Showing posts with label Arab saudi. Show all posts

Masjidil Haram-makkah_6OTORITAS Saudi menyatakan pada Kamis (10/09/2015) bahwa sekira 800.000 jemaah haji dari berbagai negara telah mendarat di Arab Saudi, demikian seperti dilansir Arabnews pada Jum’at (11/09/2015).
“Ada  796.581 jemaah yang tiba di Saudi. 780.474 diantaranya datang dengan pesawat, 9039 lewat darat dan 7068 lainnya melalui laut,” jelas juru bicara Otoritas Jemaah.
Menurut situs Arabnews, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan para jemaah nyaman melaksanakan ibadah nanti. Di antara para peziarah asing itu terdapat 100.000 orang berasal dari India dan Pakistan.
“Sebagian besar jamaah kami sekarang di Makkah, hampir 60.000 dari mereka sudah berada di tempat tinggal yang disediakan petugas ibadah haji,” jelas Konsul Jenderal India BS Mubarak.
Menurut Mubarak, cuaca telah membaik dalam beberapa hari terakhir. Peziarah kami baik-baik saja dan khusyuk berdoa di Masjidil Haram.
“Awalnya, cuaca di sana memang ekstrim, tetapi sekarang sudah jauh lebih baik,” pungkasnya. [fh/Islampos/www.globalmuslim.web.id]

7:23 AM
lavrov dan muqrinMenteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, kemarin, telah mengadakan pembicaraan di Jeddah dengan Putra Mahkota Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan sejumlah pejabat Kerajaan. Mereka membicarakan sejumlah isu regional, termasuk perkembangan di Irak dan Suriah.

Lavrov bertemu dengan Muqrin bin Abdul Aziz dan Menteri Luar Negeri Pangeran Saud al-Faisal. Kantor berita Arab Saudi mengatakan bahwa mereka membicarakan tentang perkembangan di arena regional, terutama situasi di Irak dan Suriah.

Kantor berita Arab Saudi ini menambahkan bahwa Menteri Garda Nasional, Pangeran Mut’ab bin Abdullah bin Abdul Aziz, yang selanjutnya bertemu dengan Lavrov dan para delegasinya menyertainya, pada Jum’at malam, di Jeddah.

Sementara itu, Pangeran Saud al-Faisal telah mengadakan percakapan telepon seminggu sebelumnya dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dimana ia memberikan perhatian khusus tentang pentingnya (menemukan) solusi politik dan diplomatik bagi krisis di Suriah.

Kedua menteri ini mengumumkan keinginannya untuk “mengaktifkan kerjasama ekonomi, dan juga di bidang energi, di mana dalam bidang ini terdapat kemampuan untuk pengembangan secara signifikan.” (aljazeera.net, 21/6/2014).
[www.globalmuslim.web.id]

arab miskin 300x195 60% Rakyat Saudi Berada Di Garis Kemiskinan
ARAB Saudi atau Kerajaan Arab Saudi adalah negara yang terletak di Jazirah Arab. Beriklim panas dan wilayahnya sebagian besar terdiri atas  gurun pasir dengan gurun pasir yang terbesar adalah Rub Al Khali. Orang Arab menyebut kata gurun pasir dengan kata Sahara.

60 persen rakyatnya kini hidup di bawah garis kemiskinan. Walaupun negara ini menyandang status sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia, namun sekitar 60 persen rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan, pernyataan ini dilansir dari media cetak terbitan Riyadh.
Khaled al-Harbi, seorang jurnalis Saudi menulis dalam salah satu artikelnya bahwa Arab Saudi mengantongi sedikitnya 400 milyar USD per tahun. Itu berarti rata-rata gaji warga Saudi seharusnya sekitar 400 USD atau 1.500 riyal.
Sedangkan menurut Syura (Majelis Permusyawaratan Arab Saudi) sekitar 3 juta jiwa atau sekitar 22 persen penduduk Saudi hidup di bawah garis kemiskinan.
Situasi ini membuat para aktivis Arab Saudi geram dan langsung mengkritik Riyadh karena telah menghabiskan uang untuk membeli senjata dari barat, bukan untuk membantu meningkatkan taraf hidup jutaan warga yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Sekadar mengingatkan bahwa negara Arab Saudi merupakan negara eksportir minyak mentah terbesar di dunia. 90 persen dari total ekspor negara ini adalah minyak mentah. [indra/islampos]
[islampos/www.globalmuslim.web.id]

RIYADH, , - Badai salju yang melanda kawasan Timur Tengah dari Turki, Suriah, Lebanon, Mesir, juga menghantam Arab Saudi pada Senin dengan suhu merosot hingga -6 derajat Celcius di beberapa wilayah.

Cuaca dingin adalah hasil badai salju Alexa yang telah melanda Timur Tengah selama empat hari terakhir, turunnya salju juga menjadi kejutan di beberapa bagian wilayah Timur Tengah, termasuk Kairo dan Damaskus, demikian laporan alarabiya.net.

Pemerintah Saudi menyelamatkan 23 orang, termasuk tujuh perempuan dan sebelas anak-anak, yang terjebak dalam badai salju di Gunung Al-Lawz  di Tabuk, dekat perbatasan Yordania, pada Sabtu malam.

Dua heli menyelamatkan 23 orang dan membawa mereka ke Tabuk, pejabat Angkatan Pertahanan Sipil Mastour al-Harthi mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Badai membawa salju dan hujan lebat di Arab Saudi pekan ini, di mana suhu dingin ekstrem diperkirakan masih melanda seminggu lagi.
Tanda Makin Dekatnya Kiamat
Imam Masjidil Haram, Syeikh Su’ud Syuraim, menyatakan bahwa turunnya salju di Jazirah Arab telah membuktikan bahwa Muhammad saw. benar-benar seorang nabi dan rasul yang menerima wahyu dari Allah swt.
Beliau mengatakan bahwa salju adalah komponen utama dalam pembentukan sungai dan tumbuhan. Berjatuhannya salju di Jazirah Arab membuktikan kebenaran Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda, “Hari Kiamat baru akan datang setelah negeri Arab kembali menjadi padang yang hijau dan sungai-sungai.”
Syeikh Syuraim juga menyebutkan bahwa baru-baru ini salju telah turun di daerah Tabuk. Kita jadi teringat dengan perkataan Rasulullah saw. kepada Muadz saat perang Tabuk, “Kalau umurmu panjang, maka engkau akan melihat tempat ini penuh dengan kebun-kebun.”
[md/www.globalmuslim.web.id]

keluarga saudi

Negara-negara Arab lainnya pada hari Jumat mengumumkan dukungan mereka atas pernyataan Raja Saudi Abdullah bin Abdul Aziz  yang menegaskan dukungan kerajaan Saudi atas pemerintahan kudeta  Mesir “melawan terorisme.”

Uni Emirat Arab mengatakan pernyataan Arab Saudi datang pada “momen yang penting” dan pernyataan itu “sepenuhnya didukung” oleh para pemimpin Emirat.
“Uni Emirat Arab  menggarisbawahi bahwa pernyataan itu  mencerminkan perhatian  Raja Abdullah dalam keamanan dan stabilitas Mesir dan rakyatnya.
“Posisi tegas raja Saudi terhadap mereka para penghasut , akan menjadi kemenangan bagi Mesir, Islam dan Arabisme.
Sikap ini sangat berani dan rasional dari Penjaga Dua Masjid Suci umat islam (Masjidil Haram Makkah dan Masjid Nabawi Madinah),” pernyataan itu ditambahkan.
Bahrain juga menyuarakan dukungan untuk  Raja Abdullah atas pernyataannya atas dukungan tindakan keras pemerintah Mesir ‘.
Sebuah pernyataan resmi Bahrain mengatakan  sepenuhnya mendukung pernyataan Raja Abdullah, menambahkan bahwa Mesir memiliki hak untuk memulihkan ketertiban di negara, memerangi terorisme dan kekerasan, serta menghentikan penghancuran properti.
Bahrain juga menyerukan kepada semua pihak di Mesir untuk merapatkan barisan.
Kuwait, sementara itu, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa negara Teluk menegaskan dukungan untuk langkah-langkah pemerintah Mesir untuk menjaga keamanan dan stabilitas di negara Afrika utara itu.
Kuwait mengikuti dengan keprihatinan tentang perkembangan di Mesir, dan menyesalkan sejumlah besar adanya kematian di antara orang-orang Mesir serta penghancuran properti, sumber kementerian luar negeri mengatakan kepada kantor berita resmi KUNA.
“Negara Kuwait, menegaskan  mendukung langkah pemerintah Mesir untuk menjaga keamanan dan stabilitas, serta mencapai aspirasi rakyat Mesir melalui roadmap pemerintah,” membaca pernyataan KUNA.
Jordan juga memuji dukungan Raja Abdullah untuk pemerintah Mesir. (Arby/Dz)
[www.globalmuslim.web.id]

Posisi Rezim Saudi sebagai pelayan Barat semakin kokoh. Tampak dari sumbangan Raja Saudi untuk pendirian badan pusat anti teror PBB. Sudah diketahui umum PBB merupakan alat politik negara-negara Barat untuk mengokohkan penjajahan mereka di dunia Islam.
Sementara itu,  proyek perang melawan terorisme merupakan kebijakan politik luar negeri Barat untuk memerangi umat Islam. Atas nama perang melawan terorisme Barat mengintervensi negeri-negeri Islam, melegalkan pembunuhan terhadap umat Islam. Sebagaimana yang mereka lakukan di Irak, Pakistan, dan Yaman.
Sama halnya dengan tudingan ekstrimisme dan pengobar kebencian, merupakan isu-isu kunci g  yang secara sistematis dilontarkan Barat untuk melakukan propaganda  buruk terhadap idea atau kelompok dari umat Islam  yang menentang penjajahan Barat di negeri Islam.
Sebagaimana diberitakan oleh Middle East Online (8/8), Raja Abdullah dari Arab Saudi telah mengumumkan pemberian sumbangan lanjutan sebesar $ 100 juta (75 juta euro) untuk mendirikan badan pusat anti-teror PBB, media Saudi melaporkan pada hari Kamis.
Arab Saudi menandatangani kesepakatan dengan PBB pada tahun 2011 untuk mendirikan lembaga itu dan negeri kaya minyak itu telah menyumbangkan $ 10 juta menjelang diluncurkannya badan itu.
“Saya mengumumkan sumbangan dari Kerajaan Arab Saudi sebesar $ 100 juta untuk mendukung pusat anti-teror ini dan bekerja untuk aktivasi badan itu di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa,” kata Raja Abdullah dalam pidato yang menandai Idul Fitri, hari libur untuk merayakan akhir bulan suci Ramadhan, seperti dikutip oleh kantor berita resmi SPA.
Raja Saudi meminta masyarakat internasional untuk mendukung badan itu yang bertujuan “untuk menyingkirkan kekuatan kebencian, ekstremisme dan kriminalitas”.(af/rz/www.globalmuslim.web.id)

images (124×68)
Hujan deras mengguyur kota suci Makkah usai shalat Jumat kemarin (2/8/2013), yang menjdi berkah tersendiri pada Ramadhan yang panas tahun ini.

Air dari langit yang membasahi ribuan jamaah di Masjidil Haram menjadi rahmat mereka yang sedang menjalani ibadah puasa di Makkah dengan suhu panas hampir 43 derajat Celcius.

Hujan turun sejak pukul 2.30 siang hari dan berlangsung selama hampir 2 jam, lansir Arab News.

Karpet-karpet di masjid basah dan air menggenangi sejumlah jalan di kota Makkah. Lebih dari 700 orang petugas dikerahkan untuk membersihkan Masjidil Haram dan sekitarnya, dengan bantuan mesin penyedot dan pengering air.

Kantor Pertahanan Sipil mengirimkan pesan singkat massal ke publik berisi himbauan agar menjauhi daerah rendah di sekitar lembah di Makkah.

Tidak ada korban selama hujan lebat yang mengguyur kota suci Makkah itu.*
[www.globalmuslim.web.id]

RIYADH – Sumber-sumber media membenarkan pemerintah Arab Saudi telah memanggil pulang Syaikh Muhammad al-Arifi dari ibukota Qatar, Doha, untuk proses interogasi dan kemudian menempatkan beliau sebagai tahanan dalam negeri, laporan situs beritaGaza al-an pada Ahad (21/7/2013).
Inna lillah, rezim Saudi menjebloskan Syaikh Al-Arifi ke dalam penjaraBerita itu dibenarkan oleh TV Arab Saudi, Al-Mujtama’. Stasiun TV itu menambahkan bahwa akun resmi Syaikh Muhammad al-Arifi di situs jejaring sosial facebook dan twitter saat ini dilanjutkan oleh satu tim pendukung beliau, bukan oleh beliau sendiri.
Sementara itu para aktivis di Arab Saudi melalui situs jejaring sosial twitter menegaskan aparat keamanan Arab Saudi telah memanggil dan menginterogasi Syaikh Muhammad al-Arifi sejak Kamis (18/7/2013). Hal itu terjadi setelah beberapa hari sebelumnya Syaikh al-Arifi menyatakan berhalangan memberikan ceramah di Qatar, laporan koran elektronik Saudi Anha’.
Syaikh Muhammad al-Arifi adalah seorang ulama, penceramah kondang dan motivator ulung.Ulama yang meriah gelar S 3 itu selama ini dikenal “bersih” dari kegiatan berbau “kekerasan”.Beliau mengajar di berbagai perguruan tinggi dan memberi ceramah di berbagai negara Arab.Beliau bahkan cukup dekat dengan keluarga kerajaan Arab Saudi dan menjadi dosen di Akademi Kepolisian.
Namun beberapa kritikannya kepada kerajaan Arab Saudi belakangan membuat rezim Saudi geram. Beberapa bulan sebelumnya Syaikh Muhammad al-Arifi sempat diinterogasi dan dipenjarakan beberapa hari oleh aparat keamanan Arab Saudi karena menggalang dana untuk umat Islam Suriah.
Situs Gaza al-an menyebutkan penangkapan Syaikh al-Arifi itu merupakan bagian dari “kebijakan” rezim Arab Saudiuntuk menyingkirkan unsur-unsur Ikhwanul Muslimin di Arab Saudi yang menolak dukungan rezim Arab Saudi terhadap kudeta militer di Mesir.
Syaikh Muhammad al-Arifi sebelumnya gencar menyatakan dukungannya kepada jutaan demonstran Ikhwanul Muslimin pro presiden terguling Muhammad Mursi di Rabiah Adawiah Square melalui akun twitter. Beliau menyerukan kepada para pendukungnya untuk mendokumentasikan demonstrasi-demonstrasi anti kudeta militer di Mesir dan menyebarluaskannya ke dalam berbagai bahasa dunia agar diketahui oleh dunia internasional.  
Sikap Syaikh Al-Arifi sangat bertolak belakang dengan kebijakan rezim Saudi yang mendukung kudeta militer di Mesir. Pihak-pihak yang kontra terhadap Syaikh al-Arifi melakukan kampanye boikot terhadap akun twitter dan facebook beliau. Mereka menuding beliau memprovokasi jutaan rakyat Mesir untuk menuntut pengangkatan kembali Muhammad Mursi dan mengakibatkan jatuhnya banyak korban dalam bentrokan antara para demonstran dengan aparat keamanan di Mesir.
Akun resmi facebook Syaikh Muhammad al-Arifi menjelaskan beliau ditangkap karena sikap kritisnya terhadap kudeta militer di Mesir. Akun itu menulis sejumlah berita singkat pada Sabtu (20/7/2013).
“Kepolisian Arab Saudi menangkap Syaikh, Doktor yang tercinta, Muhammad al-Arifi pada pagi hari ini di Arab Saudi.
“Kepolisian Arab Saudi menuntut hukuman penjara 6 tahun terhadap Syaikh Muhammad al-Arifi dan hukuman denda 3 juta reyal.
“Sebab penangkapan Syaikh yang tercinta adalah pembelaan beliau terhadap Presiden Mesir Muhammad Mursi dan tuntutan beliau kepada penguasa Arab Saudi untuk tidak mendukung para oposan.
“Syaikh yang tercinta, Doktor Muhammad al-Arifi melaksanakan shalat Tarawih di dalam penjara penguasa Arab Saudi.
Akun resmi facebook Syaikh Muhammad al-Arifi juga menampilkan beberapa foto kedatangan Syaikh al-Arifi di dalam penjara.(muhibalmajdi/www.globalmuslim.web.id)

RIYADH,  - Lima belas orang di Arab Saudi telah meninggal akibat virus seperti SARS dari 24 orang yang tertular sejak Agustus lalu, Menteri Kesehatan Abdullah al-Rabia mengatakan pada hari Minggu, AFP melaporkan, demikian lansir alarabiya.net. 

"Jumlah orang yang tertular virus di kerajaan sejak Agustus / September adalah 24, di antaranya 15 telah meninggal," kata Rabia dalam konferensi pers di Riyadh. 

Angka yang sebelumnya disebutkan pada hari Selasa lalu oleh Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan 11 orang telah meninggal di Arab Saudi sejak tahun lalu akibat penyakit yang istilah medisnya adalah NCoV-EMC, atau novel coronavirus. 

Rabia juga mengatakan tiga orang lain yang diduga tertular virus di Arab Saudi, dia berjanji untuk mengumumkan secara transparansi hasil tes medis mereka. 

Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan mereka telah mengkonfirmasi kasus kedua virus terbaru SARS pada hari Minggu, Associated Pressmelaporkan.

Pernyataan kementerian mengatakan teman sekamar di rumah sakit dari seorang laki-laki 65 tahun yang awalnya tertular virus telah diuji hasilnya positif. 

Novel coronavirus telah menewaskan 18 orang sejak diidentifikasi tahun lalu di Timur Tengah, dari 30 kasus yang dikonfirmasi dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia sejak September 2012.

Asisten direktur jenderal WHO untuk keamanan kesehatan dan lingkungan, Keiji Fukuda, mengatakan pada konferensi pers di Riyadh pada hari Minggu bahwa virus baru itu merupakan tantangan bagi negara-negara yang terkena dampak dan dunia pada umumnya, AFP melaporkan. [ahr/md/www.globalmuslim.web.id]

Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdulaziz, dilaporkan mati secara klinis

LONDON - Seorang wartawan Saudi yang bekerja untuk Asharq Alawsat yang berbasis di London mengatakan bahwa raja Saudi, Abdullah bin Abdulaziz, telah mati secara klinis, sejak Rabu (22/5/2013).

Dia juga mengutip sumber medis di Arab Saudi yang mengatakan bahwa organ vital raja Saudi itu, termasuk hati,  ginjal dan paru-parunya, telah berhenti berfungsi.
Dokter mengatakan telah menggunakan defibrilator pada dirinya beberapa kali. Ia juga dilaporkan masih hidup dengan bantuan ventilator.
Pihak kerajaan belum mengomentari laporan kematian klinis Raja tersebut.
Raja Saudi itu tidak muncul di depan publik beberapa waktu belakangan dan pangeran mahkota hadir menggantikan pertemuan resmi atas namanya.
Ini adalah kedua kalinya Asharq Alawsat melaporkan kematian Raja Abdullah.
Pada bulan November 2012, harian itu juga melaporkan bahwa Raja Saudi telah koma dan secara klinis mati hampir seminggu setelah dia menjalani operasi punggung selama 14 jam di sebuah rumah sakit di ibukota Saudi, Riyadh.
Laporan itu kemudian disangkal oleh pihak kerajaan.
Kesehatan raja berusia 89 tahun itu telah menurun selama beberapa tahun terakhir, di mana ia dikabarkan telah dirawat di rumah sakit beberapa kali.
Pada 3 Agustus 2005, Raja Abdullah yang sebelumnya bergelar Pangeran Abdullah itu terpilih menjadi raja setelah wafatnya raja terdahulu, Raja Fahd, yang merupakan saudara seayahnya.
Masalah kesehatan, usia yang semakin menua, serta kabar kematian klinis saudara tiri raja itu telah menimbulkan kapanikan di kalangan kerajaan tentang masa depan negara kaya minyak tersebut dalam menghadapi demonstrasi anti-pemerintah. (banan/arrahmah./www.globalmuslim.web.id)

Pangeran Saudi meminta agar memberikan hukuman yang berat kepada siapa saja memperdayai para pemuda dan menyeru mereka untuk pergi berjihad ke Suriah. Sebelumnya, salah seorang anggota “Hai’ah Kibar al-Ulama’” di Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa “Jihad di Suriah” hukumnya haram bagi rakyat Saudi tanpa seizin pemerintah.
Ketika para penguasa melihat bahwa anak-anak kaum Muslim dari berbagai negeri-negeri tetangga berbondong-bondong datang ke Suriah untuk menolong saudara-saudara mereka yang tertindas, serta untuk membela kehormatan dan kesuciannya; dan ketika mereka melihat bagaimana para pejuang revolusi Syam dan saudara-saudara mereka masih menjadi batu besar yang menghalangi proyek-proyek Amerika, maka di sinilah mereka mulai menginjak-injak konstitusi mereka, tentara mereka dan para ulama mereka demi membantu sang penjahat, Amerika! Sungguh, celakalah para penguasa antek, boneka Amerika.
Sumber: pal-tahrir.info, 20/5/2013.
[www.globalmuslim.web.id]

Rizki Ridyasmara

Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri(serangan pemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.

Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena harapan itu masih jauh dari kenyataan.
Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang sangat berani berjudul“Dinasti Bush Dinasti Saud” (2004) memaparkan kelakuan beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk para pangeran dari keluarga kerajaan.
“Pangeran Bandar yang dikenal sebagai ‘Saudi Gatsby’ dengan ciri khas janggut dan jas rapih, adalah anggota kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, ” tulis Unger.
Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. “Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekali pun. ”
Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.
Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terkadang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat—jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat—Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.
Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan Madinah—kepada tentara Zionis Amerika.
Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan penyedia tentara bayaran.
Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.
Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.
Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”).
Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.
Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.
Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya“Lawrence of Arabia was a Zionist” seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.
Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zionisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.
Entah apa yang terjadi, namun hingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.
Selain film ‘Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:
  • Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazeera, 2005)
  • Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
  • Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
  • History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)
Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat “pemberontakan” terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam, wallahu a’lam. (Rz)
[www.globalmuslim.web.id]

Arab Saudi-Mansour Turki-Saudi posisikan berlawanan dengan mujahidin suriah-jpeg.image
Surat kabar yang berbasis di London, yang dimiliki oleh keluarga kerajaan Saudi, Al-Sharq al-Awsat melaporkan bahwa rezim yang berkuasa di Riyadh telah berjanji akan menangkap setiap Muslim dari Saudi yang berperang di Suriah dan berencana untuk kembali ke rumah di masa depan, lapor Kavkaz Center.
Dalam pertemuan dengan wartawan, Mayor Jenderal Mansour al-Turki mengatakan partisipasi setiap Muslim dalam perang di Suriah adalah “melawan hukum Saudi”.
Al-Turki mengatakan pemerintah Saudi akan menindak Muslim yang berencana bepergian ke Suriah untuk bergabung dengan Mujahidin di sana.
“Kami tahu bahwa di Suriah ada warga Saudi, namun kami tidak memiliki informasi cukup tentang jumlah mereka. Setelah mereka kembali, mereka akan ditangkap dan diinterogasi.  Kami belum lupa bahwa banyak warga Saudi di antara mereka yang dicari, tidak masalah apakah mereka terdaftar sebagai anggota Al Qaidah atau kelompok lain yang belum pernah kami sebutkan,” ujarnya.
“Oleh karena itu, pertanyaannya tetap terbuka bagi kami, kami tidak memiliki data khusus tentang jumlah mereka atau informasi yang cukup tentang mereka.  Agen yang ada di Arab Saudi akan berhadapan dengan mereka,” ancamnya.
Sebelumnya, seorang pejabat senior Saudi menyarankan Barat untuk meningkatkan efektivitas tempur pejuang Suriah pro-demokrasi, sehingga Mujahidin “tidak memiliki tempat” di Suriah.
Raja Saudi telah menekankan bahwa senjata yang berasal dari Saudi hanya akan sampai ke tangan “pemberontak moderat” alias “oposisi sekuler”, bukan untuk “ekstrimis” (Mujahidin, red).
Pangeran Turki al-Faisal, seorang mantan kepala mata-mata Saudi dan saudara dari menteri luar negeri Saudi mengatakan bahwa senjata harus disalurkan kepada “orang-orang baik” di antara kelompok oposisi yang membantu pejuang sekuler untuk mendapatkan kredibilitas di tengah rakyat. (arrahmah./www.globalmuslim.web.id)

Saudi secara resmi memposisikan dirinya melawan Mujahidin Suriah
RIYADH  – Surat kabar yang berbasis di London, yang dimiliki oleh keluarga kerajaan Saudi, Al-Sharq al-Awsat melaporkan bahwa rezim yang berkuasa di Riyadh telah berjanji akan menangkap setiap Muslim dari Arab yang berperang di Suriah dan berencana untuk kembali ke rumah di masa depan, lapor Kavkaz Center.
Dalam pertemuan dengan wartawan, Mayor Jenderal Mansour al-Turki mengatakan partisipasi setiap Muslim dalam perang di Suriah adalah “melawan hukum Saudi”.
Al-Turki mengatakan pada pemerintah Saudi akan menindak Muslim yang berencana untuk bepergian ke Suriah untuk bergabung dengan Mujahidin di sana.
“Kami tahu bahwa di Suriah ada warga Saudi, namun kami tidak memiliki informasi cukup tentang jumlah mereka.  Setelah mereka kembali, mereka akan ditangkap dan diinterogasi.  Kami belum lupa bahwa banyak warga Saudi di antara mereka yang dicari, tidak masalah apakah mereka terdaftar sebagai anggota Al Qaeda atau kelompok lain yang belum pernah kami sebutkan,” ujarnya.
“Oleh karena itu, pertanyaannya tetap terbuka bagi kami, kami tidak memiliki data khusus tentang jumlah mereka atau informasi yang cukup tentang mereka.  Agen yang ada di Arab Saudi akan berhadapan dengan mereka,” ancamnya.
Sebelumnya, seorang pejabat senior Saudi menyarankan Barat untuk meningkatkan efektivitas tempur pejuang Suriah pro-demokrasi, sehingga Mujahidin “tidak memiliki tempat” di Suriah.
Raja Saudi telah menekankan bahwa senjata yang berasal dari Saudi hanya akan sampai ke tangan “pemberontak moderat” bukan untuk “ekstrimis” (Mujahidin-red).
Pangeran Turki al-Faisal, seorang mantan kepala mata-mata Saudi dan saudara dari menteri luar negeri Saudi mengatakan bahwa senjata harus disalurkan kepada “orang-orang baik” di antara kelompok oposisi yang membantu pejuang sekuler untuk mendapatkan kredibilitas di tengah rakyat. (haninmazaya/www.globalmuslim.web.id)

SEORANG juru bicara Kementerian Dalam Negeri Saudi memperingatkan bahwa warga Saudi yang berjihad di Suriah akan ditangkap ketika mereka pulang ke Saudi.
32“Keterlibatan mereka dalam krisis Suriah menentang hukum Saudi,” tegas Mayor Jenderal Mansour Al Turki seperti dikutip dalam sebuah laporan yang dipublikasikan Gulf Daily News.
Dia mengatakan Selasa kemarin (26/3/2013) bahwa pemerintah juga akan menindak tegas mereka yang berencana untuk melakukan perjalanan ke Suriah untuk bergabung dalam jihad di sana dan menambahkan bahwa beberapa warga Saudi yang bergabung dalam konflik Suriah telah berjuang untuk Al Qaidah di luar wilayah kerajaan.
Dia juga mengomentari penangkapan pekan lalu terhadap 18 orang yang terlibat dalam sebuah jaringan mata-mata.
Kementerian mengatakan para tahanan termasuk warga Iran, Lebanon dan 16 warga Saudi yang dicurigai mengumpulkan informasi tentang instalasi vital dan lokasinya.
Iran sendiri membantah keterlibatan mereka dengan jaringan mata-mata tersebut. Namun Al Turki mengatakan kerajaan tidak melibatkan dan menuduh negara tertentu dalam masalah ini.(fq/islampos/albawaba/www.globalmuslim.web.id)

RIYADH – Kedutaan Besar (Kedubes) negara kafir penjajah Amerika Serikat (AS) merayakan hari nasional mereka pada Senin (11/3/2013) dalam sebuah seremoni yang diadakan oleh Amir Riyadh Pangeran Khalid bin Bandar dan wakilnya Turki bin Abdullah di kediaman dubes AS James B. Smith. 
Kedubes AS rayakan hari nasional AS dan 80 tahun hubungan dengan Saudi di RiyadhHari nasional AS, sering disebut Hari Kemerdekaan, biasanya dirayakan pada 4 Juli setiap tahunnya untuk menandai Deklarasi Kemerdekaan pada 1776. Tetapi di Arab Saudi,  Kedubes AS merayakan hari nasional pada Maret, untuk mengambil keuntungan cuaca sebelum liburan musim panas, menurut laporan yang dilansir Saudi Gazette (SG).
“Kami merayakan ulang tahun kemerdekaan Amerika ke-237 , tetapi tahun ini kami juga merayakan ulang tahun lainnya, yaitu ulang tahun ke-80 hubungan diplomatik dengan Kerajaan Arab Saudi,” kata Smith, dikutip SG.
Acara yang bertemakan “Discover America” itu bertujuan untuk merayakan hubungan bisnis dalam investasi, pendidikan, pariwisata, dan medis antara Kerajaan Arab Saudi dan negara penjajah itu.
Dr. Janet Breslin-Smith, istri dubes AS itu, mengatakan bahwa relasi antara AS dan Arab Saudi adalah, “(Hubungan) yang kami apresiasi setiap hari di sini, karena kedua negara kami telah memiliki peran penting di dunia. Arab Saudi adalah pemimpin di wilayah ini dan kami mengapresiasi kepemimpinan itu.” (siraaj/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)

AS tertarik dengan program "kontra-terorisme" Saudi
RIYADH– Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Eric Holder Jr. telah menunjukkan ketertarikan dalam pengujian program Munasaha (Konseling) “kontra-terorisme” Saudi sehingga bisa diterapkan di AS.
“Terlalu banyak para pemuda kita bermusuhan dan tertarik terhadap idelogi kekerasan  dan karena itu kami ingin untuk bekerja sama dengan sekutu-sekutu Saudi kami dan menguji program ini dan melihat bagaimana kami mungkin mengaplikasikan itu di Amerika Serikat,” katanya dalam konferensi pers di Kedubes AS di Riyadh ada Ahad (9/3/2013), dikutipSaudi Gazette pada Senin (11/3).
“Saya lebih prihatin pada ancaman dari dalam AS dan orang-orang beralih ke ekstrimisme kekerasan,” katanya, ia menggarisbawahi pentingnya kerjasama dengan pemerintah Saudi untuk menjamin “keamanan” di kedua bangsa tersebut.
“Kita harus bekerja sama, sebagai mitra yang setara, dengan komitmen bersama untuk mengupayakan dunia dengan peluang yang lebih banyak dan kurangnya kekerasan.”
Konferensi pers tersebut digelar sebagai bagian dari agenda diplomatik Holder mengunjungi Kerajaan Arab Saudi.
“Selama kunjungan ke Riyadh ini, Saya telah berdiskusi dengan rekan-rekan Saudi kami tentang program gabungan kami untuk memperkenalkan aturan hukum dan melindungi hak-hak serta kepentingan warga negara kami,” katanya.
Holder juga menunjukkan antusiasmenya untuk membangun program-program yang mendukung “reformasi hukum” Saudi dan melanjutkan dialog antara kedua negara yang bersekutu itu mengenai subyek “kemajuan” peradilan dan hukum.
Selain itu Holder juga mendukung para anggota wanita di kursi Dewan Syura Saudi yang dikecam Ulama.
Di samping itu Holder juga mewanti-wanti meningkatnya “terorisme” di dunia cyber dan kejahatan cyber.
Kunjungan Holder ini adalah bagian dari program “reformasi peradilan” dan “penjagaan perdamaian” AS-Saudi yang sedang berlangung, yang dimulai dengan kunjungan Menteri Kehakiman Arab Saudi Dr. Muhammad bon Abdul Karim Al-Issa ke Washington tahun lalu, demikian Saudi Gazette melaporkan. (siraaj/arrahmah/www.globalmuslim.web.id)

Ketakutan rezim Saudi kehilangan kekuasaan, membuat negara tiran itu bertindak kejam terhadap rakyatnya sendiri yang bersikap kritis. Sebagaimana yang dilansir AFP (2 /03), negara Saudi menangkap 176 demonstran yang membela tahanan dari kelompok Islam.
Polisi Saudi telah menangkap 176 orang, termasuk 15 perempuan, dengan tudingan  protes itu illegal. Para demonstran menuntu pembebasan para tahanan kelompok Islam, menurut kantor berita resmi SPA.
Mengutip juru bicara polisi, para demonstran ditangkap “setelah menolak untuk membubarkan pertemuan di luar kantor biro investigasi dan penuntutan di Buraida,” di pusat Arab Saudi.
Para pengunjuk rasa  dituding “kelompok sesat” – sebuah istilah yang biasa dipakai pihak berwenang untuk merujuk kepada jaringan jihad Al-Qaeda.
Demonstrasi adalah hal yang dilarang di Arab Saudi, sebuah kerajaan keluarga yang relatif tak tersentuh oleh pergolakan arab (arabspring).
Sekelompok kecil perempuan telah berkumpul hampir setiap hari di Buraida, di utara Riyadh, untuk menuntut pembebasan para kerabat mereka yang dipenjara, sementara puluhan demonstran menggelar aksi duduk di luar penjara Buraida pada bulan September.
Pada saat polisi membubarkan pengunjuk rasa, pihak berwenang kemudian memperingatkan mereka akan menghadapi “tindakan tegas”, suatu hal yang memicu kecaman dari Amnesty International yang mendesak Riyadh untuk menarik ancaman itu.
“Pemerintah Saudi seharusnya mendengarkan tuntutan mereka dan melepaskan para tahanan bukan malah menganiaya mereka”, kata sebuah lembaga HAM Amnesti Internasional yang berbasis di London.
Amnesty mengatakan parea pengunjuk rasa pada hari Jumat sedang meununtut pembebasan atas “lebih dari 50 perempuan dan anak-anak” yang ditahan setelah terjadi demonstrasi serupa dua hari sebelumnya.
Para wanita dan anak-anak “yang menuntut pembebasan kerabat mereka, dipenjara tanpa dikenakan tuduhan atau pengadilan,” kata lembaga pengawas HAM itu.
Beberapa wanita juga menyerukan pemecatan menteri dalam negeri di mana “kritik terhadap negara tidak dapat ditelorir,” katanya menambahkan.
Sebuah Saudi lembaga HAM Saudi yang independen mengatakan ada sekitar 30.000 tahanan politik di Kerajaan Teluk itu, sementara Riyadh membantahnya dan mengatakan tidak ada seorangpun tahanan politik. (RZ/www.globalmuslim.web.id)
Powered by Blogger.