Tingkatkan Serangan, Kafir Wilders Sebut Nabi "Pembunuh Gila"


AMSTERDAM  – Geert Wilders telah meningkatkan retorika anti-Islamnya dengan menggambarkan Nabi Muhammad sebagai "pembunuh pemerkosa pedofil gila" hanya dua minggu sebelum pembukaan sidangnya atas tuduhan menghasut kebencian ras.
Pemimpin partai Kebebasan Belanda ekstrim kanan ini akan diadili di pengadilan Amsterdam pada tanggal 13 April untuk penyamaannya atas Islam dengan Nazisme.
Pada hari Kamis (31/3) dia memicu kontroversi seputar politik anti-Muslim dan sidangnya dengan mempublikasikan sebuah artikel yang mengutip beberapa akademisi yang menuduhkan sejumlah kejahatan pada Nabi Muhammad mulai dari pemerkosaan anak hingga pembunuhan.
"Muhammad yang bersejarah adalah pemimpin liar dari kelompok perampok di Madinah. Tanpa keberatan mereka menjarah, memperkosa, dan membunuh," klaim Wilders dalam majalah Belanda HP/De Tijd.
Dalam artikel itu, Wilders, yang anggota partainya mengendalikan keseimbangan kekuasaan dalam parlemen Belanda, menyerang denda yang dikenakan pada seorang feminis Austria "karena menghina sebuah agama dengan menyebut Muhammad sebagai pedofil."
"Namun, itu adalah kebenaran," tulisnya, menyebutkan pernikahan sang Nabi dengan salah satu istrinya yang mengklaim bahwa dia berusia sembilan pada saat itu.
Wilders, yang hidup di bawah perlindungan polisi setelah komentar-komentar anti-Islamnya, menghipotesiskan bahwa Muhammad menderita tumor otak yang menyebabkan "schizofrenia paranoid" yang menuntunnya mendirikan agama Islam.
"Muhammad memiliki kepribadian paranoid dengan sebuah inferioritas kompleks dan kecenderungan megalomaniak. Di usianya yang 40an tahun dia mulai memiliki visi yang menuntunnya untuk meyakini bahwa dia memiliki misi kosmik, dan tidak ada yang menghentikannya," tulisnya.
Dalam sebuah keputusan hari Rabu (30/3) yang lalu, pengadilan Belanda memutuskan bahwa jaksa penuntut Belanda berhak mendakwa Wilders. Jika terbukti bersalah, dia bisa menghadapi hukuman hingga satu tahun di dalam penjara atau denda sebesar 6,700 pound.
Kasus Wilders menarik banyak perhatian tidak hanya karena komentar-komentar kontroversial Wilders, tapi juga karena meningkatnya pengaruh Partai Kebebasan, yang memberikan dukungan pada pemerintah minoritas Belanda untuk isu-isu penting.
Wilders berargumen bahwa dirinya mempraktikkan kebebasan berbicara ketika mengkritik Islamdan telah memenangkan hak tersebut bulan lalu untuk memperjuangkan pembatalan kasusnya.
Tapi Hakim Marcel van Oosten memutuskan pada hari Rabu bahwa kasus itu akan dilanjutkan. Dia menolak sebagian besar keberatan dari pengacara pembela, seperti misalnya mempertanyakan kewenangan pengadilan untuk mendengarkan kasus itu sejak awal dan cara penuntut mengejar persidangan. (rin/it/tg) www.suaramedia.com