Tak Takut Pertumpahan Darah, Kafir Terry Jones Teruskan Hujat Islam

WASHINGTON  – Pastur ekstrimis AS Terry Jones mengumumkan akan memimpin sebuah unjuk rasa anti-Islam di luar Masjid terbesar AS di Dearborn, Michigan, pada tanggal 22 April.
Pastur Florida itu menimbulkan kehebohan internasional tahun lalu ketika dia mengumumkan rencana untuk membakar Al-Qur'an pada hari peringatan serangan 11 September.
Dia membatalkan keputusannya pada hari itu namun mengawasi pembakaran kitab suci umat Islam tersebut pada tanggal 20 Maret tahun ini.
Jones, pastur sebuah gereja kecil di Florida itu tidak menyesal akan pertumpahan darah yang terjadi akibat pembakaran Al-Qur'an.
Peristiwa itu berujung pada protes berdarah di Afghanistan dan menimbulkan sentimen anti-Barat di banyak komunitas Muslim di seluruh dunia.
Sepuluh pekerja asing untuk PBB dibunuh oleh pemrotes yang marah di kota Mazar-i-Sharif, Afghanistan.
Rakyat Pakistan juga turun ke jalan untuk mengecam pembakaran Al-Qur'an, menyebutnya sebagai ancaman bagi harmoni relijius.
Setidaknya 10 warga Afghan tewas di kota Kandahar pada hari kedua protes kekerasan atas penodaan Al-Qur'an.
Jones sekarang bersumpah akan memimpin protes di Michigan, masih mengklaim bahwa Al-Qur'an menganjurkan kekerasan.
Setelah sidang pura-pura atas Al-Qur'an bulan lalu, Jones berencana untuk "mengadili" Nabi Muhammad dalam "hari perhitungan" miliknya.
"Ini jelas menjadi pertimbangan untuk mengadili kehidupan Muhammad di masa mendatang," ujarnya dalam sebuah wawancara.
Langkah yang memanas-manasi itu hampir pasti akan memicu protes kekerasan lain di dunia Muslim. Tapi Jones bersikeras bahwa aksinya itu tidak bertanggung jawab atas pembunuhan di Mazar-i-Sharif.
Setelah membatalkan rencananya untuk membakar Al-Qur'an tahun lalu akibat besarnya tekanan, termasuk intervensi dari Presiden Obama, Menteri Pertahanan Robert Gates, dan Jenderal David Petraeus, Jones mengatakan bahwa Al-Qur'an tidak akan pernah dibakar di gerejanya.
Tapi dia mengklaim bahwa pembakaran Al-Qur'an bulan lalu berbeda karena kitab suci itu telah diadili dulu dan kemudian dibakar sebagai hukuman setelah ia terbukti bersalah atas "kejahatan terhadap kemanusiaan".
"Yang berubah adalah kami mengadakan persidangan. Kami tidak hanya membakar Al-Qur'an begitu saja. Jika kau terbukti bersalah atas sebuah kejahatan di AS, kau tidak bisa pulang ke rumah. Harus ada hukuman."
Dia juga mengatakan bahwa pemikiran apapun yang menyatakan bahwa pemrotes yang membunuh pekerja PBB telah terprovokasi oleh aksinya hanyalah "membuat pembenaran" untuk sebuah pembunuhan.
"Kami merasa begitu tragis bahwa setiap kali seseorang terbunuh tapi kami tidak merasa bertanggung jawab untuk itu. Ini jelas mengindikasikan adanya unsur yang sangat radikal dalam Islam." (rin/is/tg) www.suaramedia.com