KUDUS, - Hingga saat sekarang, jumlah petani miskin di Kabupaten Kudus masih cukup banyak. Hal tersebut setidaknya dapat dilihat dari kepemilikan lahan pada organisasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di wilayah tersebut.
Menurut sekretaris KTNA Kudus, Hadi Sucahyono, saat ini anggotanya mencapai 25 ribu petani.
"Bila ditambah dengan keluarganya, maka yang mengandalkan dari sektor pertanian mencapai 35 ribu orang," ujarnya, Selasa (14/6).
Hanya saja, dari jumlah tersebut hanya sekitar 30 persen yang memiliki lahan sendiri. Sisanya, mereka termasuk petani "gurem" atau penggarap.
"Memang lebih banyak petani penggarapnya," imbuhnya.
Karena tidak mempunyai lahan sendiri, petani tersebut hanya mengandalkan upah garap yang diterimanya. Nominalnya tidak tetap, tergantung kesepakatan dengan pemilik sawah yakni berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Sedangkan dalam satu musim tanam yakni pada jangka waktu empat bulan, mereka hanya bekerja selama dua hingga tiga bulan.
"Sisanya menganggur dan menunggu panggilan untuk menggarap lahan berikutnya," tandasnya.
Sebenarnya, saat sekarang sudah banyak upaya dilakukan untuk mendongkrak kondisi hidup mereka. Namun begitu, himpitan beban hidup sepertinya semakin membuat keadaan mereka semakin terpojok.
"Memang harus ada upaya pemberdayaan petani dengan kondisi seperti itu," tandasnya.
Salah satunya, yakni dengan memberikan ketrampilan tambahan. Diharapkan, kemampuan seperti itu akan dapat menambah pengasilan mereka. Program lainnya yakni dengan pemberian modal usaha.
"Paling tidak, mereka dapat membuka usaha baru dengan modal tersebut," tuturnya.(yus/CN)

Post a Comment