TEHERAN (Berita SuaraMedia) – Komandan militer tertinggi Iran, Hassan Firouzabadi mengatakan bahwa pecahnya kerusuhan di Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi ancaman besar bagi Amerika Serikat dan Israel. "Kebangkitan Islam, revolusi populer, dan kemerdekaan negara-negara Islam yang diraih setelahnya bisa meminimalkan dukungan terhadap rezim Zionis (Israel) dan memaksimalkan kekuatan negara-negara Islam," kata Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Iran tersebut, Kamis (3/3).
Firouzabadi mengatakan, negara-negara kuat amat bergantung pada sumber daya minyak yang ada di Timur Tengah dan para diktator korup yang kini digoyang unjuk rasa Islam sebenarnya adalah bidak-bidak yang dikendalikan Barat.
"AS, Barat, dan Israel merasa terancam dengan kerusuhan ini," kata sang komandan Iran seperti dikutip kantor berita IRNA.
Ia menambahkan, upaya AS dan Israel untuk mengalihkan opini publik dari unjuk rasa ke arah program nuklir Iran disebabkan rasa takut mereka akan pergerakan-pergerakan di kawasan tersebut.
Bulan lalu, Firouzabadi mendesak para komandan militer di negara-negara Islam tidak melawan tuntutan terhadap pemerintah.
"Para jenderal dan komandan (militer) di negara-negara Islam harus menggunakan persenjataan mereka untuk melindungi perbatasan dan mencegah penyusupan musuh-musuh arogan dan rezim Zionis," kata Firouzabadi.
Mengenai unjuk rasa di sejumlah negara di Timur Tengah, Firouzabadi mengatakan, "Kini, saat negara-negara Muslim di kawasan regional menuntut kemerdekaan, kebebasan, dan demokrasi Islam, militer negara-negara tersebut harus mendukung pergerakan populer," katanya.
Firouzabadi menambahkan, tidak ada militer yang menyusun strategi, doktrin, perencanaan, dan menggunakan perlengkapan militer untuk melawan rakyatnya sendiri, kecuali untuk melawan Israel.
"Tentara rezim Zionis (Israel) stelah dirancang dan dipersenjatai untuk melawan orang-orang tak bersalah dan penduduk di Palestina terjajah," tambahnya.
Sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika Utara tengah diselimuti unjuk rasa populer menentang para penguasa yang telah memimpin lama.
Setelah kerusuhan populer di Tunisia disusul Mesir yang menggulingkan dua penguasa negara-negara tersebut, gelombang kerusuhan merembet ke Bahrain, Yaman, Libya, dan sejumlah negara di kawasan sekitar.
Di Libya, tindakan represif rezim Muammar Gaddafi terhadap para pengunjuk rasa antipemeintahan telah merenggut nyawa ratusan orang dalam 16 hari terakhir, demikian menurut data kelompok-kelompok pembela HAM.
Unjuk rasa serupa yang dipicu oleh kemiskinan dan pengangguran juga terjadi di Bahrain, Oman, dan Yaman.
Unjuk rasa di Yaman diawali bulan Februari lalu. Sejumlah pengunjuk rasa tewas dan sebagian lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan aparat keamanan.
Para pengunjuk rasa yang membanjiri jalanan di Sana’a dan kota-kota besar lainnya menuntut Presiden Ali Abdullah Saleh turun.
Saleh yang telah berkuasa selama 33 tahun berjanji akan turun setelah masa jabatannya berakhir pada 2013. Dia juga berjanji tidak akan menyerahkan kekuasaan kepada putranya. (dn/pv) www.suaramedia.com

Post a Comment