Showing posts with label iran. Show all posts

khamenei obama Dalam kunjungannya ke markas kelompok milisi bersenjata Basij Jumat (22/11), Ayatollah Ali Khamenei seperti biasa dipersilakan berpidato. Dalam pidato itu, pemimpin tertinggi Iran tersebut bersuara lunak terhadap AS.
Dilansir oleh Slate (21/11/2013), menurut Khamenei, Iran kini telah menjalin hubungan dengan semua negara.
‘’Termasuk Amerika Serikat,’’ kata Khamenei. ‘’Mereka seperti negara lain di dunia,’’ lanjutnya.
Sejumlah pemimpin senior Iran, termasuk Presiden Hassan Rouhani dan mantan Presiden Hashemi Rafsanjani menyarankan, kini tiba saatnya menghentikan hujatan anti-AS. Setidaknya dikurangi, kata mereka.
‘’Seperti slogan ‘Mati bagi Uni Soviet’ yang biasa kita teriakkan di masa lalu, maka slogan anti-AS sebaiknya dihilangkan dalam pertemuan-pertemuan politik,’’ tulis seorang pendeta syiah dalam sebuah harian di Iran.
Red: Randy
[AntiLiberalNews/www.globalmuslim.web.id]

Ironi Iran; anti Zionis mesra dengan Yahudi, sementara Muslim menderitaSiapa sangka, pemerintah Syiah Iran yang anti Israel ternyata mesra dengan umat Yahudi di negaranya. Mungkin anda tercengang dan tak percaya namun fakta dan data berbicara seperti itu.
Meski katanya anti Israel, namun umat Yahudi hidup tentram dan nyaman di Iran. Menurut stus Iran Jewish, situsnya komunitas Yahudi Iran, saat ini ada sekitar 25.000 hingga 30.000 Yahudi di Iran, terbanyak di ibukota Teheran, yakni berjumlah 15.000 orang.
Sebagian lainnya tinggal di Shiraz, Isfahan, Kermanshah, Yazd, Kerman, Rafsanjan, Borujerd, Sanandaj dan Oromieh
Di negara ini ada sedikitnya 100 sinagog, sekitar 26 di antaranya ada di Teheran. Mereka bebas beribadah di dalamnya. Selain sinagog, umat Yahudi di Iran juga boleh mendirikan sekolah, pusat budaya, perkumpulan pelajar dan mahasiswa, perpustakaan, dan balairung perkumpulan. Mereka juga kerap menerbitkan buletin secara berkala.
Sejak sekitar 100 tahun lalu, Yahudi memiliki seorang perwakilan di parlemen.Setelah Revolusi Islam tahun 1979, perwakilan Yahudi di parlemen atau Dewan Konstitusi Elit berperan aktif.
Salah seorang pemimpin komunitas Yahudi Iran, Unees Hammami, dilansir BBCbeberapa waktu lalu mengatakan bahwa Yahudi di Iran memang kerap dipandang aneh. Namun itulah yang terjadi di negara itu. “Karena sejarah kami yang panjang di sini, kamii ditoleransi,” kata Hammami.
Dia juga mengatakan, Ayatullah Khomeini telah menganggap Yahudi sebagai agama minoritas yang harus dilindungi di Iran. “Imam Khomeini membedakan antara Yahudi dengan Zionis, dan dia mendukung kami,” kata Hammami.
Derita Ahlusunnah di Iran
Fakta mesra dengan Yahudi di atas, bertolak belakang dengan fakta kaum Muslimin di Iran. Pada buku ‘Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam’, penulis buku ini Muhammad Pizaro, membuat satu bab berjudul ‘Derita Ahlusunnah di Iran’. Di situ disebutkan betapa kaum Muslimin mendapatkan penyiksaan dan sulit sekali mendapatkan masjid kaum Muslimin Sunni.
“Apakah ada ibukota di dunia ini yang berdiri tanpa sebuah masjid Sunni, kecuali Teheran ibukota Syiah Iran yang memiliki empat puluh gereja-gereja Kristen dan sebuah pemakaman untuk Baha’i, demikian tulis Syekh Abdurrahman al-Baluchy, Ketua Asosiasi Ahlussunnah Iran.
“No sunnah masjids in Iran”. Itulah kampanye salah seorang ulama Ahlusunnah Iran di situs komunitas Muslim Iran Sunni Online. Kampanye itu disampaikan lewat dunia maya untuk menunjukkan kepada umat Islam dunia, nestapa kaum Muslimin Ahlusunnah di ibukota Syiah itu. Mereka bukan tidak memiliki masjid tapi memang tidak dibolehkan.
Data statistik menunjukkan jumlah Muslim Ahlusunnah di Iran berkisar antara 14-19 juta, atau sekitar 20-28% dari rakyat Iran. Mereka terbagi menjadi tiga etnis utama yaitu Kurdi, Turkmen dan Bluchis. Sebagian mereka tinggal di garis perbatasan yang memisahkan antara Iran dan Pakistan, Afghanistan dan Irak.
Pendiri Maktab Qur’an Syekh Zadeh harus mendekam selama lima tahunn di bui akibat penolakannya dengan sistem Republik Syiah. Padahal Syekh Zadeh adalah tokoh Sunni Kurdi yang cukup berjasa dalam menumbangkan rezim Pahlevi. Setelah Pahlvi tumbang, Khomaini berkhianat kepadanya. Alih-alih mendirikan Republik Islam sebagaimana janjinya, malah dia mendirikan Republik Syiah.
Rezim Khomeini juga menganiaya dan memenjarakan setiap orang yang berani hingga bila perlu dihukum mati. Jika mereka diketahui terlibat dalam dakwah Islam, para ulama Ahlusunnah itu siap-siap untuk dipenjara, diasingkan hingga mengalami penganiayaan.
DR. Ali Mozafarian, seorang pemimpin sunni dan seorang pakar bedah ternama harus menjalani penyiksaan hingga membuatnya dihukum mati pada tahun 1992. Dia harus meregang nyawa karena dituduh memiliki hubungan dengan pergerakan wahabi. Dua tahun sebelumnya, rezim syiah juga menghukum mati Syekh Abdel Wahab Khafi dari Khurasan dengan tuduhan sama.
Syekh Mawlawi Muhyiddeen dan Syekh Mohammed Dost Sirawani adalah dua ulama Ahlusunnah yang juga dipenjara dan diasingkan rezim Syiah ke Najaf.Begitu pula dengan Syekh Ibrahim Dammini yang terus dipenjara dan mendapati penyiksaan selama lebih dari lima tahun. Ironi Iran [www.globalmuslim.web.id]

Seorang pejabat senior dalam rezim Bashar al-Assad mengakui bahwa Iran, Rusia dan Cina mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad secara politik, militer dan ekonomi. Dan rezim Assad sepenuhnya melakukan transaksi ekonomi dengan riyal Iran, rubel Rusia dan yuan China. Dimana semua itu dilakukan untuk menghindari sanksi-sanksi Barat, demikian menurut surat kabar “al-syarq al-ausath.
Qadri Jamil, Wakil Perdana Menteri Urusan Ekonomi mengatakan kepada koran Inggris “Financial Times” bahwa tiga sekutu rezim Assad tengah mendukungnya secara finansial sebesar 500 juta dolar per bulan dari transaksi keuangan yang meliputi  ekspor minyak dan asuransi.
Pejabat dalam rezim Assad itu menegaskan bahwa tiga negara sekutu tersebut akan membantu Damaskus dalam serangan balik terhadap apa yang disebutnya sebagai konspirasi asing untuk tenggelamkan pound Suriah.
Qadri Jamil, yang menampakkan kesombongan dan kebanggaannya menjelaskan bahwa di belakang Anda Rusia, Cina dan Iran. Bahkan negara-negara ini mendukung rezim Assad secara politik, militer dan ekonomi.
Pejabat itu menegaskan bahwa rezim Assad menyepakati kredit tidak terbatas dengan Teheran untuk mengimpor minyak dan makanan. Bahkan rezim Assad telah mengoreksi kesalahan sebelum krisis ketika ia bertransaksi dengan mata uang Barat, terutama dolar dan euro. Dan ia telah menggantinya dengan mata uang Iran, Rusia dan Cina.
Qadri Jamil, yang belajar di Moskow, mengakui sejauh mana dukungan yang besar dan hubungan erat antara Moskow dan Damaskus. Ia mengakui bahwa kapal yang mengangkut komoditas ekspor ke Suriah membawa bendera Rusia.Dan kapal itu sedang merapat dan membongkar muatannya di pelabuhan yang dikendalikan oleh rezim Suriah.
Pejabat itu mengakui bahwa ekspor rezim Assad dari minyak saja mencapai 500 juta dolar per bulan. Dan rezim tengah dipengaruhi oleh dominasi para pejuang revolusi atas ladang-ladang minyak di Suriah. Ia menggambarkan situasi ekonomi sebagai “sangat sesuatu kompleks dan sulit, tetapi belum mencapai titik ireversibilitas (yang sulit diperbaiki)”.
Dalam komentarnya untuk surat kabar “al-syarq al-ausath”, David Butter, seorang ahli urusan Suriah dan peneliti di Royal Institute Urusan Luar Negeri di London (Chathm House) menegaskan bahwa ekonomi Suriah banyak dipengaruhi oleh perang. Sehingga rezim Assad tanpa dukungan luar negeri tidak akan bertahan selama periode ini. Sementara dukungan Iran adalah yang terbesar dari berbagai aspek, militer dan ekonomi. Bahkan diketahui bahwa Rusia sedang mencetak mata uang Suriah
Ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Suriah selama bulan suci Ramadhan yang sudah di depan pintu. Sementara nilai pound Suriah tengah mengalami penurunan, dan sebaliknya harga-harga barang terus meningkat, akibat kelangkaan ketersediaan bahan baku, serta besarnya kekhawatiran pemadaman listrik di beberapa bagian negeri (akhbaralaalam.net, 30/6/2013).[www.globalmuslim.web.id]

SURIAH  – Kamis (20/06/13) komandan Liwa al-Islam yang berafiliasi ke FSA,  Zahran ‘Alush, mengumumkan tekad pemimpin politik dan revolusi Suriah untuk memperkuat hubungan dengan Negara tetangga.
Pada waktu yang sama ia menekankan, para Pejuang Suriah tidak akan melupakan tangan-tangan para penghianat yang mendukung RezimTiran Suriah seperti Iran dan Hizbullah.
Dalam wawancara dengan channel TV Al-Jazeera pada hari Kamis Alush berkata, “Berursan dengan mereka layalknya berurusan dengan musuh. Mereka sepeti Israel yang kami anggap musuh dan telah mengambil sepotong dari tanah Suriah” ujar Alush.
Alush menambahkan, pejuang tempur Suriah menolak untuk dialog dengan Bashar Assad. Sedangkan pemimpin politik Suriah tidak mewakili mereka. “Kami punya proyek politik. Kami menginginkan Negara yang dikendalikan oleh keadilan dan memberikan hak-hak kepada pemiliknya. Hak-hak minoritas akan dihargai. Kami tidak akan menzalimi siapa saja. Dan undang-undang yang akan datang haruslah bertolak dari agama Islam” tutur Alush.[usamah/imo/www.globalmuslim.web.id]

Hassan Rowhani , Presiden terpilih Iran telah menyampaikan beragam sikapnya kepada pemilihnya. Berikut ini adalah beberapa pernyataannya atas beberapa isu penting saat kampanye berlangsung:
Isu Gender
“Diskriminasi terhadap wanita tidak bisa ditolerir.
Masalah Nuklir Iran
“Kami akan berusaha agar hak-hak kami untuk mendapatkan nuklir diakui, sebagaimana kita berusaha agar sanksi ekonomi dicabut. Kami butuh energi nuklir untuk kemajuan bangsa dan pemerintahan saya akan memastikan hak ini diakui dengan mudah.
Hubungan Iran-AS
“AS adalah realitas dunia yang tidak dapat dipungkiri. Negara itu adalah negara adidaya, kekuatan ekonomi, militer, dan  ilmu pengetahuan nomor satu di dunia.
“Pertama kali, kami akan mengubah hubungan permusuhan menjadi hubungan negara dengan negara meskipun masih terdapat ketegangan, dan pada tahap kedua kami akan menurunkan ketegangan tersebut secara bertahap. Setelah itu, baru kami akan pikirkan hubungan kami selanjutnya.
Isu Ekonomi
“Saya datang untuk menyelamatkan ekonomi Iran dan menjalin interaksi konstruktif dengan dunia melalui pemerintah yang bijak dan penuh harapan.
“Pemerintahan ini (Presiden Mahmoud Ahmadinejad) mempermainkan sanksi ekonomi, menganggapnya sebagai kertas memo, padahal  kami bisa menghindarinya dan bahkan menguranginya.
Isu Pengangguran
“Ada 3,5 juta orang yang menganggur di Iran, dan 867.000 orang merupakan lulusan universitas. Kita harus berkonsentrasi kepada produk  nasional dan pengembangan teknologi. Kita akan berinvestasi pada usaha sektor kecil yang tidak memerlukan banyak modal.
Afiliasi Politik
“Secara pribadi, saya meyakini bahwa sebagian besar orang mencari jalan moderat dan rasionalitas. Dalam semua karir politik saya, saya memiliki hubungan sangat baik dengan kalangan moderat baik dari faksi-faksi politik, kaum reformis dan kaum konservatif. Saya percaya bahwa sebagian besar masyarakat kita terdiri dari kalangan moderat. “. (agus/alarabiya.net,15/6)
[www.globalmuslim.web.id]

Oleh: Artawijaya*
Pengkhiatan Syiah di balik runtuhnya kekhilafahan Islam Jejak kelam Syiah dalam sejarah runtuhnya kekhilafahan Islam menjadi pelajaran penting, bahwa mereka adalah para pengkhianat yang menikam kaum muslimin dan meruntuhkan kekuasaan Islam.
***
Baghdad baru saja ditaklukkan oleh pasukan Tartar. Pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah dan situs-situs peradaban Islam diluluhlantakkan. Pasukan yang dipimpin oleh Hulagu Khan dari ras Mongolia itu berhasil menaklukkan salah satu kota yang menjadi simbol gemilangnya peradaban Islam pada 656 Hijriyah. Sejarah menceritakan, sungai di Baghdad yang jernih berubah pekat menghitam akibat ribuan, bahkan jutaan buku yang ditenggelamkan. Sebagian lagi terbakar oleh keganasan invasi pasukan kafir tersebut. Takluknya Baghdad menandai runtuhnya imperium Khilafah Abbasiyah yang dikenal sebagai salah satu pusat peradan Islam.
Mengenai keruntuhan Baghdad dan penyerangan pasukan Tartar, sejarawan Dr. Raghib As-Sirjani menceritakan kisah ini dalam bukunya “Qishah At-Tatar min Al-Bidayah ila ‘Ain Jalut” (hlm. 129-170). Sedangkan sejarawan lainnya, Dr. Muhammad Ali Ash-Shalabi menceritakan dengan apik dalam bukunya “Al-Moghul Baina Al-Intisyar wa Al-Inkisyar” (hlm.310-312). Kedua sejarawan tersebut sangat mumpuni dalam bidangnya, karena disamping sebagai sejarawan (mu’arrikh), mereka juga ahli hadits (muhaddits), yang bisa memilah mana kisah-kisah palsu dan mana yang mu’tabar.
Kejatuhan Daulah Abbasiyah ke tangan pasukan Tartar tak lepas dari pengkhianatan tokoh Syiah Rafidhah bernama Alauddin Ibnu Alqami. Dalam keterangan lain, kejatuhan Baghdad karena adanya konspirasi antara pasukan Tartar dan kelompok Syiah Qaramithah yang mempunyai hasrat menjatuhkan pemerintahan Daulah Abbasiyah, kemudian menggantikannya dengan Daulah Fathimiyah.
Ia diangkat sebagai perdana menteri oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Namun Ibnu Alqani memendam hasrat untuk merampas kekhilafahan Abbasiyah agar jatuh ke tangan Dinasti Fathimiyah. Ibnu Alqani berkorespondensi dengan pimpinan bangsa Tartar dan mendukung pasukan kafir tersebut masuk dan menyerang kota Baghdad. Ibnu Katsir menceritakan, “Ibnu Alqani menulis surat kepada pasukan Tartar yang intinya mendukung mereka menguasai Baghdad dan siap melicinkan jalan bagi mereka (Tartar). Ia membeberkan kepada mereka kondisi terakhir Khilafah Abbasiyah, termasuk kelemahan pasukan Al-Mu’tashim. Itu semua tiada lain karena pada tahun tersebut ia ingin melihat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tashim, tumbang, dan bid’ah aliran sesat Syiah Rafidhah berkembang pesat. Khalifah diambil oleh Dinasti Fathimiyah, para ulama dan mufti sunnah musnah.” (Lihat: Al-Bidayah wa An-Nihayah, XIII/202)
Baghdad berhasil takluk. Khalifah Al-Mu’tashim Billah wafat terbunuh pada 14 Shafar 656 H/1258 M. Pembunuhan Al-Mu’tashim tak lepas dari pengkhianatan Ibnu Alqani dan Nashiruddin Ath-Thusi, yang menjalin hubungan dengan Hulagu Khan. Pengkhianatan itu mengakibatkan banyaknya ulama yang terbunuh, sekolah-sekolah dan masjid yang hancur, perpustakaan sebagai gudang ilmu luluhlantak, dan kekejaman lainnya yang luar biasa. Baghdad yang indah dan megah bersimbah darah. Kaum muslimin ketika itu berduka. Pusat peradaban Islam yang gemilang, tinggal kenangan.
Setelah berhasil menaklukkan Baghdad, pada 22 Shafar 657 Hijriyah pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan kemudian bergerak menuju Syam, wilayah yang menjadi pusat kekuasaan Islam pada masa itu. Mereka melakukan invasi dengan menyeberangi sungai Furat dan mengepung pintu masuk Syam selama tujuh hari. Pengepungan berhasil, bangsa Tartar kemudian masuk menyerbu kota. Sejarawan Ali Muhammad Ash-Shalabi mengatakan, Aleppo (halb) adalah kota pertama yang menjadi tujuan penaklukan Hulagu dan pasukannya, yang ketika itu dipimpin oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah, wakil dari Malik An-Nashir. Sebelum memasuki Aleppo, sebagaimana kebiasaan Hulagu, ia memberi peringatan penguasa agar tunduk dan menyerah. Namun, peringatan Hulagu Khan ditanggapi oleh Al-Malik Al-Mu’zham Tauran Syah dengan mengatakan, “Tidak ada yang pantas bagi kalian dari kami, kecuali pedang…!”
Hulagu Khan kemudian mengirim panglimanya yang bernama Katabgha untuk menaklukkan kota Damaskus pada akhir bulan Rajab, tahun 658 Hijriyah. Penaklukan berlangsung tanpa perlawanan, hingga akhirnya Damaskus yang merupakan kota terbesar di Suriah selain Aleppo, berhasil tunduk pada kekuasaan Tartar.
Negeri Syam yang dikenal sebagai tanah yang berkah, saat itu terkotori dengan ulah pasukan Tartar. Kemenangan pasukan Tartar kemudian dimanfaatkan oleh orang-orang Nashrani untuk mendekati Hulagu Khan. Mereka membujuknya agar Hulagu membiarkan umat Nashrani menyiarkan agamanya. Setelah mendapat persetujuan, umat Nashrani berkeliling kota mengangkat salib-salib mereka di atas kepala, sambil berteriak mengatakan, “Agama yang benar adalah agama Al-Masih..”. Mereka mengarak salib-salib besar mereka keliling kota, kemudian memaksa para penduduk untuk berdiri menghormati salib tersebut. Tartar ketika itu mengangkat seorang pemimpin di Damaskus yang bernama Ibil Siyan, pemimpin yang dikenal sangat melindungi kaum Nashrani.
Kota Damaskus dan Aleppo berhasil ditaklukkan. Kota yang bersejarah dan menyimpan peradaban Islam itu harus menyerah pada kekuatan pasukan Tartar. Jika Baghdad berhasil ditaklukkan oleh bangsa Tartar karena pengkhianatan Syiah Rafidhah, maka diantara faktor yang melemahkan semangat jihad umat Islam di negeri Syam saat itu adalah pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah. Melalui para pemimpinnya, mereka berusaha merapat pada Hulagu Khan, dengan iming-iming yang ditawarkan pada pimpinan pasukan Tartar itu berupa harta milik kaum Muslimin yang berhasil dilumpuhkan. Diantara pemimpin Syiah yang berkhianat terhadap umat Islam adalah Syaikh Al-Fahr Muhammad bin Yusuf bin Muhammad Al-Kanji. Imam Ibnu KatsirRahimahullah menceritakan hal ini dalam buku monumentalnya, Al-Bidayah wa An-Nihayah, dengan menulis, “Ia adalah tokoh Syiah yang telah membujuk bangsa Tartar dengan harta kaum Muslimin. Ia sosok berhati busuk, orientalistik, dan meminta bantuan mereka (Tartar) dengan harta kaum muslimin…”
Dr. Imad Ali Abdus Sami Husain dalam bukunya “Khianaat Asy-Syiah wa Atsaruha fi Hazaimi Al-Ummah Al-Islamiyah” menceritakan bahwa ketika pasukan Tartar masuk ke kota Aleppo pada 658 Hijriyah, merampas dan mencuri harta dan tanah kaum muslimin di kota itu, pimpinan Syiah yang bernama Zainuddin Al-Hafizhi justru mengagung-agungkan Hulagu Khan dan meminta kepada umat Islam untuk tunduk menyerah dan tidak mengobarkan api perlawanan terhadap pasukan penjajah tersebut
Padahal Ketika itu, Raja An-Nashir yang berasal dari kalangan sunni sudah berkirim surat kepada Raja Al-Mughits di Kurk dan Al-Muzhaffar Qutuz di Mesir untuk mengirimkan bala bantuan kepada kaum muslimin di Aleppo. Namun sayang, kondisi mereka yang ketika itu juga dalam keadaan lemah, tidak mampu memenuhi permintaan Raja An-Nashir.
Sikap pemimpin Syiah Nushairiyah, Zainuddin Al-Hafizhi, memantik kemarahan Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baybars Al-Bunduqdari. Ia begitu marah kepada pemimpin Syiah itu, kemudian memukulnya sambil mengatakan, “Kalianlah penyebab kehancuran kaum Muslimin!” Baybars adalah tokoh pejuang Muslim asal Kazakhstan yang kemudian berjihad melawan bangsa Tartar dan kaum Kristen, dan wafat di Damaskus. Namanya begitu dikenal sebagai pahlawan Islam yang cukup ditakuti dan disegani musuh. (Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamiy: Al-Ashr Al-Muluki, Amman: Dar Usamah li An-Nasyr, 2003, hlm. 24-36)
Seorang ulama bernama Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdul Salam bin Taimiyah Al-Harrani atau biasa disebut Syaikh Ibnu Taimiyah, yang berjuluk hujjatul Islam, termasuk orang yang berjuang melawan pasukan Tartar. Ia juga mengetahui bagaimana kelompok Syiah Nushairiyah berkhianat terhadap kaum muslimin. Karenanya, Ibnu Taimiyah yang tahu persis bagaimana sepak terjang kelompok Syiah ekstrem ini, menyatakan bahwa mereka adalah kaum kafir dan non muslim yang harus diperangi. Ketika orang-orang Tartar mengepung kota Damaskus, Ibnu Taimiyah dengan lantang mengatakan,”Jangan kalian serahkan benteng ini, meskipun tinggal satu batu bata saja, karena benteng ini adalah untuk kepentingan kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjaga benteng ini untuk kaum muslimin, sebagai perisai bagi penduduk Syam yang menjadi pusat iman dan sunnah, sampai Isa Ibnu Maryam Alaihissalam turun di sana.”
Dalam buku Tarikh Al-Alawiyyin yang ditulis penganut Syiah Nushairiyah, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dijelaskan bahwa sikap kooperatif mereka dengan bangsa Tartar adalah bagian dari siasat untuk mengembalikan kekuasaan mereka, yang menurutnya telah dirampas oleh kaum Sunni.
Tarikh Al-Alawiyyin juga menjelaskan bagaimana kerjasama tokoh Syiah di Aleppo, Thamur Thusi, yang bekerjasama dengan Timur Lenk untuk menguasai kota tersebut. Timur Lenk membunuh kaum muslimin sunni dan membiarkan mereka yang menjadi pengikut Alawiyah. Timur Lenk adalah penganut Syiah Rafidhah yang wafat pada 808 Hijriyah. Anak keturunannya pun mengikuti jejak keyakinan Timur Lenk sebagai penganut ajaran Syiah. Karenanya, di setiap wilayah kekuasannya, Syiah banyak terlibat dalam pemerintahan, termasuk di negeri Persia (Iran). (Lihat:Tarikh Alawiyyin, hlm. 407)
Negeri Syam, termasuk wilayah Damaskus, berhasil kembali ke tangan kaum muslimin, setelah pasukan Syaifuddin Quthuz dan panglima Malik Azh-Zhahir Ruknuddin Baibars Al-Bunduqdari berhasil mengalahkan pasukan Tartar dalam Perang Ain Jalut, sebuah wilayah di Palestina. Perang yang berlangsung pada 25 Ramadhan 659 H/September 1260 M itu berhasil memukul mundul pasukan Tartar dan membuat mereka lari tunggang langgang menyebar ke beberapa wilayah. Pasukan yang dipimpin oleh Syaifuddin Quthuz dan panglima Baibars, berhasil membunuh seorang pemimpin dari sekte Syiah Rafidhah di Damaskus, karena keberpihakan tokoh tersebut kepada pasukan Tartar dalam merampas dan menjarah harta kaum muslimin. Dengan kemenangan di Perang Ain Jalut ini, Syaifuddin Quthuz yang berasal dari Kerajaan Mamalik Bahriyah (kerajaan wilayah maritim yang dibangun oleh para budak) kemudian menggabungkan negeri Syam dengan Mesir, sehingga kekuasaannya semakin luas.
Ada yang menarik dalam buku “Al-Maushu’ah Al-Muyassarah fi At-Tarikh Al-Islamiy”. Tim Riset dan Studi Islam sebagai penyusun buku itu, membuat sub bab berjudul “Baybars dan Sekte Bathiniyah”. Buku yang diberi kata pengantar oleh ahli sejarah dari Mesir, Dr. Raghib As-Sirjani ini menulis, “Baibars berhasil menundukkan Sekte Bathiniyah, cabang dari Sekte Ismailiyah di Syam. Orang-orang Eropa menyebut sekte ini Al-Hasyasyin. Sebelumnya mereka adalah ancaman bagi raja-raja Mesir, sejak masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi.” (Tim Riset dan Studi Islam Mesir, Ensiklopedi Sejarah Islam Jilid I (terj), Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2013, hlm.478)
Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa pada masa lalu, Syiah Rafidhah, baik itu Sekte Ismailiyah, Nushairiyah, Qaramithah, dan Syiah ekstrem lainnya telah melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam di Syam. Sejarah juga mencatat, mereka kemudian diperangi oleh para pemimpin Islam. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi yang dikenal sebagai penakluk Baitul Maqdis, semasa berkuasa terus berusaha mengikis habis pengaruh Syiah Rafidhah, baik pengaruh dari buku-buku, maupun pengaruh dari para pemimpin mereka. Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berusaha memerangi kelompok Syiah Rafidhah yang bercokol di Mesir, Yaman, dan Syam. (Lihat: Dr. Ali Muhamamd Ash-Shallabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhduhu fi Al-Qadha Ad-Daulah Al-Fathimiyah wa Tahrir Bait Al-Muqaddas, Mesir: Daar Ibnu Al-Jauzi, 2007, hlm. 257-258
Pengkhianatan Selanjutnya
Ketika Daulah Utsmaniyah berusaha menguasai Syam dan merebutnya dari penjajahan bangsa Eropa; Perancis dan Inggris, pengkhianatan kelompok Syiah Nushairiyah juga terus berlangsung. Jumlah mereka yang minoritas, selalu menyimpan ketakutan akan sikap diskriminasi kelompok Sunni yang menjadi warga mayoritas di Syam. Karenanya, Tokoh Syiah Nushairiyah Shaleh Al-Alawi bahkan menjalin hubungan dan menandatangani nota kesepahaman dengan tokoh sekular Yahudi Dunamah Turki, Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1920. Nota kesepahamaman ini tentu saja bertujuan membendung pengaruh imperium Utsmani di Syam, khususnya di wilayah Suriah yang juga menjadi musuh kaum sekularis seperti Attaturk. Karenanya, Attaturk dengan organisasinya Ittihad wa At-Taraqi (Partai Persatuan dan Kemajuan) berhasil menumbangkan Khilafah Utsmaniyah pada 1924.
Kelompok Syiah Nushairiyah tentu mempunyai kepentingan untuk menyelamatkan entitasnya jika Daulah Utsmaniyah tetap bercokol di Syam. Mereka khawatir, Daulah Utsmaniyah yang Sunni akan memposisikan mereka secara diskriminatif. Kekhawaturan inilah yang kemudian terus terpelihara sehingga mereka merasa perlu melakukan berbagai pengkhianatan terhadap umat Islam dengan berkolaborasi pada musuh-musuhnya. Padahal sesungguhnya sikap khianat mereka adalah ambisi untuk merebut kekuasaan sehingga terbentuk rezim Syiah. Belakangan terbukti, rezim Syiah Nushairiyah yang minoritas, justru melakukan berbagai aksi diskriminasi dan kekejaman terhadap kaum muslimin di Suriah.
Sebuah dokumen luar negeri Perancis, Nomor 3547 tertanggal 15 Juni 1936 melansir adanya surat dari tokoh-tokoh Alawiyah/Nushairiyah kepada pemerintah Perancis, yang diantaranya ditandatangani oleh Sulaiman Al-Asad, kakek dari Hafizh Asad. Surat tersebut berisi permohonan agar Perancis tetap bersedia berada di wilayah Suriah, karena mereka khawatir, jika Perancis hengkang, keberadaan mereka terancam. Surat tersebut berbunyi:
“Presiden Perancis yang terhormat,
Sesungguhnya bangsa Alawiyah yang mempertahankan kemerdekaannya dari tahun ke tahun dengan penuh semangat dan pengorbanan banyak nyawa. Mereka adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat Muslim (Sunni), dalam hal keyakinan beragama, adat istiadat, dan sejarahnya. Mereka tidak pernah tunduk pada penguasa dalam negeri.
Sekarang kami lihat bagaimana penduduk Damaskus memaksa warga Yahudi yang tinggal bersama mereka untuk tidak mengirim bahan pangan kepada saudara-saudara mereka kaum Yahudi yang tertimpa bencana di Palestina! Kaum Yahudi yang baik, yang datang ke negeri Arab yang Muslim dengan membawa peradaban dan perdamaian, serta menebarkan emas dan kesejahteraan di negeri Palestina, tanpa menyakiti seorang pun, tak pernah mengambil sesuatupun dengan paksa. Namun demikian, kaum muslimin menyerukan “Perang Suci” untuk melawan mereka, meskipun ada Inggris di Palestina dan Perancis di Suriah.
Kita menghargai kemuliaan bangsa yang membawa kalian membela rakyat Suriah dan keinginannya untuk merealisasikan kemerdekaannya. Akan tetapi Suriah masih jauh dari tujuan yang mulia. Ia masih tunduk pada ruh feodalisme agama terhadap kaum muslimin.
Kami sebagai rakyat Alawiyah yang diwakili oleh orang-orang yang bertandatangan di surat ini berharap, pemerintah Perancis bisa menjamin kebebasan dan kemerdekaannya, dan menyerahkan nasib dan masa depannya kepadanya (Alawiyah, pen). Kami yakin bahwa harapan kami pasti mendapaykan dukungan yang kuat dari mereka untuk rakyat Alawiyah, teman yang telah memberikan pelayanan besar untuk Perancis.”
Demikian surat yang ditulis oleh tokoh-tokoh Syiah Nushairiyah, yang membujuk Perancis untuk tetap menjamin dan mendukung keberadaan mereka. Surat tersebut ditandatangani oleh Sulaiman Asad (kakek Hafizh Asad), Muhammad Sulaiman Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawwasy, Sulaiman Mursyid, dan Muhammad Beik Junaid. (Lihat:Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, Rezim Nushairiyah: Sejarah, Aqidah dan Kekejaman Terhadap Ahlu Sunnah di Syiria (terj), Solo: Jazeera, 2013, hlm. 65-66)
Pada saat ini, keberadaan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah mendapat dukungan yang kuat dari kelompok Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah Imamiyah di Libanon dan Iran. Mereka mempunyai kesamaan ajaran, ideologi, bahkan cita-cita, untuk mewujudkan dendam mereka merebut kekuasaan dari kelompok Sunni. Mereka yang hidup minoritas di Suriah, kemudian berkolaborasi dengan bantuan Syiah di Libanon, melalui kelompok militer Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah, untuk bertahan dan survive, serta mengamankan kekuasaan mereka yang direpresentasikan dalam kekuasaan Rezim Bashar Al-Asad. Dimanapun, kelompok minoritas akan selalu waspada, struggle, dan berjuang habis-habisan untuk mengamankan eksistensinya. Bahkan, dalam kasus Suriah saat ini, mereka berusaha mengamankan kekuasaan yang sudah sejak tahun 70-an mereka pegang. Mereka khawatir, jika umat Islam berkuasa, maka keberadaan mereka akan terusik. Padahal, mereka sesungguhnya adalah pengkhianat yang tak bisa hidup berdampingan dengan kaum muslimin, selama akidah mereka melecehkan para sahabat, dan mengganggap Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu sebagai tuhan atau menyatu dengan Tuhan.
Untuk mempertahankan keberadaanya, Syiah Nushairiyah sampai hari ini tak segan-segan untuk berkhianat, bahkan berkolaborasi dengan musuh-musuh Islam sekalipun. Sebagai kelompok minoritas di Suriah, mereka menerapkan prinsip, “Sebaik-baik pertahanan adalah menyerang!”
*Editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta
[www.globalmuslim.web.id]

netanyahu - ahmadinejad

YAHUDI  adalah salah satu akar sejarah masyarakat Iran. Sebab, merekalah salah satu penduduk tertua yang sudah menghuni tanah Persia sejak negeri itu masih membangun peradaban.
Seperti dikutip Iran Online, orang Yahudi masuk ke Iran sejak tahun 727 sebelum masehi. Mereka yang memasuki Iran adalah Yahudi yang terdeportasi oleh kekuasaan Raja Asiria (Babilonia), Saragon II. “Mereka terdeportasi dari Isarel setelah gagal melawan Asiria,” tulis Iran Online.
Akibat kekalahan ini, sekitar 27.290 orang Yahudi dipaksa menetap di Persia. Gelombang kedatangan Yahudi ke Persia makin besar ketika moyang bangsa Israel ini terusir oleh Raja Nebukadnezar. “Mereka (Yahudi) pelarian dari Asiria kemudian menetap di Isfahan,”
Para pelarian Yahudi di masa Babilonia inilah yang jadi bagian sejarah Persia.Mereka, terutama  imigran Yahudi di Isfahan, mampu menata peradaban.
Tidak heran, Isfahan kini menjadi kota terbesar ketiga di Iran kini. Isfahan kini dihuni lebih dari 2 juta jiwa. Beberapa di antaranya memiliki garis darah Yahudi.
Periode penting bagi kaum Yahudi di tanah Persia (sekarang Iran), terjadi ketika Koresh Agung mampu menaklukkan Babilonia di tahun 586 sebelum masehi.Inilah menjadi tonggak awal berdirinya kekaisaran persia.
Keberhasilan Koresh menaklukkan Babilonia dengan sedikit perlawanan, membuatnya terpilih sebagai penguasa baru di kawasan Persia hingga tanah Israel. Raja Persia ini pantas berterima kasih kepada masyarakat Yahudi karena sudah mendukung penuh usahanya menaklukkan Babilonia.
Di bawah kepemimpinan  Koresh, Yahudi seperti mendapatkan angin. Mereka yang telah melarikan diri semasa era Babilonioa, kini diizinkan pulang ke Jerusalem. “Sekitar 30 ribu Yahudi (Persia) kembali ke untuk membangun kuil Jerusalem,” tulis Iran Online.
Di masa awal perkembangan kerajaan Persia inilah, Yahudi mulai menancapkan gigi dari segi politik. Kebijakan Persia saat itu mendorong otonomi bagi masyarakat Yahudi mampu membangkitkan Israel dari “tidur” panjangnya.
Hal itulah yang menjadi salah satu tonggak awal kembalinya eksistensi politik Yahudi di muka bumi. Jasa Kopresh ini yang membuat orang Yahudi berhutang budi. Karena kalau bukan karena jasa Raja Persia ini, Yahudi bisa jadi lenyap dari muka bumi pada abad kelima sebelum masehi.
Sejak periode 500 an sebelum masehi hingga kini, Yahudi pun tetap bercokol.Bahkan di abad ke 21, Yahudi dengan negaranya Israel mampu tampil sebagai salah satu kekuatan utama dunia.
Sejak paham Syiah dianut di abad 16, kehidupan Yahudi dan Iran ibarat naik turun. Yahudi sempat jadi korban diskriminasi. Beberapa kali, Yahudi, kristen, dan umat agama lain, menerima tindakan berbeda dari pemerintah Iran.
Namun, di abad ke 19, Yahudi kembali bangkit di Iran. Saat itu, Kebijakan Iran adalah memberi Yahudi posisi hidup setara dengan masyarakat Iran lain yang mengantut syiah.
Bahkan seorang pemimpin Iran, Reza Shah Pahlevi sangat menghormati Yahudi. Dalam sebuah kunjungannya ke komunitas Yahudi di Isfahan, Reza sempat berdoa dan membungkuk kepada Yahudi.
“Reza Pahlevi menjadi pemimpin Iran yang paling dihormati Yahudi setelah Koresh Agung,” ujar Iran Online. Apa yang disebut laman Iran itu tidak terlepas membaiknya hubungan Iran Yahudi di masa itu.
Persahabatan Yahudi dengan Iran makin terasa di tahun 1970-an. saat itu, komunitas Yahudi mengibarkan bendera kebangsaan Iran saat negara itu bertanding sepak bola melawan tim nasional Israel. “Walau begitu beberapa orang Iran ini sempat dipukuli penonton Iran lain,” tulis Iran Online.
Sekalipun makin terpinggir selepas tahun 1970-an, kontribusi Yahudi untuk Iran tetap besar. Masyarakat Yahudilah yang berperan dalam menjaga kesenian kuno Iran. Sebab, Yahudi adalah salah satu peletak dasar budaya Iran sejak abad kelima sebelum masehi. “Yahudilah yang berjasa melestarikan musik Iran kuno, terutama saat pemerintah Iran membatasi musik,” tulis Iran Online.
Hingga saat inipun, ritual kebudayaan Iran kuno masih tetap dipelihara oleh orang Yahudi. Bahkan kkubudayaan Iran kuno dirayakan masyarakat Yahudi dengan sebuah festifal bernama Illanout.
Sejak revolusi Islam Iran tahun 1979, Yahudi mendapat kesempatan untuk mengirim seorang perwakilannya di parlemen. Yahudi Iran juga tetap memiliki kesempatan untuk menempuh kegiatan di Universitas utama di Iran.
Kendati saat ini sang presiden Mahmud Ahmadinejad berseberangan dari segi politik dengan Israel, namun hal itu tidak menghapus fakta bahwa Yahudi dan Iran tetap terkoneksi. Koneksi Yahudi Iran tercermin lewat sejarah, budaya, hingga masyarakatnya.[lppi makassar/www.globalmuslim.web.id]
Powered by Blogger.