Tak Mampu Saingi Taliban, AS Cari Senjata Baru

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Militer AS kini tengah mempertimbangkan untuk mencari senapan yang baru setelah bertahun-tahun efektivitas senapan M4 yang telah dipergunakan sejak 1990-an diperdebatkan. "Apa tidak ada alternatif lain yang lebih baik dari M4 di luar sana? Mari kita cari tahu," kata Brigadir Jenderal Peter Fuller mengenai draf permohonan penggantian senjata.
Senapan M4, dan juga M16, pertama diperkenalkan dalam Perang Vietnam. Keduanya berasal dari senapan AR-15 dan dibuat oleh Colt Defense dari West Harford, Connecticut. Tapi, dalam beberapa tahun terakhir M4 menjadi bagian dari perdebatan sengit mengenai senapan, khususnya jenis senapan yang dipergunakan di Afghanistan. Para pengkritik mempertanyakan kemudahan pemeliharaan senjata dan, mungkin yang lebih penting, seberapa mematikannya senjata itu.
Sejumlah studi yang disponsori pemerintah melahirkan tanda tanya mengenai M4. Laporan-laporan media menegaskan kembali keluhan-keluhan para prajurit mengenai senjata tersebut.
Berita yang diangkat Fox News tahun lalu berjudul M4 Vs AK-47: Apakah Senjata Militer AS Kalah di Afghanistan? menyiratkan bahwa peluru kaliber 5,56 mm M4 tidak semematikan senjata yang dipakai Taliban, AK-47, yang menggunakan peluru 7,62 mm.
Militer mengatakan bahwa sebagian permasalahan terkait M4 bisa diatasi dengan melakukan peningkatan kualitas senapan, tapi munculnya keputusan untuk mencari senapa pengganti menandakan bahwa militer akhirnya sepakat dengan seruan untuk mencari senjata baru. Akan tetapi, senapan baru baru akan didatangkan dalam waktu beberapa tahun lagi.
Sementara itu, Angkatan Darat AS terus melakukan perbaikan kualitas senapan dan bereksperimen dengan senjata baru, seperti senapan XM25 pelontar granat yang tidak akan dijadikan pengganti M4 namun bisa menjadi kekuatan tambahan. Angkatan Darat AS juga tengah menguji coba senapan XM25 di Afghanistan.
Dua unit militer diberikan prototipe senjata yang mampu menghitung jarak menuju sasaran dan memungkinkannya menembus penghalang.
Meski saat ini baru ada lima prototipe senapan, Angkatan Darat AS tengah mempertimbangkan untuk membuat 36 lagi.
Para prajurit yang sudah mencoba senapan itu kabarnya menjuluki senjata itu "Sang Penghancur" karena punya kemampuan menembus pelindung dan menghancurkan apa pun di belakangnya.
"XM25 menghadirkan perbedaan saat dipergunakan dalam baku tembak selama 15 hingga 20 menit (dan) menembak secara acak atau pertempuran sebenarnya berakhir setelah menggunakan XM25," kata Sersan Dua Carlos Smith. "Itu karena kemampuan XM25 untuk menembak melewati target dan di belakang target."
XM25 memungkinkan para prajurit menghadapi target yang bertahan, yakni yang berada di belakang pelindung. XM25 mengukur jarak menuju pelindung musuh dan kemudian dapat memprogram peluru yang disesuaikan untuk menembusnya, hal itu memungkinkan para prajurit menembak tepat di atas kepala musuh di dalam area yang terlindungi.
Peluru yang ditembakkan mampu mengukur jarak tempuhnya dengan menghitung rotasinya sendiri setelah ditembakkan.
Smith dan Mayor Christopher Conley, asisten manajer produk untuk Program Manager Soldier Weapons di New Jersey adalah bagian dari tim yang menghadirkan senjata-senjata tersebut untuk dipergunakan dalam pertempuran sebenarnya.
Di Afghanistan, secara keseluruhan lima senapan XM25 dipergunakan di dua unit yang terpisah.
"Para prajurit senang membawanya," kata Conley. "Siapa yang membawanya dibatasi pada jumlah prajurit yang kami latih." (dn/ao/ar) www.suaramedia.com