KAIRO (Berita SuaraMedia) – AS mengirimkan kapal perang, termasuk satu kapal dengan 800 tentara, dan aset militer lain ke Mesir saat revolusi di negara Afrika Utara itu meraih momentum. Pejabat di Washington menyatakan bahwa langkah tersebut dipersiapkan untuk berjaga-jaga akan adanya evakuasi warga Amerika di Mesir.
Pentagon membantah asumsi luas bahwa intervensi militer di Kairo tengah dipertimbangkan, menyatakan bahwa tujuan dari pengiriman itu terutama adalah untuk mengevakuasi warga Amerika jika situasi di Mesir semakin memburuk.
Secara terpisah, sebuah pesawat pengangkut AS telah diminta untuk membatalkan misinya dan tetap di Mediterania.
Laporan mengatakan kemarahan terhadap AS dan Israel meluas di antara kerumunan warga Mesir yang memprotes rezim Presiden Hosni Mubarak.
Para pemrotes menuntut Washington bertanggung jawab atas kediktatoran Mubarak selama 30 tahun.
Seorang koresponden Press TV mengatakan banyak slogan di Lapangan Tahrir yang diarahkan melawan AS, Israel, dan Perancis.
Itu terjadi ketika demonstran Mesir berkumpul di Lapangan Tahrir pada hari Minggu (6/2) untuk menghormati para martir dari 13 hari protes anti-pemerintah.
Mereka berhasil tetap tinggal di lapangan itu, terlepas dari kehadiran militer barat dan serangan dari preman-preman propemerintah.
Para pemrotes mengatakan pencapaian mereka dalam beberapa hari terakhir ini telah membuatnya mustahil bagi mereka untuk menyerah sampai Presiden Mubarak mundur.
Perkembangan itu muncul ketika pemerintah memasuki pembicaraan dengan kelompok oposisi untuk membahas reformasi politik.
Partai oposisi Mesir, Ikhwanul Muslimin, telah setuju untuk bergabung dalam pembicaraan dengan pemerintahan Presiden Mubarak tapi mengatakan bahwa pertemuan itu tidak dalam bentuk negosiasi, alih-alih pernyataan dari tuntutan mereka.
Petinggi senior partai mengatakan mereka akan memasuki pembicaraan dengan Wakil Presiden Omar Suleiman, tapi akan pergi jika tuntutan yang diajukan oleh pemrotes dalam dua minggu terakhir tidak dipenuhi.
Sebelumnya, perwakilan Ikhwanul Muslimin di Inggris, Mohammad Ghanem, mengonfirmasi bahwa partainya akan menggelar pembicaraan dengan pemerintah. Namun, dia mengatakan bahwa sikap Ikhwanul Muslimin tidak berubah.
Pemerintah telah berjanji akan mengadakan pembicaraan dengan semua partai oposisi untuk membahas reformasi demokratis yang akan mengakibatkan penggantian Presiden Mubarak. (rin/ptv) www.suaramedia.com

Post a Comment