Obama Kecam Tuduhan Terlibatnya Pemerintah AS Dalam 9/11

Presiden AS Barack Obama pada hari Jumat (24/9) waktu setempat mengecam pernyataan kebencian, menyinggung dan tidak dapat dimaafkan dari Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tentang peran pemerintah AS dalam serangan 11 September 2001 terhadap AS. Ahmadinejad juga mengatakan mungkin akan ada pertemuan bulan depan tentang program nuklir negaranya.
Obama, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita BBC Persia, marah pada Ahmadinejad untuk pernyataan yang dianggap keterlaluan oleh Gedung Putih itu yang akan memperparah isolasi Teheran dari masyarakat internasional.
"Itu menyinggung dan penuh kebencian," ujar Obama. "Dan terutama baginya untuk membuat pernyataan itu di sini di Manhattan, tak jauh di sebelah utara Ground Zero, di mana para keluarga kehilangan orang-orang terkasih mereka, baginya untuk membuat pernyataan seperti itu tidak dapat dimaafkan."
AS dan sekutu-sekutu Baratnya terjebak dalam kebuntuan dengan Iran atas program nuklir mereka, yang diyakini Washington bertujuan memproduksi senjata atom tapi oleh Teheran dikatakan untuk tujuan damai.
Obama memutuskan untuk diwawancara sebelum Ahmadinejad membuat komentarnya tentang 11 September sebagai cara untuk berbicara secara langsung pada rakyat Iran. BBC Persia disiarkan dalam bahasa Farsi, bahasa yang dominan di Iran.
Ahmadinejad, dalam sebuah pidato di Majelis Umum PBB pada hari Kamis (23/9), mengatakan bahwa sebagian besar pejabat pemerintah AS-lah yang percaya militan Al Qaeda melakukan serangan pembajakan pesawat bunuh diri yang menjatuhkan WTC New York dan menabrak Pentagon di luar Washington.
Dia mengatakan bahwa teori lainnnya adalah bahwa beberapa segmen dalam pemerintahan AS merencanakan serangan itu. Dia terus membahas isu itu pada hari Jumat (24/9), menyebut latar belakang serangan itu misterius dalam sebuah konferensi pers.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa pernyataan itu adalah bagian dari pola Ahmadinejad, termasuk penyangkalan Holocaust, yang akan semakin mengisolasi negara tersebut dan melukai kepentingan rakyatnya.
Dalam pidato Obama di PBB pada hari Kamis, dia menegaskan posisi AS bahwa pintu diplomasi dengan Iran tetap terbuka tapi Teheran harus memenuhi kewajiban internasional atas program nuklirnya.
Ahmadinejad mengatakan dirinya siap untuk berbicara dengan komunitas internasional, dan bahwa seorang pejabat Iran mungkin akan bertemu bulan depan dengan kekuatan-kekuatan dunia yang menekan negara itu untuk membuktikan bahwa program nuklirnya benar-benar damai.
Selama berbulan-bulan Barat telah mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan, belum ada pembicaraan yang substantif sejak akhir tahun lalu, tapi tanpa ada keberhasilan.
Presiden Ahmadinejad membela pernyataannya tentang serangan 11 September itu. Dia mengatakan latar belakang serangan 11 September terhadap WTC dan Pentagon mencurigakan.
Berbicara pada wartawan di New York pada hari Jumat (24/9), dia menantang PBB untuk membentuk misi pencari fakta untuk menyelidiki serangan yang menewaskan 3,000 orang itu.
"Saya tidak memberikan penilaian, tapi tidakkan menurut kalian saatnya telah tiba untuk memiliki sebuah komite pencari fakta," ujar Ahmadinejad.
Setelah mengungkapkan kemarahannya atas pernyataan Ahmadinejad, Obama memperbarui tawarannya untuk berbicara dengan Iran.
"Saya rasa Amerika berusaha menaruh pertikaian ini di belakang mereka dan melangkah ke depan karena mereka merasa ada kemungkinan pembicaraan baru dengan Iran. Mereka tahu ini adalah sebuah kesempatan yang penting."
Di bulan Juni PBB menerapkan empat set sanksi terhadap Iran atas penolakannya untuk menghentikan pengayaan uranium dan membuktikan bahwa Iran tidak berusaha membangun sebuah bom atom. Uni Eropa dan AS bahkan telah menambahkan lebih banyak sanksi ekstensif yang menarget perdagangan asing negara itu.
Ditanya aksi lain yang bisa diambil jika sanksi tidak bekerja, Obama mengatakan, "Ada banyak pilihan. Dan pilihan-pilihan itu akan dilaksanakan dengan berkonsultasi dengan masyarakat internasional."
Tanpa menspesifikasi pilihan tambahan apa yang ada dalam pikirannya, Obama mengatakan solusi diplomatik masih tetap mungkin. "Tapi akan membutuhkan perubahan pola pikir di dalam pemerintahan Iran." (rin/dn/alj) www.suaramedia.com