Showing posts with label mesir. Show all posts

9:55 AM

Mohamed Mursi (tengah) melambaikan tangan ke para pendukungnya saat ditahan oleh anggota keamanan presiden di Tahrir Square, Kairo, Mesir, pada 29 Juni 2012. (file foto).
KAIRO -- Presiden Mesir terguling, Mohammad Mursi, meneriakan seruan jihad 'Labbaik Ya Gaza' (Kami penuhi panggilanmu wahai Gaza) saat menjalani persidangan terkait kasus penyerbuan ke penjara pada Ahad (13/7).
Mursi berulang kali meneriakan kalimat “Labbaik Ya Gaza” saat memasuki ruangan akademi kepolisian di ibu kota Mesir, Kairo, Ahad. Seruannya direspon oleh sejumlah rekannya dengan simbol 4 Rabiah Adawiyah.
Hal ini memicu amarah hakim dan mengancam mengusir Mursi dari ruangan. Namun, seperti dikutip Infopalestina, pengacara membelanya dan mengatakan kliennya sebagai mantan Presiden berhak menyampaikan pendapat terkait peristiwa yang terjadi.

Sikap Kairo terhadap Gaza berubah di era Abdul Fattah As-Sisi. Dia menuding Hamas sebagai gerakan teroris karena keterkaitannya dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin.
Mesir tidak bersikap terhadap kejahatan penjajah zionis Israel. Mesir hanya mencukupkan diri dengan pernyataan Menlu yang mengutuk kejahatan Israel ke Gaza.
 
 
Pelajaran bagi para penguasa. Serukanlah jihad ketika kekuasaan masih ada dalam genggaman. Ketika tentara masih bisa digerakkan dengan kata-kata. Akan datang suatu masa, ketika banyak keinginan mulia datang tapi daya sudah musnah. 


[www.globalmuslim.web.id]

4:19 PM
israel dan al sisiSebuah laporan yang dimuat surat kabar Israel Yedioth Ahronoth mengatakan bahwa rezim al-Sisi telah mendapat penawaran rahasia dari Israel.
Menurut komentator surat kabar urusan militer Ron Ben-Yishai, Israel mempertahankan “hubungan rahasia” dengan Al-Sisi dan rezim Arab lainnya yang memiliki kepentingan bersama dengan Israel.
Laporan tersebut memuji Al-Sisi karena tidak mengundang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam upacara pelantikan presiden pada hari Minggu. Hal itu menunjukkan bahwa ketidakstabilan di Mesir dan dunia Arab membutuhkan “tingkat ketenangan” dalam hubungan timbal balik dengan Kairo, dan bahwa kebijakan ini juga harus diperluas bagi para sekutu Arab lainnya untuk mempertahankan hubungan “di bawah meja”.
“Israel harus menangkap peluang yang diperoleh setelah Musim Semi Arab untuk membangun dan mengembangkan hubungan baik dengan negara-negara tetangganya,” kata laporan itu. “Namun, pada saat yang sama, negara itu harus berhati-hati untuk tidak tampak terlalu bersahabat dengan satu negara Arab. Saat ini setiap hubungan antara Israel dan rezim Arab tidak perlu ditampilkan secara terbuka. Yang kita perlu adalah mengembangkan hubungan kita untuk mengalahkan tujuan mereka.”
Laporan itu menambahkan bahwa Mesir harus dianggap sebagai “faktor stabilisasi di kawasan itu” karena komitmennya terhadap perjanjian damai.
Mengenai hubungan dengan Arab Saudi, Israel memiliki kepentingan pemulihan ekonomi Mesir, tambahnya. “Namun, Israel tidak perlu mengungkapkan hubungan dekatnya dengan negara-negara Arab.”
“Dalam praktiknya, sejak terjadinya huru-hara di negara Arab, hubungan semi-kemitraan yang tenang telah muncul antara Israel, Yordania, Arab Saudi dan Mesir. Namun, kita tidak boleh mengumumkannya dengan lantang. Mengapa? Karena ada kemungkinan perekonomian Mesir akan terus memburuk, kemudian kemarahan rakyat Mesir akan beralih ke Israel, dan mungkin tentara Mesir harus bertindak.”
Penulis menyerukan “pola pikir baru atas keamanan Israel” berdasarkan “kemitraan yang tenang” dengan wilayah tersebut.
Dia menyimpulkan bahwa rezim al-Sisi adalah sebuah kasus yang unik. “Ini karena Israel memiliki kunci akses ke AS dan setiap bantuan militer dan ekonomi dari negara itu. Adapun rezim Mesir memiliki kunci untuk menenangkan perbatasan barat Israel.” (middleeastmonitor.com, 9/6/2014 )
[www.globalmuslim.web.id]

4:02 PM

Sekali Lagi, Keputusan Pengadilan Yang Keras Untuk Mengintimidasi dan Menakut-nakuti. Tidak mengherankan bahwa Biro Pengadilan Pidana Al – Minya Ketujuh pada hari Sabtu, 26/04/2014, mengeluarkan vonis keras terhadap empat belas Ikhwan (Anggota Ikhwan) lebih dari 700 tahun penjara; terutama pengadilan itu dipimpin oleh Hakim Saeed Yusef, yang sebelumnya mengeluarkan rujukan kepada Grand Mufti tuntutan terhadap 529 terdakwa dalam kasus kerusuhan yang terjadi di kantor polisi Matay Minya, menyusul penanganan atas aksi duduk di Raba’a dan An- Nahdha. Sementara sebaliknya, pada tanggal 16 September 2013, dia mengeluarkan putusan yang membebaskan semua terdakwa dalam pembunuhan demonstran di Bani Suwayf selama revolusi 25 Januari. Mereka adalah para mantan direktur keamanan Bani Suwayf dan tiga pembantunya bersama tujuh perwira intelijen di provinsi itu. Selain itu, dia menolak semua tuntutan perdata yang diajukan oleh para korban dan mendenda mereka 200 pound untuk biaya para pengacara.
Tampak bagi kita dan bagi banyak orang bahwa vonis yang keras ini ditujukan untuk mengintimidasi dan menakut-nakuti dan lebih berbau politis daripada putusan pengadilan. Meskipun terdapat konfirmasi dari banyak hakim yang menyatakan bahwa putusan ini akan dicabut; Namun, ini berarti bahwa putusan ini adalah salah dan dipolitisasi ; dan membuat peradilan kehilangan nilai dan prestisenya, sementara sebagian orang masih memujinya meskipun hukuman keras ini mencapai 88 tahun bagi salah satu terdakwa, 63 tahun untuk yang lain, dan 57 tahun untuk terdakwa ketiga.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS Al – Hadid : 25 )
Neraca (Al – mizan) di sini adalah keadilan, yang merupakan pandangan Ibnu Abbas (semoga Allah ridha dengannya) dan merupakan suatu pandangan dari banyak komentator. Dengan demikian, Allah SWT memerintahkan orang-orang untuk adil dalam hubungan mereka; dan cara untuk melakukan ini adalah dengan mengikuti pesan-pesan yang mereka diberitahu, dan mematuhi apa yang mereka diperintahkan, karena apa yang dibawa adalah adalah kebenaran yang jelas.
Keamanan, keselamatan dan keadilan yang nyata diantara rakyat tidak akan tercapai kecuali di bawah naungan negara Khilafah kedua yang waktunya telah semakin dekat dan eranya telah muncul. Dengan sendirinya : darah, kehormatan dan harta benda akan dilindungi, dan orang-orang akan diadili secara adil. Ya Allah, kami memohon kepada Engkau untuk mempercepat berdirinya Khilafah, karena Engkaulah Sebaik Baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (QS An- Nisa : 58 )
Sharif Zayed

Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir Wilayah Mesir

Minggu, 27 Jumada Il 1435 H | 27/04/2014 | No : PR 13/14 [htipress/syabab.com]

[www.globalmuslim.web.id]

12:42 PM

Photo: Mantan PM Mesir : Penunjukkan IM Sebagai Organisasi Teroris Adalah Ilegal

Meskipun mengeluarkan dekrit yang menunjuk Ikhwanul Muslimin sebagai “organisasi teroris”, Dr Hazem Al – Beblawi,  yang merupakan mantan Perdana Menteri, telah menggambarkan keputusan ini sebagai ilegal dengan mengatakan: “Keputusan ini adalah keputusan politik bukan keputusan hukum, dan karena itulah hal ini tidak diterbitkan dalam lembaran negara.”

Dalam sebuah wawancara program televisi yang berjudul “This Happens in Egypt” (TV) , yang ditampilkan di MBC Channel Mesir, Al – Beblawi menambahkan bahwa Lembaga Kehakiman adalah satu-satunya otoritas yang memiliki mandat untuk mendakwa seseorang atau suatu organisasi dengan tuduhan terorisme atau apa pun. Dia mengatakan: “Hanya pengadilan yang memiliki hak untuk mengatakan hal ini karena pengadilanlah yang memiliki hak untuk membuat tuduhan dan mengeluarkan keputusan.”

Mantan Perdana Menteri itu mengharapkan bahwa keputusannya sendiri yang menunjuk Ikhwanul Muslimin sebagai “organisasi teroris” tidak akan berakibat bisa mendakwa siapa pun yang berafiliasi dengan organisasi itu hanya atas dasar afiliasi. Dia mencatat bahwa situasi keamanan sudah mulai membaik dan bahwa rakyat Mesir sekarang melihat kekerasan dengan “perasaan jijik”. Dia mengatakan: “Rakyat sekarang melihat kekerasan sebagai tindakan perusakan bagi negara dan bukan sebagai aktivitas politik. Dan pandangan seperti ini adalah suatu keuntungan besar.”

Al – Beblawi menolak untuk menerima penggambaran oleh sebagian orang atas peraturan yang mengatur demonstrasi sebagai “peraturan yang melarang demonstrasi”. Dia mengatakan: “Saya tidak mengenal apa yang sebagian orang sebut sebagai peraturan yang melarang demonstrasi. Demonstrasi adalah seperti hak-hak lain yang harus diatur. Dia menambahkan bahwa ketika keamanan negara terancam, pengambilan langkah-langkah luar biasa menjadi tak terelakkan.

Mantan Perdana Menteri itu menyatakan keberatannya atas peraturan termasuk yang berkaitan dengan pengaturan demonstrasi dan menggambarkannya sebagai “ekstrem” dan mengatakan: “Saya keberatan dengan hukuman ini dan saya ingin melihat hal ini dirubah.” (rz/www.middleeastmonitor.com)

http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/22/mantan-pm-mesir-penunjukkan-im-sebagai-organisasi-teroris-adalah-ilegal/

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di www.hizbut-tahrir.or.id/gabung

Syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda.
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================

Mantan PM Mesir : Penunjukkan IM Sebagai Organisasi Teroris Adalah Ilegal

Meskipun mengeluarkan dekrit yang menunjuk Ikhwanul Muslimin sebagai “organisasi teroris”, Dr Hazem Al – Beblawi, yang merupakan mantan Perdana Menteri, telah menggambarkan keputusan ini sebagai ilegal dengan mengatakan: “Keputusan ini adalah keputusan politik bukan keputusan hukum, dan karena itulah hal ini tidak diterbitkan dalam lembaran negara.”

Dalam sebuah wawancara program televisi yang berjudul “This Happens in Egypt” (TV) , yang ditampilkan di MBC Channel Mesir, Al – Beblawi menambahkan bahwa Lembaga Kehakiman adalah satu-satunya otoritas yang memiliki mandat untuk mendakwa seseorang atau suatu organisasi dengan tuduhan terorisme atau apa pun. Dia mengatakan: “Hanya pengadilan yang memiliki hak untuk mengatakan hal ini karena pengadilanlah yang memiliki hak untuk membuat tuduhan dan mengeluarkan keputusan.”

Mantan Perdana Menteri itu mengharapkan bahwa keputusannya sendiri yang menunjuk Ikhwanul Muslimin sebagai “organisasi teroris” tidak akan berakibat bisa mendakwa siapa pun yang berafiliasi dengan organisasi itu hanya atas dasar afiliasi. Dia mencatat bahwa situasi keamanan sudah mulai membaik dan bahwa rakyat Mesir sekarang melihat kekerasan dengan “perasaan jijik”. Dia mengatakan: “Rakyat sekarang melihat kekerasan sebagai tindakan perusakan bagi negara dan bukan sebagai aktivitas politik. Dan pandangan seperti ini adalah suatu keuntungan besar.”

Al – Beblawi menolak untuk menerima penggambaran oleh sebagian orang atas peraturan yang mengatur demonstrasi sebagai “peraturan yang melarang demonstrasi”. Dia mengatakan: “Saya tidak mengenal apa yang sebagian orang sebut sebagai peraturan yang melarang demonstrasi. Demonstrasi adalah seperti hak-hak lain yang harus diatur. Dia menambahkan bahwa ketika keamanan negara terancam, pengambilan langkah-langkah luar biasa menjadi tak terelakkan.

Mantan Perdana Menteri itu menyatakan keberatannya atas peraturan termasuk yang berkaitan dengan pengaturan demonstrasi dan menggambarkannya sebagai “ekstrem” dan mengatakan: “Saya keberatan dengan hukuman ini dan saya ingin melihat hal ini dirubah.” (rz/www.middleeastmonitor.com)

[www.globalmuslim.web.id]


Kelompok HAM Amnesty International telah menerbitkan laporan setebal 50 halaman tentang Mesir yang berjudul  ”Mesir : Roadmap Menuju Tindakan Represif” : Pelanggaran HAM Tanpa Akhir”. Laporan itu menuduh pemerintah sementara Mesir melakukan pelanggaran HAM yang belum pernah terjadi sebelumnya. Rezim militer juga dituding bertindak secara represif yang menyia-nyiakan apa yang sudah diperoleh dari revolusi tanggal 25 Januari.
“Rakyat Mesir telah menyaksikan serangkaian tindakan yang merusak HAM dan kekerasan negara dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya selama tujuh bulan terakhir. Setelah tiga tahun berlalu, tuntutan ‘Revolusi 25 Januari ‘ atas martabat dan hak asasi manusia tampaknya menjadi semakin jauh dari sebelumnya. Sebagian tokohnya sekarang berada di balik jeruji besi dan represi dan impunitas menjadi kejadian yang terjadi sehari-hari, ” kata Hassiba Hadj Sahraoui, Wakil Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara pada Amnesty International.
Selain itu, laporan itu juga mengkritik tindakan keras pada kedua belah pihak baik kelompok sekuler maupun para pendukung Ikhwanul Muslimin, dan menolaknya sebagai “bermotif politik” .
Laporan itu juga menuduh pemerintah sementara Mesir “menggunakan semua badan negara untuk menginjak-injak hak asasi manusia dan meniadakan perbedaan pendapat, dengan dipersenjatai undang-undang yang represif dan dibantu oleh pasukan keamanan yang tidak akuntabel, serta sistem peradilan yang menghukum para kritikus pemerintah sementara memungkinkan pelanggar HAM berjalan bebas.”
“Jika pihak berwenang tidak mengubah arah dan mematuhi komitmennya untuk menghormati HAM dan aturan-aturan hukum, maka masa depan Mesir tampak suram dan harapan dari “Revolusi 25 Januari ” hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menjadi kenyataan, ” tambah laporan itu. (rz/www.middleeastmonitor.com/23/01)
[www.globalmuslim.web.id]

Konstitusi Untuk Tundukkan Rakyat Mesir
Dalam sebuah artikel koresponden “The Daily Telegraph” di Kairo, Richard Spencer, yang berjudul “Poster kampanye konstitusi baru Mesir menimbulkan kontroversi”. Spencer mengatakan bahwa “Ada banyak alasan mengapa iklan yang berjudul “konstitusi yang mewakili semua” ini menimbulkan kontroversi.
Spencer mengamati poster kampanye konstitusi baru Mesir yang menjadi background konferensi pers Amr Musa, Kepala Komite Amandemen Konstitusi. Poster kampanye itu telah menimbulkan kontroversi karena kesalahan bahasa, serta foto lima orang tokoh yang sebagian besar tidak memiliki tempat di hati rakyat Mesir (BBC Arabic, 16 Desember 2013; The Daily Telegraph: “Mesir Kanpanyekan Konstitusi Baru Dengan Tokoh Asing”).
*** *** ***
Dari sini tanpak berita lucu, namun yang sebenarnya bahwa “seburuk-buruk ujian adalah apa yang membuat Anda ditertawakan”. Berita ini mengungkapkan tentang sandiwara yang disebut konstitusi baru Mesir Kinana, serta lelucon lembaga-lembaga yang berkuasa, dan orang-orang bodoh yang ada di dalamnya, di mana mereka terus berusaha untuk menundukkan rakyat Mesir Kinana.
Orang-orang bodoh tersebut berusaha untuk menipu masyarakat dengan berbagai media yang tidak memiliki misi kecuali membakar emosi masyarakat agar memilih lelucon kemanusiaan yang disebut dengan “konstitusi baru”. Orang-orang bodoh ini juga menteror masyarakat dengan berbagai tindakan brutal dan represi dengan cap lagu lama, yaitu sebutan “al-Ikhwan, aktivis Ikhwanul Muslim”, “takfîriyîn, kelompok yang suka mengkafirkan kelompok lain atau kelompok ekstremis”, dan “al-Irhab, terorisme”. Kemudian menjadikan semua ini sebagai sebagai topeng perang melawan Islam, para pengemban dakwah Islam, menjauhkan dari aktivitas untuk Islam, dari mengemban dakwah Islam, dan dari penerapan Islam dalam bingkai negara, bahkan menjauhkan dari Islam itu sendiri!
Mereka orang-orang bodoh tersebut mengumumkan dalam konferensi menjelang waktu pelaksanaan referendum konstitusi batil yang disusun oleh tangan-tangan mereka yang berlumuran darah. Hal ini tidak pernah terjadi sekalipun dalam konstitusi positif, misalnya, yang menempatkan kepala mereka di atas poster propaganda, yang semakin memperjelas bahwa mereka mengabaikan rakyat Mesir Kinana dan menghinakannya. Bahkan orang kafirpun merasa heran dengan itu semua. Koresponden The Daily Telegraph,  Richard Spencer dalam artikelnya mengatakan: “Sungguh hanya dengan melihat fotonya saja, siapapun akan bisa membedakan itu. Misalnya, pada backround itu ada foto perempuan satu-satunya yang tidak mengenakan hijab, padahal semua perempuan Mesir memakainya, di samping dua orang lainnya, yang satunya berkebutuhan khusus dan satunya lagi dokter, sementara terlihat dengan sangat jelas wajah keduanya adalah wajah orang Barat.” Sehingga ia mempertanyakan tentang slogan kontroversial ini, yaitu “konstitusi yang mewakili semua”.
Apapun materi konstitusi ini, tidak jauh berbeda dari konstitusi tahun sebelumnya, konstitusi tahun 2012, kecuali semakin menelanjangi kepalsuan, dimana kebayakan dari mereka adalah penyusun konstitusi 2012, yang diklaim bahwa ia konstitusi Islam, padahal itu sama dengan konstitusi-konstitusi positif sebelumnya, yang semuanya bertentangan dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, begitu juga dengan konstitusi 2013, yang akan dilangsungkan referendum, maka semuanya adalah konstitusi yang didedikasikan untuk konsep negara sipil demokrasi, yakni negara sekuler, di mana legislasi dan kedaulatan di tangan rakyat, sebaliknya ia mencela negara Islam—negara Khilafah—dengan kata-kata samar “modern”! Lalu, mereka pun menyusun konstitusi 2013, melalui komite lima puluh, dengan dalih menyelamatkan dari “al-Ikhwan, aktivis Ikhwanul Muslim”, “takfîriyîn, kelompok yang suka mengkafirkan kelompok lain atau kelompok ekstremis”, “al-Irhab, terorisme”, dan “ketidakstabilan”, sebaliknya terjadi kebrutalan yang dilakukan oleh militer dan polisi pendukungnya. Mereka tidak menyadari bahwa ini justru semakin menelanjangi kepalsuan mereka yang menginginkannya dan para penyusun konstitusi 2012, yaitu klaim “negara sipil dengan referensi Islam”.
Mereka menghilangkan kalimat tersebut dari kamus debat konstitusi untuk memuaskan diri sendiri dan yang sejenisnya, di antara mereka yang dengan dusta menyebut dirinya para “elit” budaya dan politik liberalisme, para pembenci Islam sebagai sistem kehidupan, dan semua yang berhubungan dengan konsep ini. Mereka tidak ingin merepotkan pendengarannya dengan kalimat tersebut, sehingga mereka tidak menghormati perasaan kaum Muslim, rakyat Mesir Kinana. Untuk itu mereka menghapus setiap pengaruh yang berbau Islam dan hukum-hukumnya, yang sebelumnya ada pada konstitusi 2012. Sementara setiap pengaruh untuk menjaga atau melestarikan sisa “identitas Islam” yang diklaimnya, yang sebelumnya didukung oleh pemilik konstitusi 2012, kemudian mereka menghilangkan semua embel-embel kosmetik itu dengan arogansi dan provokasi!
Kemudian terjadi kejahatan besar yang karenanya konstitusi tahun 2012 itu dibuat. Kejahatan itu bertambah dan serius pada konstitusi 2013. Sebab ia tidak hanya memungkinkan lembaga militer untuk menjadi negara dalam negara, seperti yang dilegalkan dalam konstitusi tahun 2012, tetapi memungkinkan lembaga militer untuk menjadi negara di atas negara, dengan Menteri Pertahanan yang tidak seorang pun menguasainya, tidak rakyat, kepala negara atau perdana menteri!
Materi pasal-pasal pada kedua konstitusi tersebut, apapun bentuknya, tidak sama antara tinta yang dengannya konstitusi ditulis, dengan tujuan masing-masing, yaitu untuk menjaga lembaga militer melalui Menteri Pertahanannya adalah penguasa sesungguhnya dan riil bagi rakyat Mesir Kinana. Adapun tujuannya adalah agar Mesir Kinana, Mesir negeri Muslim yang merindukan pemerintahan yang menerapkan Islam, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, menjadikannya tunduk pada nilai-nilai kapitalisme liberal yang telah terdistorsi, yang dipaksakan pada kita oleh kaum kafir Barat, yang dipimpin oleh Amerika dalam budaya dan media, serta alat-alatnya baik TV maupun Radio, bioskop dan buku melalui para “elit” yang tanpa malu mereka disebut “elit budaya”.
Sementara dalam kurikulum pendidikan yang keliru dan mencurigakan, yang menikan Islam, hukum dan sejarahnya, serta mengadopsi para tokoh yang identitas kepribadiannya saling bertentangan antara kapitalisme sekuler dalam hal pemikiran dan konsep, nasionalisme dan patriotisme pada sebagian besar perasaan, dengan Islam dalam lubuk hati yang paling dalam! Dengan demikian Mesir Kinana tetap menjadi tanah subur di mana Amerika menjaga kepentingannya, menjarah kekayaan Mesir, menjaganya, menukar apa saja yang ingin ditukarnya dengan siapa saja, juga agar Mesir Kinana tetap menjadi penjaga keamanan (Israel), dan perbatasannya. Sehingga yang selain itu, maka semua yang tertulis dalam konstitusi tersebut tidak ada nilainya, dan tidak legitimasi meski terhadap pemiliknya.
Akan tetapi, dari tengah-tengah kelicikan yang dilakukan siang malam ini, dari tengah-tengah kelicikan yang bertujuan untuk menghilangkan pegunungan, dan dari tengah-tengah makar besar ini, kami sampaikan kabar gembira pada kalian bahwa rakyat Mesir Kinana tidak akan pernah tunduk pada selain Allah, serta kami sampaikan kabar gembira pada kalian dan pada diri kami sendiri akan kebenaran firman Allah SWT:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal [8] : 36). [Alauddin al-Zanati, Ketua Komisi Pusat Komunikasi Hizbut Tahrir wilayah Mesir]
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 19/12/2013.
[www.globalmuslim.web.id]

21 Wanita dan Gadis, Yang Hukuman 11 Tahun Membuat Marah Massa,  Akan Dibebaskan Setelah Proses Pengadilan
Presiden interim Mesir akan mengeluarkan pengampunan penuh kepada sekelompok yang terdiri dari 21 wanita dan gadis yang dijatuhi hukuman 11 tahun penjara karena melakukan protes damai, kata kantor kepresidenan.
Para pengunjuk rasa yang dihukum itu, merupakan para pendukung presiden terguling Mohamed Morsi, menerima hukuman keras karena membentuk rantai manusia dan membagi-bagikan selebaran di kota Alexandria. Seorang anggota termuda dari kelompok itu masih berusia 15 tahun.
“Presiden Adly Mansour akan mengeluarkan pengampunan penuh kepada para wanita dari Alexandria itu setelah proses peradilan akhir selesai sesuai dengan konstitusi,” kata seorang penasihat presiden dalam sebuah pernyataan yang diedarkan kepada para wartawan hari Jumat.
Proses hukum masih akan melalui banding dan penghentian proses pengadilan, pernyataan tersebut menambahkan.
Gambar yang diambil dari ruang sidang Alexandria di mana mereka dijatuhi hukuman pada hari Rabu menunjukkan kelompok itu, yang mengenakan jilbab berwarna putih dan seragam penjara, diborgol di jeruji besi untuk terdakwa, memprovokasi kemarahan massa di Mesir.
Sebuah demonstrasi yang menentang hukuman itu berubah menjadi kekerasan pada hari Kamis dan seorang siswa tewas dalam bentrokan dengan polisi di luar Universitas Kairo.
Organisasi HAM mengkritik keras keputusan tersebut, dengan mengatakan bahwa hal itu menandai tekad keras pemerintah yang didukung militer untuk membungkam perbedaan pendapat.
Pada awal pekan ini, pemerintah mengeluarkan peraturan yang membatasi demonstrasi. Namun ratusan warga Mesir menentang larangan itu pada hari Jumat dengan turun ke jalan di kota-kota di seluruh negeri. (rz/www.aljazeera.com/29 Nov 2013)
[www.globalmuslim.web.id]

Pemimpin al-Qaeda menuduh kelompok Syiah Hizbullah Lebanon berada di balik pemboman di kota Tripoli (Lebanon Utara) pada hari jum’at kemarin.
libanon bomTercatat 2 bom meledak di dua masjid berbeda, dikawasan yang mayoritas menganut mazhab Sunni pada saat pelaksanaan shalat jum’at. Sedikitnya puluhan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya terluka.
Al-Qaedah bersumpah akan melakukan pembalasan setimpal terhadap kelompok Syiah Hizbullah.
Dalam laman resmi website berita milik Al-Qaedah mengatakan bahwa ” Syiah Hizbullah, yang berdiri di sisi Presiden Suriah Bashar al-Assad, berada di belakang pemboman ini.”
Lebanon menjadi negara tetangga pertama yang terancam perang sektetarian setelah konflik antara Sunni dan Syiah di Suriah, terlebih setelah pengumuman kelompok Syiah Hizbullah Libanon ikut terlibat dalam pertempuran bersama dengan tentara bashar Al-Assad.
Sebelumnya, terjadi bentrokan bersenjata antara kelompok Syiah dan Sunni di jalan-jalan kota Sidon dan Tripoli yang mengakibatkan ketegangan terus meruncing di Libanon. (Aljazeera/Zhd)
[www.globalmuslim.web.id]

Oleh Yasmine Ryan
Dalam suatu kasus yang belum jelas, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar harian Prancis Le Monde, Jenderal Mesir Amr mengatakan dengan terus terang bahwa dia siap untuk mengawasi kampanye yang ditujukan untuk “membersihkan” Mesir dari Islam politik.
“Ada 90 juta penduduk Mesir dan hanya ada tiga juta [anggota] Ikhwanul Muslimin. Kami butuh enam bulan untuk membubarkan atau memenjarakan mereka semua, ” katanya dalam wawancara yang diterbitkan pada hari Senin.
Penegasan yang menakutkan sang jenderal itu mirip dengan komentar-komentar yang keluar dari mulut “para pemberangus” – yang orang-orang dalam rezim yang, menganjurkan cara apapun yang diperlukan untuk menyapu bersih Islam politik. Peralatan ini termasuk cara-cara apapun yang diperlukan, seperti dengan penyiksaan, pembunuhan, dan pengabaian sepenuhnya atas hak asasi manusia.
Pada kenyataannya, statistik yang dikutip oleh jenderal Mesir itu merupakan gaung dari apa yang terjadi di Aljazair.
Smail Lamari, Kepala Dinas Intelijen Aljazair yang dikenal sebagai Departemen Counter-Spionase dan Keamanan Dalam Negeri yang terkenal kejam, dilaporkan membuat komentar yang sama dua puluh satu tahun yang lalu.
Mohamed Samraoui, mantan wakil Lamari yang membelot dari rezim Aljazair pada pertengahan 1990-an menulis laporan atas peran dinas rahasia menuju pecahnya tindak kekerasan yang berjudul “Catatan Kejadian Tahun-tahun Berdarah “,  mengkaitkan kutipan berikut dengan orang yang kemudian menjadi bos-nya:
“Saya siap dan memutuskan untuk menghilangkan nyawa tiga juta warga Aljazair jika perlu untuk menjaga ketertiban dari ancaman kelompok Islam.”
Menurut Samraoui, Lamari membuat komentar ini pada pertemuan di Chateauneuf bulan Mei 1992, sebelum Aljazair jatuh ke dalam siklus kekerasan yang berlangsung selama sepuluh tahun dan diperkirakan memakan korban 200.000 jiwa.
Para jenderal Aljazair itu sendiri mengambil langsung pedoman itu dari strategi yang digunakan oleh Perancis setengah abad sebelumnya, dalam Perang Aljazair, tulis Samraoui.
Sebagian adalah para ahli, yang telah bekerja secara langsung dengan militer Prancis hingga menjelang kemerdekaan.
Teori di balik strategi ini didasarkan pada “Perang Zaman Modern”, yang ditulis oleh ahli teori kontra-pemberontakan Perancis, Roger Trinquier.
Pada saat jurnalis Perancis Marie-Monique Robin menunjukkan hal ini padanya film] dokumenter tahun 2003 yang berjudul “The Death Squads: the French School ” peralatan yang sama ini sebelumnya juga telah “disalin dan disisipkan” dalam banyak perang paling kotor dan paling buruk pada abad ke-20.
Di Argentina, dinas rahasia Perancis memberikan pelatihan kepada rezim, saat dia menunjukkan film dokumenter itu, yang memenangkan penghargaan dari Senat Perancis sebagi film dokumenter politik terbaik tahun ini.
Mengingat dunia telah beberapa kali melihat digunakannya pedoman ini sebelumnya, dalam beberapa kekejaman terburuk pada paruh akhir abad ke-20, fakta bahwa Jenderal Amr jelas benar-benar terpengaruh oleh korban manusia atas upayanya atau dampak potensial yang akan dikatakan dari masyarakat internasional.
“Setelah itu, para wisatawan akan datang kembali, demikian juga dengan para investor asing. Dan Mesir akan berada dalam kedamaian selama berabad-abad yang akan datang, “katanya kepada Le Monde.
Komentarnya, sekali lagi menunjukkan dia telah mencermati contoh dari apa yang terjadi di Aljazair. Dan sementara Lamari mengatakannya tidak secara terbuka, Amr telah mengatakan secara terus terang niatnya kepada dunia. (rz)

Sumber: http://blogs.aljazeera.com/blog/middle-east/egypts-generals-following-algerian-playbook
[www.globalmuslim.web.id]


Oleh Reza Pankhurst
Berita bahwa pengadilan Mesir telah memerintahkan pembebasan mantan presiden Hosni Mubarak menunjukkan bahwa rezim itu akhirnya telah menghapus sesuatu yang disembunyikannya, suatu bukti kebohongan rezim. Semua hal tersembunyi yang meliputi penggulingan mantan Presiden Mursi telah dicampakkan – yakni 22 juta penandatangan petisi yang belum disyahkan, orang yang turun ke jalan yang kononnya berjumlah 17-33 juta yang muncul di Lapangan Tahrir yang terbukti adalah berlebihan, tokoh “liberal” Mohammad el- Baradei yang sekarang bersembunyi di Wina dan telah memenuhi perannya sebagai orang yang memungkinkan terjadinya kudeta di hadapan Barat, kesalahan dari pemerintah teknokratis netral pimpinan Hazem el-Beblawi (yang lebih peduli untuk memerangi “terorisme” daripada membangun kembali ekonomi) dan ide bahwa Tamarod adalah gerakan populis (yang sekarang terungkap sebagai kelompok fasis Nasseris yang berperan untuk menggaungkan dan memperkuat setiap kata dari rezim).
Klaim bahwa para pendukung kudeta tidak hanya merupakan anti-Islam juga telah terbukti salah setelah partai salafi al-Nur diungkap sebagai kelompok “idiot yang berguna” dan setelahnya mengakui bahwa semua fasilitator dan pemodal kudeta mulai dari pengusaha Naguib Sawaris hingga rezim negara-negara Teluk dan Arab Saudi secara terbuka bersikap agresif terhadap “Islam politik.” Selain antara lain juga dukungan terbuka dari mantan Perdana Menteri Tony Blair, pemerintah Israel saat ini dan lobi Israel di Washington.
Sistem lama tetap tidak tersentuh oleh pemberontakan tahun 2011, dimana kelompok oposisi kembali ke balik jeruji besi dengan dikenakan banyak tuduhan, ribuan orang tewas, dipenjara, disiksa atau diburu oleh pihak berwenang. Sekarang, rezim mengklaim bahwa mereka sedang melakukan “perang melawan teror” yakni melawan kelompok oposisi dalam negeri – suatu retorika yang tidak baru, namun kembali ke era tahun 1990-an. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang Jenderal Mesir kepada Le Monde: “Ada 90 juta orang Mesir dan hanya ada 3 juta (anggota) Ikhwanul Muslimin. Kami butuh enam bulan untuk membubarkan mereka atau memenjarakan semua anggotanya. Ini tidak masalah, karena kami sudah melakukannya pada 1990-an… ”
Mesin propaganda bekerja dalam kecepatan penuh, dengan negara yang tidak mempertanyakan lagi dan keadaan media swasta yang mengingatkan pada era pra-2011. Suatu perang melawan “Kelompok Islam” telah dideklarasikan, dan rezim diktator sekuler yang dipraktekkan oleh Mubarak telah sepenuhnya kembali muncul dari bayang-bayang, dan merasa dirinya cukup kuat untuk melepaskan diri dari tuntutan-tuntutan.
Meskipun ada sebagian orang yang cemas di Washington, ini bukanlah hal yang buruk sejauh berkaitan dengan pemerintah Amerika. Mesir di era Mubarak adalah salah satu mitra terdekat Amerika dalam “perang melawan teror,” yang berkesinambungan yang memiliki hubungan intelijen yang erat dan rezim Mesir menyediakan lokasi bagi para korban rendisi untuk “diinterogasi” selain juga menyediakan “interogator” bagi negara lain.
Sementara pelepasan Mubarak yang terhambat akan sangat memalukan, tidak seorang pun yang akan mendorong kembalinya panggung politik bagi sang diktator yang sebelumnya terbuang, dan perlu dicatat bahwa pada saat pemberontakan tahun 2011 mantan Wakil Presiden Dick Cheney menyebut Mubarak sebagai seorang “teman baik”, Presiden Obama menyebutnya sebagai “kekuatan penjaga stabilitas dan orang yang baik “dan Senator John McCain secara terbuka meratapi penggulingannya. Apakah dia dibebaskan dalam beberapa hari ke depan atau tidak, simbolisme tentang pergolakan politik saat ini di Mesir terdengar jelas. Sementara Mubarak jelas melewati masa hukumannya, Jenderal Sisi dukungan Amerika memiliki model yang lebih baru dan lebih populer sebagai ujung tombak mereka di Kairo.
Ketika Menlu AS John Kerry membiarkannya – penggulingan mantan Presiden Muhammad Mursi dianggap sebagai sebuah langkah menuju “pemulihan demokrasi.” Atau dengan kata lain, mengembalikan rezim yang tidak hanya akan setuju untuk melindungi kepentingan-kepentingan Amerika seperti Perjanjian Camp David, tetapi juga akan bekerja keras untuk membatasi ruang bagi aktivisme Islam politik di kalangan masyarakat Mesir, sesuatu yang tentu saja tidak mau dilakukan oleh pemerintah Mursi. Dan, sementara darah mengalir dan mengisi penjara-penjara di Mesir, kita akan sangat sedikit mendengar selain kecaman kosong dan suara bergumam dari “Barat,” yang mirip dengan protes yang kosong terhadap rezim Suriah Bashar al-Assad – sekutu mereka yang lain dalam “perang melawan teror.”
Sementara pembunuhan terhadap kaum Muslim dalam jumlah besar dan cara terbuka dan berani baik di Mesir maupun Suriah mungkin terlalu memalukan bagi pemerintah Amerika untuk mempertahankan hubungan terbuka yang ramah sementara kerusuhan terus terjadi, yang kebijakan untuk membunuh kaum “teroris” menjadi tindakan bersama, baik secara diam-diam dan jauh dari kamera oleh serangan pesawat tak berawak di Pakistan dan Yaman maupun secara kasar yang dilakukan dari balik mobil polisi. (rz/khilafah.com, 21/8/2013)
[www.globalmuslim.web.id]

http://salafytobat.files.wordpress.com/2011/08/syeikh-ali-jumah.jpgSEORANG penembak jitu (sniper) yang ditugaskan oleh kementerian dalam negeri Mesir, membuat pengakuan yang sangat mengejutkan.

Seperti dilansir oleh situs Islamemo, petugas tersebut menyatakan bahwa mantan Mufti Mesir Syaikh Ali Jumaah pernah mengunjungi mereka di kamp dan mengeluarkan fatwa bahwa mereka (para penembak jitu) harus melawan demonstran yang berasal dari orang-orang Ikhwanul Muslimin karena mereka adalah Khawarij.

Tidak sampai disitu saja, Ali Jumaah juga menegaskan bahwa membunuh orang-orang Ikhwan lebih baik daripada melawan orang-orang Yahudi.

Menurut pengakuannya setelah mendapat fatwa dari Ali Jumaah itu dia kemudian melakukan aksinya dengan melakukan penembakan terhadap massa pro Mursi dalam aksi demonstrasi yang berlangsung hari Jumat beberapa waktu yang lalu, yang menewaskan sedikitnya 80 orang dari Ikhwanul Muslimin.

Namun setelah melakukan aksinya tersebut dirinya merasa bersalah. Ia kemudian pergi ke salah satu sesepuh Al-Azhar dan mengatakan kepada ulama Al-Azhar itu bahwa sejak melakukan penembakan dirinya tidak bisa tidur dan selalu merasa bersalah.

Video yang pernah menyebar di Internet sebelumnya pernah menampilkan Mufti Ali Jumaah yang menyebut Ikhwanul Muslimin sebagai Khawarij, yang berarti bahwa diizinkan untuk melawan mereka dan membunuh mereka.[fq/islampos/islamemo]
[www.globalmuslim.web.id]

DUBAI,  — Hamad al-Mazorui, seorang jurnalis asal Uni Emirat Arab (UEA) menjanjikan hadiah uang sebesar 143.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,5 miliar bagi siapa saja yang bisa membantu aparat keamanan Mesir menangkap tiga tokoh senior Ikhwanul Muslimin.

Tawaran hadiah itu disampaikan Hamad lewat akun Twitter-nya. Dia mengatakan, akan memberikan uang itu kepada siapa saja yang memberikan informasi keberadaan Mohammad el-Beltagy, Essam el-Erian, dan Safwat Hegazy.

Masih lewat akun Twitter-nya, Hamad mengatakan hadiah uang itu berlaku untuk semua warga Mesir apa pun suku dan agamanya.

Sebelumnya, Hamad menghubungi sebuah acara bincang-bincang di sebuah stasiun televisi Mesir dan mengumumkan hadiah dengan besaran yang sama untuk memberi selamat kepada rakyat Mesir yang berhasil menggulingkan Muhammad Mursi.

Dalam pembicaraan telepon itu, Hamad mengungkap hadiah serupa sedang digalang para penulis dan jurnalis UEA.

Salah satu dari tiga petinggi Ikhwanul Muslimin, yaitu Safwat Hegazi, dikabarkan telah ditangkap aparat Mesir di dekat perbatasan dengan Libya. Namun, tidak diketahui apakah informasi warga ikut membantu aparat dalam penangkapan Hegazi.

Pemerintah UEA baru-baru ini mengirimkan dana sebesar 3 miliar dollar AS ke Bank Sentral Mesir sebagai bagian dari bantuan yang dijanjikan negeri kaya itu.

Arab Saudi, UEA, dan Kuwait menjanjikan bantuan sebesar 12 miliar dollar AS untuk membantu Mesir mengatasi krisis ekonomi menyusul penggulingan Muhammad Mursi.
Sumber : Al Arabiya
[www.globalmuslim.web.id]

Ketika isu krisis Mesir semakin memanas, di dunia maya justru ada beberapa oknum yang secara tidak bertanggung jawab menyebarkan berita bohong untuk menarik perhatian. Berita bohong umumnya berisikan foto kekerasan dimana kelompok yang mereka dukung ditempatkan sebagai korban sehingga masyarakat lebih simpati.
Saya tidak setuju dengan cara-cara seperti itu, selain karena menyesatkan informasi pada masyarakat, hal seperti itu justru hanya membuat keadaan semakin ricuh, karenanya saya berusaha mengumpulkan beberapa foto hoax yang berhasil saya temukan. Disini saya sengaja tidak mengaburkan nama akun penyebar berita hoaxnyanya agar masyarakat tahu dan lebih berhati-hati jika menerima informasi dari mereka.

Foto 1

Yang pertama adalah foto mengenai seorang wanita yang tewas dalam keadaan tersenyum. Saya tidak tahu sumber hoax ini darimana, namun hoax ini saya baca daristatus facebook Jonru Ginting, seorang penulis yang cukup terkenal.
Hoax Dari Jonru Ginting
Dalam caption foto tersebut dikatakan bahwa foto yang di sebelah kanan adalah mayat pendukung Ikhwanul Muslimin yang menjadi korban kekerasan militer Mesir. Keadaan mayat yang dalam kondisi tersenyum dikatakan sebagai bukti bahwa korban tersebut meninggal dalam keadaan syahid sehingga yang didukungnya (Ikwanul Muslimin) adalah pihak yang benar.
Dilihat dari wajahnya saja saya ragu bahwa foto di sebelah kanan adalah foto orang yang sudah meninggal, karena saya belum pernah melihat mayat dengan wajar dan mulut seperti itu,  dan tanpa perlu repot mencari tahu, seseorang sudah membantah kebenaran foto tersebut di di komentarnya.
Ternyata foto yang di sebelah kanan bukanlah foto korban kekerasan yang ada di Mesir, melainkan foto orang-orang di Malaysia yang sedang melakukan latihan pengurusan jenazah. Gambar tersebut dipublikasi pada Juli 2011. Menurut keterangan rekan saya yang dari Malaysia, disana memang biasa melakukan pelatihan jenazah termasuk diajarkan juga di sekolah-sekolah.
Sumber: Katie’s Story

Foto 2

Foto kedua saya dapatkan dari dari sebuah postingan di grup pendukung PKS. Pada foto ini nampak seorang wanita ditendang oleh beberapa pria dengan pakaian militer.
Wanita Ditendang Oleh Militer Mesir
Sebenarnya baik foto maupun keterangan yang ditulis tidak ada yang salah. Memang benar bahwa pelaku kekerasan tersebut adalah militer mesir, namun yang menjadi masalah adalah karena foto ini dikaitkan dengan peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tahun 2013, padahal foto ini diambil dari peristiwa demonstrasi penurunan rezim Mubarak yang dilakukan di Tahrir Square pada tahun 2011.
Sumber: NPR

Foto 3

Foto ini diposting oleh Arida Sahputra yang sebagai ketua DPC PKS Kecamatan Kuta Alam. Dalam postingannya dikatakan bahwa ini adalah polisi yang menolak pembantaian pendukung Mursi sehingga justru mereka lah yang ikut menjadi korban pembantaian.
Pembantaian Militer
Agak lucu sebenarnya sewaktu beliau menyebut kata “polisi” padahal sudah jelas yang tergeletak disana adalah orang-orang dengan pakaian militer. Mungkin maksudnya anggota militer bukan polisi. Tapi apapun maksudnya, yang jelas foto ini tidak terkait dengan pembunuhan pendukung Mursi seperti yang diinformasikan.
Militer di gambar tersebut memang dari Mesir, terlihat dari selempang yang mereka gunakan, namun foto tersebut bukan korban pambantaian militer yang menentang Mursi melainkan korban dari bom bunuh diri yang terjadi Mei 2012. Kumpulan fotonya bahkan telah dibuat dalam bentuk video dan diunggah di Youtube.
Sumber lain yang menjelaskan hal tersebut diantaranya yang sayangnya ditulis dalam Bahasa Arab sehingga saya kesulitan untuk mengetahui detail peristiwa dan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk mencari sumber benar-benar kredibel
Sumber: ShamarPress | Yamenat  [kompasiana/www.globalmuslim.web.id]

Pembantaian yang dilakukan militer Mesir terhadap pendukung Mursi dan Ikhwanul Muslimin terus berlanjut. Korban berjatuhan sudah mencapai di atas angka tiga ribu lebih. Militer Mesir menggunakan cara-cara biadab dalam menangani kaum demonstran. Termasuk menggunakan tank-tank dan panser untuk menggilas tubuh para demonstran yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Bahkan militer Mesir menggunakan cara yang teramat keji dengan membakar mesjid al-Adawiya dan Rumah Sakit Rabaa al-Adawiyah yang berisi ratusan pasien.
Militer Mesir telah mendapat persetujuan dari Washington untuk mengkudeta presiden terpilih Mursi dan mengambil alih pemerintahan. Situs “Harakah Mishra al-Madaniyah” yang merupakan laman sekuler dua bulan lalu pada 22/4/2013 telah mengutip di bawah judul syarat-syarat Amerika untuk menyetujui intervensi militer dalam bentuk yang tidak tampak sebagai kudeta militer!
Hal itu juga tampak dari sikap AS yang ditampakkan John Kerry, Menlu AS, yang mengatakan bahwa kekerasan di Mesir adalah tercela (deplorable), namun ia menolak untuk berkomentar apakah pemerintah AS akan mengambil langkah untuk menekan tindakan brutal militer terhadap para demonstran.
Presiden Obama juga tidak berkomentar apapun saat diperlihatkan foto-foto kekejaman militer Mesir. Obama tetap memilih untuk melanjutkan liburannya dan bermain golf dan menghadiri pesta yang diadakan salah seorang donor besar kampanyenya.
Sikap politik keji dan standar ganda yang diperlihatkan para penguasa Barat, khususnya AS, sebenarnya tidaklah mengherankan kita. Akan tetapi yang harus dilihat dan diminta oleh umat adalah sikap para pemimpin dunia Islam; apa yang mereka lakukan dalam menghadapi kekejaman militer Mesir terhadap rakyat mereka sendiri.
Di tanah air kita sudah mendengar bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hanya menyatakan keprihatinannya atas konflik di Mesir. Ia berkali-kali mengirim twitter mengutarakan pendapatnya soal Mesir. Ia berkelit untuk terlibat lebih jauh menyelesaikan persoalan di Mesir dengan berdalih “Situasinya sulit dan kompleks, opsinya tidak terlalu banyak untuk menghentikan pertumpahan darah.”(republika. co.id,  15/8)
Presiden SBY mengutuk bahwa tindakan militer Mesir bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi, kemanusiaan dan hak asasi manusia.
Dan seperti para pemimpin dunia Islam lainnya, Presiden SBY berharap agar PBB dan Liga Arab dapat menyelesaikan konflik yang terjadi di Mesir. Seruan klise yang dinyatakan hampir semua para pemimpin dunia Islam.
Sebenarnya persoalan Mesir tidaklah komplek solusinya. Penghulu umat ini, Rasulullah saw. telah memerintahkan kita untuk melakukan tindakan manakala terjadi kezaliman. Sabda Beliau:
انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا
“Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim ataupun yang terzalimi!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami dapat menolong orang yang terzalimi, tapi bagaimana kami menolong orang yang berbuat zalim?” Rasulullah saw. menjawab;
تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
“Engkau mencegahnya dari berbuat kezaliman, itulah pertolongan baginya!” (HR. Bukhari).

Tindakan yang harus dilakukan para pemimpin negeri-negeri Islam, termasuk Presiden SBY adalah dengan mencegah kekejaman yang terus menerus dilakukan militer Mesir terhadap sesama kaum muslimin, meski itu harus mengerahkan kekuatan militer lagi guna mencegah kezaliman besar ini.
Menyerahkan nasib kaum muslimin di Mesir kepada PBB sama dengan menggantang asap. Bahkan akan membuka intervensi pasukan asing dan kekuatan politik untuk melanggengkan dominasi mereka di kawasan Timur Tengah, khususnya Mesir.
Semenjak kejatuhan Mubarak, Barat terus berupaya untuk menjaga kepentingan mereka dan kepentingan sekutu mereka, Israel, tetap terpelihara. Mereka telah mendekati Mursi dan mengambil sejumlah komitmen darinya, namun demikian Amerika Serikat tidak puas dengan kepemimpinan Mursi lalu menyokong militer untuk melakukan kudeta terhadapnya. Dapat dikatakan AS telah menyerahkan leher Mursi dan para pengikutnya untuk digorok junta militer. Maka berharap kepada PBB yang telah dikuasai oleh kepentingan negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat adalah tindakan bodoh dan pengkhianatan terhadap kaum muslimin di Mesir.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali Imran [3]: 118)

Hanya saja para pemimpin dunia Islam, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, telah mengalami ‘kelumpuhan’ untuk bertindak mengatasi persoalan Mesir. Kelumpuhan itu disebabkan dua hal; sikap nasionalisme yang lebih mementingkan urusan dalam negeri sendiri dan tidak peduli dengan nasib sesama kaum muslimin. Kedua, adalah loyalitas mereka kepada Barat yang telah menyokong kepemimpinan mereka selama ini. Sebagaimana diketahui Indonesia telah lama  berada dalam asuhan Amerika Serikat. Bahkan Presiden SBY dengan tidak malu mengatakan kekagumannya kepada AS dan menjadikannya sebagai ‘negeri kedua’ baginya.
Nasionalisme telah melemahkan sikap ukhuwah Islamiyyah sedangkan loyalitas mereka kepada Barat telah membuat para pemimpin dunia Islam takut untuk bertindak, seolah-olah mereka tidak memiliki Allah Yang Maha Perkasa.
Kepada para pemimpin dunia Islam, khususnya kepada Presiden SBY, kami ingatkan bahwa kalimat kutukan dan kiriman twitter keprihatinan – meski ratusan jumlahnya – tidak akan menggugurkan kewajiban mereka di hadapan Allah untuk menghentikan kezaliman ini. Kalian memiliki kekuatan yang dapat diandalkan untuk menghentikan kezaliman. Di pundak kalian ada kewajiban yang belum tertuntaskan. Tidakkah kalian takut kepada Allah telah menelantarkan amanat ini?
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,” (TQS. al-Ahzab: 72).

Ya Allah, saksikanlah! [Iwan Januar – LS HTI]
[www.globalmuslim.web.id]

ikhwan33Kejaksaan Mesir telah memproses 250 pendukung Ikhwanul Muslimin sebagai terdakwa  pembunuhan, percobaan pembunuhan dan terorisme, Reuters melaporkan mengutip kantor berita negara MENA mengatakan pada hari Sabtu.
Mesir juga telah mengintensifkan tindakan keras terhadap Ikhwanul Muslimin dengan menangkap empat pemimpin Ikhwanul Muslimin  di provinsi Damanhor.
Sementara itu, pemerintah Mesir telah menangkap Mohamed al-Zawahiri, saudara komandan al-Qaeda Ayman al-Zawahiri, hanya karena  mendukung Mursi, kata seorang sumber keamanan kepada kantor berita AFP, Sabtu.
Ikhwanul Muslimin menerima pukulan lainnya, yaitu ketika markas partai politiknya, Partai Keadilan dan Partai Kebebasan, dibakar di Alexandria, sumber mengatakan kepada Al Arabiya pada hari Sabtu.
Pada hari Sabtu, pemerintah sementara Mesir sedang merumuskan  apakah akan melarang gerakan Islam itu . Perdana Menteri Mesir mengusulkan untuk membubarkan Ikhwanul Muslimin.
Mustafa Hijazi, seorang penasihat politik untuk pemerintah sementara, kepada wartawan dalam konferensi pers bahwa Mesir sedang dalam proses legalisasi semua kelompok yang beroperasi dalam domain pelayanan publik tetapi “tidak menerima” mereka yang melakukan tindakan “luar hukum atau kewenangan polisi atau tentara. ”
Hijazi mengatakan pemerintah akan bekerja untuk memerangi “terorisme dan radikalisme.” Dia menambahkan bahwa loyalis Ikhwanul Muslimin telah terlibat dalam kekerasan . (Arby/Dz/www.globalmuslim.web.id)

Tentara junta Mesir KAIRO – Junta militer Mesir telah “membersihkan” Masjid al-Fath di Kairo dari para pendemo anti-kudeta militer setelah pengepungan sepanjang hari yang dipenuhi oleh tembakan, tembakan gas air mata dan serangan massa.

Masjid Al-Fath yang berada di Ramses Square menjadi tempat para pengunjuk rasa bersembunyi dari kebrutalan tentara dan polisi junta sejak kekerasan berkobar di alun-alun tersebut pada Jum’at (16/8/2013) malam.  Polisi menyerbu Masjid di mana sekitar seribu orang berada di dalamnya pada Sabtu malam.
“Ada berbagai laporan mengenai apa yang terjadi.  Saksi mata mengatakan beberapa telah dibawa oleh tentara di luar kerumunan, beberapa lainnya dibawa ke tahanan militer atau polisi,” ujar reporter Al Jazeera yang melaporkan dari Kairo.
Junta militer kemudian mengatakan sekitar 250 demonstran tengah diselidiki dengan tuduhan “pembunuhan, percobaan pembunuhan dan terorisme”.
Tindakan polisi untuk “membersihkan” Masjid terjadi setelah mereka mengklaim telah ada serangan dari “kelompok bersenjata” dari menara Masjid.
Para pengunjuk rasa di dalam Masjid membantah klaim tersebut, mereka mengatakan tidak ada hubungannya dengan penembakan itu dan mengatakan tidak ada akses ke puncak menara dari dalam Masjid.
Seorang pria, Waleed Attar yang berada di antara kelompok yang berhasil melarikan diri dari pengepungan saat tembakan meletus menagtakan, “Kami tidak tahu di mana peluru berasal.”
Dia menambahkan bahwa mereka berhasil melarikan diri dan menghindari preman yang menunggu di luar.  “Kami menemukan jalan antara kendaraan sebelum preman-preman itu menjebak kami, kami berlari karena takut ditembak.  Banyak dari mereka yang terjebak di dalam diserang oleh preman.  Mereka mengatakan kami semua akan dibantai.”
Sebelumnya, berbicara kepada Al Jazeera melalui telepon, salah seorang pengunjuk rasa Omaima Halawa mengatakan ada penembakan dari dalam dan luar gedung.  Ia mengatakan sekitar 700 orang berada di dalam termasuk perempuan dan anak-anak.(haninmazaya/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)

Departemen Dalam Negeri Mesir resmi menangkap 1004 anggota Ikhwanul MusliminKAIRO – Departemen Dalam Negeri Mesir mengumumkan pada Sabtu (17/8/2013) telah menangkap 1004 anggota Ikhwanul Muslimin selama demonstrasi pada Jum’at (16/8/2013) dengan tuduhan “melakukan tindakan terorisme”.  Ikhwanul Muslimin menolak tuduhan itu dan menegaskan realita mendustakan tuduhan, laporan Al-Jazeera.
Dalam pernyataan resmi yang dibacakan pada hari Sabtu Departemen Dalam Negeri Mesir menyatakan kepolisian bekerja sama dengan angkatan bersenjata dan dengan dukungan rakyat berhasil mengendalikan keamanan di seluruh provinsi Mesir dan menggagalkan “tindakan terorisme” yang dilakukan oleh organisasi Ikhwanul Muslimin untuk mendorong Mesir kepada kekerasan.
Pernyataan resmi itu menambahkan “total anggota Ikhwanul Muslimin yang ditangkap 1004 orang. Aparat keamanan juga menyita 6 senapan, 3 senapan mesin, 18 pistol angin, 11 bom molotov, 3 senapan angin, 7 granat dan 1069 peluru beragam kaliber.”
Pernyataan resmi itu juga menyebutkan “anggota Ikhwanul Muslimin melakukan tindakan-tindakan terorisme selama demonstrasi”.  Lebih jauh pernyataan resmi itu menyebutkan “aparat keamanan telah berhasil menggagalkan usaha pembakaran terhadap sejumlah gereja di Mesir”.
Ikhwanul Muslimin menyangkal tuduhan zalim “penggunaan kekerasan dan tindakan terorisme selama demonstrasi” yang dilemparkan oleh Departemen Dalam Negeri. Ikhwanul Muslimin mengatakan fakta lapangan membuktikan kedustaan tuduhan tersebut.
Dalam pernyataan resminya Ikhwanul Muslimin menyindir bahwa apa yang dilakukan oleh para pelaku kudeta militer “bertolak belakang dengan penegasan sebelumnya dari Jendral As-Sisi bahwa tangan mereka tidak akan mengusik penduduk Mesir”.
Demonstrasi damai para pendukung presiden terguling Muhammad Mursi dituding sebagai “tindakan kekerasan dan terorisme”. Namun kebiadaban tentara dan polisi Mesir yang membantai lebih dari 2600 demonstran dan mencederai lebih dari 10000 lainnya dianggap sebagai “tindakan pengamanan”, “mengembalikan stabilitas” dan bahkan “menggagalkan usaha pembakaran gereja”. (muhibalmajdi/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)
Powered by Blogger.