Showing posts with label dakwah. Show all posts

Belakangan ini Nun seperti anggota grup vokal yang sedang mengambil jalur “solo karier”. Menyanyi seorang diri. Sayangnya, Nun bukan anggota grup vokal yang senang menyumbang suara sumbang. Nun hanya kader dakwah yang merasakan kesunyian membunyikan suara di barisan kerohanian Islam. Rekan-rekan dakwahnya menghilang.
Rekan pertamanya sudah menikah. Rekan keduanya sudah menikah juga dan rekan ketiganya juga. Ketiga rekan yang tergabung dalam satu departemen itu dulu adalah sosok-sosok yang aktif bergerak dalam barisan yang rapi. Aktif bervokal dalam ranah lokal. Tak pasif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan, kemanusiaan, daurah, pantia qurban dan sebagainya. Namun semua berubah pascamenikah. Nun, yang masih melajang, melihat betapa menikah itu ruang berbenah. Juga tohok telak baginya.
Pernah kah merasakan (atau mengalami?) apa yang dirasakan Nun dan yang terjadi pada kawan-kawan perjuangannya yang mengalami keloyoan pascanikah?
Seorang kawan yang tinggal di Depok mengaku pernah mengalami fase seperti ini.
“Sekitar 6 bulan saya pernah vakum setelah menikah. Tidak muncul dalam kegiatan dakwah, banyak ditanyakan ikhwah. Setelah merasa cukup adaptasi dengan istri, saya kembali berdakwah, aktif lagi.” Ucapnya kepada penulis pada suatu malam.
Banyak yang bilang ta’aruf yang sebenarnya itu ketika setelah menikah. Awal-awal menikah juga perlu ‘adaptasi’, menikmati ‘dunia milik berdua’ dengan suami atau istri, bisa sampai enam bulan atau setahun (?). Yang kelewatan itu jika raib dari peredaran pergerakan padahal tugas dakwah di depan mata sudah menunggu si ‘pengantin baru’ itu. Belum lagi nanti ketika terlena ketika hadirnya baby yang menggemaskan, padahal“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28).
Ada itu di sebuah halaqah bahasa Arab, para pesertanya yang tadinya ramai kini kosong melompong. Sebab, para pesertanya sudah menikah.
Jika masih mengenaskan, coba tengok kembali; apa tujuan menikah?
Apakah benar untuk menggenapkan setengah din?
Seharusnya setelah menikah ruhiyah itu makin gagah. Makin rajin tilawah, dakwah tak kenal kata ogah, hafalan makin nambah, tak sering bolos halaqah.
Jika setelah menikah ruhiyah makin payah, mungkin menikah bukan lagi menggenapkan setengah agama, tapi membuat beragama jadi setengah-tengah. Bukan alfu mabruk tapi alfu ambruk. Wallahua’lam. [ BersamaDakwah/www.globalmuslim.web.id]


Pagi itu saya mendapatkan amanah mengisi ceramah di salah satu kota di Jawa Tengah. Acara baru saja dimulai, ketika tiba-tiba ada seseorang yang mendekat dan mengajak salaman. Mungkin sengaja, beliau hanya tersenyum dan sama sekali nggak membuka pembicaraan. Tapi, tunggu.... ingatan saya langsung connect, "Lho, antum di sini sekarang?", saya kaget. Anak muda yang saya temui pagi itu dulu di Surabaya. Kami sama-sama aktif di UKKI, saya di IKIP Surabaya, sementara beliau dari salah satu PTS di Surabaya


Saya tak ingat kapan terakhir kami ketemuan. Cuma kalau dihitung dari masa-masa kuliah dulu, kira-kira kami sudah berpisah sekitar 20 tahunan. "Wajah antum tetap seperti yang dulu. Bedanya, dulu pas kuliah klimis, sekarang belum dicukur bersih, jadi rada brewokan dikit". Hahaha... kami lantas tertawa. Sayang, kami belum bisa ngobrol panjang bernostalgia, MC sudah memanggil nama saya untuk naik ke panggung. Ketika acara selesai, saya sudah tak melihat beliau lagi.

Baru pada malam harinya, pimpinan daerah HTI di kota tersebut mengirim message japri ke Fesbuk saya, "Yang tadi menemui Ustadz, adalah orang pertama yang merintis dakwah HTI di kota ini, dan kemudian juga menjadi cikal bakal pertumbuhan HTI di kota-kota sekitarnya. Bahkan saya ini termasuk anggota halqoh pertama beliau".

Subhanalloh... Alhamdulillah... Allohu Akbar!!!

Saya mengenal sosok anak muda ini semenjak sama-sama mahasiswa dulu. Memang sudah terlihat saat kuliah, ghirah Islamnya sangat tinggi. Tapi yang saya tidak menduga adalah setelah selesai kuliah dan pulang kampung, ternyata dakwahnya bukan berhenti karena jauh dari kami di Surabaya, justru malah sekarang merintis dakwah HTI di kotanya. Seorang diri di sebuah kota, dan kemudian memulai dakwah tanpa ditemani siapapun, dan sekarang di kota tersebut dakwah HTI bisa bertumbuh sangat pesat, sungguh, sungguh, sungguh luar biasa.

Sebelum ini, saya juga pernah bertemu sang perintis dakwah HTI di salah satu kota di Kalimantan. Beliau dulu mahasiswa di Malang, dan selepas kuliah merantau ke luar Jawa memang dalam rangka mengembangkan dakwah. Hasilnya, subhanalloh... saat saya mengisi acara HTI di kota tersebut, pertumbuhan dakwahnya sungguh pesat. Padahal, ketika syabab ini pertama kali datang, beliau kadang harus menggunakan transportasi sungai untuk menjangkau lokasi-lokasi yang menjadi tujuannya.

Selalu menyenangkan berada di sebuah kota dengan dakwah HTI yang semarak, lalu mengenal sang perintis dakwah di kota tersebut. Sebab kita semua tahu, tidak mudah menjadi perintis dakwah. Berjuang sendirian, tiada kawan yang mendampingi. Dengan berbekal kepercayaan diri, dan keyakinan bahwa Alloh selalu menemaninya, sang perintis ini memulai dakwahnya menemui seorang demi seorang, masjid demi masjid, dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, dan seterusnya. Sampai kemudian, JEBRET... dakwah HTI pun berkembang pesat di kota tersebut.

Bayangkan, betapa tak mudahnya melalui itu semua...
Bayangkan, betapa besar rintangan dan hambatannya...
Tapi, lihatlah, ketika dakwah sudah berkembang pesat, insya Alloh semuanya akan mengalirkan pahala...

Pahala kebaikan yang terus menerus tanpa putus...
Pahala karena ilmunya bermanfaat
Pahala karena menjadi wasilah datangnya hidayah Alloh melalui tangannya...

Saya sengaja menyamarkan nama syabab HTI yang saya maksudkan. Saya juga tak menuliskan nama kota tempat beliau berkiprah dan merintis. Saya tahu beliau ikhlas dalam berjuang, dan saya tetap ingin menyembunyikan amal beliau agar tidak ada peluang timbulnya riya'.

Sungguh, ini pelajaran berharga untuk saya pribadi. Dan semoga juga untuk antum semua yang membaca catatan ini. Jika suatu saat kita berada di kota yang sama sekali baru, atau di tempat di mana kita sendirian tanpa ada syabab lain yang menyertai kita. Saran saya, tetaplah bersemangat dalam berdakwah.

Memang mungkin ada pikiran pesimis yang mengganggu, "Ah, di sini kita sendirian, tak ada syabab HTI apalagi kantornya. Berat ah dakwah sendirian. Ya sudah, berhenti saja, nggak usah dakwah". Ini sikap yang dipengaruhi sikap pesimis.

Yang kita inginkan adalah justru sikap optimis, "Alhamdulillah... ini kota atau tempat yang baru. Memang di sini belum ada HTI, nggak ada syababnya, dan belum ada siapa-siapa untuk diajak bekerja sama dalam berdakwah. Tapi, BUKANKAH INI PELUANG MENJADI PERINTIS DAKWAH DI KOTA INI?"

Dua kawan saya di atas, yang satunya di Jawa Tengah dan satunya lagi di Kalimantan, telah menjadi teladan kesuksesan dalam merintis dakwah di satu kota. Tentu tidak mudah. Tapi, kalau semua jerih payah tersebut akan diganti Alloh dengan surga-Nya kelak, bukankah itu yang kita cari? 
[al-khilafah/www.globalmuslim.web.id]


Surabaya, 25 September 2013
Muhammad Ihsan Abdul Djalil

Baginda Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Sampaikanlah dari diriku walau hanya satu ayat.”
Ujaran yang sangat terkenal tersebut berintikan ajakan untuk senantiasa melakukan aktivitas dakwah dan berbagi pengetahuan bagi sesama, kapanpun dan dimanapun.
Terkait dengan itu, fenomena dakwah di dunia maya saat ini memang berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi informasi (TI) di dunia. Bahkan yang lebih mencengangkan adalah dengan banyaknya situs jejaring sosial dapat mempengaruhi kestabilan sebuah negara. Sebagai contoh saat Mesir terguncang dalam kondisi krisis, pemerintahannya memblokir Facebook dan Twitter karena digunakan untuk menggalang kekuatan massa dari para pemuda dan masyarakat. Ini dengan mudah dapat ditiru oleh negeri-negeri Muslim lainnya yang sedang bergejolak. Tidak tertutup kemungkinan juga Indonesia. Belum lagi semenjak UU Intelijen disahkan, maka situs jejaring sosial dan media online tak luput dari perhatian intelijen. Sebagai contoh situs arrahmah.com yang sempat diblokir oleh pemerintah Indonesia karena dianggap menginspirasi terorisme hingga pengelolanya juga ikut ditangkap. Demikian pula website hizbut-tahrir.or.id, yang bahkan dituduh sebagai website yang dapat ‘mencuci otak’ para pemuda yang membaca dan mengikuti perkembangan info-info untuk melakukan aktivitas radikal (baca; media inspirator radikal), Hal ini dikatakan salah satu media terbesar di Inggris. Ketakuan tersebut semakin membuktikan bahwa peran media online dalam perkembangan dakwah cukup berpengaruh.
Ini menunjukan bahwa dakwah melalui media online tak kalah memberi pengaruh kepada masyarakat. Sebab, tidak bisa kita pungkiri, kecanggihan teknologi saat ini seperti internet, bahkan telepon seluler berperangkat multimedia, membuat segala informasi lokal, nasional maupun internasional dengan mudah berada dalam genggaman tangan.
Maka dari itu, saatnya untuk optimalisasi media online sebagai media Islam yang bertujuan sebagai sarana opini dan informasi untuk menuju kebangkitan umat. WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Rindyanti Septiana; Admin Media Islam Online-Medan]

hizb-pakistan-rajab.jpg (500×330)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah.  Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan (TQS al-Hasyr [59]:18).
Ahli tafsir ternama, Imam Ibnu Katsir memaknai ayat tersebut: “Wahai orang-orang yang beriman!  Bertakwalah kepada Allah!  Ini adalah perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup melakukan apapun yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apapun yang dilarang oleh Dia. Adapun perintah ‘Hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok’ artinya adalah, ‘Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab. Lihatlah amal-amal shalih apa yang telah kalian lakukan untuk menyongsong hari yang telah dijanjikan kepada kalian dan hari saat kalian kembali kepada Rabb kalian. Bertakwalah kepada Allah. Ini merupakan penegasan kedua untuk bertakwa.  ‘Sesungguhnya Allah Mahateliti atas apa yang kalian lakukan’ maknanya adalah, ‘Ketahuilah sesungguhnya Dia Mahatahu atas semua perbuatan kalian dan keadaan kalian.’  Tidak ada secuil pun yang tersembunyi bagi Allah.  Tidak ada urusan kalian yang tersembunyi dari Dia, baik perkara yang dilakukan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.” (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, hlm. 548).
Salah satu pelajaran penting dari ayat itu adalah bahwa hidup di dunia ini mulai dari takwa, diselingi evaluasi (muhasabah) untuk semakin meneguhkan ketakwaan tersebut.
Selama tahun 2011 suara yang menyeru untuk kembali ke pangkuan syariah makin nyaring terdengar.  Kawasan Timur Tengah sepanjang tahun ini terus menerus diguncang revolusi.  Tunisia, Maroko, Libya, Yaman, Suriah dan Mesir berguncang.  Gejolak revolusi umat terus menggelora. Islam politik di kawasan itu mulai naik bahkan mendominasi media massa.  Terlepas dari apa yang dimaksud, pernyataan Perdana Menteri Tunisia, Hamadi Jebali, menarik disimak.  Hamadi menyampaikan, “Masa kini adalah momentum Ilahi pada sebuah negara baru dan mudah-mudahan merupakan Masa Kekhalifahan ke-6.”
Ucapan seperti ini dari seorang moderat menggambarkan betapa keinginan masyarakat di sana untuk menerapkan Islam demikian besar sehingga berpengaruh pada ucapan Hamadi. Memang, kecenderungan alami dari masyarakat Arab lebih tertarik pada sistem Khilafah. Inilah ajaran agama mereka dan bagian dari sejarah mereka.
Di sisi lain, Eropa sedang dilanda gunjang-ganjing.  Amerika masih berada dalam kubangan krisis.  Gejolak selama tahun 2011 ini mengisyaratkan dunia kemudian akan kembali pada model masa pra-1945-yang  merupakan dunia multipolar-yang didominasi oleh pusat-pusat pengaruh geopolitik yang berbeda, dengan Kekhalifahan di puncaknya.
Suara yang sama berkumandang di Indonesia.  Dukungan para ulama tampak jelas.  Berbagai forum ulama selama kurun 2011 menyerukan syariah dan Khilafah.  Begitu juga dukungan dari kalangan tokoh, intelektual, mahasiswa dan pelajar.  Tidak kalah pentingnya, kembali pada syariah Islam dan menyatukan kaum Muslim ke dalam Khilafah juga diserukan oleh ibu-ibu rumah tangga.  Ini sebagian tanda makin dekatnya fajar kemenangan.
Bukan hanya harapan yang terang, tantangan dakwah Islam di Indonesia pun tidak menyurut. Ketidakadilan terhadap umat Islam terus berlangsung selama tahun 2011, yang bahkan dilakukan oleh sesama Muslim.  Ketika terjadi bunuh diri di Cirebon dan Solo, langsung Presiden menyebut bahwa pelakunya adalah teroris hanya karena pelakunya beragama Islam.  Namun, saat di Papua meledak granat disertai penembakan, buru-buru Ansyaad Mbai, Kepala Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), menyatakan bahwa itu tindak kriminal biasa.  Pada saat umat Islam menyerukan syariah Islam untuk menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan, segeralah mereka dituduh sebagai pihak yang membahayakan NKRI.  Sebaliknya, upaya separatisme dan disintegrasi yang secara terang-terangan dinyatakan oleh segelintir orang yang tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak disebut membahayakan NKRI.  Bahkan TNI dan Polisi yang berupaya menindak tegas mereka segera dituduh oleh LSM-LSM komprador sebagai melanggar HAM.  Intervensi Amerika Serikat (AS) dalam kasus ini tampak jelas.  Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam kunjungan kehormatan kepada Presiden SBY di Nusa Dua, Bali, Senin (24/10/2011) membicarakan Papua.  Berikutnya, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton angkat suara mengenai konflik di Papua. Hillary menyampaikan kekhawatiran akan kondisi HAM di Papua. Ia menyerukan adanya dialog untuk memenuhi aspirasi rakyat di wilayah konflik tersebut (AFP, 11/11/11). Obama dalam pembicaraannya dengan Presiden SBY di Bali juga menyinggung masalah Papua.  Irama yang ditabuh asing ini diikuti oleh antek-anteknya di dalam negeri.
Persoalan calon Gereja Yasmin di Bogor menambah rasa ketidakadilan itu.  Umat Islam di Bogor dituding tidak toleran.  Padahal umat Islam Bogor ditipu. Ada penipuan dalam proses pengajuan izin IMB calon gereja tersebut.  Hilary Clinton bicara tentang kasus ini. Vatikan turut campur. Pada 16 Desember 2011 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berencana mengadakan rapat dengan Pemerintah membahas hal ini.  Masalah ini diinternasionalisasi.  Memang, kalau untuk memojokkan umat Islam, suara jarum jatuh pun terdengar ke seantero dunia!
Bukan hanya itu.  Untuk mengerem gerak perjuangan Islam digembar-gemborkan istilah deradikalisasi.  Selama tahun 2011 digelar berbagai acara di daerah-daerah.  Pimpinan dan ormas Islam dikumpulkan.  Temanya deradikalisasi.  Yang mengherankan, semua yang dimaksudkan dalam istilah deradikalisasi ditujukan kepada umat Islam!  Sasarannya adalah Islam.  Benar apa yang diingatkan oleh pengamat politik Herman Ibrahim bahwa hakikat dari deradikalisasi merupakan deIslamisasi. Dalam deradikalisasi pun terdapat politik belah-bambu di tubuh umat Islam.  Last but not least, deradikalisasi ini tidak dapat dilepaskan dari program war on terrorism yang merupakan agenda AS.  Yang rugi adalah umat Islam sendiri.
Tantangan seperti ini sebenarnya merupakan sunnatullah.  Setiap upaya dakwah untuk membangkitkan umat Islam senantiasa menghadapi tantangan.  Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya telah menghadapi banyak tantangan.  Beliau dituduh tukang sihir, tukang syair, gila, pemecah-belah bangsa Arab, dsb.  Bahkan beliau diembargo selama dua tahun dan diancam pembunuhan.  Justru, berbagai tantangan berupa tuduhan dan ancaman fisik menegaskan kemenangan dakwah semakin dekat.  Sebab, tuduhan dan ancaman fisik dari pihak anti-Islam merupakan tanda kekalahan mereka secara intelektual.  Yang penting adalah kita tetap berada di atas aturan Allah SWT.  Rasulullah saw. bersabda, “Sekelompok dari umatku selalu berada di atas aturan Allah, orang-orang yang menentang dan menyalahi mereka tidak akan memadaratkan bagi mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan menang atas manusia.” (HR Muslim). [MR Kurnia]


Allah SWT Berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ * وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ * ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. [QS. Muhammad: 7 – 9]

Al ‘allâmah As Sa’di, dalam tafsirnya[1] menyatakan:

هذا أمر منه تعالى للمؤمنين، أن ينصروا الله بالقيام بدينه، والدعوة إليه، وجهاد أعدائه، والقصد بذلك وجه الله، فإنهم إذا فعلوا ذلك، نصرهم الله وثبت أقدامهم، أي: يربط على قلوبهم بالصبر والطمأنينة والثبات، ويصبر أجسامهم على ذلك، ويعينهم على أعدائهم، فهذا وعد من كريم صادق الوعد، أن الذي ينصره بالأقوال والأفعال سينصره مولاه، وييسر له أسباب النصر، من الثبات وغيره. وأما الذين كفروا بربهم، ونصروا الباطل، فإنهم في تعس، أي: انتكاس من أمرهم وخذلان… ذلك الإضلال والتعس, للذين كفروا, بسبب أنهم " كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ " من القرآن, الذي أنزله, صلاحا للعباد, وفلاحا لهم, فلم يقبلوه, بل أبغضوه وكرهوه

Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada orang – orang yg beriman untuk menolong Allah dengan menegakkan ajaran agama-Nya, dan menyeru kepada-Nya, dan memerangi musuh-musuh-Nya, dan menjadikan Allah sebagai tujuannya, maka sesungguhnya jika mereka melakukan yg demikian itu, allah akan menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka, yakni: mengikat/menabahkan hati mereka dengan sabar, ketenangan dan keteguhan, dan menyabarkan/menabahkan tubuh mereka atas yang demikian itu, dan akan menolong mereka atas musuh-musuh mereka. Ini adalah janji dari Dzat Yang Mulia, Yang Benar Janji-Nya, sesungguhnya orang-orang yang menolongnya dengan perkataan dan perbuatan maka Dia akan menolongnya dan memudahkan baginya sebab-sebab (turunnya) pertolongan, yang berupa keteguhan dll. Dan adapun orang-orang yang ingkar terhadap tuhan mereka, dan menolong yg bâthil, maka sesungguhnya mereka dalam kecelakaan/kehancuran, yakni : kehinaan dalam urusan mereka dan kekalahan/tidak mendapat pertolongan…kesesatan dan kecelakaan bagi orang-orang yg ingkar tersebut disebabkan karena sesungguhnya “mereka membenci apa-apa yang diturunkan Allah” yakni Al Qur’an yang telah Dia turunkan, untuk memperbaiki hamba-hamba-Nya, dan membuat mereka beruntung, maka mereka tidak menerimanya, bahkan mereka membencinya.

Dalam Surat An Nûr ayat 55, Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (النور: 55

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Tafsirnya [2]menyatakan:

هذا وعد من الله لرسوله صلى الله عليه وسلم . بأنه سيجعل أمته خلفاء الأرض، أي: أئمةَ الناس والولاةَ عليهم، وبهم تصلح البلاد، وتخضع لهم العباد،…

"Ini adalah janji dari Allah swt kepada Rasulullah saw, bahwasanya Dia akan menjadikan umatnya (umat nabi Muhammad saw) sebagai khulafa` al-ardl, yakni: pemimpin-pemimpin manusia dan penguasa atas mereka; dan dengan mereka negeri-negeri diperbaiki dan seluruh manusia tunduk kepada mereka, …

Al Hafidz Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Tafsirnya[3] menyatakan:

لَيُوَرِّثَنَّهُمُ اللهُ أَرْضَ الْمُشْرِكِيْنَ مِنَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، فَيَجْعَلُهُمْ مُلُوْكَهَا وَسَاسَتَهَا (كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ) يَقُوْلُ: كَمَا فَعَلَ مِنْ قَبْلِهِمْ ذَلِكَ بِبَنِي إِسْرَائِيْلَ، إِذْ أَهْلَكَ الْجَبَابِرَةَ بِالشَّأمِ، وَجَعَلَهُمْ مُلُوْكَهَا وَسُكَانَهَا

"Sungguh, Allah akan mewariskan kepada mereka bumi kaum Musyrik dari kalangan Arab maupun non Arab, dan Allah akan menjadikan mereka sebagai penguasa dan pengaturnya; (Sebagaimana Allah telah mengangkat menjadi penguasa orang-orang sebelum mereka); dia (Abu Ja’far) berkata, "Sebagaimana Dia (Allah) telah melaksanakan (janji kekuasaan tersebut) kepada orang-orang sebelum mereka, yakni kepada Bani Israil, tatkala mereka berhasil menghancurkan kekuasaan Jababirah di Syam, lalu Allah menjadikan mereka (Bani Israel) sebagai penguasa Syam dan penduduknya".

Imam As Syaukaniy, dalam Fath al-Qadiir, Juz 5, hal. 241 menyatakan:

وَهَذَا وَعْدٌ مِنَ اللهِ سُبْحَانَهُ لِمَنْ آمَنَ بِاللهِ وَعَمِلَ الْأَعْمَالَ الصَّالِحَاتِ بِالْاِسْتِخْلاَفِ لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ لمَاَ اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ اْلأُمَّمِ ، وَهُوَ وَعْدٌ يَعُمُّ جَمِيْعَ اْلأُمَّةِ . وَقِيْلَ : هُوَ خَاصٌّ بِالصَّحَابَةِ ، وَلاَ وَجْهَ لِذَلِكَ ، فَإِنَّ الْإِيْمَانَ وَعَمَلَ الصَّالِحَاتِ لاَ يَخْتَصُّ بِهِمْ ، بَلْ يُمْكِنُ وُقُوْعُ ذَلِكَ مِنْ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ

"Ini adalah janji dari Allah swt kepada orang yang beriman kepada Allah dan beramal sholeh dengan (janji) kekuasaan kepada mereka di muka bumi, sebagaimana Allah telah mengangkat menjadi penguasa orang-orang sebelum mereka dari umat manusia. Ini adalah janji yang berlaku umum untuk seluruh umat. Dinyatakan, "Janji ini khusus hanya untuk shahabat". Pendapat seperti ini tidak ada arahnya. Sebab, iman dan amal sholeh tidak khusus hanya untuk shahabat saja. Bahkan, janji ini bisa saja ditunaikan kepada setiap orang dari kalangan umat ini…"

Dalam banyak hadits yang bertema masa depan, Rasulullah saw menggambarkan kondisi umat Islam nantinya sepeninggal beliau, diantara hadits-hadits tersebut adalah:

(1) Riwayat Imam Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzi, dari Tsauban r.a Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا

"Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku…” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi)

Imam Al Khaththabi ketika menjelaskan hadits ini menyatakan[4]:

وَمَعْنَاهُ أَنَّ الْأَرْضَ زُوِيَتْ لِي جُمْلَتُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً فَرَأَيْت مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا ، ثُمَّ هِيَ تُفْتَحُ لِأُمَّتِي جُزْءًا فَجُزْءًا حَتَّى يَصِلَ مُلْكُ أُمَّتِي إِلَى كُلِّ أَجْزَائِهَا

Dan makna (hadits tersebut) adalah, sesungguhnya bumi dihimpun (dikumpulkan dan digenggam)[5] untukku secara keseluruhan satu kali, maka aku melihat timur dan baratnya, kemudian bumi tersebut dibukakan (taklukkan) untuk umatku sebagian demi sebagian sampai kekuasaan kekuasaan umatku (meliputi) semua bagiannya.

(2) Dari Abdullah bin ‘Amru, beliau berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَكْتُبُ إِذْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ أَوَّلًا قُسْطَنْطِينِيَّةُ أَوْ رُومِيَّةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ أَوَّلًا يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ

Suatu ketika kami berada bersama Rasulullah saw sedang menulis, yaitu di saat beliau ditanya tentang dua kota, manakah yang lebih dahulu dibuka; Qostantinopel atau Rum? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun menjawab: "Kota yang lebih dahulu dibuka adalah kota Hiroclus (Qostantinopel)"

Hadit ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Muhson, Abu Amr Ad-Dani di dalam As-Sunanul Waridah fil-Fitan (hadits-hadits tentang fitnah), Al-Hakim dan Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam Kitabul Ilmi. Abdul Ghani menyatakan bahwa hadits ini hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim dalam al Mustadrak menilai hadits ini shahih menurut syarat Bukhory & Muslim. Penilaian Al-Hakim itu disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Kata Rumiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibu kota Italia sekarang ini, sebagaimana bisa kita lihat di dalam Mu’jamul Buldan.

(3) Dari Abdullah bin Bisyr Al Khats’amy dari bapaknya bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda:

لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ

Sungguh Qostantinopel akan ditaklukkan, maka sebaik – baik amir adalah amirnya dan sebaik – baik pasukan adalah pasukan tersebut (yang menaklukkannya) (Al Haitsami, Ghayatul Maqshud fi Zawâidil Musnad, 2/174, juga dikeluarkan Ahmad, 4/335, juga Ibnu Abi Syaibah, AL Bazzar dan Thabrani, perowinya tsiqat)

(4) Dari Tamim Ad-Dari ia berkata; saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلَا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الْإِسْلَامَ وَذُلًّا يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ“ وَكَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ يَقُولُ قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمْ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ (اخرجه الامام احمد, المسند, 34:308).

"Agama Islam ini akan menjangkau semua lokasi yang terjangkau oleh siang dan malam, dan tidaklah Allah membiarkan satu rumah pun di kota maupun dosa atau pelosok, kecuali Allah memasukkan agama ini dengan kemuliaan yang menjadikan mulia atau dengan kehinaan yang menjadikan hina. Dengan kemuliaan Allah memuliakan Islam dan dengan kehinaan Allah menghinakan kekufuran." Tamim Ad-Dari berkata; "Saya telah mengetahui itu telah terjadi pada keluargaku, orang yang telah masuk Islam mendapatkan kebaikan dan kemuliaan, sedang orang yang kafir telah mendapatkan kehinaan, kerendahan dan membayar jizyah."

Ketika menjelaskan hadits ini, Ath Thahâwy menyatakan [6]:

أنه قد يحتمل أن يكون المراد في حديث تميم عموم الأرض كلها ، حتى لا يبقى بيت إلا دخله ، إما بالعز الذي ذكره ، أو بالذل الذي ذكره في هذا الحديث…

Sesungguhnya maksud dalam hadits Tamim Ad Dari adalah bumi secara keseluruhan, sampai tidak tersisa satu rumahpun kecuali (agama Islam) memasukinya, bisa dengan kemuliaan sebagaimana yang disebutkan, atau dengan kehinaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits ini…

Hadits – hadits diatas dan banyak hadits yang lain memberi kabar gembira bahwa syari’ah dan khilafah dengan izin Allah akan tegak kembali, tertaklukkannya Qostantinopel terjadi lebih dari 800 tahun setelah masa Rasul, ditaklukkan dengan upaya cerdas, ikhlas dan bersungguh – sungguh oleh Sultan Muhammad Al Fâtih pada masa kekhilafahan Turki Utsmani dengan persiapan ruhiyyah dan mâdiyah yang optimal. Adapun Roma, sampai sekarang belum tertaklukkan, maka tidak diragukan lagi bahwa kemenangan kedua mendorong adanya kebutuhan terhadap Khalifah yang tangguh. Hal inilah yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya:

ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت

… Kemudian akan ada Khilafah yang sesuai dengan tuntunan kenabian, kemudian beliau diam .

(HR Ahmad, hadist itu juga dirwayatkan oleh Al-Hafidzh Al-Iraqi di dalam Mahajjatul-Ghurab ila Mahabbatil-Arab (II/17). Selanjutnya Al-Hafidz mengatakan :"Status hadits ini shahih”).


[1] تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان, 1: 785)

[2] تفسير القرأن العظيم, 6: 77

[3] جامع البيان فى تفسير القرأن, 9: 206

[4] , تحفة الاحواذي بشرح سنن الترمذي, 5: 468

[5] قال التوربشتي زويت الشيء جمعته وقبضته يريد به تقريب البعيد منها حتى اطلع عليه إطلاعه على القريب منها

[6] مشكل الاثر, 13:389


”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)

Perjuangan dalam meniti jalan dakwah demi tegaknya agama Allah (li i'la'i kalimat Allah) tidaklah semudah apa yang kita bayangkan, butuh banyak pengorbanan dan kesabaran untuk melewatinya. Akan ada cobaan, ujian, kesengsaraan yang wajib kita lalui untuk meraih ridho dan nashrullah.Setelah Rasulullah saw., para sahabat tentu saja adalah contoh terbaik dalam hal pengorbanan. Mereka adalah generasi yang sangat memahami bahwa pengorbanan di jalan Allah adalah perwujudan dari cintanya yang sejati kepada-Nya.

Kita mungkin pernah mendengar bagaimana 'Singa Allah' Khalid bin Walid, panglima perang yang gagah-berani, dengan penuh kebanggaan berkata, "Aku lebih menyukai malam yang sangat dingin dan bersalju, di tengah-tengah pasukan yang akan menyerang musuh pada pagi hari, daripada menikmati indahnya malam pengantin bersama wanita yang aku cintai atau aku dikabari dengan kelahiran anak laki-laki." (HR al-Mubarak dan Abu Nu'aim).

Kita pun mungkin ingat, bagaimana Utsman bin Madz'un lebih rela dicukil matanya setelah menolak berada dalam perlindungan orang musyrik dan lebih memilih berada dalam perlindungan Allah. Ketika itu, pamannya, Walid bin Mughirah, berkata kepadanya, "Wahai keponakanku, dulu matamu sehat dan tidak seperti ini, karena engkau berada dalam perlindungan yang kuat." Dengan lantang Ibn Madz'un menjawab, "Demi Allah, mataku yang sehat perlu merasakan apa yang juga pernah dirasakan mata-mata yang lain di jalan Allah. Aku berada dalam perlindungan yang lebih kuat darimu. (HR Abu Nu'aim).

Sahabat lain, Haram bin Milham, pernah tertusuk tombak dalam peperangan. Tombak itu lalu dicabut. Darah pun mengucur dari tubuhnya. Akan tetapi, ia malah berkata, "Demi Allah, aku beruntung!" (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).Umair bin Abi Waqash, adik Sa'ad bin Abi Waqash, saat Perang Badar, ia—yang baru berusia 16 tahun—berusaha menyelinap diam-diam ke barisan pasukan kaum Muslim untuk ikut berperang. Ia takut dipulangkan oleh Rasul karena usianya yang masih terlalu muda. Namun, ketika Rasul tahu keinginan dan semangatnya, beliau pun mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera berlari menuju mexlan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR al-Hakim dan Ibn Sa'ad).

Sultan Salahuddin al-Ayyubi, generasi yang lebih belakangan, begitu cintanya berkorban di jalan Allah, ia lebih menikmati kehidupan di kemah di tengah-tengah padang pasir ketimbang hidup enak di istana. Para sejarahwan menulis, "Setiap pembicaraan Sul¬tan selalu berkisar di seputar jihad dan mujahidin. Ia selalu mengamati senjatanya dan lebih senang hidup di kemah di tengah-tengah padang pasir."

Demikianlah sekilas dan sedikit contoh dari generasi terbaik umat ini pada masa lalu. Mereka bukan saja orang-orang yang siap dan rela berkorban, tetapi generasi yang selalu merindukan dan bahkan menikmati pengorbanan di jalan Allah lebih daripada mencintai diri mereka sendiri. Ingat, semua contoh di atas adalah orang-orang yang rela mengorbankan sesuatu yang paling berharga - dari diri mereka, yakni jiwa mereka.Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mempertaruhkan kehidupan kita di jalan Allah? Jika sudah, berapa bagian harta kita yang telah kita infakkan di jalan Allah dibandingkan dengan yang kita keluarkan untuk anggaran BBM jnobil kita setiap harinya? Berapa banyak pula waktu, tenaga, dan pikiran yang telah kita habiskan di jalan Allah dibandingkan dengan yang telah kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita?

Ingatlah, Islam senantiasa menunggu pegorbanan setiap Mus¬lim. Ingatlah pula, tegaknya Islam pada masa lalu dalam wujud Daulah Islam di Madinah telah menguras begitu banyak keringat, airmata, bahkan darah kaum Muslim; menyita begitu banyak harta mereka; dan mengorbankan begitu banyak jiwa mereka. Karena itu, tegaknya kembali Islam dalam wujud Khilafah Islamiyah yang kita cita-citakan juga membutuhkan pengorbanan yang serupa dengan pengorbanan generasi Muslim pada masa lalu. Dengan itulah mereka berhasil menegakkan Daulah Islam di Madinah dan memperluas kekuasaannya di jazirah Arab. Pengorbanan yang sama dilakukan oleh generasi Muslim pada masa Khulafaur Rasyidin dan para khalifah setelahnya hingga kekuasaan Islam semakin meluas menguasai hampir dua pertiga wilayah dunia.

Jelaslah, Islam membutuhkan pengorbanan kita. Semakin banyak kita berkorban, semakin dekat kita pada kemenangan. Sebaliknya, semakin sedikit kita berkorban, semakin jauh pula kita meraih kemenangan.

Karena itu, jauhkanlah sikap bahwa kita telah cukup banyak berkorban hanya karena kita telah menjadi bagian dari pengemban dakwah, di tengah-tengah banyaknya kaum Muslim yang tidak berdakwah. Janganlah pula kita berpikir bahwa aktivitas dakwah adalah aktivitas 'sampingan' dan temporer yang bisa kita lakukan setelah kita memenuhi seluruh kebutuhan kita dan hanya pada saat-saat tertentu saja. Bukankah Rasul saw. sendiri menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk berdakwah? Bukankah Rasulullah melibatkan diri dalam lebih dari 70 kali peperangan selama hidupnya? Bukankah Ammar bin Yasir masih ikut berperang di jalan Allah dalam usia 90 tahun—meskipun rambutnya telah beruban, tubuhnya telah melemah, dan tulang-tulangnya telah merapuh? Bukankah pula Abu Sufyan masih terus bersemangat memotivasi pasukan kaum Muslim dalam peperangan dalam usia 70 tahun?

Karena itu, kita berharap, tidak ada lagi pengemban dakwah yang malah tidak lagi aktif berdakwah setelah lulus kuliah, setelah menikah, setelah punya anak, atau setelah disibukkan oleh kerja mencari nafkah atau berbisnis. Kita pun berharap, kita yang ada di barisan para pengemban dakwah, dan yang mengklaim sebagai pengemban dakwah, tidak merasa telah cukup berkorban dengan hanya menghadiri halaqah, membayar infak rutin, atau membaca bulletin saja; sementara di luar itu kita tidak berdakwah, atau berdakwah secara minimalis. Sebab, mungkinkah dengan 'pengorbanan' seperti ini Khilafah Islam akan bisa ditegakkan kembali oleh para pengembannya?!Ya Allah, tumbuhkanlah dalam diri kami, kesiapan dan kerelaan untuk selalu berkorban dijalan-Mu, serta anugerabkanlah kenikmatan didalamnya. []

Sumber : Hikmah-hikmah yang bertututur untuk jiwa yang futur

Karya : ust. Arif B. Iskandar

Saat ini kondisi kehidupan masyarakat muslim tidak begitu kondusif bagi ke-Islam-an mereka, corak kehidupan yang sekuleristik sudah merambah ke hampir seluruh sendi kehidupan, baik itu pada sektor ekonomi, kebudayaan, pergaulan masyarakat, sampai pada tataran sistem politik dan pemerintahan. Jika di ibaratkan, kaum muslim saat ini seperti kawanan ikan yang sedang menjalani hidup di tempat yang bukan pada habitatnya.

Habitat umat Islam adalah berada ditempat yang diatur dengan wahyu Ilahi (kehidupan Islam), bukan aturan yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Allah SWT telah menegaskan:

”Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah SWT mengabarkan bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW kepada seluruh manusia adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh perkara yang cocok diterapkan di setiap zaman, setiap tempat dan setiap umat. Islam adalah agama yang sarat dengan ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam adalah pedoman hidup yang jelas, sempurna dan lurus untuk seluruh bidang kehidupan. Islam adalah agama dan negara (daulah), di dalamnya terdapat manhaj yang haq dalam bidang hukum, pengadilan, politik, kemasyarakatan dan perekonomian serta segala perkara yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan dunia mereka, dan dengan Islam nantinya mereka akan bahagia di kehidupan akhirat. (Dinul Haq, Abdurrahman bin Hammad Alu Muhammad)

Didalam kitab An-Nidhamu Al-Islam, Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani juga menjelaskan, setidaknya ada tiga konsep yang diatur oleh Islam:

Pertama : Mengatur segenap perbuatan manusia dalam hubunganya dengan Khaliq-nya, hal ini tercermin dalam aqidah dan ibadah ritual dan spiritual. Semisal: Tauhid, sholat, zakat, puasa dan lain-lain. Kedua : Mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Yang diwujudkan berupa akhlak, pakaian, dan makanan. Ketiga : Mengatur manusia dengan lingkungan sosial. Hal ini diwujudkan dalam bentuk mu’amalah dan uqubat. (sistem ekonomi Islam, sistem pemerintahan Islam, sistem politik Islam, sistem pidana Islam, strategi pendidikan, strategi pertanian, dan lain sebagainya).

Namun saat ini Islam tidak diterapkan secara menyeluruh (kaffah), Islam tidak lagi menjadi way of life, masyarakat dipaksa untuk hidup didalam sebuah sistem sampah jahiliyyah. Dengan kondisi semacam ini, banyak diantara kaum muslim yang tergerus oleh keadaan, diantara mereka ada yang kondisi keislamannya cuma sebatas pada kartu identitasnya saja, Ada juga yang punya semboyan “ibadah yes maksiat yes”, alias ibadahnya jalan, maksiat juga tetap melenggang.

Ditengah hiruk pikuk kesenangan dunia yang sungguh menggoda ini, masih ada beberapa pihak yang tidak terpengaruh untuk berbuat sampai melanggar batas, mereka masih aktif beribadah, ditambah dengan sedekah, infak, juga haji maupun umrah, bagi mereka yang mampu. Namun disisi lain, mereka tidak mau ambil pusing dengan kondisi yang ada, kalaupun mau, maka hal itu cuma ala kadarnya, bagi mereka urusan dakwah ini tidak terlalu penting.

Padahal kalau mau menengok sirah nabi, disana ditemukan bahwa dahulu rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan aktivitas dakwah yang mulia ini sebagai poros dalam kehidupan mereka. Ada banyak sekali kisah dahsyat para sahabat yang tentunya bisa kita petik sebagai pelajaran.

Salah satunya adalah Ibnu Mas’ud r.a, seorang sahabat yang pertama kali membacakan Al-Qur’an secara terbuka di tempat berkumpulnya kaum Quraisy di dekat ka’bah. Ternyata apa yang terjadi?, ia dipukuli oleh orang-orang Quraisy sampai babak belur, hebatnya Ibnu Mas’ud setelah kejadian itu tidak menjadi ciut nyali, bahkan ia mengatakan ”mulai sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan dari orang quraisy, berikanlah lagi ayat-ayat Al-Qur’an, pasti akan kubacakan dihadapan mereka”. Luar biasa!

Kisah menajubkan lain ialah, sahabat Rasul yang bernama Sa’ad bin Abi Waqas, keimananya teruji dengan ancaman dari Ibundanya yang akan melakukan mogok makan jika Sa’ad tidak mau kembali pada agama nenek moyangnya. Kepada ibunya, sa’ad berkata: ”Wahai ibu, ketahuilah, demi Allah, kalu sekiranya bunda punya seratus nyawa dan keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini”. Subhanallah.

Sampaikan walau satu ayat

Dakwah diwajibkan oleh Allah SWT, yang dijelaskan di banyak ayat-ayat Al-Qur’an maupun haditz Rasul-Nya.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung. (Qs. Ali Imran:104)

Dijelaskan oleh Imam Ibnu katsir dalam kitab tafsirnya, pada kata al-khair diatas adalah Al-Quran dan As-Sunnah, sedangkan tafsir Jalalain menjelaskan maksud dari kata al-khair adalah Islam.

Perintah Allah SWT tentang aktivitas dakwah ini juga dijelaskan dalam firman-Nya:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ


Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS an-Nahl [16]: 125)

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’. (Qs. Fushshilat: 33)

Dalam kitabnya Sayyid Quthub menfasirkan ayat ini, beliau berkata: “Kalimat-kalimat dakwah yang diucapkan sang da’i adalah paling baiknya kalimat, ia berada pada barisan pertama di antara kalimat-kalimat yang baik yang mendaki ke langit.” (Fii Dzilaalil Qur’an, 5/ halaman. 3121).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS Al-Hujurat (49): 15)

Bagi kaum muslim yang menempuh jalan dakwah ini tentunya bisa dikatakan, mereka bukanlah orang sembarangan, mereka rela berkorban waktu , harta, bahkan jiwa. Semua itu semata mata-mata hanya mencari keridhoan-Nya. Sebuah pilihan hidup yang tentunya tidak sia-sia, karena semua itu insyaAllah akan mendapatkan balasan yang lebih baik dari sisi Allah SWT.

Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (Al ‘Ankabut:7)

Begitulah, kenikmatan hidup yang yang sebenarnya hanya bisa diraih ketika kita mentaati perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ikut berjibaku dalam perjuangan, untuk melanjutkan kehidupan Islam. Tidak ada kemuliaan tanpa Islam, tidak ada Islam tanpa syariah, tidak sempurna syariah tanpa daulah khilafah ala minhajin nubuwwah. Beranikah kita menjadi barisan pengemban dakwah?

(AM)

Powered by Blogger.