BANYAK kalangan melihat Turki sebagai sebuah kisah sukses pemerintahan yang sesuai untuk negara-negara Arab, padahal kemajuan ekonomi Turki sangat rapuh dan tergantung kepada modal asing. Demikian dikatakan Umm Khalid perwakilan Muslimah Hizbut Tahrir asal Turki dalam konferensi perempuan Internasional di Jakarta, (Sabtu 22/12/2012)
“Negara Turki saat ini telah gagal untuk mengikuti agama Allah, karena sistem negeri ini dibangun berdasarkan pemikiran yang bukan dari Islam, yakni Kapitalisme, Sekularisme, dan Demokrasi,” ujarnya saat membawakan materi ‘Kegagalan Model Islam Moderat dalam menjamin Hak Ekonomi Perempuan’
Sistem Ekonomi Turki, kata Umm Khalid, sejatinya bertumpu pada utang dan bunga. Tak terbantahkan bahwa setiap perekonomian yang bertumpu pada utang akan mengalami krisis global seperti dapat dilihat dari negara Eropa dan Amerika.
“Lalu, mana mungkin ini bisa menjadi sistem yang dapat memberikan keamanan finansial dan stabilitas bagi perempuan?” tanyanya pada peserta konferensi.
Dampak dari kebijakan itu adalah 12 juta penduduk Turki kini hidup di bawah garis kemiskinan. Lebih dari 14 juta orang berisiko mengalami kemiskinan.Pengangguran mencapai sekitar 10%. Keluarga berpenghasilan rendah bahkan tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi cukup dan seimbang terus meningkat.
“Karenanya, kesenjangan antara kaya dan miskin meluas dengan cepat. Harga kebutuhan pokok, seperti daging, susu, roti, perumahan dan bahan bakar meningkat terus menerus,” tegasnya. (Ay/Pz/Islampos/www.globalmuslim.web.id)

Post a Comment