Dalam wawancara dengan Associated Press semalam, Bush juga mengaku merasa lega bahwa jumlah korban jiwa di kubu Amerika kala itu minimal setelah sebelumnya para pengkritik memperingatkan mengenai "ribuan kantong mayat" yang akan dibutuhkan untuk para korban. Ia juga mengaku tidak menyesal menghentikan perang itu saat Saddam Hussein tetap berkuasa di Irak.
Bush mengaku menurutnya ia tidak akan melakukan hal yang berbeda. Meski ia mengaku berharap Saddam akan "memperbaiki diri dengan cara tertentu," ia mengatakan bahwa misinya adalah memerdekakan Kuwait, bukan menggulingkan sang pemimpin Irak.
Bush mengatakan, jika dirinya memaksa untuk menggulingkan atau membunuh Saddam, maka ia menanggung risiko kehilangan dukungan dari negara-negara lain yang mendukung perang tersebut setelah invasi Kuwait.
James A. Baker III, menteri luar negeri Bush, ada bersama Bush dalam kantornya saat wawancara berlangsung. Baker mengatakan bahwa mengubah arah misi itu di tengah jalan justru akan membahayakan.
"(Jika itu dilakukan) kami akan mengingkari kata-kata kami kepada seluruh dunia," kata Baker. "Perang pembebasan akan berubah menjadi perang penjajahan."
Bush akan memperingati perang tersebut dalam reuni para pejabat tinggi pemerintahan AS di perpustakaan kepresidenannya di Texas A&M University.
Di perpustakaan yang terletak sekitar 100 mil sebelah barat laut Houston tersebut, yang dijadwalkan hadir di antaranya adalah mantan wakil presiden Dan Quayle, menteri pertahanan kala itu Dick Cheney, mantan pemimpin gabungan kepala militer Colin Powell, serta penasihat keamanan nasional Bush, Brent Scowcroft.
Emir Kuwait Sheikh Sabah Al-Ahmed Al-Jaber Al-Sabah adalah salah satu petinggi Kuwait yang dijadwalkan turut hadir.
Menurut Bush, meski dirinya sering bertemu para mantan koleganya dari waktu ke waktu, reuni tersebut akan menjadi yang pertama bagi tim yang "benar-benar pergi ke sana, melakukan yang kami katakan akan kami lakukan, kemudian pulang."
Yang akan absen adalah Jenderal Norman Schwarzkopf, komandan pasukan koalisi yang kondisi kesehatannya tidak baik. Bush mengatakan, kondisi kesehatannya membuat "seorang pahlawan hebat" tidak hadir.
Bush mengaku yakin Pendeta Billy Graham ada di Gedung Putih pada malam 16 Januari 1991, saat serangan udara dimulai. Mereka menyaksikan liputan televisi.
"Lalu kami mendengar mereka mengatakan pengeboman berhenti," kata Bush. "Ada kekhawatiran bahwa akan ada banyak anak yang tewas. Memang ada, tapi untunglah jumlahnya tidak sebanyak yang diprediksikan."
"Menurut saya, kapan pun seorang presiden harus memutuskan nasib putra atau putri seseorang dalam bahaya, itu adalah keputusan yang sulit. Anda mengkhawatirkannya. Tapi, kami yakin bahwa kami harus melakukan ini. Kami harus mengirimkan pesan bahwa kami akan menegakkan resolusi PBB dan memerdekakan negara itu."
Bush dan Baker mengingat perjuangan untuk meyakinkan Kongres yang kala itu didominasi Demokrat bahwa perang yang dijuluki Desert Storm itu merupakan keputusan yang tepat setelah pasukan Irak menginvasi Kuwait pada Agustus 1990.
"Ada banyak komentar yang menyebutkan mengenai ribuan kantong mayat kala itu, dan hal itu terus berlangsung disertai anggapan bahwa perang itu akan menjadi banjir darah bagi banyak orang," kata Bush.
"Mereka mengecam kami dengan gencar," kenang Baker. "Bagaimana bisa kalian melakukan ini? Ada berapa ribu orang yang akan tewas? Tapi, tidak hanya itu, bagaimana bisa kalian mengerahkan sumber daya negara ini untuk petualangan ini saat rakyat keelaparan dan situasi dalam negeri dan bla, bla, bla."
Menurutnya, di bawah arahan dari Bush, dia dan para pejabat pemerintahan lainnya "berkeliling dunia dengan membawa cangkir timah (wadah peminta-minta)" dan mendapatkan $15 miliar dari Kuwait, $15 miliar lainnya dari Arab Saudi, serta miliaran dolar dari yang lainnya.
"Kami mampu membuat perang ini sebagian besarnya dibayar oleh orang-orang yang kami selamatkan," kata Baker. Menurutnya, perang itu adalah perang pertama dan satu-satunya dalam sejarah AS yang biayanya didapat dari pihak-pihak lain.
Pengeluaran AS berjumlah "$10 miliar dalam sebuah perang yang pada akhirnya menelan biaya $70 miliar," kata Baker. "Ya, kita memang membayar bagian kita dan kehilangan 370 orang warga Amerika pemberani. Itu tidak ternilai, tapi ini merupakan perang pertama dan satu-satunya dalam sejarah negara ini yang dibayari orang-orang lain."
Bush dan Baker mengatakan, sejumlah penentang perang kemudian mengakui kritikan mereka salah.
"Itu jauh lebih baik dari yang kami khawatirkan," kata Bush mengenai hasil akhir perang. "Kami khawatir (perang) itu akan menjadi buruk. Tapi, hasilnya jauh lebih bersih, jauh lebih cepat, kehilangan nyawa di kubu kita dan Irak jauh lebih kecil dibanding yang kami khawatirkan. Itu merupakan hal yang berarti."
"Kami katakan yang akan kami lakukan, kami melakukannya, mengambil pesan moral dari seluruh dunia, memerdekakan sebuah negara, kemudian mengirimkan pesan dalam proses itu bahwa Amerika Serikat bersedia menggunakan kekuatannya di seluruh dunia. Bahkan di belahan bumi yang tidak diperkirakan oleh orang-orang yang mendiaminya, dan saya rasa hal itu merupakan peristiwa sejarah yang dikenang."
"(Perang itu) tidak terasa seperti 20 tahun (lalu)," kata Baker. (dn/ta/lt) www.suaramedia.com

Post a Comment