Pembantaian Massal Terbaru di Kota Revolusi Homs, "Memanggil Para Tentara Muslim di Seluruh Dunia..."



 Rezim keji Assad di masa yang kian dekat dengan ajalnya, terus menerus membunuh kaum Muslim di Homs, Suriah. Puluhan orang terbunuh di salah satu kawasan terparah di kota Homs yang disebut sebagai "pembunuhan massal terbaru".
Homs merupakan salah daerah berpusatnya penduduk yang berdiri lantang melawan rezim Assad. Kota Homs telah menjadi saksi teriakan-teriakan para pemuda Homs yang bersumpah untuk tidak membiarkan darah syuhada mengalir [baca: Pertolongan Allah Semakin Dekat, Ratusan Ribu Warga Syam Lanjutkan Aksi Anti Assad di Seluruh Kota di Suriah pada Jumat Intanshurullah Yanshurkum [v] ]. Kini, Homs seolah telah menjadi kota mati.
Baru-baru ini, sejumlah laporan seperti dikabarkan BBC menyebutkan, Komite Koodinasi Lokal, LCC, sebuah jaringan aktivis Suriah, mengatakan 44 orang tewas yang diantaranya berasal dari satu keluarga.


Pembunuhan ini, demikian laporan tersebut, terjadi setelah Kepala urusan kemanusiaan PBB Valerie Amos mengunjungi Homs yang digambarkan dalam kondisi hancur. Ia telah menghabiskan waktu kurang dari satu jam di Baba Amr untuk memperkirakan jumlah bantuan kemanusiaan. Dia juga mengunjungi kota lain, sebelum kembali ke Damaskus.


Baroness Amos memperhatikan masalah keamanan di kota tersebut dan dia mendengarkan suara tembakan senjata disana, seperti disampaikan oleh juru bicaranya Amanda Pitt. "Dia mengatakan bahwa bagian (kota) yang dia lihat sangat hancur," kata Pitt, seperti diberitakan oleh kantor berita AFP. "Dia mengatakan Homs seperti kota yang telah tutup."
Pembunuhan Massal Terbaru


Jaringan aktivis Suriah, LCC, mengatakan, pembunuhan massal terbaru yang dilakukan oleh pasukan pemerintah Suriah terjadi di distrik Jobar, Homs. Kelompok ini mengatakan dari 44 orang yang tewas di distrik itu, hampir separohnya berasal dari satu keluarga.


Lebih lanjut dijelaskan, warga sipil ini dibunuh sebagai tindakan balasan aparat keamanan Suriah setelah berhasil menguasai kembali Homs dari kelompok pemberontak.


Dialporkan juga warga berebut meninggalkan kota Homs, Suriah untuk menghindari aksi kekejaman yang menurut mereka dilakukan pasukan pemerintah.


Seorang perempuan kepada wartawan BBC Paul Wood di pinggiran kota Homs mengatakan tentara menggorok leher anaknya yang baru berusia 12 tahun pada Jumat, 02/03/2012, sehari setelah pasukan oposisi mundur dari distrik yang diperbutkan di Baba Amr. Menurut perempuan itu ada lagi 35 pria dan anak-anak dari wilayahnya yang juga sudah ditahan dan dibunuh.


Pemerintah setempat telah menolak memberi akses pada Palang Merah memasuki Baba Amr dalam empat hari berturut-turut, dengan alasan keamanan. Kalangan pegiat memperingatkan situasi ini merupakan pertanda terjadinya bencana kemanusiaan. Listrik, air dan komunikasi dan komunikasi diputus, dan dalam beberapa hari terakhir suhu udara anjlok drastis ditengah turunnya salju. Pasokan makanan juga makin menipis.
Pembantaian Terjadi, Tentara di Negeri Muslim Diam


Kubu oposisi dan kalangan pegiat HAM mengatakan pasukan pemerintah dan milisi pendukung mereka telah mengumpulkan para lelaki dan bocah laki-laki diatas 14 tahun yang masih terjebak di Baba Amr, kemudian menyiksa dan membunuhi mereka.


Seorang perempuan, yang harus berjalan kaki selama tiga hari dalam upaya menyelamatkan diri, mengatakan tentara pemerintah menciduk 36 pria dan anak-anak dari satu wilayah lalu membantai mereka. "Saya bisa mendengar jeritan mereka," kata suaminya menambahkan.


Seorang perempuan lain mengatakan: "Mereka mengambil suami-suami kami. Mereka ditangkapi di pos pemeriksaan. Mereka pasti akan dibantai seperti domba."


Sejumlah laki-laki yang mengaku telah membelot dari kesatuannya dalam ketentaraan Suriah mengatakan pada wartawan BBC pekan lalu bahwa warga sipil merupakan target kekejaman tentara sementara para tahanan dibunuhi.


"Seorang Letnan memberi perintah," katanya. "Dalam operasi ini kami diminta: 'Tembak semua yang bergerak. Sipil atau militer pokoknya tembak saja.'"
Warga Baba Amr yang menentang pemerintah kini tercerai-berai, perlawanan mereka diremukkan pasukan pemerintah.


Sebuah stasiun televisi Inggris, Channel 4 News, menyiarkan rekaman rahasia yang dibuat pekan lalu yang menyebut para pasien yang dirawat di RS Homs disiksa petugas medis.


Rekaman video menunjukkan bangsal yang penuh pasien luka yang diikat ke ranjang dan ditutup matanya, sementara tubuh sejumlah pasien lain nampak dihiasi bekas luka parah akibat pukulan.


Suriah, bumi Syam, yang telah dikabarkan Rasulullah sebagai bumi yang diberkahi telah dibanjiri darah para syuhada yang berdiri dengan lantang melawan penguasa dzalim Assad. Kaum Muslim di Syam tidak berhenti memanggil saudara-saudara mereka di belahan bumi lainnya untuk membebaskan mereka dari pembantaian sang jagal yang kian dekat ajalnya.


Namun, lagi-lagi kaum Muslim di seluruh dunia diam membisu, terlebih para penguasa dan tentaranya tidak menghiraukan panggilan saudaranya. Sungguh pilu umat ini, ketika kaum Muslim tidak memiliki Khilafah yang menjadi perisai umat.


Ketika kaum Muslim di Homs dibantai secara terang-terang, bahkan dikepung hampir sebulan, dan mereka memanggil para tentara Muslim lainnya untuk membebaskan mereka, tapi lagi-lagi membisu. Sungguh berat tanggung jawab kita kelak ketika di samping kita berdiri seorang pemuda Homs, "Kami telah memanggil anda, tetapi anda malah tak menghiraukannya".
Semua ini mengingatkan kita kepada Rasulullah Saw tercinta yang telah bersabda:


“Ingatlah bahwa poros Islam itu terus berputar, maka berputarlah bersama al-kitab kemana berputar. Ingatlah, al-Kitab dan kekuasaan akan berpisah, maka jangan kalian berpisah dari al-Kitab. Ingatlah akan ada di tengah kalian para pemimpin yang memutuskan untuk diri mereka apa yang tidak mereka putuskan untuk kalian. Jika kalian menyalahi mereka niscaya mereka membunuh kalian dan jika kalian menaati mereka niscaya mereka menyesatkan kalian”. Para sahabat berkata: “ya Rasulullah bagaimana kami berbuat?” Nabi saw bersabda: “seperti yang diperbuat oleh pengikut Isa ibn Maryam, mereka disisir dengan sisir besi dan disalib diatas kayu. Kematian di dalam ketaatan kepada Allah adalah lebih baik dari kehidupan di dalam kemaksiyatan kepada Allah”. (HR ath-Thabarani di Mu’jam al-Kabir).


Semoga Allah Swt., menyadarkan kaum Muslim serta memberikan kesabaran dan menurunkan segera pertolongan dan kemenangan-Nya dengan tegaknya Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian. Insya Allah, kemenangan kian dekat. [m/f/bbc/syabab.com]