Skenario Mata-Mata AS VS Iran Di Perbatasan Irak

Skenario Mata-Mata AS VS Iran Di Perbatasan IrakBAGHDAD – Pos luar AS di perbatasan Irak dengan Iran tidak memiliki aliran air dan layanan surat-menyuratnya pun jarang, dan pos itu begitu mudah terlewati sehingga militer secara tidak sengaja membatalkan kontraknya untuk toilet portabel bulan lalu, memaksa keenam puluh tentara yang ditugaskan di sana memakai kantong sampah untuk sementara.

Meski demikian, Joint Security Station (pos keamanan gabungan) Wahab, yang baru-baru ini dipilih oleh para personel yang bertugas sebagai ”pangkalan paling sederhana” di selatan Irak, diperkirakan akan tetap berdiri setelah kebanyakan pangkalan Amerika di negara itu ditutup. Itu karena para prajurit di poas tersebut berada di garis depan upaya militer AS untuk melacak dan membendung pengaruh Iran, sebuah misi yang akan menjadi semakin sulit karena area pos perbatasan al Sheep akan terbuka untuk ribuan turis Iran dalam beberapa bulan mendatang.
Ketika militer AS membongkar banyak pangkalan lain yang lebih besar, yang memiliki outlet makanan cepat saji dan salon kecantikan, mereka berencana untuk mempertahankan kontingen perbatasan yang kecil itu selama mungkin. Tugas pos luar tersebut adalah melatih pasukan Irak untuk melindungi al Sheeb dan lingkungan sekitarnya, wilayah sepanjang 25 mil dengan gurun pasir di sebelah utara dan rawa-rawa di sebelah selatan.
Di mana pemerintah Irak membayangkan pusat wisata yang ramai yang mendatangkan lapangan pekerjaan dan investasi, AS melihat potensi tanah pijakan lain bagi Iran, yang telah menyediakan listrik dan air ke pos perbatasan Irak. Setelah ladang ranjau dibersihkan, perbatasan al Sheeb akan dibuka untuk turis.
”AS dapat membendung pengaruh Iran hanya sampai titik tertentu,” ujar Mayor Angkatan Darat Daniel Dorado, 3, dari Mililani, Hawaii, yang memimpin tim transisi AS yang memberikan saran-saran kepada pasukan perbatasan Irak di JSS Wahab. ”Tapi saya tidak tahu bagaimana kita bisa membendung orang-orang yang berdatangan dan masuk. Kita tidak bisa membuat lebih banyak orang Irak.”
Pasukan Amerika di JSS Wahab adalah bagian dari 4th Brigade of the Army’s 1st Armored Division, dari Fort Bliss, Texas. Mereka tidak perlu berurusan dengan tembakan roket dan bom tepi jalan yang menarget pos-pos luar lain. Sebaliknya, mereka terjebak dalam apa yang disebut oleh salah satu prajurit sebagai skenario “mata-mata vs mata-mata” dengan pasukan keamanan Iran, yang berada sangat dekat sehingga unit-unit Amerika dan Iran sering saling terpergok sedang berpatroli.
“Meskipun mereka sangat dekat, ini adalah situasi Checkpoint Charlie,” ujar Kapten Courtney Dean, 28, tentang pasukan Iran. “Saya berdiri di sana dengan teropong mengawasi pasukan Iran, dan mereka mengawasi balik dalam jarak pandang ribuan yard.”
Untuk sekarang, perbatasan hanya terbuka bagi truk kargo yang dikemudikan oleh supir-supir Irak, yang dapat masuk ke Iran selama beberapa jam setiap kalinya untuk mengangkut semen atau batu bata dan kemudian kembali ke Irak, melewati serangkaian inspeksi dan mesin X-ray. Pasukan Amerika akan curiga ketika sebuah truk kembali tanpa muatan. Mereka ingin tahu apa yang dilakukan oleh si pengemudi di bagian lain perbatasan. Tentara-tentara itu mengatakan bahwa kedua pihak memanfaatkan pengemudi truk Irak sebagai informan.
Pada bulan Januari, ujar Dorado, tentara AS melihat pesawat tanpa awak pengintai berputar-putar di atas kamp mereka di tengah siang. Tentara Amerika mengecek ke komando mereka dan diberitahu bahwa tidak ada pesawat tanpa awak AS yang terbang di wilayah itu. Mereka menyadari bahwa itu adalah pesawat Iran yang sedang memata-matai pos mereka, sebuah provokasi yang langka. Pesawat tanpa awak itu tetap berputar-putar selama beberapa menit sebelum kemudian pergi.
Kekhawatiran keamanan AS bukannya tidak berdasar. Hingga tahun 2007, perbatasan al Sheeb terbuka lebar, dengan milisi Syiah Irak dukungan Iran yang mengontrol lalu lintas. Penyelundup melakukan perdagangan lintas perbatasan untuk semua benda, mulai dari unta balap hingga bahan peledak, dan sogokan mereka agar dapat lewat dengan aman adalah masuk ke kantong para milisi itu.
”Gubernur mengirim kami kesini di tahun 2006 untuk melihat situasinya, dan situasi saat itu tidak bagus. Milisi mengendalikan segalanya,” ujar Staf Brigadir Jenderal Waleed al Qaisi, kepala Direktorat Pelabuhan Masuk al Sheeb, yang bertanggung jawab kepada Menteri Dalam Negeri Irak.
Meskipun ia masih ragu apakah Iran dapat menjadi tetangga yang baik bagi Irak, Qaisi mengatakan bahwa keamanan tampaknya cukup stabil untuk menggeser fokus ke arah kemungkinan pariwisata di al Sheeb. Setiap minggu, impor kargo saja mendatangkan pemasukan tarif sebesar 95,000 dolar AS bagi Irak, atau sekitar 4,6 juta dolar setiap tahunnya. Uang yang diperoleh dari perbatasan akan meningkat ketika perbatasan itu dibuka untuk wisatawan Iran yang berziarah ke Masjid Kubah Emas Irak.
”Tempat ini seperti sumur minyak yang belum dibuka,” ujar Qaisi.
Yang juga belum dibuka adalah restoran, hotel, kamar mandi umum, dan layanan dasar lainnya yang akan dibutuhkan untuk melayani kebutuhan para turis.
”Ada banyak pengaruh halus Iran di sini melalui sejumlah fasilitas. Sekarang kami memiliki air dan listrik dari Iran. Negara lain memenuhi kebutuhan kami. Apa itu yang dimaksud kedaulatan?” ujar Dorado. ”Ya, tentu akan ada keuntungan ekonomi di masa depan, tapi dengan pengorbanan apa?” (SuaraMedia)