Kian Padat, Populasi Muslim Bergerak Menuju Arus Utama Metro


TWIN CITIES, Minnesota  – Populasi Muslim tumbuh dengan sangat cepat di Twin Cities, mencapai 150.000 jiwa.
Anda kemungkinan tidak akan menemukan menara Masjid atau kubah di Masjid baru, Woodbury.
Masyarakat Islam Woodbury baru-baru ini mengadakan sholat Jum’at di tempat sebuah kantor di balik sebuah toko Sam’s Club, dengan skitar 75 orang yang hadir. Para pria tiba mengenakan kemeja dan celana panjang dari tempat-tempat usaha di dekat tempat tersebut, menggunakan jam istirahat makan siang mereka untuk beribadah di tempat yang kecil dengan karpet di dalamnya. Para wanita dengan jilbab dan pakaian yang panjang nan longgar, duduk di belakang para pria.
Didirikan satu tahun yang lalu, Masjid tersebut membuat para jamaah yang datang merasa lebih nyaman untuk komunitas Muslim yang semakin berkembang di Woodbury.
"Ini semua tentang lokasi," kata pendiri Imani Jaafar-Mohammed. "Dan kami telah merasa disambut dengan baik di sini. Ada perasaan bahwa kota ini (Twin Cities) adalah rumah … di mana para Muslim dapat mempraktikkan agama mereka, memiliki ikatan di dalam agama mereka."
Woodbury hanyalah satu contoh dari keberagaman populasi Muslim yang muncul di  daerah metro ketika jumlah Muslim mendekati 150.000 jiwa.
Muslim Minnesota memainkan sebuah peranan yang menonjol dalam sidang kongresional baru-baru ini, bersaksi pada pihak yang berlawanan tentang radikalisasi Muslim di AS. Minnesota memiliki populasi Muslim Somalia terbesar di negara tersebut.
Walaupun Muslim Minnesota telah menghadapi beberapa contoh kekerasan, banyak yang mengatakan bahwa Twin Cities telah menjadi sebuah tempat yang sangat terbuka dan menyambut dengan baik.
"Sungguh, kami belum pernah melihat adanya kebencian dan prasangka buruk sama sekali," kata Lory Saroya, presiden cabang Minnesota Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations – CAIR-MN). "Ada semacam konsentrasi Muslim di sini. Populasi Twin Cities cukup beragam, terdidik. Orang-orang tahu seorang Muslim di tempat kerja mereka atau seorang tetangga yang adalah seorang Muslim. Sehingga ketika ada interaksi pribadi, saya pikir orang-orang kemungkinan kecil untuk memegang semacam kesalahpahaman atau rasa takut dari orang lain."
Komunitas Muslim di daerah tersebut telah tumbuh dengan begitu cepatnya sehingga jumlah Masjid masih belum bisa mengikutinya, Tamim Saidi mengatakan. Beberapa Masjid harus melakukan ibadah jamaah berkali-kali untuk mengakomodasi para jamaah.
Pusat Komunitas Islam Barat Laut, di mana Saidi adalah seorang anggota dewan, hampir saja membeli sebuah gedung di Plymouth karena tempat yang disewakan di Medina tidak lagi cukup luas untuk keluarga Muslim yang jumlahnya hampir mencapai 90 keluarga, dan bertambah.
Saidi mengatakan bahwa pusat tersebut belum pernah menghadapi tanggapan negatif dari orang di luar komunitas.
"Bagi saya, 99,9 persen dari pengalaman saya adalah positif," ia mengatakan.
Denominasi Katolik dan Kristen masih tetap merupakan kelompok agama yang dominan di Twin Cities, dan gereja-gereja masih berjumlah melebihi Masjid. Namun Muslim nampaknya bertambah jumlahnya di antara agama yang menyolok ketika menyangkut kehadiran ibadah, menurut Pendeta John Mayer, direktur eksekutif dari kelompok nirlaba City Vision, yang melacak data keagamaan untuk daerah metro.
Katolik memiliki jumlah rata-rata keseluruhan hadirin di daerah metro dengan 278.226 orang. Muslim menempati urutan kedua dengan jumlah 150.000 jamaah, Mayer melaporkan. Gereja independen adalah yang ketiga dengan 93.394 orang jamaah. Gereja Lutheran Evangelis di Amerika menempati posisi keempat dengan 86.305 orang.
Jumlah tersebut nampak berbeda jika kehadiran tersebut tidak berlipat ganda. Pada tingkatan negara bagian, sebuah studi Pew Forum tentang Agama dan Kehidupan Publik pada tahun 2008 menemukan bahwa 32 persen dari warga Minnesota adalah Protestan, 28 persen adalah Katolik, 21 persen adalah Protestan Evangeli. Satu persen adalah Yahudi, Muslim, Budha dan tradisi Protestan kulit hitam, dengan jumlah yang lebih kecil untuk agama lainnya. Tiga belas persen tidak beragama.
Mayer mengatakan bahwa populasi Muslim di Twin Cities mulai meningkat selama tahun 1990-an, ketika para pengungsi dari Somalia dan negara Afrika lainnya tiba. Pada tahun 1995, sedikitnya ada empat Masjid dan sekitar 20.000 Muslim di daerah metro, Mayer mengatakan. Sekarang ia memperkirakan ada 118 Masjid, pusat komunitas dan tempat penting lainnya di mana layanan ibadah diadakan.
Twin Cities menarik bagi para pengungsi karena kota terebut memiliki enam agen transmigrasi, Mayer mengatakan. Agen tersebut membantu para pengungsi menemukan perumahan, pekerjaan dan kebutuhan lainnya di daerah baru mereka.
"Bagian darinya adalah kebudayaan 'Minnesota yang Baik' yang mendukungnya," Mayer mengatakan. "Orang-orang lebih banyak yang menjadi relawan. Anda juga memiliki pekerjaan di sini, sebuah sistem pendidikan yang bagus."
"Di atas permukaan, sangat menyambut dengan baik, namun ada rasisme tersembunyi, di balik semacam rasisme atau antagonisme kulit hitam," ia mengatakan. "Namun terkadang lebih mudah untuk menavigasi hal tersebut dari pada rasisme terbuka. Beberapa tempat tidak menyambut dengan baik sama sekali, jadi sulit untuk memulai lagi. Di sini, Anda dapat sedikitnya memulai."
Ada insiden kejahatan berlatar belakang kebencian yang terisolasi terhadap Muslim di sini dalam satu dekade terakhir: Pembakaran disengaja di sebuah Masjid di selatan Minneapolis, pesan-pesan kebencian yang dikirim lewat fax ke sekolah Islam Al-Amal di Friedley, sebuah bom asap di luar sebuah Masjid di Colombia Heights.
Namun lebih banyak orang di sini menjadi terdidik tentang Muslim, kata Saroya dari CAIR-MN, dan Muslim menjadi lebih terlibat di dalam kehidupan sipil. Beberapa telah mencalonkan diri dalam parlemen, terdorong oleh kesuksesan Keith Ellison, Muslim pertama yang terpilih untuk Kongres. Hussein Samatar memenangkan sebuah kursi di dewan sekolah Minneapolis musim gugur lalu. (ppt/str) www.suaramedia.com