Iran Bebaskan "Mata-Mata Gila" AS

TEHERAN (Berita SuaraMedia) – Iran mendeportasi seorang wanita Amerika setelah sebuah penyidikan menunjukkan bahwa dia berbohong tentang menjadi mata-mata AS dan membawa peralatan spionase. “Wanita ini mengklaim bahwa dia membawa peralatan mata-mata di giginya dan menyerahkan diri ke penjaga perbatasan Iran,” ujar sebuah sumber. “Tapi penyidikan lebih jauh mengungkapkan bahwa dia memiliki masalah psikologis dan klaimnya tentang menjadi mata-mata serta membawa peralatan mata-mata adalah tidak benar.”
Wanita itu, yang diidentifikasi sebagai Hall Talayan, dideportasi setelah masalah psikologisnya terbukti.
Talayan, 55, ditahan oleh penjaga perbatasan setelah dia mendekati mereka dan mengklaim sebagai mata-mata.
Pemerintah Iran mengatakan pada kantor berita Fars bahwa Talayan memasuki Iran dari Armenia tanpa visa. Tapi pada hari Jumat (7/1), seorang agen keamanan Armenia meragukan laporan itu. Artsvin Bagramian, kepala pusat pers Badan Keamanan Nasional Armenia, mengatakan seseorang dengan nama itu tidak pernah memasuki Armenia dan karena itu juga tidak pernah meninggalkan negara tersebut.
Fars mengatakan bahwa wanita itu meminta otoritas untuk tidak mengembalikannya ke Armenia karena dia mengkhawatirkan keselamatannya di sana. Dia ditahan di Nordouz, sebuah kota perbatasan di sebelah timur laut Iran.
Tapi, Al Alam TV, outlet berita resmi Iran, mengutip sebuah sumber di Teheran yang mengatakan bahwa wanita itu berada di Armenia dan tidak memasuki Iran. Outlet itu melaporkan bahwa wanita tersebut ditolak visanya untuk masuk ke Iran karena tidak memiliki visa masuk.
Departemen Luar Negeri AS berusaha untuk mencari tahu apa yang terjadi. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton pada hari Kamis (6/1) mengatakan bahwa AS telah meminta Swiss untuk memperoleh sebanyak mungkin informasi tentang fakta apapun yang bisa mereka tentukan.
Iran dan AS tidak punya hubungan diplomatik, dan Swiss mewakili kepentingan AS di Teheran.
Pada bulan Juli 2009, tiga warga Amerika ditahan di Iran untuk mata-mata setelah mereka diduga kesasar menyeberang sebuah perbatasan tak bertanda saat mendaki di Kurdistan, Irak.
Salah satu dari mereka, Sarah Shourd, dibebaskan dari penjara Iran bulan September lalu atas dasar kemanusiaan. Rekan pendakinya, Josh Fattal dan Shaner Bauer masih berada di penjara.
Dua jurnalis Jerman, yang hanya diidentifikasi sebagai reporter dan fotografer, ditahan di Iran pada bulan Oktober dan dituntut dengan spionase setelah mereka mewawancarai putra dan pengacara Sakineh Mohammadi Ashtiani, seorang wanita yang didakwa melakukan perzinahan pada tahun 2006 dan dijatuhi hukuman mati dengan dirajam. (rin/cnn) www.suaramedia.com