Oleh : Rokhmat S Labib, M.E.I. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (TQS al-Ankabut [29]:4 1).
Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah, siapa pun dia. Orang yang menyadari kelemahan-nya, pastilah akan mencari pihak yang bisa dijadikan sebagai tem¬pat bergantung dan bersandar. Namun jika dia salah menetapkan tempat bergantung, usahanya itu akan sia-sia. Bahkan mengantarkan kepada celaka. Ini seperti yang dialami oleh orang-orang yang menjadikan selain Allah SWT sebagai tempat bergantung, berlindung, dan bersandar. Pasalnya, semua tempat berlindung, bergantung, dan bersandar itu amat lemah dan rapuh. Demikian rapuhnya hingga seperti rumah laba-laba. Rumah yang paling lemah. Inilah yang digambarkan oleh ayat ini.
Bagaikan Rumah Laba-laba
Allah SWT berfirman: Matsal al-ladziina [i]ttakhadzuu min duunul-Laah awliyaa' (perumpamaan orang-orang yang mengarnbil pelindung-pelindung selain Allah). Kandungan ayat ini memiliki kaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya. Dalam ayat-ayat tersebut diberitakan tentang berbagai peristiwa yang menim¬pa berbagai kaum yang mendustakan Allah SWT, utusan, dan risalah yang dibawa.
Di antara yang diberitakan adalah pengingkaran dan pembangkangan kaum Luth. Tak hanya itu, mereka mengerjakan perbuatan yang amat keji dan menjijikkan, yakni mendatangi sesama laki-laki, menyamun, dan mengadakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuan. Ketika diingatkan, mereka justru menantang didatangkan azab. Akhirnya, mereka pun dihancurkan dengan. azab (lihat ayat 28-35).
Diberitakan pula penduduk Madyan. Meskipun telah diseru oleh Syu'aib agar hanya menyembah kepada Allah SWT, mereka justru mendustakannya. Akibatnya, mereka pun diazab dengan gempa yang amat dahsyat. Akhirnya mereka tewas bergelimpangan di rumah-rumah mereka (lihat ayat 36-37).
Pun demikian dengan kaum 'Ad dan kaum Tsamud. Mereka harus menerima azab yang mengerikan. Setan berhasil menipu mereka dengan memandang baik perbuatan jahat yang mereka lakukan dan bisa menghalangi mereka dari jalan Allah SWT (lihat ayat 38).
Peristiwa tak jauh berbeda juga dialami Qarun, Fir'aun, dan Haman. Nabi Musa telah datang kepada mereka dengan membawa bukti dan keterangan yang nyata. Akan tetapi, mereka justru berlaku sombong. Akhirnya, mereka pun tak lupus dari azab-Nya (39).
Semua kaum ingkar tersebut harus menerima azab dariNya. Di antara mereka ada yang ditimpa dengan hujan batu kerikil, suara keras yang mengguntur, dibenamkan ke dalam bumi, dan ditenggelamkan. Dahsyatnya azab itu bukan karena Allah SWT menganiaya mereka. Akan tetapi mereka sendirilah yang menganiaya yang menyebabkannya (lihat ayat 40).
Kemudian ayat ini menegaskan betapa rapuh dan lemahnya keadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan selain Allah SWT sebagai awliyaa'. Kata awliyaa' merupakan bentuk jamak dari kata waliyy. Menurut al-Shabuni, pengertian al-waliyy secara bahasa adalah al naashir wa al-mu'iin (penolong dan pembantu).
Digunakannya al-ism al-mawshuul menunjukkan pengertian yang mencakup seluruh kaum musyrik yang menyembah selain Allah SWT. Sebagaimana diterangkan al-Syaukani, Waliyy yang dijadikan sebagai tempat bersandar bisa berupa makhluk hidup maupun benda mati, masih hidup atau sudah mati. Mereka yang menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan berharap mendapatkan pertolongan, rezeki dan manfaat. Akan tetapi, semua harapan mereka itu buyar. Sebab, sesembahan dan semua yang mereka serahi wa1a' tidak bisa memberikan apa pun. Bahkan keadaan mereka amat rapuh dan lemah.
Allah SWT berfirman: Kamatsal al-‘ankabuut [i]ttakhadzat bayt[an] (adalah seperti laba-laba yang membuat rumah). Orang yang menjadikan selain Allah SWT sebagai waliyy-nya itu dium¬pamakan seperti al-'ankabuut (laba-laba). Binatang kecil yang lemah. Sementara semua sesembahan, pelindung, dan penolong selain Allah SWT tak kalah lemah¬nya, bagaikan rumah yang dibuat laba-laba. Meskipun kelihatan lebar dan tertata rapi bagaikan jaring-jaring yang bisa menjerat siapa pun yang berupaya menembusnya, sesungguhnya rumah itu sangat rapuh dan lemah.
lbnu Zaid, sebagaimana disitir al-Thabari, menuturkan bahwa perumpamaan ini memberikan pemahaman bahwa awliyaa' mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka. Al Samarqandi juga menyatakan, rumah laba-laba itu tidak bisa melindungi pemiliknya dari panas, dingin, dan hujan. Demikian pula dengan semua sesembahan mereka. Sama sekali tidak bisa melindungi mereka dari marabahaya dan tidak memberikan manfaat sedikit pun.
Sangat Rapuh
Gambaran dari perumpaan tersebut sesungguhnya sudah sangat jelas. Yakni betapa lemah dan rapuhnya semua sesembah¬an selain Allah SWT. Gambaran itu kian jelas dengan penegasan frase sesudahnya: Inna ahwan al buyuut labayt al-'ankabuut (dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba). Kata ahwana merupakan ism al-tafdhiil dari kata wahana atau wahuna yang berarti lemah. Sehingga pengertian ahwana adalah adh'afa (yang paling lemah).
Ditegaskan dalam ayat ini, sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. Di samping terdapat huruf inna yang berguna li al-tawkid (untuk mengukuhkan), juga ada al-laam al-muzahlaqah yang memberikan makna yang sama, li tawkiid. Sehingga frase itu menegaskan, sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah benar-benar rumah laba-laba.
Dengan demikian, frase ini kian mengukuhkan betapa lemahnya semua sesembahan selain Allah SWT. Pula, semua pelindung, penolong, dan yang dijadikan sebagai tempat bersandar dan bergantung selain-Nya. Allah SWT berfirman: Katakanlah: "Mengapa kamu menyem¬bah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudhorat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?" (TQS al-¬Maidah [5]: 76).
Kemudian Allah SWT berfir¬man: law kaanuu ya'maluun (kalau mereka mengetahui). Dijelaskan al-Jazairi, frase ini memberikan pengertian bahwa seandainya kaum musyrik itu mengetahui bahwa keadaan mereka dalam menyembah selain Allah SWT itu tidak ada manfaatnya, sebagaimana keadaan laba-laba terhadap rumahnya rapuh, maka mereka tidak ridha menyembah selain Allah SWT dan tidak beribadah kepada-Nya. Dzat yang segala sesuatu ada digeng¬gaman-Nya, dan kepada-Nya kembali.
Tampaknya, realitas inilah yang tidak disadari oleh para penguasa. Juga para kroni dan pendukungnya menyerahkan wala' (loyalitasnya kepada mereka). Dengan kekuatan yang dimiliki, seolah mereka kekuatan besar yang tidak bisa dikalahkan atau ditumbangkan. Akibatnya, mereka pun dengan mudah berbuat dzalim dan sewenang-wenang. Lebih dari itu, mereka mentahbiskan diri mereka laksana tuhan yang harus ditaati melebihi ketaatan kepada Allah SWT.
Padahal, sesungguhnya mereka amat lemah dan rapuh. Bagaikan rumah laba-laba yang sekali libas, langsung rontok berkeping-keping. Maka sungguh menyesal, orang-orang yang menjadikan mereka sebagai sandaran dan tempat bergantung. Allah SWT berfirman: Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah (TQS al-Nisa' [4]: 138). Masih ada yang tertarik menyerahkan wala'-nya kepada rezim thagut yang menerapkan hukum thaghut?
Post a Comment