Bangun Pangkalan Militer, Perancis Awasi Dunia Arab


Perancis berharap bahwa dengan dibangunnya pangkalan militer baru tersebut akan meningkatkan citra negaranya di kawasan Teluk (Berita SuaraMedia)

ABU DHABI  - Perancis telah membuka pangkalan militer pertama di daerah Teluk Arab. Para pejabat Perancis menyatakan fasilitas  tersebut akan memperkuat upaya-upaya untuk melawan pembajakan dan mempertahankan perdagangan.
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bertolak ke Abu Dhabi pada hari Senin untuk membuka pangkalan militer permanen pertama Perancis di Teluk, memberikan negerinya peran yang strategis di daerah kaya minyak tersebut.
Didampingi oleh empat menteri dan delegasi pengusaha kelas atas, Sarkozy diharapkan membuka kunjungan selama 20 jam ke Abu Dhabi tersebut, anggota termakmur dari Uni Emirat Arab (UEA), dengan bersantap malam dengan putera mahkota, Sheikh Mohammad bin Zayed Al -Nahayan.
Pada hari Selasa kemarin, Presiden meresmikan pangkalan militer yang diberi nama "Peace Camp" tersebut, pertama yang dibuka di luar negeri, selain Afrika, oleh Perancis sejak akhir era kolonial.
Terletak di Abu Dhabi, fasilitas yang akan menjadi tuan rumah hingga 500 pasukan ditempatkan di tiga lokasi: sebuah pangkalan angkatan laut dan logistik, sebuah pangkalan udara yang menyimpam tiga pesawat tempur dan kamp pelatihan.
Berbicara dalam sebuah konferensi keamanan maritim, Syaikh kalifat bin Zayed Al-Nahayan, Presiden UAE, menyebut kesepakatan tersebut " tiang politik luar negeri kami yang penting karena membantu stabilitas di kawasan Teluk".
Pangkalan tersebut terletak di pinggir Selat Hormuz, yang mana 40 persen dari minyak mentah dunia yang diangkut melewati jalur tesebut. Strategis Strait of Hormuz, yang memisahkan UAE dari tetangga Iran dan Oman, yang penting adalah melalui saluran air yang 40 persen dari minyak mentah dunia yang diangkut.
Dengan meningkatkan profilnya di daerah tersebut, Paris bertujuan untuk menempatkan dirinya di baris depan, bersama Washington dan London yang juga memiliki pangkalan di Teluk.
Tindakan ini secara luas dianggap sebagai tanda dari sikap ketat Perancis terhadap Iran sejak Sarkozy menjabat di tahun 2007, dipicu oleh oleh kekhawatiran atas program nuklir Teheran.
"Kami sengaja mengambil sikap mengelak," kata seorang ajudan Sarkozy. " "Jika Iran menyerang, maka kami akan secara efektif akan diserang juga."
Perancis adalah pemasok militer utama ke UAE, dan dua negara tersebut dihubungkan oleh sebuah pakta pertahanan 1995 di mana mereka bertemu dengan pemimpin-pemimpin angkatan bersenjata sekali dalam setahun dan pasukan tentara mereka melakukan latihan bersama sekitar 25 kali per tahun.
Bernard Kouchner, menteri luar negeri di Perancis, mengatakan bahwa pangkalan angkatan laut di Abu Dhabi itu bertujuan untuk mendukung pelatihan Perancis dan sekutunya di wilayah ini.
"Sejumlah 90 persen dari lalu lintas perdagangan Eropa adalah melewati laut dan kita harus mempertahankan lalu lintas dan perdagangan tersebut dan kita tertarik dengan Teluk dan ingin memberikan keseimbangan yang diperlukan di daerah ini," katanya.
Perancis juga akan berperan dalam memerangi pembajakan di wilayah ini.
"Pangkalan angkatan laut itu juga strategis bagi keamanan dan stabilitas internasional. Kami menjamin keamanan maritim perdagangan di daerah ini, di laut Mediterania, di perairan Teluk dan Samudera Hindia," kata Kouchner.
Perancis juga berharap pangkalan tersebut akan memperkuat hubungan dengan UAE, yang berencana untuk membangun sejumlah reaktor nuklir untuk memenuhi kebutuhan yang diharapkan untuk ekstra 40.000 megawatt listrik di tahun 2017.
Frances Total, Suez, dan pembuat reaktor nuklir Areva mengatakan tahun lalu mereka berencana untuk mengembangkan dua generasi ketiga reaktor nuklir di UAE.
Di kantor berita Reuters melaporkan sumber yang dekat dengan Sarkozy, yang tiba di Abu Dhabi pada hari Senin malam, mengatakan bahwa perusahaan negara EDF akan bergabung dengan konsorsium Perancis.
Perusahaan AS, General Electric dan Westinghouse Electric juga berharap untuk bersaing atas saham yang diharapkan mencapai $ 40 milyar.
Sebelumnya, Perancis memiliki beberapa pangkalan militer di Afrika, termasuk yang terbesar yang terletak di Djibouti, yang menduduki posisi strategis di Teluk Aden.
Akan tetapi, pangkalan militer yang baru ini mendapat beberapa kritikan di kalangan politik Perancis, dengan politikus François Bayrou yang berargumentasi bahwa hal ini akan membangkitkan risiko Perancis ikut terseret dalam perang.
Selain itu, pada pertemuan yang sama Sarkozy diharapkan akan memimpin delegasi dari pengusaha Perancis yang mencoba mendapatkan kesepakatan senjata nuklir sipil selama kunjungannya di UAE, meskipun pejabat pemerintahan mengatakan belum ada kontrak yang telah ditandatangani.
Di koran Le Parisien melaporkan hari Sabtu bahwa Perancis telah menyetujui penjualan 60 jet Rafale dalam sebuah kesepakatan senilai $ 8-11 milyar, dan bahwa Sarkozy sendiri akan mendorong masalah tersebut selama kunjungannya ke Abu Dhabi. Namun, pihak Dassault menolak untuk mengkonfirmasi angka tersebut dan hanya mengatakan bahwa kesepakatan mungkin akan tercapai tahun ini.
Perancis berharap UAE dapat dibujuk untuk menyetujui kesepakatan mengganti armada mereka Mirage 2000 dengan 60 pesawat tempur baru Rafale jet.
Dassault berkata pada hari Sabtu itu dalam pembicaraan dengan UAE terhadap kemungkinan pemesanan pesawat tempur Rafale, yang akan menjadi penjualan pertama pesawat terbang tersebut ke pembeli asing.
Agenda Sarkozy pada hari itu juga adalah meluncurkan secara resmi pembukaan pembangunan Louvre Abu Dhabi, sebuah proyek unik yang belum pernah terjadi. Museum tersebut, yang bersaing dengan Guggenheim, diharapkan akan selesai pada tahun 2012 atau 2013. Universitas Sorbonne yang telah memuluskan tautan Teluk dan Perancis berharap dapat berinvestasi dalam pengajaran bahasa Perancis di wilayah ini. (iw/ajz/ds/suaramedia)