Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Oleh: Najmah Saiidah
Sudah beberapa tahun ini, termasuk tahun ini, umat Islam memulai puasa tidak bersamaan, demikian pula mengakhirinya (Idul Fitri).  Dan kondisi ini pada saat sekarang sudah tidak menjadi masalah lagi, sepertinya masyarakat sudah terbiasa dengan perbedaan ini, masing-masing mencoba untuk memahami dan menghormati perbedaan antara yang satu dengan yang lain.    Padahal Jika kita berkaca kepada apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan shahabat, maka sebenarnya mengawali shaum Ramadhan dan mengakhirinya bersamaan.   Dari fenomena alam dan kondisi alam pun sesungguhnya menguatkan hal tersebut.  Dimana jarak terjauh tidak akan membedakan hari. rentang waktu terlama di belahan dunia ini adalah 12 jam. Tidak sampai melebihi satu hari 24 jam. Terlebih lagi, bulan itu cuma satu !  Tentu saja awal bulan dan akhir bulan pun seharusnya satu atau sama.
Sesungguhnya Allah dan Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali Ramadhan dan mengakhirinya dengan rukyatul hilal atau melihat awal terbitnya bulan Ramadhan.   Dan saat ini pun sesungguhnya umat Islam di seluruh dunia bisa mengawali bulan ramadhan pada hari yang sama dan mengakhirinya pada hari yang sama.Tentu saja hal ini hanya  bisa terjadi ketika umat Islam disatukan dalam satu kepemimpinan dunia dan disatukan oleh satu  komando. Kepemimpinan dan komando yang satu itu tidak lain adalah kekhilafahan Islam yang telah disyariatkan Islam dan telah terbukti selama belasan abad mampu menyatukan umat Islam di seluruh dunia.
Kaidah syara menyatakan bahwa ‘Amrul Imaan yarfaul khilaf’, perintah  seorang imam/ pemimpin akan menghilangkan perbedaan/perselisihan.   Sehingga perbedaan dalam mengawali dan mengakhiri bulan Ramadhan bisa diatasi ketika umat Islam memiliki satu kepemimpinan.  Terlebih Allah memang telah menjadikan bulan Ramadhan, idul fitri dan idul Adha sebagai symbol kesatuan umat Islam. Dimana umat Islam di selueuh dunia dipersatukan dengan melaksanakan shaum Ramadhan, kemudian dipersatukan dengan menjalankan shalat Idul Fitri, kemudian di bulan Dzulhijjah, beberapa umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Mekkah dan sekitarnya untuk menjalankan haji dan sedangkan kaum muslim yang lain berpuasa Arafah di tanggal 9 Dzulhijjah dan menjalankan sholat Idul Adha pada keesokan harinya.  Demikian pula dilanjutkan di 3 hari tasyrik dengan menyembelih hewan qurban.  Seharusnya seluruh aktivitas ini dijalankan secara bersamaan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh dunia, tanpa kecuali.
Banyak sekali hadits Rasul yang memerintahkan kita, kaum muslimin untuk memulai Ramadhan ataupun berbuka (idul fitri) secara serentak  di seluruh belahan dunia manapun.
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِين
“Shaumlah kalian dengan melihatnya (bulan) dan berbukalah kalian dengan melihatnya (bulan), maka bila tertutup mendung sempurnakanlah Sya’ban menjadi tiga puluh hari”. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).
لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ
Artinya: “Janganlah kalian shaum hingga melihat hilal dan janganlah berbuka (idul fitri) hingga melihatnya (hilal), (H.R.  Bukhari dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu). 
Imam Ahmad mengatakan :
يَصُومُ مَعَ الْإِمَامِ وَجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فِي الصَّحْوِ وَالْغَيْمِ
Artinya : “Berpuasalah bersama Imaam bersama Jama’ah Muslimin, baik dalam keadaan cuaca cerah atau mendung.
Hadits-hadits ini memerintahkan  seluruh umat Islam (dhamirnya jamak) dalam memulai dan mengakhiri shaum Ramadhan, siapapun umat Islam dari seluruh dunia bisa melihatnya. Manusia tidak bisa memutlakkan bulan itu harus tampak di Indonesia atau di tempat tertentu setiap tahun, karena bulan, bumi dan benda-benda langit terus bergerak. Wewenang Allah dengan segala ke-Mahakuasaannya menampakkan bulan itu di ujung belantara Afrika, di padang Saudi Arabia, di Samudera Antartika, atau di sudut ufuk manapun di belahan dunia ini. Sesuai kehendak-Nya.  Dan jika ada seorang muslim yang menyaksikan hadirnya bulan baru, kemudian diambil sumpahnya dan orang tersebut menyanggupinya untuk bersumpah, maka kaum muslimin yang lain harus mengikutinya.  Di sinilah berlaku rukyat global, sebagaimana pendapat dari jumhur ulama.
Pada masa Rasulullah, pelaksanaannya secara terpimpin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyin, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, hingga Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah selanjutnya sentral pengambilan keputusan Ru’yatul Hilal oleh pimpinan umat Islam (khalifah)  tetap terjaga.Dan memang penentuan awal Ramadhan merupakan hak dan wewenang Imaam / Khalifah.  Nampak jelas di dini bagaimana akhirnya seorang Khalifah memiliki peran yang sangat penting untuk mempersatukan umat Islam dalam satu komando.
Selanjutnya, jika kita telusuri lebih dalam tentang Ramadhan ini, maka sesungguhnya pemeliharaan persatuan ini juga bisa diwujudkan di bulan Ramadhan ini.  Betapa tidak, sebelum Ra­madhan datang, salah satu ke­biasaan yang lazim dilakukan dan sangat dianjurkan adalah ber­maaf-maaf.  Dengan ber­maaf-maaf, seluruh per­soalan yang ada serta ko­munikasi yang selama ini tersendat menjadi terjalin kembali.  Bermaaf–maafan juga me­ngo­kohkan ikatan hati di antara se­s­ama kaum muslimin. Benih-be­­nih perpecahan dan per­be­daan pendapat menjadi pupus se­­telah semuanya saling m­e­maaf­kan. Ikatan per­saudaraan men­jadi tumbuh kian kuat.  Hal itu juga merupakan upaya membersihkan hati atas se­gala penyakit, sehingga saat me­masuki Ramadhan kita bera­da dalam kondisi yang suci.
Kemudian, ibadah puasa yang dijalani merupakan upaya me­­numbuhkan kepedulian ter­ha­dap sesama. Kepedulian bah­wa kita harus berbagi dan mera­sa­kan kondisi yang dialami sau­dara kita yang mengalami keter­ba­tasan hidup.Semangat keber­sa­maan menjadi menguat, kare­na puasa menumbuhkan empati dan semangat berbagi.  Selain itu dalam bulan Ra­madhan kita sangat dian­jur­kan untuk melaksanakan iba­dah sh­a­lat berjamaah. Ja­ngan­kan iba­dah wajib, yang sunat seperti Sha­lat Tarawih dan Witir juga di­kerjakan ber­ja­maah.  Hal itu akan meng­uatkan semangat keber­samaan yang sebelumnya telah ada me­lalui momen tersebut. Selu­ruh persoalan yang ada dapat ditun­tas­kan secara bersama-sama, ke­­tika semua pihak menge­de­pan­kan pentingnya semangat ke­sa­tuan. Tak hanya itu, di akhir Ramadhan salah satu ibadah yang wajib ditunaikan agar puasa sempurna adalah kewaji­ban membayar zakat fitrah.  Hal itu jug­a mengajarkan kepada kita tentang kepedulian sosial dan me­nguatkan rasa saling berbagi k­e­­pada yang lebih mem­bu­tuhkan.
Semua itu diperkuat oleh pe­laksanaan Shalat Idul Fitri yang dianjurkan untuk dilak­sanakan di tanah lapang. Ini merupakan sa­rana untuk menyempurnakan se­mangat kebersamaan yang telah dipupuk saat Ramadhan. Se­mua kalangan ikut serta me­nu­ju tanah lapang untuk melak­sanakan Shalat Idul Fitri. De­wasa, anak-anak, remaja bahkan wanita yang sedang berhalangan juga dianjurkan hadir men­dengarkan ceramah.
Dari semua paparan di atas, kita melihat bagaimana Allah telah men­d­esain Ramadhan dan Idul Fitri sebagai upa­ya sistematis untuk mewujudkan kesatuan sekaligus mem­per­kuat kesatuan umat dan ke­ber­samaan di kalangan kaum muslimin.  Salah satu hikmah ibadah puasa yang telah diciptakan Allah SWT agar umat Islam bersatu.  Hanya saja kesatuan umat ini secara hakiki hanya akan terwujud ketika umat Islam berada dalam komando seorang pemimpin, yaitu Khalifah yang menerapkan syariat Islam secara kaaffah kepada seluruh umat dan menjalankan dakwah secara nyata.  Dan ketika saat ini kepemimpinan yang satu tersebut belum terwujud, maka langkah kongkrit yang harus kita lakukan adalah berjuang maksimal untuk menegakkan khilafah di muka bumi ini dengan melakukan proses pencerdasan dan penyadaran ke tengah-tengah  umat akan  pentingnya institusi khilafah..  sehingga umat akhirnya akan rindu untuk diterapkan ayariat Islam di muka bumi ini.  Selanjutnya mereka pun akan berperan aktif berjuang untuk tegaknya syariah dan khilafah.  Wallahu a’lam []
[www.globalmuslim.web.id]

ramadhan-mubarak-83x57.jpg (83×57)Oleh:  Abi Muhtadi, Lc.
Sebagaimana dinyatakan di dalam QS al-Baqarah: 183, hikmah pelaksanaan puasa adalah untuk membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa. Takwa dalam arti yang sebenarnya yakni melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya.
Imam Ali ra menggambarkan bahwa taqwa adalah al-khauf minal jalîl, wal ‘amal bit_tanzîl, wal qanâ’ah bil qolîl, walisti’dâd liyaumir rohîl, (perasaan takut kepada Allah SWT, ketaatan untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya, perasaan cukup dan puas atas rezeki-Nya meski sedikit, serta persiapan untuk menghadapi kematian (akhirat) (Sulaiman Bin Muhammad,  Syarhul Arba’in an-Nawawiyyah lil Imam an-Nawawiy, hal 45).
Meski demikian, sosok Mukmin yang muttaqin bukanlah sosok seperti malaikat yang tak pernah salah karena tidak memiliki nafsu, atau para nabi yang memiliki sifat maksum.  Namum, sosok Mukmin yang muttaqin wujud idealnya  bisa dilihat pada pribadi para sahabat yang merupakan hasil didikan langsung Rasulullah SAW.
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersegera memenuhi panggilan Allah SWT, baik dalam keadaan lapang atau pun sulit,  baik dalam hal yang mereka sukai atau pun yang mereka enggan melaksanakannya. Sebagai contoh, ketika ayat tentang khamer turun para sahabat segera membuangnya bahkan memecahkan bejana-bejananya. Shahabiyat juga sama, ketika kewajiban khimar(kerudung) turun, mereka segara mengenakannya saat itu juga meski dengan robekan kain-kain  seprei mereka. Mereka juga adalah pribadi-pribadi yang selalu siap berkorban; baik berupa harta, tenaga, pikiran, waktu, bahkan jiwa dan raganya dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT.
Itulah contoh pribadi-pribadi mukmin yang muttaqin yang telah berhasil menggapai hikmah puasa.  Pertanyaannya, mengapa kita belum bisa seperti mereka.  Kaum Muslim lebih suka berleha-leha dalam melaksanakan  perintah-perintah Allah SWT. Pelaksanaannya pun tak lebih sekadar rutinitas.  Shalat sebagai rutinitas harian, puasa sebagai rutinitas tahunan, dan seterusnya.
Apabila Ramadhan usai kondisi kembali seperti semula. Bahkan yang lebih memprihatinkan apabila tak dapat dibedakan lagi antara bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lainnya. Kemungkaran masih marak terjadi. Seolah Ramadhan tidak memberi bekas apa-apa.
Lalu apa yang salah..? Shalat sama lima waktu. Puasa sama, yakni sebulan penuh selama bulan Ramadhan. Begitupun, Al Quran juga sama, tiga puluh juz. Hal ini semua terjadi karena upaya membangun ketakwaan itu masih berlangsung secara individual. Padahal membangun ketakwaan itu merupakan kerja kolektif seluruh masyarakat muslim terutama Negara. Sebab, mewujudkan ketakwaan di tengah-tengah masyarakat tak  mungkin bisa dilakukan tanpa pelaksanaan hukum-hukum Islam secara menyeluruh. Sementara adanya negara yang menerapkan syariat merupakan pilar mendasar pelaksanaan Islam itu sendiri.
Negara Khilafah memiliki cara yang efektif agar ketakwaan itu benar-benar dapat terwujud dan bulan Ramadhan benar-benar berpengaruh. Pertama: terus melakukan pembinaan  terhadap masyarakatnya, baik dalam  bentuk pendidikan formal atau kajian-kajian dan ceramah umum. Semua itu ditujukan dalam rangka menanamkan akidah dan kepribadian Islam pada diri mereka. Dengan akidah yang kuat seseorang akan senantiasa mengontrol dan menjaga tingkah lakunya.  Rasulullah SAW bersabda: “Islam itu nyata, sementara iman itu berada di dalam hati”. Lalu Rasulullah SAW dengan kedua tangannya ke dalam dada beliau seraya berkata: “Taqwa itu disini” (HR. Ahmad). Hadits ini menunjukkan bahwa kontrol pertama setiap Muslim adalah dirinya sendiri dengan bekal keimanan di dalam dadanya.
Kedua:membentuk lingkungan yang kondusif dalam rangka mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT dengan cara mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Sebab, betapapun besarnya keimanan seseorang ia tetap mungkin terpengaruh oleh lingkungannya. Dalam lingkup yang sederhana Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang itu tergantung pada agama temannya, maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan teman”. (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya ketakwaan seseorang sangatlah ditentukan oleh baik atau buruknya kondisi di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam Islam negara juga bertugas untuk menjadikan masyarakat Muslim menjadi masyarakat yang baik sekaligus mampu menjadi pengontrol prilaku setiap individu-individunya. Rasulullah SAW telah menggambarkan masyarakat Muslim dalam perumpamaannya yang indah.Beliau bersabda: “Permisalan orang-orang yang menegakkan syariat Allah SWT dan orang-orang yang melanggarnya, bagaikan suatu kaum yang berbagi tempat duduk di sebuah kapal laut. Sebagian mendapatkan bagian atas kapal tersebut, dan sebagian lain mendapatkan bagian bawah. Sehingga apabila orang-orang yang berada dibagian bawah kapal itu hendak mengambil air, mereka pasti harus melewati orang-orang yang berada diatasnya.  kemudian orang-orang yang beradah di bawah itu  berkata: seandainya kami melubangi bagian kami (dari kapal ini), niscaya kami tidak akan mengganggu orang-orang yang berada diatas kami.Nah, apabila orang-orang yang berada di bagian atas  membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa, dan bila mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka telah menyelamatkan orang-orang tersebut, dan mereka semua pun akan selamat”. (HR Bukhari).
Ketiga:penerapan hukum-hukum Islam dalam seluruh aspeknya termasuk pemberlakuan sistem persanksian (nidzamul ‘uqubat)  bagi pelaku pelanggaran. Penerapan Islam dengan benar pasti akan mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat. Sebab, hukum-hukum Islam tersebut pada dasarnya diturunkan bukan hanya sekadar taklif (beban hukum) bagi manusia namun juga solusi atas setiap problematika kehidupan yang dihadapinya. Keadilan, kesejahteraan, kedamaian akibat penerapan Islam itulah pada gilirannya akan semakin mendorong orang untuk terikat pada hukum syariat.  Penerapan sistem persanksian tetap wajib dilakukan. Dialah yang menjadi benteng terakhir bagi orang-orang yang tetap nekad melanggar hukum. Pelaksanaan puasa misalnya, jelas dapat dilakukan oleh setiap Muslim, kecuali mereka-mereka yang mendapat udzur. Namun, yang dapat memastikan bahwa semua umat Islam berpuasa hanyalah negara dengan sistem sanksinya. Kalau pun ada yang berani berbuka pasti mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Negara bisa menetapkan hukuman ta’zir bagi orang-orang yang ketahuan tidak berpuasa tanpa udzur syar’i, bahkan memeranginya apabila mereka tidak mau bertaubat.Rasulullah SAW bersabda: “Simpul Islam dan pilar agama ini ada tiga. Siapa saja yang meninggalkan salah satu dari ketiganya maka ia telah kafir dan halal darahnya. Ketiga hal itu adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT, shalat lima waktu dan puasa di bulan Ramadhan” (HR. ad-Dailamiy). Pelaksanaan hadits ini tentu merupakan hak negara. Demikianlah negara menjamin terwujudnya ketaatan tadi pada hukum-hukum syariat lainnya.
Keempat: meningkatkan aktivitas penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan Jihad. Puasa tentu bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Justru puasa adalah latihan dan persiapan bagi kaum muslimin agar ia mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban terberat seperti jihad fisabilillah.Siapa saja yang mengaku bahwa ketakwaannya meningkat dengan pelaksanaan puasa Ramadhan, hendaklah ia buktikan ketakwaannya itu dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang tidak disukainya. Tak heran apabila pada masa lalu banyak ekspedisi dakwah dan jihad fisabillah dilakukan oleh Daulah Islam di bulan Ramadhan. Berikut ini di antara peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi di bulan Ramadhan: Perang Badar al-Qubro (2 H), persiapan perang Khandaq (5H), Fathul Makkah (8 H), perang Tabuk (9H), pengiriman surat dan delegasi ke luar Jazirah (10H), perang Qadisiyah untuk mengalahkan kekuatan Persia (15H), Fathu Jaziroh Ruds (53H), Fathu andalus (91H), kekalahan pasukan salibis di Bilath Syuhada (114H), Fathu ‘Amuriyah oleh al-Mu’tashim (223H), serangan pertama sholahuddin terhadap pasukan salibis  di Suriah (584H), kekalahan pasukan Tartar di ‘Ain Jalut (658H), dsb.
Inilah di antara cara daulah Islam dalam menumbuhsuburkan ketakwaan di bulan Ramadhan. Al-hasil, ketakwaan itu harus diwujudkan secara kolektif melibatkan komitmen individu, kontrol masyarakat dan negara-negara yang menerapkan Islam dan menyebarkannya ke seluruh alam. Hanya dengan cara-cara inilah pelaksanaan puasa Ramadhan akan memberi bekas pada kehidupan umat Islam.  Wallahu A’lam[www.globalmuslim.web.id]

Ramadhan memang penuh berkah.  Namun, realitas kaum Muslim membuat miris hati.  Padahal Rasulullah saw. pernah bersabda, “Rabb kita, Zat Yang Mahatinggi, turun ke langit dunia setiap malam tatkala sepertiga malam terakhir.  Dia berfirman, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan.Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampuni.’” (HR al-Bukhari).
Sepertiga malam terakhir, keberkahan dicurahkan oleh Allah SWT. Namun, dapat dipastikan hampir semua stasiun TV berisi tayangan yang jauh dari nilai keberkahan. Umumnya TV berisi sinetron atau lawakan konyol yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam.  Dengan dalih hiburan menemani sahur, waktu yang penuh dengan keberkahan tersebut diisi dengan laghw[un] (perkara yang sia-sia).  Bila demikian, bagaimana mungkin keberkahan akan dapat dirasakan?
Bulan Ramadhan memang merupakan bulan perjuangan dan kemenangan.  Dulu, Perang Badar al-Kubra, jihad pertama dalam sejarah Islam, terjadi pada hari Jumat pagi, 17 Ramadhan, tahun 2 H; bertepatan dengan 30 Agustus 610 M (Tarikh ath-Thabari, III/30).  Kemenangan berada di tangan kaum Muslim.  FutuhMakkah juga terjadi pada bulan Ramadhan.  Sejak 8 Ramadhan tahun 8 H Rasulullah saw. melakukan persiapan untuk futuh Makkah.  Beliau bersama dengan 10.000 orang pasukan masuk dengan mudah ke kota Makkah.  Lalu pada 20 Ramadhan tahun 8 H Rasulullah saw. dan para sahabat berhasil menaklukan Kota Makkah, membebaskan Masjid al-Haram  dan Ka’bah al-Musyarrafah dari 360 berhala yang ada di sana.
Penaklukan Andalusia pun terjadi pada bulan Ramadhan, yakni tahun 91 H.  Kaum Muslim saat itu menguasai Spanyol dan Portugis.  Kemenangan kaum Muslim atas pasukan Tartar terjadi pula pada bulan Ramadhan, yakni 25 Ramadhan 658 H.  masih banyak lagi peristiwa lain yang terjadi bulan Ramadhan.
Namun, Ramadhan kali ini, rakyat bukan berjuang untuk memperluas dakwah Islam.  Mereka berjuang melawan kezaliman penguasa.  Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dinaikkan menjelang bulan Ramadhan. Harga-harga kebutuhan pokok pun ikut melambung tinggi. Masyarakat sibuk berjuang mempertahankan hidup di bawah bayang-bayang kebijakan bengis penguasa. Bila Rasulullah saw. merupakan orang yang sangat lembut, dan paling lembut lagi di bulan Ramadhan, tidak demikian dengan penguasa di negeri-negeri Muslim.  Mereka tidak menghentikan tindakan zalim terhadap rakyatnya meski pada bulan Ramadhan. Malah bulan Ramadhan dijadikan legitimasi untuk menerapkan kebijakan zalimnya. “Bulan Ramadhan itu bulan kesabaran. Kita harus menerima kenaikan harga ini dengan sabar,” dalihnya.
Ramadhan terus berlalu.  Umat saat ini masih terbelah.  Namun, keinginan umat untuk bersatu amatlah besar.  Alhamdulillah, saya berkesempatan umrah hingga sehari menjelang Ramadhan.  Di sana bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara.  Pernah ada perbincangan di pelataran tawaf, depan Ka’bah, menjelang shalat zhuhur.  “Kita saat ini hanya bisa bersatu saat naik haji atau umrah saja,” ujar saya kepada Muhammad, orang Mesir.
“Ya, benar.  Padahal Ka’bah kita satu, Rasul kita satu, al-Quran kita satu, dan Tuhan kita pun satu,” jawabnya.
Saya katakan kepada dia sambil menunjuk Ka’bah, “Aneh, kita ini menyembahRabb Ka’bah ini, tetapi tidak mau dihukumi oleh syariah-Nya.  Kita mengaku mencintai Nabi saw., tetapi mencukupkan diri dengan berziarah ke kubur beliau.  Padahal orang yang mencintai Nabi saw. semestinya bersatu dalam Kekhalifahan sebagaimana diwajibkan oleh beliau.
Dia pun menjawab, “Memang, seharusnya begitu.  Kita harus punya Khilafah.”
Rupanya perbincangan itu mendapatkan perhatian orang-orang di sekitar kami.  Akhirnya, diskusi menarik pun tak terhindarkan.  Perbincangan senada terjadi dalam beberapa peristiwa, saat istirahat setelah melaksanakan sa’i dan tahaluldi Bukit Marwa, ketika itikaf di Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi, bahkan di penginapan.  Intinya, umat Islam merindukan persatuan, dan persatuan sejati hanya ada di dalam Khilafah Islamiyah.
Di sisi lain, kita meyakini bahwa bulan Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran.  Marilah kita menghayati dan merenungkan beberapa ayat berikut:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan bagi petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil) (TQS al-Baqarah [2]: 185).
Apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? Sekiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan pertentangan yang banyak di dalamnya(TQS an-Nisa’ [4]: 82).
Tidaklah mungkin al-Quran ini dibuat oleh selain Allah. Akan tetapi, al-Quran itu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya; tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam (TQS Yunus [10]: 37).
Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk pada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar (TQS al-Isra’ [17]: 9).
Kami menurunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang zalim selain kerugian (TQS al-Isra’[17]: 82).
Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan/ditinggalkan. (TQS al-Furqan [25]: 30).
Orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). (TQS Fushshilat [41]: 26).
Apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?(TQS Muhammad [47]: 24).
Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka.  Beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut kepada ancaman-Ku (TQS Qaf [50]: 45).
Ya, Allah, jadikanlah al-Quran sebagai cahaya hidup kami, imam bagi kami.   Jadikanlah kami dengan al-Quran ini mampu merombak tatanan kehidupan Jahiliah menjadi kehidupan islami dalam sistem Khilafah. Amin. [Muhammad Rahmat Kurnia; DPP Hizbut Tahrir Indonesia]
[www.globalmuslim.web.id]

Assalamuallaikum sob, gimana kabar puasanya? lancar jaya kan?. Eh ya, mungkin dari kamu ada yang penasaran banget, "emang ada yg zina dibulan puasa? bukannya dibulan Ramadhan kita kudu ngelakuin hal yang baek- baek?". Hmm... nggak banyak emang, tapi banyaak banget, sob. Karena itulah kali ini kita mau ngebahas cewek cowok yang demen banget ngelakuin aktifitas maksiat, walaupun dibulan ramadhan. Zina itu bernama pacaran, yang masih aja, tetep, dan adem ayem tuh dilakuinnya, bahkan makin kreatip dan makin "islami".
Rayuan
Kutub positif emang paling pas ketemu sama yang negatip. Atau ibarat api ketemu sama kayu bakar, so pasti klop lah. Gitulah jadinya kalau cewek ketemu sama cowok dalam suasana pacaran. Dan seperti kita tahu, kalau aktifitas ini biasanya nggak lepas dari yang namanya rayuan. Padahal sob, banyaknya sebuah rayuan itu berbanding lurus dengan tingkat keganasan cewek cowok yang lagi pacaran. Nggak percaya? tanya aja sama mereka yang dah ngelakuinnya. Ujung- ujungnya kalo udah terlalu jauh pasti banyak penyesalan, dan ternyata sodara- sodara, semua hanya berawal dari iseng- iseng ngerayu.

Nah, dibulan puasa ini, ada sedikit kamuflase alias pemeran pengganti dari rayuan yang standart trus menjadi "yang lebih islami". Mereka pada saling kirim nasehat-nasehat baik, saling ngingatin kebaikan via sms, ngebangunin sahur, nanyain udah buka belum, tapi ya gitu deh, tujuan akhirnya bukan cuma sekedar saling share kebaikan, melainkan kelihatan lebih baik dihadapan pacar. #hayo ngaku!

Nah dari pada obral rayuan seribu tiga yang buat puasa jadi batal, mendingan alihkan ke aktifitas lain yang lebih bermanfaat, contohnya lari keliling komplek sambil nunggu buka puasa, kan lebih sehat dan sarat muatan kearifan lokal, atau ngajarin anak- anak baca Alquran, sekalian dapat takjil dimasjid #ngarep.  

Mojok berdua
Gue pernah denger pak ustad bilang, kalo ada orang berdua-duaan maka yang ketiga adalah setan. Nah, walaupun judulnya kita puasa,yaitu nggak makan dan nggak minum, tapi kalau pacaran alias zina jalan terus, ya sama aja buuu' tetep aja jadi temennya setan. Nggak ada gunanya kita puasa alias cuma dapat lapar dan haus doank. Ini juga termasuk juga kalo kita berduaan tapi pake modus nan canggih, seperti tadarus berdua, pengajian berdua, buka puasa berdua, nonton ceramah ustadz berdua, dan berdua-dua yang lainnya. Hati-hati sob, setan itu licik dalam ngegoda kita, jangan sampai kita mengotori susu sebelanga gara-gara nila setitik. jangan sampai puasa kita batal, cuma karena nggak bisa ngelawan hawa nafsu yang kita kira simple. Enggak asik tau.

Sentuh menyentuh
Nah, bahasan yang ini sebenarnya ngga asyik dibahas pas puasa- puasa ginih. Secara bang, pasti bakal ngebuat otak makin ngeres. Tapi, kita nggak boleh menutup mata dengan "kegiatan" beginian yang masih ajah dilakuin banyak temen kita.

Betewe, kalau ngomongin soal ini gue keinget sama Sabda Rasulullah SAW "Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR.Thabrani). Tentang yang ini, ada yang komen "Ih sadis amat siih". Sob, seperti yang kita tahu, nabi Muhammad bukanlah seorang pengancam yang sadis, beliau hanya seorang penyampai wahyu dari Allah subhanahu wata'ala. Tapi bukan berarti Allah itu kejam. Itulah memang hukuman bagi manusia yang nggak bisa ngendalikan hawa nafsu, karena memang aktifitas saling sentuh banyak yang akhirnya jadi zina beneran, dan itu akibat buruknya bakal parah banget, nggak cuma buat pelakunya tapi juga buat orang-orang sekitar mereka. Mau bukti? Sebanyak 21 persen remaja atau satu dari lima remaja di Indonesia terbukti udah pernah melakukan aborsi. Hasil ini nggak berdasar survei, tapi data langsung dari hasil pertemuan remaja dalam forum diskusi nasional, semacam konseling gitu.Kalau udah kejadian gituh, pastinya nggak cuma mereka yang bakal sedih, keluarga dan orang-orang terdekat juga pasti ikutan sedih, kan?. Dan kejadian separah itu, kebanyakan dimulai gara-gara pacaran, sob. Karena itulah, Islam begitu memberi perhatian yang besar, dan sanksi yang berat juga dalam hubungan cewek cowok ini, justru biar manusia nggak hancur gara- gara zina.
Jadi, kalau kita mau puasa tambah mantab, dan hati juga selamat, jauh-jauh deh dari kegiatan zina. Dan hal kaya' gini seharusnya nggak cuman berlaku selama bulan ramadhan aja loh, karena pada intinya zina nggak merugikan siapapun kecuali diri kita sendiri dan orang- orang yang menyayangi kita. 
 (NayMa/voa-islam/www.globalmuslim.web.id)

Mutiara Ramadhan # 13: Beribadah di antara rasa harap dan takut Dikisahkan bahwa seorang ulama besar generasi tabi’in, imam Hasan bin Abul Hasan al-Bashri (wafat tahun 110 H) berjalan melewati beberapa orang yang bercengkerama dan tertawa terbahak-bahak di siang hari bulan Ramadhan. Maka imam Hasan al-Bashri menegur mereka. Beliau berkata:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِضْمَاراً لِخَلْقِهِ يَسْتَبِقُونَ فِيهِ لِطَاعَتِهِ فَسَبَقَ قَومٌ فَفَازُوا وَتَخَلَّفَ أَقْوَامٌ فَخَابُوا فَالْعَجَبُ كُلُّ الْعَجَبِ لِلضَّاحِكِ اللاَّعِبِ فِي اْليَومِ الَّذِي فَازَ فِيهِ السَّابِقُونَ وَخَابَ فِيهِ الْمُبْطِلُونَ
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadhan sebagai rahasia bagi hamba-hamba-Nya agar mereka berlomba-lomba untuk menaati-Nya. Satu golongan manusia bersegera [melakukan amal ketaatan di bulan Ramadhan] maka mereka pun beruntung. Sementara itu banyak golongan manusia tertinggal [tidak melakukan amal ketaatan di bulan Ramadhan] maka mereka pun merugi.
Sungguh amat mengherankan, bagaimana seseorang bisa tertawa-tawa dan bermain-main pada hari di mana orang-orang yang bersegera kepada ketaatan meraih keberuntungan dan orang-orang yang melakukan kebatilan meraih kerugian?”(Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Dien, 1/236)
Salah satu adab batin yang disebutkan oleh para ulama setiap kali seorang muslim selesai melakukan satu amal ketaatan adalah menghadirkan rasa harap (ar-raja’) dan rasa takut (al-khauf). Ia berharap amal ketaatannya telah dilakukan dengan memenuhi segala syarat, rukun, dan sunnahnya secara sempurna sehingga diterima oleh Allah Ta’ala. Dan ia takut apabila amal ketaatannya belum dilakukan dengan memenuhi segala syarat, rukun, dan sunnahnya secara sempurna sehingga ditolak oleh Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (57) وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (58) وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ (59) وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60) أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ (61)
“Sesungguhnya orang-orang yang karera rasa takutnya kepada Rabb mereka, mereka berhati-hati. Dan orang-orang yang terhadap ayat-ayat Rabb mereka, mereka beriman. Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka. Dan orang-orang yang memberikan infak yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut karena mereka (yakin) akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera kepada amal-amal kebajikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 57-61)
Ketika ayat-ayat Al-Qur’an yang mulia di atas turun, ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam:
يَا رَسُولَ اللهِ {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ} أَهُوَ الرَّجُلُ يَزْنِي وَيَسْرِقُ وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ؟
“Wahai Rasulullah, firman Allah yang berbunyi ‘Dan orang-orang yang memberikan infak yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut‘, apakah ia adalah orang yang berzina, mencuri dan meminum khamr?”
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:
لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُ
“Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq, akan tetapi ia adalah orang yang melakukan puasa, menunaikan shalat dan mengeluarkan sedekah, namun ia khawatir amal ketaatannya itu tidak diterima Allah Ta’ala.” (HR. Ahmad no. 25263, 25705, Tirmidzi no. 3175, dan Ibnu Majah no. 4198)
Saudaraku seislam dan seiman…
Setiap kali kita selesai melaksanakan shalat, maka bacaan yang pertama kali kita baca adalah lafal istighfar tiga kali. Istighfar, yaitu meminta ampunan Allah Ta’ala, karena boleh jadi shalat yang kita laksanakan masih belum sempurna, baik dari aspek lahirian sunnah-sunnahnya maupun dari aspek batiniah kekhusyukannya.
Demikian pula hendaknya dengan seluruh amal ketaatan lainnya. Setiap kali kita menyelesaikannya, maka kita senantiasa melakukan introspeksi diri. Boleh jadi kita belum memenuhi semua syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya, sehingga pahalanya berkurang atau bahkan ~na’udzu billah~ ditolak oleh Allah Ta’ala. Setelah beramal kebajikan, seorang muslim akan berada di antara rasa harap dan rasa cemas, bukan timbul rasa sombong dan bangga dengan amalnya sendiri.
Inilah rasa harap dan rasa takut yang semestinya menyertai semua amal kebajikan kita. Rasa harap agar amal kebajikan kita diterima di sisi Allah dan rasa takut apabila amal kebajikan kita ditolak oleh Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an dan hadits di atas.
Tentang hal ini, imam Hasan al-Bashri berkata:
المُؤْمِنُ مَنْ عَلِمَ أَنَّ مَا قَالَ اللهُ كَمَا قَالَ، وَالمُؤْمِنُ أَحْسَنُ النَّاسِ عَمَلاً، وَأَشَدُّ النَّاسِ وَجَلاً، فَلَو أَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ مَالٍ، مَا أَمِنَ دُوْنَ أَنْ يُعَايِنَ، لاَ يَزْدَادُ صَلاَحاً وَبِرّاً إِلاَّ ازْدَادَ فَرَقاً، وَالمُنَافِقُ يَقُوْلُ: سَوَادُ النَّاسِ كَثِيْرٌ، وَسَيُغْفَرُ لِي، وَلاَ بَأْسَ عَلَيَّ، فَيُسِيْءُ العَمَلَ، وَيَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
“Seorang mukmin adalah orang yang mengetahui (meyakini sepenuhnya) bahwa firman Allah betul-betul terlaksana sebagaimana firman-Nya. Seorang mukmin adalah manusia yang paling baik amalannya, namun paling besar rasa takutnya (kepada Allah). Seandainya ia menginfakkan emas sebesar gunung sekalipun, ia tidak merasa aman (yakin amalnya diterima Allah, edt) sampai ia melihat sendiri (kelak di akhirat, edt). Tidaklah ia bertambah shalih dan baik, melainkan rasa takutnya kepada Allah juga semakin bertambah.”
“Adapun orang munafik akan mengatakan ‘Orang-orang yang jahat itu banyak (bukan aku saja), jadi aku pasti akan diampuni, tak aka nada siksaan atas diriku’. Maka ia melakukan amal keburukan sembari mengangan-angankan (ampunan dari) Allah Ta’ala.” (Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 4/586)
Dalam kesempatan yang lain, imam Hasan al-Bashri mengatakan:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ جَمَعَ إِحْسَانًا وَشَفَقَةً، وَإِنَّ الْمُنَافِقَ جَمَعَ إِسَاءَةً وَأَمْنًا.
“Sesungguhnya orang mukmin itu memadukan antara amal kebajikan dan rasa takut, sementara orang munafik memadukan antara amal keburukan dan rasa aman (dari siksa Allah).” (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5/480)
Semoga kita bisa mengamalkannya sehingga terhindar dari sikap sombong dan ujub. Wallahu a’lam bish-shawab [www.globalmuslim.web.id]
Powered by Blogger.