Perekonomian Indonesia yang sedang kalut mulai menyulut pada pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh beberapa perusahaan di Tanah Air.
Entah apa yang ada di benak pikiran para pejabat pemerintah di negeri ini. Ketika APBN berada dalam kondisi defisit maka dapat dipastikan solusi yang diambil adalah ngutang. Demi mencapai target, instrumen yang digunakan pun semakin beragam. Mulai dari surat utang negara (SUN), SUKUK, hingga ORI (Obligasi negara Republik Indonesia).
Memang, selain berhutang pemerintah juga telah berupaya untuk mencari dan menjalankan solusi yang lain. Privatisasi, intensifikasi dan ekstensifikasi pajak, hingga pembenahan iklim ekonomi atau investasi (misal tax holiday) juga sudah dijalankan. Tapi ternyata keuangan negara masih saja dalam kondisi defisit. Lantas, apa sesungguhnya permasalahan pada APBN sehingga seringkali berada dalam kondisi defisit?
Suatu hal yang lazim bahwa, sebuah negara pastilah membutuhkan dana yang relatif besar demi menjalankan aktivitas kenegaraan. Untuk itu, tentu suatu hal yang lazim juga apabila pemerintah semestinya memiliki sumber pendapatan yang luas dan besar. Tidak sebagaimana halnya saat ini yang sangat bergantung kepada pendapatan dari sektor pajak. Hingga kini, berdasarkan data yang ada pada Nota Keuangan dan RAPBN-P dari seluruh jumlah pendapatan atau penerimaan dalam negeri yang ada yaitu sebesar Rp. 973.161,7 miliar, sebanyak Rp. 733.238,0 miliar disumbang oleh sektor pajak.
Inilah sebuah ironi yang tak henti-hentinya terjadi di negeri ini. Sebuah negeri yang kaya raya dengan hasil alam yang begitu melimpah, namun ternyata memiliki ketergantungan terhadap pajak yang begitu tinggi.
Kembali kepada pertanyaan Mengapa APBN seringkali defisit? Jawabnya adalah minimnya sumber pendapatan yang dimiliki. Mengapa sumber pendapatan yang dimiliki minim? Maka jawabnya adalah dikarenakan sistem tatakelola perekonomian yang ada menganut paham ekonomi pasar atau Kapitalisme-neoliberlisme. Sistem ini meniscayakan pemerintah sangat bergantung kepada sektor pajak dikarenakan pandangan bahwa, pemerintah dilarang terlalu banyak ikut campur dalam aktivitas perekonomian. Melainkan hanya sebatas regulator. Itupun hukum yang ada sudah seringkali dibajak para Kapitalis.
Pada akhirnya pemeritah hanya bisa berharap uluran tangan dari para pemilik perusahaan yang notabenenya seringkali hanya peduli dengan nasib perusahaannya dibandingkan nasib negeri ini. Akibatnya, negara menjadi pesakitan yang tak berkesudahan. Defisit, hutang. Defisit, hutang. Defisit, hutang. Dan seterusnya…
Ingin APBN menjadi surplus? Segra buang jauh-jauh sistem ekonomi Kapitalis. Dan Terapkan Sistem ekonomi Islam sebagai gantiya…!!!
Oleh M. Hatta
sumber :http://jurnal-ekonomi.org/2010/04/23/apbn-defisit-ngutang-aja-lagi-kata-pemerintah/
Ramadhan yang kita jalani ini sudah mencapai penghujung bulan, Idul Fitri yang kita nantikan sebagai hari kemenangan sebentar lagi tiba dimana kita kembali ke fitrah kita sebagai manusia. Namun sebelum kita memasuki hari yang fitri itu marilah kita ( saya, anda dan kita semua ) sejenak menengok kebelakang, dan mengkoreksi ibadah-ibadah kita di hari-hari bulan Ramadhan yang telah kita lalui.
1. Ibadah Mahdah ( Ibadah Ritual )
Coba lihat apakah kemarin Sholat kita, Puasa kita, ibadah sunnah kita benar-benar khusuk, ikhlas atau tidak, apakah kita benar-benar bisa mengendalikan nafsu kita atau malah kita justru ceroboh mengemudikan kendaraan nafsu kita sehingga tabrak sana, tabrak sini. Ingat Rasul saw bersabda, orang yang kuat bukanlah orang yang bisa membanting orang lain, tapi orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan diri ketika dia marah. Karena inti dari puasa adalah mengendalikan hawa nafsu agar lebih terarah ke perbuatan positif dan mengikuti akal.
2. Ibadah Muamalah kita ( Politik, Ekonomi, Hankam, Sosial Budaya )
Ramadhan tahun ini kita menjalani tanpa adanya Negara yang menerapkan Syariat Islam secara kaffah, kita masih bersistem pada sistem Taghut ( Berhala) yaitu Sekulerisme, kapitalisme, demokrasi beserta keturunannya, yang menyebabkan kesengsaraan pada rakyat kita.
Saat kita khusuk beribadah puasa cobaan ashobiyah menghampiri kita, kita hampir saja terpancing pada jebakan kaum kafir yaitu pertengkaran kita dengan Malaysia, saudara seiman dan sebangsa kita yang terpaksa harus terpisah oleh batas-batas negara jahiliyah hasil dari kelicikan penjajah di masa lalu. Kita dipancing terus menerus untuk bertengkar dengan Negeri Jiran itu, entah karena sebuah pulau, atau kebudayaan primitif kita yang masih mengandung kemusyrikan diklaim negeri Jiran itu. Rasul Saw bersabda barangsiapa mati dalam keadaan ashobiyah maka dia bukan umatku lagi (kafir).
Cobaan yang paling hebat di bulan Ramadhan ini adalah cobaan atas kesetiaan kita kepada Kitab Suci Al Qur’an oleh orang-orang Freemasonry yang anti agama dan penyembah Iblis di sebuah gereja di Florida Amerika Serikat yang hendak membakar Al Quran pada tanggal 11 September 2010. Karena sesungguhnya para penghina Islam itu adalah orang-orang Freemason alias anak buah Dajjal, namun kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak adanya Institusi negara Khilafah yang menerapkan Syariat Islam secara kaffah atau menyeluruh, dan siap mengobarkan Jihad untuk membela kehormatan Islam dan menghukum para penghinanya dengan hukuman setimpal.
LOOK BEYOND THE GLORY
La izzata illa bil Islam, la Islamata illa bis syariah, la syariaata illa bil Daulah Khilafah.
There’s not glory without Islam, Not Islam without Syaria, And not Syaria without Chaliphate.
Tiada Kejayaan tanpa Islam, tak sempurna Islam tanpa Syariat, dan tak akan tegak Syariat tanpa Negara Khilafah.
saya pribadi atas nama pena Pemikir Ideologi dan keluarga mengucapkan
”Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum minal aidin wal faidzin”“Semoga Allah menerima amal-amal kita, Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang kembali dari perjuangan Ramadhan sebagai orang yang menang.”
Selamat menyambut hari kemenangan dan merayakan Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin. Semoga kita kembali ke fitrah.
Dan Semoga ini merupakan Lebaran terakhir tanpa adanya KHILAFAH. Amin
[Gema Pelajar Pembebasan Indonesia]


