Tinggal di Samarinda
Bulan September seolah menjadi sakral bagi Negara Amerika Serikat (AS). Setiap tanggal 11 September diperingati sebagai hari berkabung atas meninggalnya ribuan orang pada Tragedi 11/9 di Gedung WTC di kota New York. Tragedi itu telah menjadikan AS secara sepihak dan tanpa bukti menuduh Osama Bin Ladin sebagai otak pelaku atas serangan mematikan tersebut bersama jaringan al-Qaidah-nya. AS kemudian menyerukan kepada dunia untuk bersatu menghadapi terorisme, sebagaimana yang diucapkan oleh George W Bush kala itu sewaktu masih menjabat sebagai presiden AS.
Pernyataan Bush tersebut adalah upaya untuk menggiring opini kepada dunia terhadap isu terorisme yang diidentikan dengan Islam. Walaupun Bush mengatakan bahwa Amerika tidak memerangi Islam namun memerangi terorisme, namun faktanya yang menjadi korban dalam program WOT atau War On Terorism pastilah umat Islam, sebagaimana invasi Amerika Serikat ke Negara Irak yang telah membunuh lebih dari 1 juta penduduk di sana, invasi ke Afghanistan, atau dukungan Negara AS kepada Negara Israel yang sampai sekarang masih membunuhi rakyat Palestina secara sistematis. Dan bahkan Bush sendiri pernah mengatakan ini adalah perang salib (crusade) sebagaimana yang dia katakana, “”this crusade, this war on terrorism is going to take a while (Ini perang Salib , perang yang memakan waktu yang sangat panjang) . Sebagai bukti keyakinanya bahwa ini merupakan perang ideologi ( yang mana banyak umat Islam yang tidak mencermati kata kata Bush ) bahwa ia menegaskan kepada dunia untuk memilih salah satu dua opsi yang di tawarkan , ” You either With us, or with them, again us ” (Kamu bersama kami , atau bersama mereka , sebagai musuh kami)
Sejatinya yang lebih pantas untuk disebut sebagai pelaku terorisme adalah AS sendiri Pasca Tragedi WTC umat Islam di beberapa negara di Eropa mengalami gangguan oleh orang-orang yang membenci Islam pasca WTC seperti pengrusakan masjid, pelecehan muslimah, pelecehan al-Quran, pelecehan Nabi Muhammad saw., bahkan sampai pada upaya pembunuhan umat Islam.
Oleh karena itu, diperlukan adanya sebuah negara adidaya baru yang bisa mengubur aksi teror AS, khususnya terhadap Dunia Islam, Itulah Daulah Khilafah Islamjyah. Itulah negara yang memiliki kemampuan militer besar tentu dengan bergabungnya negeri-negeri Muslim yang sekarang terpecah menjadi 57 negara. Gabungan negeri-negeri Muslim dalam Khilafah pasti mampu menghentikan kebiadaban aksi-aksi teror AS di seluruh dunia. Khilafah Islamiyah bukan hanya perlu, namun kewajiban kaum Muslim. Tiada kemuliaan tanpa Islam. Tak sempurna Islam tanpa syariah. Tak akan tegak secara kaffah syariah tanpa adanya Daulah Khilafah Islamiyah. Allahu Akbar!

Post a Comment