"Islam lebih dari sekedar agama. Ia adalah teladan masyarakat yang mengikat bagi banyak orang," ujarnya.
"Ia pada dasarnya adalah sebuah sistem politik dengan sistem hukumnya sendiri yang berusaha untuk mengatur segala aspek kehidupan. Kita mengkritik komponen sosiopolitik Islam, yang saya lihat sebagai sebuah idelogi yang serupa dengan sistem totaliter lain, dan saya rasa itu berbahaya."
Dia menyebut Islam sebagai lawan dari masyarakat bebas dan mengatakan bahwa agama itu menghadirkan ancaman karena berusaha untuk menanamkan nilai-nilai berbeda di Jerman, dan karena ia mendorong imigran untuk memisahkan diri.
Stadtkewitz, mantan anggota Persatuan Demokrat Kristen (CDU) yang konservatif, mendirikan partainya sendiri, Partai Kebebasan, pada bulan Oktober lalu. Dia dikeluarkan dari kelompok parlemen CDU di kota Berlin karena mengundang Geert Wilders, kritikus Islam Belanda yang kontroversial dan ketua Partai untuk Kebebasan, ke Berlin untuk sebuah konferensi.
Sampai sekarang Jerman tidak memiliki partai anti-Islam populis. Jajak pendapat menyatakan bahwa sebuah partai seperti Partai Kebebasan bisa mendapatkan 20% suara dalam pemilihan umum. Survei terbaru yang dilakukan oleh Berliner Zeitung, sebuah koran lokal, menunjukkan sebanyak satu dari empat warga Berlin bisa dibayangkan untuk memilih partai itu.
Stadtkewitz dan pendukungnya mencerminkan sentimen yang berkembang di Eropa.
Stadtkewitz mengatakan partainya sekarang memiliki 1.400 anggota dan tengah mempersiapkan cabang-cabang regional di seluruh Jerman. Partai itu berencana untuk ikut bersaing dalam pemilihan pertamanya di bulan September ketika Berlin memilih untuk walikota dan parlemen kota yang baru. Stadtkewitz mengatakan bahwa tujuannya adalah mencapai 5% threshold yang dibutuhkan untuk mendapatkan kursi di dalam majelis. "Jika berjalan lancar, kami akan siap untuk pemilihan umum di tahun 2013," ujarnya.
Dia menginginkan penghentian sementara imigrasi dan mendukung pengenalan referendum ala Swiss di Jerman. Dia mengatakan tidak akan menghalangi pemungutan suara publik tentang larangan pembangunan menara Masjid, seperti yang dilakukan Swiss tahun 2009, meskipun dia melihat langkah tersebut hanya menyentuh permukaan masalah. (rin/nt) www.suaramedia.com

Post a Comment