‘Dakwah’ Kami Kini

Masih ingatkah kita akan doktrin yang kuat nuansa tauhid dan kental dengan akhlakul karimah?
Ketika itu menundukkan pandangan adalah perintah Allah langsung kepada kita.
Ketika itu izzah seorang Muslimah terjaga dari fitnah campur baur dengan  non-muhrim.
Ketika itu indahnya ukhuwah dan “wala” hanya berlandaskan aqidah dan iman, bukan kepentingan dan koalisi.
Ketika itu “al wala wal baro” masih materi yang hangat di dengar, dimana Amerika adalah laknatullah yang mendukung penjajahan tanah Palestin dan Zionis yang membunuhi saudara kita seiman.
Ketika itu tidak kisah mesra dan romantis antara kami dan musuh-musuh Allah.
Ketika itu kita haramkan mereka dari negosiasi sebelum tegaknya keadilan.
Ketika itu kita teriakkan mereka sebagai ‘thogut’ dan kita membenci mereka karena Allah.
Namun, semua sudah berlalu.
Pandangan sudah tidak perlu lagi dijaga, karena yang semacam itu adalah kejumudan berpikir.
Izzah Muslimah kini sudah tidak lagi perlu dijaga. Karena kini semua serba keterbukaan.
Kini ukhuwah bukanlah karena aqidah. Yang semacam itu adalah syair-syair lapuk.
“Al Wala Wal Baro” adalah jargon yang tidak perlu lagi dibahas secara mendalam. Semua berubah, entah demi apa.
Musuh Allah sudah tidak lagi dibenci, karena kini sudah jamannya keterbukaan.
Tidak perlu lagi teriakkan “laknatullah” kepada mereka, kini mereka dapat menjadi kawan yang berguna bagi ‘dakwah’.
Tidak lagi mereka kita labeli sebagai ‘thogut’, karena mereka selayaknya kita jadikan guru bangsa dan sepantasnya kita mengikuti jejak langkah mereka.
Inilah ‘dakwah’ sekarang ini. ‘Dakwah’ yang telah berevolusi.