Islam di Tatarstan Pusat Kebudayaan Islam di Negeri Beruang Merah



Oleh Muhamad Zainun Najib

Nuansa keislaman di Kota Kazan-ibu kota Tatarstan-terasa begitu kental.



Di tengah hujan salju yang mengguyur pada Februari ini, saya menemukan jejak suara Allah SWT di salah satu negara federasi Rusia bernama Tatarstan. Republik Tatarstan adalah salah satu negara federasi Rusia yang terletak 799 km di sebelah tenggara Moskow-ibu kota Rusia.

Tatarstan dikenal sebagai pusat kebudayaan Islam di negeri Beruang Merah, Rusia, selain Dagestan. Tatarstan dihuni oleh sekitar dua juta etnis Tatar (etnis asli Tatarstan) dan sekitar satu juta etnis Rusia. Negara ini menggunakan dua bahasa, Rusia dan Tatar.

Bahasa Tatar bisa dibilang sebagai peranakan dari bahasa Turki. Yang dalam literaturnya, kemudian banyak ditemukan kesamaan kata dengan bahasa Arab. Seperti kata Khal (dalam bahasa Arab berarti keadaan), sagadah (dari bahasa arab sa'adah yang berarti kebahagiaan), waqt (waktu), serta masih banyak lagi.

Tulisan kuno bangsa Tatarstan menggunakan huruf Arab. Di Indonesia dikenal dengan sebutan Arab Pegon (Arab Jawa yang diajarkan di pesantren-pesantren). Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah mengenal Islam sejak lama. Kemudian, abjad tersebut diubah ke huruf cyrlic (abjad Rusia) pada masa kekuasaan Uni Soviet.

Ibu kota Tatarstan adalah Kazan. Di kota ini nuansa keislamannya sangat kental. Tidak pernah terbayang sebelumnya jika Kazan adalah salah satu kota besar yang berada di Rusia. Di kota ini, banyak kendaraan umum seperti bis dan taksi yang menempelkan kaligrafi atau simbol-simbol keislaman lainnya.

Di Kota Kazan, juga terdapat banyak masjid. Jarak dari satu masjid ke masjid lainnya tidaklah berjauhan sehingga kita bisa melihat satu menara ke menara lainnya. Di jantung kota ini, juga terdapat banyak kafe yang menyediakan makanan halal. Jadi, bagi Muslim, tidak perlu khawatir untuk mencari makanan yang halal dan aman dikonsumsi.

Bisa pastikan, di samping setiap masjid terdapat restoran halal. Toko-toko busana atau kios-kios Muslim juga ikut menambah nuansa kesejukan salah satu ibu kota negara federasi Rusia itu.

Keistimewaannya lagi, di Kazan, terdapat banyak madrasah atau lembaga pendidikan Islam. Salah satunya, Rossiski Islamski Universitet (RIU) atau Universitas Islam Rusia. Universitas itu memiliki asrama. Mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi itu mayoritas berasal dari  berbagai penjuru negara federasi. Selain itu, ada pula yang berasal dari Turki, Uzbekistan, Tajikistan, dan negara-negara sekitarnya.

Saya sempat berkenalan dengan salah seorang dosen di RIU. Secara terus terang, ia mengatakan sangat bangga dengan Indonesia. Dan memang, RIU sudah menjalin MoU dengan beberapa universitas Islam di Indonesia. Pada tahun ini, ada 10 mahasiswa lulusan RIU mengambil program pascasarjana di Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur.

Madrasah Muhammadiyah

Dari stasiun Kazan, sekitar setengah kilometer ke arah selatan, berdiri Masjid Sulthon. Selanjutnya, 500 meter lagi terdapat Madrasah Muhammadiyah. Madrasah itu didirikan pada 1882 oleh seorang ulama terkemuka di Tatarstan bernama Muhammadjon Galiyev. Sebagai penghormatan kepada sang ulama, madrasah ini kemudian diberi nama Muhammadiyah diambil dari nama pendirinya "Muhammadjon".

Sistem yang dipakai dalam madrasah ini adalah sistem pesantren. Mempunyai asrama lengkap dengan kantin yang ada di bagian depan bangunan madrasah. Selain mempunyai kalender kegiatan belajar mengajar harian, madrasah itu juga mempunyai agenda pesantren kilat pada setiap liburan semester, musim dingin, dan musim panas.

Menurut salah satu guru di Madrasah Muhammadiyah, Zulfat Gabdullin Hazarat, setiap liburan, ketika santri-santri pulang ke rumah masing-masing, datanglah murid-murid santri kilat dari seluruh penjuru negara federasi Rusia. Kebanyakan dari mereka sudah berumur separuh baya.

Di kota ini, juga terdapat megaproyek, Masjid Kul Sharif yang terletak di dalam Kremlin Kazan (benteng kazan). Diresmikan pada 2005. Masjid ini juga menjadi salah satu masjid terbesar di Eropa.

Kehidupan Muslim di Pedalaman

Sekitar 137 kilometer dari ibu kota Tatarstan, terdapat sebuah kota kecil bernama Bua (Buinsk).  Seperti lazimnya kota kecil yang lain, Bua sangatlah sepi. Transportasi di kota ini pun jarang kita temui. Jika ingin bepergian ke suatu tempat, kita bisa naik taksi (ojek mobil).

Di pusat kota kecil itu, terdapat tiga masjid besar. Di antaranya Masjid Nuriya, salah satu masjid tertua yang ada di Kota Bua, umurnya sudah 205 tahun. Masjid itu dibangun pada 1805 M oleh Gabdulvalib bin Gabdurrahman al-buavi. Sekarang, selain sebagai masjid dan madrasah, masjid ini juga menjadi playgroup.

Di desa itu pun juga terdapat toko-toko yang menjual makanan halal. Biasanya, di pintu masuk toko, mereka akan menuliskan kata "Halal", baik dalam huruf Arab maupun Rusia. Penulisan kata halal di pintu ataupun tembok bagian luar dari sebuah toko sangatlah penting. Hal ini untuk memberitahukan kepada masyarakat karena suplai daging yang cocok untuk Muslim sangatlah jarang. ed; heri ruslan,


*penulis adalah mahasiswa S2 Filsafat, Uralski Gosudartvenni Universitet, Ural, Sverdlovskaya Oblast, Rusia.



Tradisi Muslim Tatarstan

Oleh Muhamad Zainun Najib

Masyarakat Muslim Tatarstan yang tinggal di perkotaan serta pedesaan masih memegang tradisi-tradisi Islam dengan kuat. Contoh sederhana, jika bertemu dengan seseorang di mana pun (di masjid ataupun ketika bertamu), setelah salaman, tradisi mereka akan mengangkat tangan, berdoa semoga pertemuan itu penuh berkah. Begitu juga ketika hendak berpisah.

Di kota kecil Bua, misalnya, majelis taklim juga masih rutin diadakan. Biasanya diadakan sehabis shalat Isya dan setiap malam Jumat digelar pengajian pekanan. Setelah majelis selesai, jamaah beramah-tamah sambil menikmati teh panas.

Tradisi "mengazani" jabang bayi juga tetap bertahan. Namun, sang muazin bukanlah ayah, ibu kandung, atau orang yang mempunyai hubungan darah dengan sang bayi, tapi seorang "Hazarat" atau ustaz jika di Indonesia. Karena di sini tidak semua bisa azan.

Tradisi "tasyakuran" juga terdapat pada masyarakat Muslim Tatarstan. Jika seseorang mendapatkan nikmat atau menggelar peringatan tertentu, sohibul hajat akan mengundang beberapa kerabat atau tetangga dekat. Di dalam majelis tersebut akan dibacakan ayat-ayat Alquran.

Selanjutnya, seorang hazarat akan menyampaikan mau'idzoh hasanah (ceramah) sekitar tiga puluh menit. Di pengujung majelis, kembali dibacakan ayat-ayat Alquran kemudian ditutup dengan pembacaan doa.

Setelah hazarat selesai membaca doa, para tamu undangan akan saling membagikan sedekah secara bergantian. Sedekah ada yang berbentuk uang, sabun, teh, dan sapu tangan yang dipandang berguna.

Ketika saya menghadiri undangan tasyakuran ulang tahun pernikahan kakek teman saya yang ke-50, salah satu tamu undangan bertanya, "Apakah di Indonesia juga ada tradisi syukuran seperti ini?" Saya pun  menjawab, "Ada." Kemudian saya menambahkan, tradisi syukuran biasanya kami selenggarakan jika mendapatkan sesuatu, seperti lulus ujian, pernikahan, panen, dan lain-lain.

Sisi lain dari kehidupan Muslim di Rusia, banyak mengaku tidak bisa shalat, tidak bisa mengaji, tidak puasa Ramadhan, tapi mereka tidak minum arak dan tidak zina. Mereka tetap bangga mengaku sebagai Muslim. Dan mereka tahu, bahwa agama Islam melarang perbuatan tercela seperti mabuk, zina, dan perbuatan tak terpuji lainnya.

Sejarah memang membuat mereka seperti itu. Allah Maha Mengetahui. Mereka bercerita dahulu kakek-nenek mereka melindungi Alquran di antara lipatan baju agar tidak diketahui jika ada pemeriksaan. Sebelum tidur, ketika masih kecil, para orang tua hanya mengajarkan syahadat dan bismillah.

Mereka tidak bisa shalat karena memang tidak ada yang mengajarkan, ulama, dan Muslimin dibantai. Keimanan mereka cukup dengan kesaksian bahwa mereka adalah Muslim. Ya, pelaku sejarah pernah berusaha melenyapkan agama Allah dari muka bumi ini.

Uni soviet selama 74 tahun (1917-1991), berusaha membungkam suara-suara takbir di bumi  Allah bagian utara itu. Namun, malaikat-Nya lebih kuat, mereka mampu bertahan sampai sekarang.