KAIRO (Berita SuaraMedia) – Mantan ketua Liga Arab Clovis Maksoud mengatakan bahwa revolusi Mesir melawan rezim Presiden Hosni Mubarak juga merupakan sebuah pemberontakan terhadap Israel. "Revolusi Mesir juga melawan Israel," ujar Maksoud dalam sebuah wawancara dengan Press TV pada hari Selasa (8/2) waktu setempat.
Dia kemudian melanjutkan bahwa pemberontakan itu juga melawan perjanjian damai Mesir dengan Israel.
"Sebagian dari revolusi ini akan memproyeksikan kebijakan luar negeri baru di mana Mesir akan membekukan peran bersejarahnya dan menjadi pencegah ekspansi, agresi, dan rasisme Israel," ujarnya.
"Itulah kenapa kebijakan luar negeri AS pada kekuasaan strategis di kawasan diserang oleh revolusi tersebut," ujarnya.
Menurut Maksoud, apa yang diinginkan oleh Washington adalah agar revolusi ini tidak membalik banyak faktor yang telah melayani pengaruh strategis dari AS dan Israel.
Mengomentari beberapa bocoran terbaru yang mengungkapkan bahwa Israel memilih Wakil Presiden Mesir Omar Suleiman sebagai penerus Mubarak, Maksoud mengatakan, "Israel tidak bisa memutuskan siapa yang harus menggantikan Mubarak."
Kabel diplomatik dari tahun 2008 menunjukkan bahwa Letnan Jenderal Suleiman telah menarik perhatian Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak serta pemimpin Israel lainnya.
Suleiman memelihara kontak harian dengan Tel Aviv melalui jalur rahasia, ujar kabel itu. Dia juga mempunyai hubungan baik dengan tokoh-tokoh Israel.
Bocoran kabel itu mengutip penasihat militer Israel David Hacham mengatakan bahwa Tel Aviv percaya Suleiman kemungkinan besar akan menjabat setidaknya sebagai presiden interim jika Mubarak meninggal atau tidak mampu.
Menekankan pentingnya menyelenggarakan pemilihan presiden yang bebas di Mesir, dia berargumen bahwa Suleiman pasti tidak akan dianggap sebagai calon yang layak dalam sebuah pemilihan yang bebas.
Suleiman ditunjuk sebagai komando kedua pada tanggal 29 Januari di tengah revolusi di Mesir dan memunculkan seruan populer untuk penyingkiran Mubarak pro-Barat.
Sentimen anti-AS di antara pemrotes Mesir telah meningkat, dengan Washington yang dianggap bertanggung jawab untuk kekuasaan Mubarak selama tiga dekade.
Lebih dari 300 orang diperkirakan telah tewas dan ribuan lainnya terluka sejak revolusi dimulai di negara Afrika Utara itu dua minggu lalu. (rin/ptv) www.suaramedia.com

Post a Comment