KAIRO (Berita SuaraMedia) – Rakyat Meisr kembali memenuhi jalanan kota-kota besar dan menolak untuk mundur dari kampanye mereka untuk menggulingkan Presiden Hosni Mubarak. Dalam penunjukan kekuatan, pemrotes Mesir bergerak ke Kementerian Dalam Negeri dan Parlemen di Kairo pusat dan mengepung kedua bangunan itu untuk beberapa waktu sebelum kembali ke Alun-alun Tahrir.
Di ibukota Kairo, puluhan ribu orang masih berkemah di Alun-alun Tahrir.
Para pemrotes mengecam pembicaraan antara Wakil Presiden Omar Suleiman dan beberapa kelompok oposisi.
Kota terbesar kedua Mesir, Alexandria, juga menjadi lokasi unjuk rasa menentang rezim. Banyak pemrotes yang marah terhadap sikap AS atas pemberontakan di negara mereka.
Ribuan pekerja melakukan mogok di kota Suez dan Ismailia.
Protes berlanjut untuk hari ke-15 terlepas dari janji pemerintah akan reformasi konstitusional dan sebuah tawaran kenaikan gaji untuk pekerja sektor publik.
"Isu tentang rezim Mesir sangat sederhana. Ia adalah sebuah kleptokrasi. Penguasa para pencuri. Jadi, ada orang-orang korup di dalam rezim yang dipimpin oleh Mubarak sendiri tentunya. Mereka telah merampok negara ini selama puluhan tahun, ujar Ahmed Salah, pendiri Gerakan Kepemudaan 6 April. "Bahkan orang-orang kaya di Mesir pun pro-revolusi. Mereka muak dengan semua korupsi, kebusukan yang telah menginfeksi negara ini. Tentu saja, semua orang miskin menginginkan hak mereka kembali."
Suleiman juga mengumumkan bahwa pemerintah memiliki rencana dan jadwal untuk sebuah transfer kekuasaan damai.
Di jalanan Mesir, orang-orang mengatakan tidak bisa mempercayai pemerintah, terutama setelah apa yang terjadi dalam dua minggu terakhir.
Para pemrotes bersumpah tidak akan goyah terlepas dari bentrokan mematikan yang menewaskan beberapa orang dalam beberapa hari terakhir.
Sentimen anti-Amerika tinggi di kalangan pemrotes yang menganggap Washington bertanggung jawab untuk lamanya Mubarak mencengkeram kekuasaan.
Sementara itu, parlemen Jerman telah setuju untuk mengijinkan Mubarak masuk ke Jerman untuk sebuah pemeriksaan kesehatan menyeluruh.
Legislator dari koalisi penguasa Kanselir Angela Merkel dan mitra mereka Demokrat Bebas menyambut ide untuk memberikan Mubarak apa yang mereka sebut sebagai pelepasan kekuasaan yang tidak memalukan.
Tapi kelompok HAM London Amnesty International mengecam keras tawaran mengungsi dari Berlin itu, mengatakan bahwa Mubarak harus diadili atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya. (rin/ptv) www.suaramedia.com

Post a Comment