JAKARTA, - Setelah pada awal tahun terjadi lonjakan harga, bulan Maret lalu harga-harga mengalami penurunan. Namun penurunan itu bukan kabar baik bagi petani.Kenapa?
Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Arif Budimanta mengingatkan untuk tidak salah dalam menafsirkan angka deflasi yang diumumkan
sebesar 0,32% pada bulan Maret.
"Hati-hati membacanya. Jangan senang dulu," ujar Budimanta, "Sebab deflasi terjadi karena penurunan harga bahan makanan yang memiliki andil dalam menurunkan inflasi sebesar 0,51 persen. Sedangkan dalam kelompok pengeluaran lainnya, yakni selain bahan makanan, justru mengalami peningkatan harga."
Sebelumnya Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa terjadi deflasi pada Maret sebesar 0,32%. Ini merupakan penurunan harga tertinggi dalam empat tahun terakhir ini.
Menurut Budimanta yang juga Direktur Eksekutif Megawati Institut deflasi Maret justru menggambarkan peningkatan beban produsen bahan makanan atau petani. Karena hargal jual produknya menurun, sementara barang lainnya yang harus dibeli justru meningkat.
Mengenai turunnya harga cabai, beras dan bawang merah yang memicu deflasi, Budimanta menjelaskan penurunan itu memang sudah sepantasnya terjadi karena kebijakan penghapusan tarif impor bahan makanan berlaku hingga 31 Maret 2011 sehingga Maret menjadi pusat serbuan produk-produk bahan makanan impor.
"Pemerintah kelihatannya bisa mencapai target inflasi tahun ini yakni sebesar 5,3 persen. Tapi itu terjadi karena menurunkan harga bahan makanan dengan cara melakukan impor bahkan menurunkan tarif impor bahan makanan hingga Rp0,- pada musim panen beberapa komoditi pertanian terutama beras. Tapi petani yang jadi korban."(ian/inil/ RIMANEWS)

Post a Comment