebih baik lagi menutup aurat kepada anak-anak laki atau perempuan sekalipun mereka belum baligh,” sarannya.

Keempat, orang tua lengah dalam mengawasi lingkungan pergaulan anak.

Kelima, orang tua tidak membekali anak etika pergaulan. Sekalipun masih kanak-kanak, orang tua sudah semestinya mengajarkan rasa malu bila aurat mereka terlihat, ajarkan juga dimana tempat membuka pakaian, larangan mencium dan dicium lawan jenis, termasuk berani bercerita bila ada orang yang berani memegang organ kelamin mereka.

“Terakhir saya ingin speak out, kita harus melawan kaum predator ini. Jangan ada orang tua yang bungkam melawan mereka. Siapapun pelakunya: Lawan!” ajaknya tegas.[] Joko Prasetyo

[www.globalmuslim.web.id]
Powered by Blogger.