OKLAHOMA (Berita SuaraMedia) – Seorang imam kota Oklahoma, AS, menambah jadwal sholat Jumatnya karena pertumbuhan populasi Muslim setempat. Itulah mengapa Imad Enchassi, imam dan presiden Islamic Society of Greater Oklahoma City, mengatakan dirinya tidak terkejut dengan laporan baru-baru ini yang memprediksi bahwa populasi Muslim AS akan berlipat ganda dalam 20 tahun ke depan.
Dia mengatakan sholat Jumat telah berlangsung begitu padat di Masjid Islamic Society hingga dua jadwal tambahan diadakan di sekolah Islam yang baru saja dibuka.
"Kita bisa merasakan pertumbuhan kaum Muslim di Oklahoma," ujar Enchassi.
Pew Forum on Religion and Public Life merilis laporannya, "Masa Depan Populasi Muslim Global," pada tanggal 27 Januari. Laporan itu mengatakan meningkatnya populasi Muslim dipicu oleh imigrasi dan tingkat kesuburan yang lebih tinggi daripada rata-rata.
Menurut laporan, jumlah kaum Muslim di AS diproyeksikan akan meningkat dari 2.6 juta, atau 0.8% dari total populasi AS, menjadi 6.2 juta, atau 1.7%, di tahun 2030.
Tingkat pertumbuhan itu membuat kaum Muslim sebanyak Yahudi atau Episkopalian di AS hari ini, ujar laporan tersebut.
Laporan itu muncul ketika beberapa kritikus menuduh Muslim Amerika berusaha menegakkan Syariah di AS, dan beberapa orang Eropa mengangkat momok Eurasia yang didominasi kaum Muslim jika negara-negara tidak memperketat imigrasi.
Di Oklahoma, mayoritas pemilih menyetujui sebuah amandemen konstitusional yang melarang penggunaan Syariah atau hukum internasional. Seorang hakim federal memberlakukan perintah larangan sementara setelah seorang Muslim mengajukan gugatan hukum yang mengatakan bahwa amandemen itu tidak konstitusional.
Meski demikian, penulis laporan Pew mengatakan ketakutan terhadap kaum Muslim yang mengambil alih masyarakat Barat atau dominasi global kaum Muslim telah dibesar-besarkan.
"Jumlahnya sangat jauh dari skenario Eurasia tentang pertumbuhan yang begitu mudah," ujar Alan Cooperman, salah satu penulis laporan.
Meskipun populasi Muslim di beberapa negara Barat diharapkan akan meningkat dua kali lipat dalam 20 tahun ke depan, mereka masih tidak akan cukup banyak untuk secara fundamental menggeser keseimbangan etnis atau relijius dari masyarakat Eropa.
Bahkan beberapa konservatif mengungkapkan skeptisisme terhadap ide fundamentalisme Islam dalam negeri yang mengancam akan mengambil alih AS.
"Kami menerima semua Muslim di sini yang bersumpah setia pada Konstitusi dan percaya pada pemisahan agama dan negara," ujar Pendeta Richard Land, presiden Komisi Etis dan Kebebasan Konvensi Baptis Selatan. "Aku tidak takut tentang Syariah yang akan mengambil alih, karena Amerika tidak akan membiarkan itu terjadi." (rin/nk) www.suaramedia.com

Post a Comment