“Tak ada kesalahan yang disengaja dalam hal ini,” ujar Santorum pada hari Minggu (26/2) dalam acara This Week di stasiun televisi ABC. “Pembakaran tersebut adalah kejadian yang disebut kesalahan. Sementara membunuh tentara Amerika bukanlah kesalahan. Itu adalah sesuatu yang disengaja,” katanya.
Lebih dari 30 orang telah dibunuh dalam kerusuhan sejak terjadinya pembakaran kitab suci umat Islam dan materi-materi suci lainnya yang ditumpahkan ke dalam sebuah lubang pembakaran yang digunakan untuk membakar sampah di Bagram Air Field, sebuah markas militer AS di utara Kabul.
Pemrotes yang marah atas pembakaran Quran, melemparkan granat pada hari Minggu ke markas AS di kawasan utara Afghanistan dan berbentrokan dengan polisi dan tentara yang menyebabkan tujuh tentara internasional terluka dan dua orang Afghanistan meninggal.
“Respons ini perlu mendapatkan permintaan maaf dari (Presiden Hamid) Karzai dan masyarakat Afghanistan karena menyerang dan membunuh prajurit kitan dan telah bereaksi berlebihan atas kesalahan tidak disengaja ini,” ujar Santorum di acara Meet the Press di NBC.
“Peristiwa tersebut murni kriminalitas, tidak terletak pada apa yang dilakukan tentara kami,” kata Santorum. Menurutnya, permintaan maaf Obama menimbulkan kesan bahwa ada yang harus disalahkan dan AS telah melakukan kesalahan “atas tindakan yang tidak disengaja,” kata Santorum.
Santorum mengatakan ketimbang menyatakan maaf, Obama seharusnya hanya perlu menyatakan bahwa membakar buku suci umat Islam di lubang sampah adalah salah dan akan mengambil tanggung jawab atas insiden itu.
Santorum adalah pihak terakhir dari Republik yang mengkritik Obama karena telah meminta maaf atas kejadian pembakaran materi religius umat Islam.
[muslimdaily.net/beritasatu]

Post a Comment