BEIRUT (Berita SuaraMedia) – Sebuah asosiasi dokter di Libanon tertarik untuk menjawab keterkejutan mengenai jumlah anak-anak Gaza yang mengalami cacat tubuh akibat senjata terlarang dalam perang Israel di Gaza. Berbicara dalam konferensi pers pada hari Jumat (7/1) di Beirut sebuah kunjungan ke Jalur Gaza untuk menilai situasi medisnya, kampanye itu mengatakan bahwa Jalur tersebut penuh dengan anak-anak yang mengalami cacat tubuh akibat fosfor putih, uranium terdeplesi, napalm, bom curah, dan senjata lain yang dilarang secara internasional dalam perang Gaza terakhir.
Asosiasi medis mengatakan terjadi kekurangan obat-obatan yang sangat dibutuhkan di Jalur Gaza.
Kementerian kesehatan Gaza telah sering menuduh Otoritas Palestina menahan ratusan pasokan medis.
Sementara itu, seorang pria Gaza meninggal pada hari Sabtu (8/1) saat menunggu untuk menyeberangi perbatasan Israel guna mendapat pengobatan.
Korban tersebut, Anas Jumaa Salih, menderita penyumbatan sirkulasi vena hepatik. Otoritas Israel menolaknya masuk melalui penyeberangan utara Jalur Gaza, Beit Hanoun.
Kementerian kesehatan Gaza memohon pada semua kelompok hak asasi manusia dan internasional cepat mengintervensi untuk menyelamatkan pasien-pasien Gaza, menyalahkan pemerintah Tepi Barat karena menahan obat-obatan penting.
Analisis ilmiah baru-baru ini menunjukkan bahwa perang Gaza adalah penyebab langsung dari meningkatnya jumlah cacat lahir, keguguran, dan kanker di Jalur Gaza.
Sebuah laporan oleh Conscience Organisation for Human Rights mengenai bahaya kesehatan dan lingkungan akibat bombardir dan invasi mengungkapkan bahwa insiden lahirnya anak-anak dengan cacat tubuh telah meningkat tajam di Jalur Gaza.
Laporan itu mengatakan bahwa dalam tiga bulan menjelang dimulainya perang pada bulan Desember 2008, hanya 27 anak yang lahir dengan cacat tubuh. Dalam periode yang sama di tahun 2009, jumlahnya mencapai 49, sebuah peningkatan yang signifikan. Laporan itu mengindikasikan bahwa 50% dari kasus yang telah dikonfirmasi terkait dengan sistem syaraf dan organ dempet.
Disebutkan juga bahwa tingkat cacat tubuh terutama tinggi di distrik Jabaliya, Beit Hanoun, dan Beit Lahiya, yang mengalami pengeboman Israel paling intens selama perang. Laporan itu mengaitkan peningkatan jumlah cacat tubuh dengan penggunaan senjata yang mengandung unsur-unsur radioaktif dan beracun.
Anwar Abed Al Ghfor, seorang warga Gaza, mengatakan bahwa istrinya tengah menjalani masa kandungan bulan pertama ketika perang Israel dimulai di Gaza. Bom fosfor putih menarget lingkungan di mana mereka tinggal. Setelah sembilan bulan masa kehamilan, sang istri melahirkan seorang bayi dengan cacat tubuh yang bertahan hidup selama tiga bulan dan kemudian meninggal. (rin/pic/pg) www.suaramedia.com

Post a Comment