WASHINGTON – Lobi Israel mempengaruhi opini publik Amerika tentang pemberontakan di seluruh dunia Arab dan Timur Tengah, ujar seorang tokoh gerakan perlawanan Hizbullah.
"Media mainstream di AS didominasi oleh lobi pro-Israel dan tidak ada alternatif bagi orang-orang untuk mengetahui apa yang terjadi," ujar Kepala Hubungan Media Hizbullah Ibrahim Moussawi dalam sebuah wawancara.
"Ini (AS) adalah tempat di mana lobi Israel mempraktikkan kekuasaan penuhnya," ujar Moussawi menekankan, menggambarkan Amerika sebagai wilayah pendudukan oleh Israel.
Petinggi Hizbullah berargumen bahwa hanya mereka yang pernah pergi ke luar negeri dan memiliki kesempatan untuk mengalami "bencana, penderitaan, dan kekejaman" yang ditimpakan oleh rezim Israel atas orang-orang di Timur Tengah dan dunia Arab yang bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi di kawasan itu.
Beberapa bulan terakhir, gelombang revolusi dan pemberontakan anti-pemerintah telah menyapu dunia Arab.
Di bulan Januari, revolusi di Tunisia mengakhiri 23 tahun kekuasaan mantan Presiden Zine El Abidine Ben Ali.
Pada bulan Februari, revolusi lain di negara Arab Afrika Utara berujung pada tergulingnya mantan presiden Mesir Hosni Mubarak, setelah tiga dekade berkuasa secara otoriter.
Revolusi lain telah meletus di Libya, Yaman, dan Bahrain, sementara gejolak anti-pemerintah lainnya menyapu negara-negara Arab lain seperti Arab Saudi, Yordania, Oman, Kuwait, dan Aljazair.
Sementara itu, seorang pemimpin oposisi Bahrain mengecam penggunaan kekerasan yang berlebihan atas protes anti-rezim, mengkritik kebijakan opresif kerajaan.
"Rakyat terkepung, di bawah pendudukan. Rezim telah meningkatkan aksi kekejamannya," ujar Saeed Al Shahabi dari kelompok oposisi berbasis di London, Bahrain Freedom Movement pada hari Senin (4/4).
Lebih dari 25 orang telah terbunuh akibat kerusuhan yang dipicu para pemberontak Syiah di Bahrain sejak tanggal 14 Februari, ketika publik memulai revolusi populer melawan monarki, yang telah menguasai pulau Teluk Persia itu selama lebih dari 200 tahun.
Di bulan Maret, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait mengirimkan pasukan mereka ke Bahrain untuk memperkuat pertahanan.
Shahabi mengatakan 3,000 orang juga mengalami luka-luka akibat pemberontakan brutal itu. (rin/ptv)www.suaramedia.com

Post a Comment