Pelajaran Islam Di Nigeria Terancam Musnah



LAGOS- Para pemimpin Muslim menyebut pihak berwenang di negara mayoritas-Kristen Arika Selatan sengaja merusak bahasa Arab dan ajaran Islam di sekolah-sekolah umum dengan memalsukan kelangkaan guru pengajar Muslim.
"Sebagian besar sekolah-sekolah umum di bagian barat daya negara ini kekurangan guru ilmu agama Islam (Islamic Religious Knowledge) meskipun lulusan subjek studi ini berkeliaran di jalan-jalan untuk mencari pekerjaan," kata Profesor Lakin Akintola, koordinator hak Muslim Concern (MURIC).
"Kami memiliki banyak alasan untuk meyakini bahwa mereka yang tertuduh dapat dimintai tanggung jawab atas perekrutan guru yang di dalamnya telah terjadi persekongkolan dengan elemen-elemen tertentu untuk menciptakan kelangkaan artifisial guru IRK dengan maksud untuk merampas akses anak-anak Muslim ke pendidikan Islam."
Nigeria secara resmi adalah negara sekuler, terbagi antara Muslim diutara dan Kristen di selatan.
Islam datang ke Nigeria utara pada awal abad ke sembilan, dan mapan di Kekaisaran Kanem-Bornu selama pemerintahan Humme Jilmi. Islam telah menyebar ke kota-kota besar di bagian utara negara itu di abad keenam belas, kemudian pindah ke pedesaan dan menuju dataran tinggi Middle Belt.
Islam juga datang ke barat daya di daerah berbahasa Yoruba. Yorubas bahasa sehari-hari yang dimaksud Islam sebagai "Esin-Mali", yang berarti agama dari Mali. Muslim di Nigeria berpenduduk mayoritas Sunni dengan mazhab Maliki, yang juga menerapakan hukum Syariah. Populasi Muslim di negara bagian lain dikabarkan sama baiknya dengan bagian barat laut negara itu, yakni  Lagos, Oyo, Ogün, Osun, Ondo dan Ekiti.
Sebagian besar negara ini telah menyerahkan otorotas sekolah kepada para misionaris, meskipun mendapat protes dari umat Islam setempat.
Lebih dari 70 persen dari sekolah-sekolah umum seperti itu dimiliki oleh misionaris Kristen, menurut data yang diperoleh dari Departemen Pendidikan.
Dalam kunjungan  koresponden IOL pada10 sekolah menengah umum di Lagos dan dua masing-masing dalam negara bagian Ogün dan Oyo menunjukkan tidak ada guru IRK.
Sekolah baptis Lagos Secondary School, sebuah institusi publik di negara bagian Lagos, terakhir telah memiliki guru IRK substantive pada tahun 2002, menurut penelitian mahasiswa.
"Tapi sekolah mempunyai guru pengetahuan agama Kristen (CRK)," kata salah seorang yang tidak mau disebutkan namanya.
Hassan Ma'ruf, seorang mahasiswa Ph.D di Universitas Ibadan dan anggota terkemuka Mahasiswa Muslim Society of Nigeria (MSSN) yang tinggal di negara Osun, menegaskan masalah ini.
"Saya telah menantang beberapa otoritas sekolah dalam masalah ini dan jawaban mereka tidak meyakinkan," katanya.
"Sebenarnya, ada pemberantasan sistemik mengenai studi Islam dalam sekolah umum dan akibatnya akan mengerikan."
Tetapi pihak berwenang menolak mengejar kebijakan seperti itu.
"Saya dapat meyakinkan anda bahwa bagaimana pun catatan jumlah guru di lapangan kerja pemerintah tidak mempengaruhi peningkatkan fase subjek apa pun, apalagi mata pelajaran yang mempromosikan pemahaman agama," kata Tunji Bakare, seorang pejabat di Kementerian Pendidikan Negara Lagos.
"Kita akan mengamati tuduhan tersebut untuk melihat apakah mereka benar. Tetapi saya menegaskan bahwa kementerian ini selalu digunakan guru untuk mengajar semua mata pelajaran. Kami baru saja mempekerjakan beberapa orang. Tetapi sekali lagi, kita hanya dapat mempekerjakan orang-orang yang mengajukan lamaran. Dan kami mempekerjakan berdasarkan permintaan dari sekolah-sekolah yang mengajukan kebutuhan tenaga pengajar di sekolah mereka."
Akintola, seorang profesor studi Islam di Lagos State University dan dikenal sebagai penceramah, masih sangat skeptis.
"MURIC menegaskan bahwa dengan adanya kemunduran Islamisasi di sekolah, anak-anak Muslim tidak hanya terampas pendidikan Islam mereka, tetapi juga mereka terhalangi dari budaya Islam dan identitas Muslim."
Ia memperdengarkan alarm bahwa hal semacam ini akan memiliki dampak yang sangat serius.

"Kami memperingatkan bahwa ini adalah pedang bermata dua. Hal ini akan bertanggung jawab untuk adanya salah tafsir yang berbahaya dan radikalisasi sebagaimana disaksikan akhir-akhir ini di kalangan umat Islam."
Pada bulan Juli, Boko Haram, sebuah kelompok militan yang menentang apa pun yang meniru Barat, mereka terus mengamuk di tiga negara dengan menyerang pos polisi dan fasilitas lainnya.
Sebuah operasi keamanan besar-besaran mengakibatkan pembunuhan ratusan militan termasuk pemimpin mereka Muhammad Yusuf dan beberapa pengusaha yang dituduh memiliki keterlibatan.
"Ini adalah perkembangbiakan dari fanatisme dan kekerasan agama," profesor Akintola memperingatkan.
"Karena itu kami menagih ke pemerintah negara-negara bagian barat daya ini untuk membalikkan hal itu tanpa penundaan," tutupnya. (ad/io/suaramedia)