Showing posts with label nafsiyah. Show all posts

bahagianya
Pertarungan dahsyat antara setan dan malaikat terjadi di dalam diri manusia; setiap waktu, dalam banyak aktivitas, sampai seorang manusia meninggal dunia. Pertarungan dahsyat ini, terjadi antara kebaikan melawan keburukan, pikiran dan hati melawan hawa nafsu, niat beramal dan godaan untuk menunda hingga meninggalkannya, dan wujud-wujud lain yang amat banyak jumlahnya.
“Setan memiliki bisikan untuk manusia,” demikian sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud, “begitu juga dengan malaikat.” Itulah pertarungan abadi yang tidak akan pernah berhenti hingga seorang hamba memenangkan setan lalu terjerumus dalam siksa neraka, atau mengikuti dan setia mendukung kebaikan bisikan malaikat dan menikmati jamuan surga yang tiada duanya.
Dalam lanjutan sabdanya ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa bisikan setan berupa janji keburukan dan dusta terhadap kebenaran. Sebaliknya, bisikan malaikat adalah janji kebaikan dan pembenaran serta dukungan terhadap kebenaran. Amat jauh berbeda, tetapi amat sukar membedakannya.
“Barang siapa mendapatinya (janji kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran),” perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “hendaklah ia mengetahuinya bahwa hal itu datangnya dari Allah Ta’ala, dan hendaknya ia memuji-Nya.” Sebaliknya, “Jika ia mendapati selainnya, hendaklah berlindung kepada Allah Ta’ala dari godaan setan nan terkutuk.”
Di dalam hadits yang di-hasan gharib-kan oleh Imam at-Tirmidzi ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengakhiri sabdanya dengan membaca Firman Allah Ta’ala dalam surat al-Baqarah [2]: 268,
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). Sedangkan Allah menjadikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.”
“Setan,” kata Imam Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “menakut-nakuti kalian dengan kemiskinan.” Lantaran takut miskin itulah, seorang hamba berhasrat terhadap dunianya dengan menumpuk harta yang dikaruniakan padanya sehingga enggan menginfaqkannya di jalan Allah Ta’ala.
Selain itu, lanjut beliau menerangkan, “Setan juga menyuruh kalian berbuat maksiat, dosa, melanggar berbagai larangan, dan menyalahi aturan Allah Ta’ala.”
Berkebalikan dari amalan setan itu, Allah Ta’ala menjanjikan ampunan sebagai lawan dari perbuatan jahat yang dibisikkan oleh setan dan karunia yang amat luas bagi kemiskinan yang dijadikan oleh setan sebagai sarana menakut-nakuti umat manusia.
Dari ayat ini juga bisa disimpulkan, “Senantiasalah memohon ampunan kepada Allah Ta’ala atas semua dosa yang kita lakukan, dan teruslah berinfaq di jalan-Nya sebagai jalan untuk mendapatkan karunia-Nya yang amat luas dan wujud syukur atas begitu banyak nikmat yang diberikan.” [www.globalmuslim.web.id/Kisahikmah]

Belakangan ini Nun seperti anggota grup vokal yang sedang mengambil jalur “solo karier”. Menyanyi seorang diri. Sayangnya, Nun bukan anggota grup vokal yang senang menyumbang suara sumbang. Nun hanya kader dakwah yang merasakan kesunyian membunyikan suara di barisan kerohanian Islam. Rekan-rekan dakwahnya menghilang.
Rekan pertamanya sudah menikah. Rekan keduanya sudah menikah juga dan rekan ketiganya juga. Ketiga rekan yang tergabung dalam satu departemen itu dulu adalah sosok-sosok yang aktif bergerak dalam barisan yang rapi. Aktif bervokal dalam ranah lokal. Tak pasif melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan, kemanusiaan, daurah, pantia qurban dan sebagainya. Namun semua berubah pascamenikah. Nun, yang masih melajang, melihat betapa menikah itu ruang berbenah. Juga tohok telak baginya.
Pernah kah merasakan (atau mengalami?) apa yang dirasakan Nun dan yang terjadi pada kawan-kawan perjuangannya yang mengalami keloyoan pascanikah?
Seorang kawan yang tinggal di Depok mengaku pernah mengalami fase seperti ini.
“Sekitar 6 bulan saya pernah vakum setelah menikah. Tidak muncul dalam kegiatan dakwah, banyak ditanyakan ikhwah. Setelah merasa cukup adaptasi dengan istri, saya kembali berdakwah, aktif lagi.” Ucapnya kepada penulis pada suatu malam.
Banyak yang bilang ta’aruf yang sebenarnya itu ketika setelah menikah. Awal-awal menikah juga perlu ‘adaptasi’, menikmati ‘dunia milik berdua’ dengan suami atau istri, bisa sampai enam bulan atau setahun (?). Yang kelewatan itu jika raib dari peredaran pergerakan padahal tugas dakwah di depan mata sudah menunggu si ‘pengantin baru’ itu. Belum lagi nanti ketika terlena ketika hadirnya baby yang menggemaskan, padahal“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28).
Ada itu di sebuah halaqah bahasa Arab, para pesertanya yang tadinya ramai kini kosong melompong. Sebab, para pesertanya sudah menikah.
Jika masih mengenaskan, coba tengok kembali; apa tujuan menikah?
Apakah benar untuk menggenapkan setengah din?
Seharusnya setelah menikah ruhiyah itu makin gagah. Makin rajin tilawah, dakwah tak kenal kata ogah, hafalan makin nambah, tak sering bolos halaqah.
Jika setelah menikah ruhiyah makin payah, mungkin menikah bukan lagi menggenapkan setengah agama, tapi membuat beragama jadi setengah-tengah. Bukan alfu mabruk tapi alfu ambruk. Wallahua’lam. [ BersamaDakwah/www.globalmuslim.web.id]

SHALAT subuh adalah salah satu shalat yang wajib dikerjakan pada waktunya oleh semua orang Muslim, kecuali ada halangan yang sah seperti wanita yang haid, dan sebagainya. Kalau kesiangan dan bangun telat, ada orang yang menjadi bingung apakah masih boleh shalat atau tidak. Mereka menjadi bingung karena mereka bertanya kepada teman dan teman itu menjawab “Haram shalat setelah matahari naik!” Oleh karena itu, orang tersebut mengabaikan shalat subuh dan tidak shalat sama sekali karena menganggap hal itu haram.


Itu suatu persepsi yang sangat keliru. Shalat subuh wajib dikerjakan, jam berapa saja kita bangun (dan begitu juga untuk semua shalat wajib yang lain). Kalau umpamanya kita capek, bangun pada waktu subuh dalam kondisi setengah sadar, matikan jam alarm, tidur lagi, dan bangun pada jam 8 pagi, maka pada saat bangun itu masih wajib mengerjakan subuh. Walaupun matahari sudah naik. Kenyataan bahwa matahari sudah naik tidak menghilangkan kewajiban untuk shalat. (Dan kalau ketiduran lewat waktu maghrib sehingga masuk Isya, maka shalat maghrib tetap wajib dikerjakan, walaupun di luar waktunya.)


Waktu yang secara umum dilarang untuk shalat adalah mengerjakan shalat pada saat matahari sedang muncul (bukan cahayanya, tetapi bentuk fisik matahari sendiri). Hal itu diharamkan untuk hilangkan persepsi (pada zaman dulu) bahwa orang Muslim adalah penyembah matahari. Zaman dulu, memang ada kaum yang menyembah matahari, dan mereka beribadah pada saat matahari mulai kelihatan bentuk fisiknya, jadi ibadah pada saat itu diharamkan bagi ummat Islam. Tetapi ulama telah sepakat bahwa kalau ada shalat wajib yang belum dikerjakan, maka harus langsung dikerjakan (diganti, atau diqadha’) pada waktu itu juga tanpa harus menunggu, walaupun dilarang secara umum untuk shalat pada waktu tersebut.


Yang haram dan sangat buruk adalah kalau seseorang sudah bangun pada waktu subuh, tetapi barangkali dia sedang asyik nonton siaran langsung sepak bola di tivi, atau asyik ngobrol sama temannya, dan oleh karena itu dia malas melakukan subuh. Pada saat dia sudah selesai nonton bola, dan sudah “bersedia” melakukan shalat, maka dia masih wajib melakukannya. Kewajiban shalat itu tidak menjadi hilang. Tetapi tentu saja dia akan kena dosa besar karena sengaja menunda sebuah shalat wajib, sehingga sudah keluar dari waktunya, tanpa ada alasan yang benar. Jadi sudah bisa diperkirakan bahwa dia tidak akan dapat pahala sama sekali, dan juga ada kemungkinan Allah akan menolak shalat itu (tidak akan diterima di sisi Allah, seolah-olah tidak shalat). Walaupun begitu, sebagai seorang Muslim dia masih memiliki kewajiban untuk melakukan shalat subuh tersebut. Meninggalkannya dengan alasan kesiangan, ataupun di luar waktu karena nonton bola tadi adalah alasan yang tidak benar. Tetap wajib dikerjakan.


Dan perlu dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah kesiangan untuk shalat subuh, jadi hal itu menjadi petunjuk bagi kita bahwa kalau kita kesiangan sewaktu-waktu maka itu adalah hal yang biasa (bukan suatu dosa besar, karena memang tidak sengaja), dan Nabipun juga mengalaminya. Yang penting adalah kita langsung mengerjakan shalat setelah kita bangun, dan jangan sampai shalat subuh yang kesiangan itu menjadi suatu kebiasaan bagi kita. Wallahu a’lam bissawab. [gene gheto]

[www.globalmuslim.web.id]

Hasil gambar untuk Dua Jenis Sabarقَالَ ابْنُ الْمُقَفَّعِ فِي كِتَابِ الْيَتِيمَةِ: الصَّبْرُ صَبْرَانِ: فَاللِّئَامُ أَصْبَرُ أَجْسَامًا، وَالْكِرَامُ أَصْبَرُ نُفُوسًا. وَلَيْسَ الصَّبْرُ الْمَمْدُوحُ صَاحِبُهُ أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ قَوِيَّ الْجَسَدِ عَلَى الْكَدِّ وَالْعَمَلِ؛ لِأَنَّ هَذَا مِنْ صِفَاتِ الْحَمِيرِ، وَلَكِنْ أَنْ يَكُونَ لِلنَّفْسِ غَلُوبًا، وَلِلْأُمُورِ مُتَحَمِّلًا، وَلِجَأْشِهِ عِنْدَ الْحِفَاظِ مُرْتَبِطًا.
Dalam kitab Al-Yatīmah, Ibn Al-Muqaffa’ mengatakan: “Sabar itu ada dua jenis: Kejahatan yang menimpa fisik, dan kedermawanan yang menimpa jiwa. Bukanlah kesabaran jika orangnya dipuji sebagai seorang yang fisiknya kuat berusaha dan bekerja keras, karena ini termasuk sifat keledai. Namun kesabaran itu bagi orang yang mampu mengendalikan diri, mampu memikul setiap urusan, serta tabah memelihara dan menjaga semuanya.” (Adab ad-Dunyā wa ad-Dīn – Karya Al-Mawardi).[www.globalmuslim.web.id]
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 9/8/2015.

Hasil gambar untuk Tanda-tanda TakwaPuasa Ramadhan memang telah kita lewati. Idul Fitri pun telah kita lalui. Namun, tentu tetap penting merenungi: Sukseskah puasa Ramadhan kita tempo hari? Berhasilkah kita mewujudkan takwa sebagai ‘buah’ dari puasa Ramadhan yang telah kita jalani? Pantaskah kita kemarin merayakan ‘Hari Kemenangan’, yakni Idul Fitri? Menangkah kita dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan selama Ramadhan, juga selepas Idul Fitri? Jika jawabannya ‘ya’, tentu itu yang kita harapkan. Namun, jika jawabannya ‘tidak’, tentu puasa Ramadhan kita yang lalu sia-sia belaka. Kita pun sesungguhnya tak layak merayakan ‘Hari Kemenangan’, Idul Fitri. Sebabnya, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, “Laysa al-‘id li man labisa al-jadid walakin al-‘id li man takwahu yazid (Idul Fitri bukanlah milik orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Namun, Idul Fitri adalah milik orang yang ketakwaannya bertambah).”
Pertanyaannya: Apakah ketakwaan kita bertambah selepas puasa Ramadhan dan Idul Fitri? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tentu mesti mengetahui hakikat takwa sekaligus tanda-tanda (ciri-ciri)-nya.
Siapa orang bertakwa? Imam ath-Thabari, saat menafsirkan QS al-Baqarah ayat 2, mengutip sejumlah pernyataan tentang hakikat orang-orang bertakwa. Al-Hasan, misalnya, menyatakan, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang Allah haramkan atas mereka dan melaksanakan apa saja kewajiban yang Allah titahkan atas mereka.”
Ibn Abbas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang khawatir terhadap azab Allah ‘Azza wa Jala jika meninggalkan petunjuk-Nya yang telah mereka ketahui dan berharap pada rahmat-Nya dengan membenarkan apa saja yang datang kepada dirinya (berupa Alquran, pen.).”
Ibn Mas’ud menuturkan dari sekelompok sahabat Nabi SAW, bahwa orang-orang yang bertakwa dalah orang-orang Mukmin.
Abu Bakr ‘Ayyas berkata, “Orang-orang bertakwa dalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.” Demikian pula disepakati oleh Al-A’masyi.
Qatadah berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang disifati dengan sifat—sebagaimana dalam ayat berikutnya, pen.—yaitu: orang yang mengimani perkara gaib, menegakkan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah limpahkan kepada mereka.”
Ibn Abbas juga menyatakan bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut menyekutukan Allah SWT dan mengamalkan apa saja yang telah Allah SWT wajibkan atas mereka (Lihat:  Ath-Thabari,  Jami’ al-Bayan li Ta’wil al-Qur’an, I/232-233).
Al-Quran pun banyak mengungkap ciri orang-orang yang bertakwa, di antaranya sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Baqarah ayat 3-5. Demikian juga dalam al-Hadits. Begitu pun yang dinyatakan oleh para Sahabat dan banyak ulama dari generasi salafush-shalih. Di antaranya adalah yang dinyatakan oleh al-Hasan. Al-Hasan berkata, “Orang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni: jujur/benar dalam berbicara; senantiasa menunaikan amanah; selalu memenuhi janji; rendah hati dan tidak sombong; senantiasa memelihara silaturahmi; selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin; memelihara diri dari kaum wanita; berakhlak baik; memiliki ilmu yang luas; senantiasa bertaqarrub kepada Allah.” (Ibn Abi ad-Dunya, Al-Hilm, I/32)
Terkait jujur dalam bicara, senantiasa menunaikan amanah dan selalu memenuhi janji, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada empat perkara yang siapa saja termasuk di dalamnya maka dia benar-benar orang munafik, meski ia shalat atau puasa dan mengklaim dirinya Muslim. Jika ia memiliki satu saja dari empat perkara tersebut maka ia memiliki salah satu tanda kemunafikan hingga ia meninggalkannya: Jika ia berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia ingkari; jika diberi amanah, ia khianati; jika ia membuat kesepakatan, ia langgar sendiri.” (Al-Ghazali, Al-Ihya’, III/272).
Terkait takwa pula, Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al-Awwam pernah menulis surat yang berisi nasihat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, “Amma ba’du. Sesungguhnya orang bertakwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri, yakni: sabar dalam menanggung derita, ridha terhadap qadha’, mensyukuri nikmat dan merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum Alquran.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170; Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah Awliya’, I/177).
Muhammad bin Husain berkata bahwa Abu al-Husain juga pernah menyatakan, “Seorang Mukmin (yang bertakwa) itu memiliki empat tanda: kata-katanya adalah zikir; diamnya adalah tafakur; pandangannya adalah ibrah; dan ilmunya adalah kebaikan.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah Awliya’, IV/354).
Semoga kita benar-benar menjadi orang bertakwa, lengkap dengan segala antribut dan tanda-tanda (ciri-ciri)-nya. Wa ma tawfiqi illa bilLah. [] abi
[htipress/www.globalmuslim.web.id]

Hasil gambar untuk Ma’al Hadīts Syarīf: Pewaris Nabi Yang Masih TersisaDari Abu Darda’ bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ لَمْ يَرِثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرِثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
Barang siapa yang menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga. Sungguh para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha pada orang yang mencari ilmu. Bahkan para penghuni langit dan bumi hingga ikan-ikan di lautan semuanya meminta pengampunan untuk orang yang berilmu. Kelebihan orang yang berilmu atas seorang hamba seperti kelebihan bulan atas planet-planet yang lain. Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Mereka tidak mewarisi dinar dan dirham, namun mereka hanya mewarisi ilmu. Sehingga siapa saja yang mengambil darinya, maka sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Ahmad dalam Musnad).
Imam Ahmad rahimahullāh, semoga Allah merahmatinya mengatakan: Mereka itu adalah para pemimpin sesudah Nabi saw. Mereka adalah para umara (penguasa) dan ulama.
Sungguh, para penguasa sekarang semuanya telah rusak. Sehingga tidak seorang pun dari mereka yang menegakkan syariah Islam. Dan tidak terdengar dari mereka perintah atau larangan yang dilakukan untuk memenangkan atau menolong dakwah Islam. Justru mereka sepakat untuk memerangi Islam dan para pengembannya. Sehingga tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari mereka. Namun yang ada pada mereka adalah keburukan, makar dan tipu daya.
Dengan demikian mereka telah mengeluarkan diri mereka sendiri dari menjadi pewaris Nabi saw. Sehingga sudah tidak tersisa dari para pewaris Nabi saw. kecuali kaum Muslim, dan para pejuang untuk tegaknya syariah Allah di muka bumi, yaitu mereka yang secara terang-terangan melepaskan diri dari keburukan para penguasa, dan memimpin umat menuju perjuangan penegakan syariah Allah.
Sementara para tentara yang mencerminkan pusat-pusat kekuatan, mereka adalah pihak yang memiliki kekuatan untuk menggulingkan para penguasa dalam rangka menolong Allah dan Rasul-Nya, serta menolong agama-Nya dan umat Islam. Sebab hanya inilah pewaris Rasulullah Muhammad saw yang masih tersisa. Oleh karena itu, hendaklah masing-masing pewaris yang masih tersisa ini mengambil setiap bagian dari harta peninggalannya. Kemudian masing-masing mereka melakukan hak dan kewajibannya hingga tegaknya negara Khilafah, yaitu negara yang akan menerapkan al-Qur’an dan as-Sunnah, dimana sudah tiba saatnya sekarang untuk ditegakkan. Ya Allah, jadikan kami di antara para tentara Khilafah, dan di antara mereka yang memperjuangkannya.[www.globalmuslim.web.id]
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 22/08/2015.

Imam Malik ra. lahir pada tahun 93 H di Kota Madinah Munawarah. Imam Malik menghapal al-Quran al-Karim sejak dini sebagaimana kebiasaan keluarga Muslim pada zamannya. Lalu ia menghapal hadis. Saat ia mengutarakan keinginannya kepada ibunya untuk mencari ilmu, ibunya memakaikan kepadanya pakaian yang paling bagus, dengan surban di kepalanya. Lalu ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah dan belajarlah adab (akhlak) sebelum ilmunya.” (Qadhi ‘Iyad, Al-Madarik, hlm. 115; Muhammad Ahmad al-Muqaddam,Awdah al-Hijâb II/207).
Imam Malik pernah ber-mulâzamah (belajar terus-menerus) kepada Ibnu Hurmuz selama tujuh tahun sejak awal masa pertumbuhannya. Ia pernah mendengar Ibnu Hurmuz berkata, “Sudah sepantasnya seorang ‘âlim mewariskan kepada para murid-muridnya perkataan, ‘Saya tidak tahu.’”
Karena itulah, menurut Ibnu Wahab, saat banyak pertanyaan ditanyakan kepada Imam Malik, ia tidak malu untuk berkata, “Saya tidak tahu.”
Imam Malik adalah orang yang sangat memperhatikan adab saat menghadap guru-gurunya. Ia pernah ber-mulâzamah kepada Nafi’, pembantu Ibnu Umar, dan berkata, “Saya mendatangi Nafi’ pada tengah hari. Saya tidak dinaungi pepohonan dari sengatan matahari. Saya menunggu lama keluarnya beliau. Saat beliau keluar, saya biarkan dulu beberapa saat seakan saya tidak melihat beliau. Kemudian saya menemui beliau, mengucapkan salam kepada beliau dan membiarkan beliau sampai beliau masuk. Baru saya berkata, ‘Bagaimana perkataan Ibnu Umar tentang masalah ini dan itu?’ Seraya beliau menjawab, saya serius mendengarkan.” (Ibn Farhun, Ad-Dibâj al-Madzhab fî Ma’rifah A’yân Ulamâ’ al-Madzhab, hlm. 117).
Setelah Imam Malik menyempurnakan belajarnya tentang atsar (hadits) dan fatwa, ia mulai mengajar di Masjid Nabawi untuk mengamalkan ilmunya pada umur 17 tahun. Terkait itu, Imam Malik ra. pernah berkata, “Tidaklah saya berfatwa kecuali disaksikan oleh 70 masyayikh dari kalangan para ulama bahwa saya berhak untuk itu.” (Al-Madârik, hlm. 127).
Imam Malik ra. memiliki kebiasaan baik dalam menghadiri majelis ilmu. Ia selalu tampil rapi, berpakaian bagus dan berhias untuk menghadiri majelis ilmu. Karena itu ia tampak berwibawa dan berbeda dengan yang lainnya. Tentang ini, al-Waqidi berkomentar, “Majelisnya adalah majelis yang berwibawa dan penuh dengan nuansa ilmu.”
Imam Malik sangat berkomitmen dalam berfatwa. Ia selalu hati-hati, berpikir mendalam dan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa. Terkait ini, Imam Malik pernah berkata, “Siapa saja yang ingin menjawab pertanyaan (berfatwa), hendaknya ia memikirkan nasibnya di neraka dan surga serta bagaimana ia selamat di negeri akhirat.” (Ibn Farhun, Ad-Dibâj al-Madzhab fî Ma’rifah A’yân Ulamâ’ al-Madzhab, hlm. 117).
Banyak ulama memuji Imam Malik. Sufyan bin ‘Uyainah, misalnya, berkata, “Saya tidak melihat Madinah kecuali akan rusak setelah wafatnya Malik bin Anas”.
Imam Syafii berkata, “Jika para ulama disebutkan maka Imam Malik adalah bintang (pakar)-nya…Siapa saja yang menginginkan hadis sahih hendaknya (menemui) Imam Malik.”
Ahmad bin Hanbal berkata, “Malik adalah imam dalam ilmu hadis dan fikih.”
Al-Qadhi ‘Iyadh pun berkata, “Imam Malik adalah rujukan satu-satunya sejak bertahun-tahun yang lalu.” (Al-Madarik, hlm 111).
Banyak hal menarik terkait sikap Imam Malik terkait ilmu. Ia, misalnya, pernah ditanya tentang firman Allah SWT: Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsy istawâ (Allah bersemayam di atas ‘Arsy). Beliau lalu menjawab, “Al-Istiwâ’ itu diketahui. Adapun caranya bagaimana tidak diketahui. Bertanya tentang itu adalah bid’ah.” (Siyar A’lâm an-Nubalâ’, XVIII/474).
Imam Malik tak pernah sedikit pun menyepelekan ilmu. Ia pernah ditanya seseorang dan mengatakan, “Ini masalah sepele.” Mendengar itu, ia marah dan berkata, “Bagaimana bisa dikatakan sepele!” Ilmu itu tak ada yang sepele. Tidakkah engkau mendengar firman Allah SWT (yang artinya): Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepada kamu perkataan yang berat (TQS al-Muzzammil: 5). Semua ilmu itu berat, khususnya yang akan ditanya pada Hari Kiamat (Al-Madarik, hlm. 162).
Imam Malik pernah berkata, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Tahdzîb al-Kamâl, I/161).
Ia juga pernah bertutur, “Ilmu itu bukan dengan (menghapal) banyak riwayat. Akan tetapi, ilmu itu adalah cahaya yang Allah tanamkan di dalam kalbu.” (Al-Kamâl li ‘ibn ‘Adî, I/25).
Ia pun pernah memberi nasihat, “Janganlah mengambil ilmu dari empat jenis orang, tetapi ambillah dari selain mereka. Jangan mengambil ilmu dari orang bodoh yang terang-terangan menunjukkan kebodohannya meski dia orang yang paling terpandang di hadapan manusia; jangan pula dari orang yang didominasi hawa nafsu dan kepentingannya yang menyeru manusia sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingannya; jangan pula dari pendusta yang banyak berdusta di hadapan manusia meski kamu tidak menganggap dia mendustakan Rasulullah saw.; jangan pula dari orang tua yang ahli ibadah dan memiliki keutamaan jika dia tak memahami apa yang dia bicarakan (bukan orang faqîh).” (Al-Kamâl li ‘ibn ‘Adî, I/92).
Imam Malik menerima hadis dari 900 orang (guru), 300 dari tâbi’în dan 600 dari tâbi’ tâbi’în. Imam Malik lalu menyusun kitab Al-Muwaththa’ yang menghimpun 100.000 hadis. Kitab ini diriwayatkan oleh tak lebih dari seribu orang.
Hasil gambar untuk Imam MalikImam Malik adalah ulama yang tak pernah menjilat penguasa. Diriwayatkan, dalam sebuah kunjungan ke Kota Madinah untuk menziarahi Makam Rasulullah saw., Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun ar-Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti kajian Al-Muwaththa’ Imam Malik. Untuk itu Khalifah mengutus Yahya bin Khalid al-Barmaki untuk memanggil Imam Malik. Namun, Imam Malik menolak untuk mendatangi Khalifah seraya berkata kepada utusan Khalifah itu, “Al-‘Ilmu yuzâr wa lâ yazûr, yu’tâ wa lâ ya’tî (Ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi; didatangi, bukan mendatangi).”
Akhirnya, terpaksa Khalifah Harun ar-Rasyid mengalah. Ia lalu mendatangi Imam Malik dan duduk di majelisnya. Sedianya Khalifah ingin jamaah meninggalkan majelis tersebut. Namun, permintaan itu ditolak oleh Imam Malik. “Saya tidak bisa mengorbankan kepentingan orang banyak hanya demi kepentingan seorang.”
Sang Khalifah pun akhirnya mengikuti kajian Imam Malik dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil (Lihat: Al-‘Ashami, Samth an-Nujûm al-‘Awâlî fî Anbâ’ al-Awâ’il at-Tawâlî, II/2014).
Wa mâ tawfîqi illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]
[htipress/www.globalmuslim.web.id]
Powered by Blogger.