APBN Jebol Bukan Isapan Jempol


Headline

INILAH.COM, Jakarta - Asumsi harga minyak US$80 per barel dalam APBN 2011, dinilai tak lagi realistis mengingat harga rata-rata ICP di kisaran US$86-90 per barel. Jika tak diubah, APBN jebol bukan isapan jempol.
Pengamat energi Pri Agung Rakhmanto mengatakan, asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) di level US$80 per barel dalam APBN 2011 harus diubah. Sebab, level tersebut sudah tak lagi realistis. Menurutnya, angka rata-rata harga minyak yang paling realistis di 2011 adalah US$86-90 per barel.
Dalam perhitungan Pri Agung, setiap kenaikan US$1 per barel di atas asumsi APBN, terjadi tambahan defisit sebesar Rp0,8 triliun atau Rp800 miliar. Jika saat ini rata-rata harga ICP di level US$97 per barel, artinya sudah US$17 per barel di atas asumsi.
“Karena itu, US$17 dikali Rp800 miliar sama dengan Rp13,6 Triliun. Artinya, APBN jebol di kisaran Rp13,6 triliun,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (24/2). Apalagi, harga minyak jenis Brent sudah tembus US$112 per berel dan West Texas Intermediate (WTI) di level US$99,03 per barel.
Dia memperkirakan, kalau hanya Libya yang bergejolak, harga minyak berpeluang terdongkrak ke level US$110-115 per barel. “Tapi, jika gejolak tersebut merembet ke Afrika Utara dan Timur Tengah yang lain, akan membuat harga minyak semakin tak terkendali,” tandas Pri Agung.
Apalagi, lanjutnya, jika Arab Saudi atau Iran turut bergejolak sehingga berapa potensi kenaikan harga minyak sudah sangat sulit dihitung. Kenaikan harga minyak ke level US$120-130 berpeluang terjadi dalam hitungan pekan. “Jika semata memperhitungkan faktor fundamental dan melepaskan faktor geopolitik, harga minyak masih di level US$86-88 per barel,” ungkapnya.
Karena itu, kata Pri Agung, asumsi harga minyak dalam APBN 2011 harus segera diubah. “Jangan mengatakan, asumsi di level US$80 masih aman,” tandasnya. Saat ini, sudah tidak ada hitungan yang menunjukkan keseimbangan harga ICP di level US$80 per barel. Keseimbangannya sudah di level US$86-90 per barel di 2011.
Pelarangan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi bagi mobil pelat hitam jika saja diberlakukan awal April, tidak akan banyak membantu penghematan APBN. “Kebijakan itu hanya menghemat Rp3 triliun. Angka ini akan habis untuk nombok listing minyak yang tidak tercapai,” tuturnya.
Saat ini, lanjutnya, APBN sudah jebol. Tapi, pemerintah menggunakan dana yang ada di kas terlebih dahulu. “Misalnya, anggaran Oktober, dibelanjakan untuk menutupi defisit Februari ini. Tapi, pemerintah tidak selamanya bisa melakukan hal itu,” ungkapnya.
Selain perubahan asumsi APBN, lebih jauh Pri mengatakan, kuota BBM bersubsidi juga harus ditambah. “Tujuannya, untuk mengkonvensasi mundurnya kebijakan pelarangan BBM bersubsidi bagi mobil pelat hitam,” tandas Pri Agung.
Dihubungi terpisah, Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo mengatakan, tingginya harga minyak sebagian besar disumbang gejolak politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Tapi, di luar faktor geo-politik pun, harga minyak sudah terkerek naik jauh di atas asumsi APBN di level US$80 per barel.
Kenaikan tersebut, tuturnya, dipicu faktor fundamental seperti pemulihan ekonomi global seperti Asia yang sangat membutuhkan energi dan disusul AS. Apalagi, suplai minyak yang terbatas di 2011 dari produsen minyak non-OPEC terutama dari AS. “Tambahan produksi hanya terjadi dari China dan Brazil,” urai Bambang.
Karena itu, kalaupun faktor politik di Timur Tengah dan Afrika Utara mereda, kenaikan harga minyak akan terjadi. Meski begitu, dia memperkirakan, harga minyak mentah dunia tidak akan mencapai rata-rata US$100 per barel sepanjang 2011.
Menurutnya, Departemen Energi Amerika memperkirakan, harga minyak mentah WTI di level US$93 per barel untuk tahun ini. Angka ini merupakan proyeksi terakhir untuk 2011. “Saya sendiri memberikan kisaran di US$90 per barel. Plus-minus, bisa ke atas, bisa ke bawah,” ucapnya. Tapi, ini berada di atas asumsi APBN US$80 per barel.
Dengan memfaktorkan situasi di Timur Tengah dan Afrika Utara, dia memperkirakan harga minyak bisa mencapai US$100 per barel. Tapi, ini bersifat harian dan bukan harga rata-rata satu tahun.
Di sisi lain, dia juga percaya akan adanya resolusi politik di Timur Tengah dan Afrika utara. “Saya tidak percaya, jika harga minyak bisa mencapai US$250-260 per barel seperti yang diperkirakan para analis di Bloomberg,” imbuhnya.
Sejauh ini, pemerintah belum merencanakan perubahan asumsi harga minyak dalam APBN. Menteri Keuangan Agus Martowardojo masih yakin harga minyak akan kembali turun. Menurutnya, fluktuasi harga minyak yang berlangsung selama satu bulan terakhir memang belum cukup dijadikan alasan untuk mengubah asumsi APBN.
Memang, dilihat dari rata-rata harga ICP selama Januari 2011, mencapai US$97,11 per barel atau US$17,11 di atas patokan APBN. Tapi itu bukan rata-rata satu tahun. Karena itu, perubahan asumsi harga minyak baru akan dilihat setelah Maret. “Saat itu akan terlihat, apakah asumsi harga minyak harus diubah atau dipertahankan,” ucapnya. [mdr]