Showing posts with label mercusuar. Show all posts

4:21 PM


Belajar Tentang Pengukuran Dari Kelvin, dan Islam Sebagai Alat Ukur
Seratusan tahun lalu, hiduplah seorang fisikawan berkebangsaan Inggris, William Thomson Kelvin namanya. Dunia lebih mengenalnya dengan panggilan Lord Kelvin. Beliau menggunakan nama belakangnya sebagai satuan temperatur yang ia temukan. Satuan Kelvin pada akhirnya ditetapkan sebagai standar satuan internasional untuk mengukur suhu pada tahun 1950. Kita ingat setidaknya ada 4 macam jenis termometer dengan satuannya masing-masing. Ada Celcius, Reamur, Fahrenheit, dan yang terakhir Kelvin.

Kenapa termometer harus bermacam-macam? Kenapa tidak satu jenis saja? Ternyata perbedaannya terletak pada masalah ketelitian. Termometer kelvin diakui memiliki tingkat akurasi yang lebih tinggi. Selain itu, ada penemuan berharga kelvin yang diabadikan dalam termometernya. Kelvin menemukan bahwa titik -273,15 derajat celcius adalah suhu terendah yang mungkin terjadi. Pada suhu tersebut seluruh molekul atom tidak dapat bergerak. Pada suhu normal mereka dinamis, jika dipertemukan molekul satu dengan yang lain, dapat dengan mudah terjadi reaksi. Namun pada suhu tersebut ia diam saja. Titik ini kemudian diberi nama nol mutlak atau nol absolut (absolute zero). Kelvin menjadikan titik -273,15 derajat celcius pada titik 0 skala termometernya. Otomatis titik 0 derajat celcius berada pada skala 273,15 derajat kelvin, dan titik 100 derajat celcius ada di titik 373,15 derajat kelvin.
tempscalessmall
Nah, apa yang dikatakan Kelvin? Kelvin pernah mengucapkan kalimat legendaris yang tertulis di banyak handbook fisika, di sekolah-sekolah kita:
“Anda dikatakan telah memahami sesuatu, hanya bila anda dapat mengukurnya, dan mengekspresikannya dalam angka. Bila tidak berarti pengetahuan anda belum lengkap.”
Dalam bahasa yang lain bisa dikatakan, kita dikatakan belum memiliki ilmu tentang sesuatu, sampai kita sudah bisa mengukurnya. Lebih jauh lagi ucapan Kelvin juga bisa ditafsirkan, kalau kita, dan bangsa kita ingin unggul dalam satu bidang, maka kita harus pintar melakukan pengukuran dalam bidang tersebut.

Apa yang diukur? Ya, apa saja.

Segala benda dan materi yang kita lihat di alam semesta ini tak lepas dari ukuran-ukuran. Celcius adalah ukuran untuk mengukur temperatur ruangan. Meter, digunakan untuk mengukur lebar rumah dan luas halaman. Liter (dm3) untuk mengukur volume cairan. Kilogram untuk mengukur berat. Dan jika kita perhatikan, semua memiliki alat ukurnya masing-masing. Untuk mengukur tinggi lemari, digunakan meteran kayu yang bisa diselipkan di pinggang. Namun bagaimana jika yang ingin diukur adalah tinggi gunung? Perlukah kita mengukur tinggi gunung, dengan cara apa mengukurnya? Apa bisa dengan meteran kayu?

Ketinggian gunung perlu diukur. Kita bisa bayangkan, bagaimana jika pesawat yang sedang melintasi batas utara wilayah DIY dan Jateng tidak mengetahui tinggi gunung Merapi secara pasti? Pastinya sangat beresiko. Pesawat bisa menabrak gunung seperti yang terjadi di Gn.Salak beberapa tahun lalu. Sementara ketika berada diatas, sudah tidak mungkin lagi melihat ke bawah. Gunung memiliki ukuran ketinggian, dan konsep cara mengukurnya berbeda dengan cara mengukur tinggi lemari.
Tanpa satuan desibel kita tidak bisa mendengarkan suara dari speaker seperti sekarang. Tanpa satuan volt, ampere, watt, ohm, dan tesla, kita mungkin masih terselimut gelap karena tiadanya listrik yang menyalakan lampu-lampu. Tanpa satuan Hertz, kita tidak bisa menikmati siaran TV dan Radio. Tanpa satuan informasi : byte, kilobyte, megabyte, gigabyte, terrabyte, jelas kita tak akan berada pada era komputer seperti hari ini.

Pertanyaannya, siapakah yang mengukur dan membuat istilah-istilah ukuran tadi? Apakah orang Bantul? Apakah orang Sunda? Apa ia Indonesia? Jelas bukan. Mereka orang-orang yang jauh tinggal di Jepang, Eropa, Amerika, dan negara-negara yang sekarang kita gelari “maju”. Benarlah yang dikatakan Kelvin. Ia yang maju dalam satu bidang, adalah ia yang pandai membuat pengukuran pada bidang itu.

Sebenarnya pengukuran juga bukan melulu dominasi para saintis. Harus diingat bahwa sifat ukuran juga bisa kualitatif, bukan kuantitatif (dengan angka-angka). Ukuran kualitatif bicara banyak-sedikit, baik buruk, keren-cupu, sopan-amoral, dan sebagainya. Jika kita tarik ke bidang seni dan budaya, budaya bangsa mana yang hari ini menjadi trendsetter dan kiblat dunia? Tak lain dan tak bukan adalah bangsa yang pandai menentukan ukuran keren, gaul, dan modis, untuk kemudian diekspor ke bangsa-bangsa lain yang rendah nilai tawarnya.

ISLAM SEBAGAI ALAT UKUR

Sahabat sekalian, semua yang penulis utarakan diatas terkait dengan sains, iptek dan kebudayaan. Dan jika kita bicara tentang Islam, maka Islam juga punya ukuran-ukuran. Ukuran-ukuran inilah yang menjamin bahwa Islam adalah agama yang dibutuhkan manusia akhir zaman. Ukuran ini juga yang menjamin ketentraman dan kebahagiaan manusia. Ukuran tersebut adalah ukuran tentang amal perbuatan kita.

Seluruh perbuatan manusia termasuk status benda, bisa ditimbang dengan timbangan Islam. Kita mengenal hukum yang lima (ahkamul khomsah), “wajib, sunah, mubah, makruh, haram”. Islam bisa mengukur, apa hukumnya makan? Apa hukumnya makan nasi? Apa hukumnya makan nasi milik tetangga? Apa hukumnya makan nasi milik sendiri jam 12 siang di bulan Ramadhan? Pasti bisa diukur. Apa hukumnya mengorek hidung? Apa hukumnya mengorek hidung saat puasa? Apa hukumnya terkorek hidung? Apa hukumnya mengorek hidung sampai berdarah? Apa hukumnya mengorekkan hidung presiden? Hiii, ga usah dibayangin ya, hukumnya ‘njijiki’. :D

Ternyata segala perbuatan secara mendetil dapat diukur dengan Islam. Begitu juga dengan benda. Bedanya, jika hukum perbuatan ada lima, maka hukum benda hanya ada dua, yakni halal, dan haram.
Ukuran-ukuran inilah yang disebut hukum syara’. Inilah ukuran yang menjadi keunggulan umat Islam yang tidak dimiliki bangsa, dan umat lain di seluruh dunia. Bangsa-bangsa lain di dunia, paling banter hanya memiliki ukuran baik dan buruk untuk perbuatan. Masing-masing dari bangsa tadi juga memiliki padanan kata yang berbeda dalam bahasanya. “Baik” dalam Bahasa Indonesia, adalah good, fine, well, nice, dalam Bahasa Inggris. Apik, sae, becik, dalam Bahasa Jawa. Khoir, atau hasan, dalam Bahasa Arabnya. Sedangkan buruk dalam bahasa Indonesia, sepadan dengan bad (Inggris), elek/olo (Jawa), syarr/qobih (Arab). Ukuran dan istilah baik-buruk, dimiliki banyak bangsa, dengan definisinya masing-masing.

Berbeda dengan istilah Islam untuk kata “haram”. Apa bahasa Jawanya “haram”? Haram. Bahasa Inggrisnya, China-nya, Koreanya? Haram juga. Sama dengan kata halal. Tidak kita temukan, kecuali pasti kembali ke istilah asalnya dalam Bahasa Arab, halal.

Selain itu, ukuran hukum syara’ (lima hukum perbuatan + dua hukum benda) juga terbukti unggul dibanding statusisasi (jadi inget siapa ya (:  ) baik buruk-nya standar buatan bangsa-bangsa. Jika syara’ mengatakan satu hal itu buruk, maka pasti ia akan buruk selamanya. Jika syara’ mengatakan sesuatu itu baik, niscaya ia baik selamanya. Tidak seperti ukuran-ukuran nisbi yang dibuat manusia. “Esuk dele, sore tempe”, adagium bagi orang yang sering berpindah pendirian, karena sadar, apa yang ia anggap baik pada suatu saat, ternyata buruk pada waktu berikutnya. Hukum syara’ menjamin ketentraman seorang mukmin bahwa, pilihan ia dalam berbuat adalah pilihan yang baik bagi dunianya sekaligus akhiratnya.

Keunggulan inilah yang tidak banyak disadari dan dipahami kaum muslimin. Alih-alih dipandang sebagai keunggulan, hukum syara’ justru dipandang sebagai sesuatu yang mengekang dan memasung kebebasan. Sering kita dengar celetukan,

kalau lagi bisnis ngga usah bicara halal dan haram deh. Cari yang haram aja susah, apalagi yang haram. Tau gak? Sekarang itu udah ga ada lagi halal-haram, yang ada ‘HALAM’.” (:

Kalau lagi ngomongin politik, ga usah bawa-bawa agama bro, emangnya Indonesia negara Islam? Ngomong Islam itu di masjid aja kali.

Orang-orang risih kalau kita bicara dikaitkan dengan Islam. Tidak masalah jika mereka bukan muslim. Nyesek itu kalau kita tahu ia muslim, bahkan pernah mondok atau kuliah di kampus Islam. Gelarnya LC, ustadz, atau kiai haji, tapi bicaranya sekulerisasi. Na’udzubillah min dzalik.

***

Umat Islam jauh dari standar dan ukuran yang harusnya mereka pegang dan emban. Padahal hal inilah yang membuat mereka mundur dan jatuh di neraka krisis ekonomi, tidak berwibawa, terbelakang di segala bidang, dan berpuas dengan title ‘negara berkembang’. Kaum muslimin juga tertindas dan terjajah dimana-mana, di Pattani dan Rohingya, Damaskus hingga Jalur Gaza. Disadari atau tidak, semua ini adalah akibat ulah mereka sendiri yang mengabaikan ukuran-ukuran dalam akidahnya.

Dengan ukuran apa para penguasa kita menentukan, gunung emas di Papua harus dikelola mandiri atau diserahkan hak kelolanya pada PT.Freeport McMoran? Apakah ukuran halal dan haram? Tidak. Mereka mengatakan, bangsa kita belum memiliki teknologi yang cukup, sementara untuk belajar teknologi perlu waktu lama. Daripada kelamaan, kita serahkan saja pada tuan Amerika.

Dengan ukuran apa, sistem ekonomi ribawi hingga hari ini terus kita pertahankan? Apakah ukuran halal dan haram? Ukuran manfaat dan mudharat. Toh namanya aja ‘bunga’, kan bagus, bisa turut melumasi perekonomian. Toh semua negara juga pakai sistem riba.

Dengan ukuran apa, sistem politik demokrasi ujug-ujug dikatakan wajib untuk diterapkan di negeri mayoritas muslim ini? Alih-alih mencari kebenaran, kita telah dididik mencari pembenaran dan pembenaran atas kesalahan memilih sistem yang kita lakukan sejak awal.

Saat ini pemilu tengah berlangsung, dan pakar ekonomi telah membuat hitung-hitungan. Jika Indonesia ingin ekonominya lebih maju dan berkembang, mau tidak mau, subsidi harus terus dikurangi sampai benar-benar tercabut. Naiknya harga dasar listrik, BBM, dan harga-harga barang adalah konsekuensi dari pencabutan subsidi ini. Ini yang terjadi, tatkala rakyat bukan lagi dipandang sebagai gembalaan yang dipelihara urusan-urusannya, sebagaimana Islam memandang mereka. Namun rakyat justru dipandang sebagai konsumen dari perusahaan besar bernama negara.
Ini yang terjadi saat hukum syara’, kita abaikan, kita tinggalkan.

Sahabat yang mulia, radhiyallahu ‘anhu, Umar Ibnul Khattab, pernah berpesan kepada kita:
Sesungguhnya, dulu kita adalah kaum yang terhina. Lalu Allah meninggikan kemuliaan kita dengan Islam. Demi Allah, andai saja kita mencari kemuliaan selain darinya (Islam), pastilah Allah akan kembali menghinakan kita.

Masihkah kita mencari kemuliaan dengan ukuran yang kita buat-buat dengan hawa nafsu sendiri? Atau bahkan ukuran yang ditentukan kaum kuffar di barat yang terbukti gagal mengatur dunia ini? Sesungguhnya kemuliaan dan ketinggian hanya ada pada Islam, maka tidak pantas seorang muslim merasa rendah diri, inferior dengan ukuran yang datang dari Rabbnya, seraya berbangga diri dan mengambil ukuran-ukuran selain darinya.

Allah SWT berfirman:
وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran : 139)
Wallahu a’lam bishowab [Ridwan taufik Kurniawan/Sumber]
[www.globalmuslim.web.id]

7:58 PM
Photo: Teknologi Tepat Guna Zaman Khilafah 

Oleh: Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar

Bicara teknologi, sering orang terdikotomi – atau bahkan terpolarisasi – pada pembagian teknologi “tepat guna” dan “teknologi canggih”.  Teknologi tepat guna sering dipahami sebagai teknologi yang menyentuh kehidupan rakyat kecil yang merupakan mayoritas, dan dengan mudah dapat diterapkan untuk menaikkan kualitas hidup.

Sedang teknologi canggih diasosiasikan sebagai teknologi yang eksklusif, hanya mampu digunakan oleh orang-orang kaya, atau yang berpendidikan tinggi.  Penggunaan teknologi canggh juga tidak secara signifikan menaikkan kualitas hidup, kecuali hanya menaikkan gengsi dari penggunanya.  Teknologi tepat guna juga secara umum dapat dibuat sendiri oleh penduduk lokal dengan bahan-bahan lokal, sedang teknologi canggih lebih sering masih harus diimpor.

Karena itu, teknologi tepat guna sering diasosiasikan dengan teknologi untuk mendapatkan air, teknologi meningkatkan produksi pertanian dan peternakan, teknologi energi yang murah, teknologi kesehatan dan obat-obatan dari bahan-bahan yang tersedia dan murah, juga teknologi transportasi yang tidak memerlukan teknologi tinggi.  Teknologi tinggi sering dicontohkan dengan teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi hankam.  Ini tidak menutup mata pada eksistensi teknologi canggih di bidang pangan, energi, kesehatan dan transportasi; atau juga teknologi tepat guna di bidang informasi, komunikasi serta hankam.

Pada masa keemasan peradaban Islam, sebagian besar teknologi yang berkembang berangkat dari kebutuhan mayoritas rakyat.  Karena itu mayoritas teknologi yang ada dapat disebut tepat guna.

Misalnya teknologi pangan.  Di dunia pertanian muncul Al-Asma’i (740-828 M) yang mengabadikan namanya sebagai ahli hewan ternak dengan bukunya, seperti Kitab tentang Hewan Liar, Kitab tentang Kuda, kitab tentang Domba, dan Ābu Ḥanīfah Āḥmad ibn Dawūd Dīnawarī (828-896), sang pendiri ilmu tumbuh-tumbuhan (botani), yang menulis Kitâb al-nabât dan mendeskripsikan sedikitnya 637 tanaman sejak dari “lahir” hingga matinya.  Dia juga mengkaji aplikasi astronomi dan meteorologi untuk pertanian, seperti soal posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai, mata air.  Dia juga mengkaji geografi dalam konteks pertanian, seperti tentang batuan, pasir dan tipe-tipe tanah yang lebih cocok untuk tanaman tertentu.

Pada abad 9/10 M, Abu Bakr Ahmed ibn 'Ali ibn Qays al-Wahsyiyah (sekitar tahun 904 M) menulis Kitab al-falaha al-nabatiya. Kitab ini mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara lain tentang teknik mencari sumber air, menggalinya,  menaikkannya ke atas hingga meningkatkan kualitasnya.  Di Barat teknik ibn al-Wahsyiyah ini disebut “Nabatean Agriculture”.

Para insinyur Muslim merintis berbagai teknologi terkait dengan air, baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi, atau menggunakannya untuk menjalankan mesin giling.  Dengan mesin ini, setiap penggilingan di Baghdad abad 10 sudah mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari.   Pada 1206 al-Jazari menemukan berbagai variasi mesin air yang bekerja otomatis.  Berbagai elemen mesin buatannya ini tetap aktual hingga sekarang, ketika mesin digerakkan dengan uap atau listrik.

Di Andalusia, pada abad-12, Ibn Al-‘Awwam al Ishbili menulis Kitab al-Filaha yang merupakan sintesa semua ilmu pertanian hingga zamannya, termasuk 585 kultur mikrobiologi, 55 di antaranya tentang pohon buah.  Buku ini sangat berpengaruh di Eropa hingga abad-19.

Pada awal abad 13, Abu al-Abbas al-Nabati dari Andalusia mengembangkan metode ilmiah untuk botani, mengantar metode eksperimental dalam menguji, mendeskripsikan, dan mengidentifikasi berbagai materi hidup dan memisahkan laporan observasi yang tidak bisa diverifikasi.

Muridnya Ibnu al-Baitar (wafat 1248) mempublikasikan Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, yang merupakan kompilasi botani terbesar selama berabad-abad.  Kitab itu memuat sedikitnya 1400 tanaman yang berbeda, makanan, dan obat, yang 300 di antaranya penemuannya sendiri.  Ibnu al-Baitar juga meneliti anatomi hewan dan merupakan bapak ilmu kedokteran hewan, sampai-sampai istilah Arab untuk ilmu ini menggunakan namanya.

Ini adalah fakta-fakta yang terkait langsung dengan ilmu pertanian dalam arti sempit.  Namun revolusi pertanian yang sesungguhnya terjadi dengan berbagai penemuan lain yang tergolong teknologi canggih.  Alat-alat untuk memprediksi cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan, teknologi irigasi, pemumpukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan pasca panen, hingga manajemen perusahaan pertanian, semua tergolong canggih pada masanya.  Kombinasi sinergik dari semua teknologi ini selalu menghasilkan akselerasi dan pada moment tertentu cukup besar untuk disebut “revolusi pertanian Muslim”.

Revolusi ini menaikkan panenan hingga 100 persen pada tanah yang sama.  Kaum Muslim mengembangkan pendekatan ilmiah yang berbasis tiga unsur: sistem rotasi tanaman, irigasi yang canggih, dan kajian jenis-jenis tanaman yang cocok dengan tipe tanah, musim, serta jumlah air yang tersedia.  Ini adalah cikal bakal “precission agriculture”, suatu teknologi yang hingga abad-21 tetap terkesan “canggih”, karena memang tidak semua orang mengerti.  Orang merasa lebih mudah memberikan pupuk buatan dan pestisida, karena hasilnya “jelas”, meski dalam jangka panjang justru merugikan petani.

Revolusi ini ditunjang juga dengan berbagai hukum pertanahan Islam, sehingga orang yang memproduktifkan tanah mendapat insentif.  Tanah tidak lagi dimonopoli kaum feodal dan tak ada lagi petani yang merasa dizalimi sehingga malas-malasan mengolah tanah.  Negara juga menyebarkan informasi teknologi pertanian sampai ke para petani di pelosok-pelosok.  Ternyata di samping teknologi tepat guna diperlukan juga “hukum tepat guna” dan “negara tepat guna”.

Karena itu sebenarnya tidak perlu ada dikotomi teknologi tepat guna dan teknologi canggih.  Dilihat dari perspektif abad-21, semua teknologi di zaman keemasan Islam dari abad-10 M sampai abad-19 M terlihat cukup sederhana dan “tepat guna”, walaupun ada juga yang sudah kadaluwarsa. Namun ternyata tetap ada sejumlah teknologi yang terasa “canggih’, bahkan hingga hari ini.  Kuncinya adalah kaidah fiqih: “Apa saja yang mutlak diperlukan untuk memenuhi suatu kewajiban, maka hukumnya wajib pula untuk diadakan.”.  Jadi para ilmuwan Islam tempo dulu tidak terlalu ambil pusing dengan dikotomi canggih atau tepat guna, tetapi apa yang dipandang paling banyak memberi manfaat bagi umat.  Kalau itu memang perlu SDM yang mumpuni, itu sudah menjadi tanggung jawab mereka di “negeri yang juga tepat guna”.

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda.
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================Teknologi Tepat Guna Zaman Khilafah

Oleh: Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar

Bicara teknologi, sering orang terdikotomi – atau bahkan terpolarisasi – pada pembagian teknologi “tepat guna” dan “teknologi canggih”. Teknologi tepat guna sering dipahami sebagai teknologi yang menyentuh kehidupan rakyat kecil yang merupakan mayoritas, dan dengan mudah dapat diterapkan untuk menaikkan kualitas hidup.

Sedang teknologi canggih diasosiasikan sebagai teknologi yang eksklusif, hanya mampu digunakan oleh orang-orang kaya, atau yang berpendidikan tinggi. Penggunaan teknologi canggh juga tidak secara signifikan menaikkan kualitas hidup, kecuali hanya menaikkan gengsi dari penggunanya. Teknologi tepat guna juga secara umum dapat dibuat sendiri oleh penduduk lokal dengan bahan-bahan lokal, sedang teknologi canggih lebih sering masih harus diimpor.

Karena itu, teknologi tepat guna sering diasosiasikan dengan teknologi untuk mendapatkan air, teknologi meningkatkan produksi pertanian dan peternakan, teknologi energi yang murah, teknologi kesehatan dan obat-obatan dari bahan-bahan yang tersedia dan murah, juga teknologi transportasi yang tidak memerlukan teknologi tinggi. Teknologi tinggi sering dicontohkan dengan teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi hankam. Ini tidak menutup mata pada eksistensi teknologi canggih di bidang pangan, energi, kesehatan dan transportasi; atau juga teknologi tepat guna di bidang informasi, komunikasi serta hankam.

Pada masa keemasan peradaban Islam, sebagian besar teknologi yang berkembang berangkat dari kebutuhan mayoritas rakyat. Karena itu mayoritas teknologi yang ada dapat disebut tepat guna.

Misalnya teknologi pangan. Di dunia pertanian muncul Al-Asma’i (740-828 M) yang mengabadikan namanya sebagai ahli hewan ternak dengan bukunya, seperti Kitab tentang Hewan Liar, Kitab tentang Kuda, kitab tentang Domba, dan Ābu Ḥanīfah Āḥmad ibn Dawūd Dīnawarī (828-896), sang pendiri ilmu tumbuh-tumbuhan (botani), yang menulis Kitâb al-nabât dan mendeskripsikan sedikitnya 637 tanaman sejak dari “lahir” hingga matinya. Dia juga mengkaji aplikasi astronomi dan meteorologi untuk pertanian, seperti soal posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai, mata air. Dia juga mengkaji geografi dalam konteks pertanian, seperti tentang batuan, pasir dan tipe-tipe tanah yang lebih cocok untuk tanaman tertentu.

Pada abad 9/10 M, Abu Bakr Ahmed ibn 'Ali ibn Qays al-Wahsyiyah (sekitar tahun 904 M) menulis Kitab al-falaha al-nabatiya. Kitab ini mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara lain tentang teknik mencari sumber air, menggalinya, menaikkannya ke atas hingga meningkatkan kualitasnya. Di Barat teknik ibn al-Wahsyiyah ini disebut “Nabatean Agriculture”.

Para insinyur Muslim merintis berbagai teknologi terkait dengan air, baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi, atau menggunakannya untuk menjalankan mesin giling. Dengan mesin ini, setiap penggilingan di Baghdad abad 10 sudah mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari. Pada 1206 al-Jazari menemukan berbagai variasi mesin air yang bekerja otomatis. Berbagai elemen mesin buatannya ini tetap aktual hingga sekarang, ketika mesin digerakkan dengan uap atau listrik.

Di Andalusia, pada abad-12, Ibn Al-‘Awwam al Ishbili menulis Kitab al-Filaha yang merupakan sintesa semua ilmu pertanian hingga zamannya, termasuk 585 kultur mikrobiologi, 55 di antaranya tentang pohon buah. Buku ini sangat berpengaruh di Eropa hingga abad-19.

Pada awal abad 13, Abu al-Abbas al-Nabati dari Andalusia mengembangkan metode ilmiah untuk botani, mengantar metode eksperimental dalam menguji, mendeskripsikan, dan mengidentifikasi berbagai materi hidup dan memisahkan laporan observasi yang tidak bisa diverifikasi.

Muridnya Ibnu al-Baitar (wafat 1248) mempublikasikan Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, yang merupakan kompilasi botani terbesar selama berabad-abad. Kitab itu memuat sedikitnya 1400 tanaman yang berbeda, makanan, dan obat, yang 300 di antaranya penemuannya sendiri. Ibnu al-Baitar juga meneliti anatomi hewan dan merupakan bapak ilmu kedokteran hewan, sampai-sampai istilah Arab untuk ilmu ini menggunakan namanya.

Ini adalah fakta-fakta yang terkait langsung dengan ilmu pertanian dalam arti sempit. Namun revolusi pertanian yang sesungguhnya terjadi dengan berbagai penemuan lain yang tergolong teknologi canggih. Alat-alat untuk memprediksi cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan, teknologi irigasi, pemumpukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan pasca panen, hingga manajemen perusahaan pertanian, semua tergolong canggih pada masanya. Kombinasi sinergik dari semua teknologi ini selalu menghasilkan akselerasi dan pada moment tertentu cukup besar untuk disebut “revolusi pertanian Muslim”.

Revolusi ini menaikkan panenan hingga 100 persen pada tanah yang sama. Kaum Muslim mengembangkan pendekatan ilmiah yang berbasis tiga unsur: sistem rotasi tanaman, irigasi yang canggih, dan kajian jenis-jenis tanaman yang cocok dengan tipe tanah, musim, serta jumlah air yang tersedia. Ini adalah cikal bakal “precission agriculture”, suatu teknologi yang hingga abad-21 tetap terkesan “canggih”, karena memang tidak semua orang mengerti. Orang merasa lebih mudah memberikan pupuk buatan dan pestisida, karena hasilnya “jelas”, meski dalam jangka panjang justru merugikan petani.

Revolusi ini ditunjang juga dengan berbagai hukum pertanahan Islam, sehingga orang yang memproduktifkan tanah mendapat insentif. Tanah tidak lagi dimonopoli kaum feodal dan tak ada lagi petani yang merasa dizalimi sehingga malas-malasan mengolah tanah. Negara juga menyebarkan informasi teknologi pertanian sampai ke para petani di pelosok-pelosok. Ternyata di samping teknologi tepat guna diperlukan juga “hukum tepat guna” dan “negara tepat guna”.

Karena itu sebenarnya tidak perlu ada dikotomi teknologi tepat guna dan teknologi canggih. Dilihat dari perspektif abad-21, semua teknologi di zaman keemasan Islam dari abad-10 M sampai abad-19 M terlihat cukup sederhana dan “tepat guna”, walaupun ada juga yang sudah kadaluwarsa. Namun ternyata tetap ada sejumlah teknologi yang terasa “canggih’, bahkan hingga hari ini. Kuncinya adalah kaidah fiqih: “Apa saja yang mutlak diperlukan untuk memenuhi suatu kewajiban, maka hukumnya wajib pula untuk diadakan.”. Jadi para ilmuwan Islam tempo dulu tidak terlalu ambil pusing dengan dikotomi canggih atau tepat guna, tetapi apa yang dipandang paling banyak memberi manfaat bagi umat. Kalau itu memang perlu SDM yang mumpuni, itu sudah menjadi tanggung jawab mereka di “negeri yang juga tepat guna”.

[www.globalmuslim.web.id]

 

Image 1 of 6 - Makhluk ini membuat bingung nelayan Selandia Baru yang menemukannya. Ia adalah salp, yang memakan plankton. Tubuhnya yang Allah ciptakan tembus pandang membantunya menghindari predator.
Image 2 of 6 - Seekor Icefish Antartika muda (Chaenocephalus aceratus) yang hidup di Antartika.
Image 3 of 6 - Seekor teripang transparan (kelas Holothuroidea), yang sistem pencernaannya terlihat, di Antartika.
Image 4 of 6 - Udang 'hantu' (famili Caprellidae) disamarkan terhadap koloni hydrozoan di Alicante, Spanyol
Image 5 of 6 - Belut transparan (ordo Anguilliformes) di dasar laut berpasir
Image 6 of 6 - Medusa stage of a Halitholus sp. hydrozoan in White Sea, Russia.
 – Kekuasaan Allah Sang Maha Pencipta begitu tak tertandingi. Foto-foto berikut merupakan foto yang menunjukkan 6 hewan laut transparan yang begitu menakjubkan.
Ketika seorang nelayan Selandia Baru, Stewart Fraser, melihat makhluk tembus pandang mengambang di Pasifik 40 mil dari Semenanjung Karikari Pulau Utara, dia merasa seakan tak percaya, katanya kepada Mail Online Inggris.
“Saya merasa bimbang apakah akan menangkapnya atau tidak, tapi rasa ingin tahu mendominasi pikiran saya dan saya memutuskan untuk melihatnya lebih dekat,” katanya kepada MO. “Itu begitu ‘sesuatu’, dan saya belum pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya.
Dennis Gordon, seorang ilmuwan bersama badan perairan dan atmosfer NIWA Selandia Baru, mengatakan kepada Herald Selandia Baru bahwa makhluk tembus pandang itu adalah seekor salp, dan itu bukanlah makhluk langka. Salp ditemukan di seluruh dunia, bahkan sering dalam jumlah besar, kata para ilmuwan.
Dan Gordon juga mengatakan bahwa beberapa salp bereproduksi sangat cepat sehingga mereka dapat melipatgandakan populasi mereka dalam satu hari.
Namun salp benar-benar kesulitan untuk memperoleh tempat untuk berlindung dari makhluk lain yang ingin memakan mereka, kata  Paul Cox, direktur konservasi dan komunikasi di National Marine Aquarium, kepada MO.
Meski demikian, “secara umum dibandingkan dengan hewan tak berdaya lainnya yang menempati perairan terbuka, ubur-ubur dan hidroid misalnya, tubuh tembus pandang mereka mampu memberikan sejumlah perlindungan dari perburuan [predator]. Bertubuh tembus pandang adalah kamuflase yang cukup baik di dalam air,” kata Cox.
Gordon juga mengatakan kepada Herald bahwa salp lebih bergizi daripada ubur-ubur, katanya.
Dia menambahkan bahwa salp, yang makan dengan mengambil air melalui filter internal, juga merupakan predator, namun tidak berbahaya bagi manusia.
“Mereka bisa makan plankton tanaman terkecil dan bahkan bisa makan bakteri, sehingga mereka bisa eksis di beberapa bagian laut di mana tidak ada lagi yang bisa bertahan hidup,” kata Gordon seperti dikutip Herald.
Dapat disimpulkan, salp merupakan hewan laut yang transparan, pandai berkamuflase, predator yang mampu bertahan hidup dengan memakan plankton dan bakteri di lautan, serta ramah kepada manusia.
Selain salp, lima foto hewan laut transparan lainnya juga mengungkap Kebesaran Allah yang begitu luar biasa. MasyaAllah, foto-foto ini menunjukkan kepada manusia yang mau mengambil hikmah betapa indah dan menakjubkan makhluk ciptaan Allah Sang Maha Kuasa. (banan/arrahmah./www.globalmuslim.web.id)

Oleh: Prof. Dr. Fahmi Amhar
Banjir kembali terjadi dan kembali menelan korban . Di Jakarta, banjir sekecil apapun akan berakibat macet amat parah hingga ke daerah yang tidak kebanjiran.  Dan kalau sudah musim bencana ini, tiba-tiba kita seperti diingatkan lagi, bahwa Indonesia memang bukan hanya negeri yang kaya dengan sumber daya alam, tetapi juga negeri dengan potensi bencana alam yang berlimpah.
Kita berada tepat di batas-batas lempeng Eurasia, Hindia, Australia dan Pasifik.  Kita punya 129 gunung api aktif.  Semua ini berpotensi gempa, longsor, tsunami dan erupsi yang mampu menghancurkan kehidupan dalam seketika.  Kita juga berada di persimpangan angin dan arus laut antara Asia – Australia dan antara Hindia – Pasifik.  Maka bencana banjir, abrasi gelombang pasang, puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan juga rajin berkunjung.
Namun, kenyataannya bangsa ini masih belum banyak belajar.  Seharusnya mereka adalah maestro-maestro dunia dalam menghadapi bencana.  Seharusnya bangsa-bangsa lain banyak belajar ke Indonesia.  Namun yang terjadi, bencana belum benar-benar ditangkal, namun baru dihadapi dengan sebatas tawakal.
Apakah demikian juga yang terjadi di masa lalu, ketika Daulah Islam masih tegak?
Sebenarnyalah wilayah Daulah Islam yang amat luas juga bersentuhan dengan berbagai potensi bencana alam.  Wilayah sekitar gurun di Timur Tengah dan Afrika Utara amat rawan kekeringan.  Lembah sungai Nil di Mesir atau sungai Eufrat-Tigris di Irak amat rawan banjir.  Sementara itu Turki, Iran dan Afghanistan sampai sekarang juga masih sangat rawan gempa.  Selain itu kadang-kadang wabah penyakit yang hingga abad 18 belum diketahui pasti penyebab maupun obatnya datang menghantam, misalnya cacar (variolla) atau pes.  Namun toh Daulah Islam tetap berdiri tegak lebih dari 12 abad.  Kalaupun Daulah ini kemudian sirna, itu bukan karena kelaparan, penyakit, atau bencana alam, tetapi karena kelemahan di antara mereka sendiri, terutama elite politisnya, sehingga dapat diperalat oleh para penjajah untuk saling bertengkar, membunuh dan memusnahkan.
Untuk menangkal kekeringan (yang penyebabnya kini telah ditemukan para ahli dengan istilah siklus el-Niño) para penguasa Muslim di masa itu telah membangun bunker gudang makanan.  Bunker ini biasanya berupa ruangan di bawah tanah yang dijaga agar tetap kering.  Di situ disimpan bahan makanan seperti gandum, kurma, minyak goreng dan sebagainya yang cukup untuk persediaan selama dua musim.  Bunker ini tak cuma berguna sebagai cadangan logistik bila ada bencana tetapi juga persiapan bila ada serangan musuh yang mengepung kota.  Saat Perang Dunia ke-2, tentara Jerman di Libya menemukan beberapa bunker di sebuah kota yang telah ditinggalkan penghuninya beberapa puluh tahun.  Yang luar biasa, hampir semua bahan makanan di bunker itu masih bisa dikonsumsi.

Nilometer yang dibangun al-Farghani untuk peringatan dini banjir Sungai Nil
Sementara itu untuk antisipasi banjir, para penguasa Muslim membangun bendungan, terusan dan alat peringatan dini.  Insinyur Al-Farghani (abad 9 M) telah membangun alat yang disebut Nilometer untuk mengukur dan mencatat tinggi air sungai Nil secara otomatis di berbagai tempat.  Setelah bertahun-tahun mengukur, al-Farghani berhasil memberikan prediksi banjir sungai Nil baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Namun seorang Sultan di Mesir pada abad 10 M tidak cukup puas dengan early warning system ala al-Farghani.  Dia ingin sungai Nil dapat dikendalikan sepenuhnya dengan bendungan.  Dia umumkan sayembara untuk insinyur yang siap membangun bendungan itu.  Adalah Ibn al-Haitsam yang akhirnya memenangkan kontrak pembangunannya.  Namun tatkala dia berjalan ke arah hulu sungai Nil guna menentukan lokasi untuk bendungan, dia tertegun menyaksikan piramid-piramid raksasa yang dibangun Fir’aun.  Dia berpikir, “Fir’aun yang sanggup membangun piramid saja tak mampu membendung sungai Nil, apalah artinya aku?”  Karena malu dan takut menanggung konsekuensi karena membatalkan kontrak, Ibn al-Haitsam kemudian pura-pura gila, sehingga oleh penguasa Mesir dia dikurung di rumah dan hartanya diawasi negara.  Dalam tahanan rumahnya itulah Ibn al-Haitsam mendapat waktu untuk melakukan berbagai eksperimen optika, sehingga akhirnya menjadi Bapak Optika.  Dia baru dilepas beberapa tahun setelah penguasa Mesir ganti dan orang sudah mulai lupa kasusnya.  Meski Ibn al-Haitsam tak berhasil membangun bendungan di masanya, namun fisika optikanya adalah dasar bagi Galileo dan Newton dalam mengembangkan mekanika.  Dengan fisika Newton inilah pada abad-20 orang berhasil membendung sungai Nil dengan bendungan Aswan.
Di Turki, untuk menangkal gempa, orang membangun gedung-gedung tahan gempa.  Sinan, arsitek Sultan Ahmet yang fenomenal, membangun masjidnya itu dengan konstruksi beton bertulang yang sangat kokoh serta pola-pola lengkung berjenjang yang dapat membagi dan menyalurkan beban secara merata.  Semua masjid yang dibangunnya juga diletakkan pada tanah-tanah yang menurut penelitiannya saat itu cukup stabil.  Gempa-gempa besar di atas 8 Skala Richter yang terjadi di kemudian hari terbukti tak membuat dampak sedikitpun pada masjid itu, sekalipun banyak gedung modern di Istanbul yang justru roboh.
Jadi bencana-bencana alam selalu ditangkal dengan ikhtiar, tak cukup sekadar tawakkal.  Penguasa Daulah Islam menaruh perhatian yang besar agar tersedia fasilitas umum yang mampu melindungi rakyat dari berbagai bencana.  Mereka membayar para insinyur untuk membuat alat dan metode peringatan dini, mendirikan bangunan tahan bencana, membangun bunker cadangan logistik, hingga melatih masyarakat untuk selalu tanggap darurat.  Aktivitas jihad adalah cara yang efektif agar masyarakat selalu siap menghadapi situasi terburuk.  Mereka tahu bagaimana harus mengevakuasi diri dengan cepat, bagaimana menyiapkan barang-barang yang vital selama evakuasi, bagaimana mengurus jenazah yang bertebaran, dan bagaimana merehabilitasi diri pasca kedaruratan.
Para pemimpin dalam Daulah Islam juga orang-orang yang terlatih dalam tanggap darurat.  Mereka orang-orang yang tahu apa yang harus dikerjakan dalam situasi normal maupun genting.[www.globalmuslim.web.id]

 – Kekuasaan Allah Sang Maha Pencipta begitu tak tertandingi. Foto-foto berikut merupakan foto buatan yang menunjukkan janin 12 hewan di dalam rahim induk mereka (dan beberapa di dalam telur) yang benar-benar menakjubkan.
Produser Peter Chinn menggunakan kombinasi dimensional ultrasound scans, kamera kecil dan grafik komputer untuk membuat gambar-gambar embrionik 12 hewan yang masih berada di perut induk mereka untuk sebuah film dokumenter National Geographic yang ditayangkan beberapa tahun yang lalu.
MasyaAllah, foto-foto ini merupakan penggambaran yang relatif akurat yang menunjukkan kepada kita betapa luar biasa janin-janin makhluk ciptaan Allah di dalam rahim induk-induk mereka. (banan/arrahma/www.globalmuslim.web.id)



embrio 300x239 Ini Tidak Mungkin! Muhammad Pasti Menggunakan MikroskopDR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.
Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.
Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan referensi al-Qur’an tentang ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor melihatnya dan berkata :
“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”
Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu Mikroskop juga belum ada?”
“Iya, iya saya tau. Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang profesor.
***
“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]

Jika di cermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.
Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit.
Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.
Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah lalu menulisnya dalam sebuah buku.
Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.
Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian yang selama ini membuat sang profesor gusar. Ia merasa materi yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.
***
Artikel Biografi Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/OHjQW

Video Pernyataan Lengkap sang Profesor:
Embryology in the Qur’an by: Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/8hS87 (Durasi 1 jam 12 Menit)
Video Biografi dan Wawancara Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/CE1mW (Durasi 1 jam 8 Menit)
(Pizaro/Islampos/Zilzal/File Islam/www.globalmuslim.web.id)

padangpasir….Kepada para komandan pasukan Umar Radiyallahu Anhu mengatakan : “..Perintahkan manusia agar pergi haji dan barangsiapa yang tidak mampu , maka hajikan dia dari harta Allah..”…
(Dari disertasi DR. Jabirah bin Ahmad Al Haritsi , pada program S3 Ekonomoi Islam Fakultas Syariah dan Studi Keislaman Universitas Ummul Qura Makkah dengan predikat Summa Cumlaude)
~~~~~~~~~~
Umar bin Khatab Radiyallahu Anhu  adalah Khalifah yang berhasil membangun dan meletakkan dasar-dasar ekonomi kokoh berdasarkan keimanan  dan Tauhid kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Beliau adalah orang yang terakhir kali bisa makan dan beristirahat setelah yakin  penduduk sudah  terjamin kesejahteraannya. Beliau  sangat zuhud terhadap keduniawiaan dan itu diberlakukannya pada keluarganya. Umar Radiyallahu anhu sangat terkenal dengan pengawasan terhadap rakyatnya dan ketegasannya terhadap orang-orang yang melakukan penyimpangan, khususnya apabila orang yang melakukan penyimpangan itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan umum seperti Gubernur, hakim, pemungut zakat.
Dalam masa sekarang ini dimana negara-negara di dunia terbagi menjadi negara kapitalis, negara sosialis dan lain-lain sesuai dasar sistem ekonomi yang diikuti oleh setiap negara.  Ini menunjukkan begitu kuatnya hubungan antara politik dan ekonomi yang saling mempengaruhi secara timbal balik. Umar Radiyallahu anhu menjelasakan bahwa kerusakan sistem pemerintahan dan dikuasainya berbagai urusan oleh orang-orang yang fasik merupakan sebab kehancuran pilar-pilar umat; dimana beliau mengatakan,” Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” Ia menjawab ,” Jika orang-orang yang penghianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”
Sesungguhnya ekonomi kontemporer mengakui sebab-sebab yang menghancurkan terhadap kerusakan ekonomi dan bahwasanya itu merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap usaha pengembangan ekonomi khususnya di negara-negara berkembang).
Oleh karena itu , Umar R.a berupaya keras dalam mewujudkan sistem pemerintahan yang baik. Bahkan seringkali beliau bertanya kepada sebahagian sahabatnya agar mereka mengemukakan pendapat mereka untuk mengetahui faktor-faktor kebaikan. Contohnya kepada Muadz bin Jabal ,” Apakah pilar perkara ini ya Muadz?’ Ia berkata,”Islam, karena dia adalah  fitrah; ikhlas , karena dia adalah substansi agama, dan ketaatan karena dia adalah perlindungan.
Dari fikih Ekonomi Umar r.a. semasa pemerintahannya ,ada beberapa point yang menyebutkan kriteria sistem pemerintahan yang baik yaitu :
  1. Pemerintah melaksanakan tugasnya nya yang terpenting yaitu menjaga agama dengan cara menetapkan hukum-hukumnya dan berjihad melawan musuh, menjaga harta kaum muslimin yaitu dengan mengumpulkan dan membagikannya sesuai syariah, menegakkan keadilan dengan meralisasikan kemanan dan ketentraman , berupaya mewujudkan kesejahteraan ummat dengan memperhatikan orang-orang  yang membutuhkan
  2. Melibatkan ummat dengan cara musyawarah ataupun memberikan andil ummat kepada pengawasan terhadap jalannya pemerintah dengan cara menasehati dan meluruskannnya
  3. Ada hak ummat menuntut pemerintah jika pemerintah mengabaikan pelaksanaan apa yang menjadi hak-hak ummat. Dalam hal ini Umar sangat peduli untuk mengetahui pendapat umum dan ia bertanya kepada Malik , sahabat dekatnya di rumah seraya mengatakan ,” wahai Malik , bagaimana keadaaan manusia?” ia menjawab “ Manusia dalam keadaan baik .”. Lalu Umar bertanya lagi “Apakah kamu mendengar sesuatu ?” Malik menjawab “ Aku tidak mendengar melainkan kebaikan”Pertanyaan ini berulang sampai tiga kali. Maka Malik berkata padanya pada hari ketiga”Apa yang kamu khawatirkan dari manusia?” Umar menjawab” Bagaimana kamu ini Malik! Aku khawatir jika Umar mengabaikan sebagian hak kaum muslimin lalu mereka datang kepadanya dengan bendera dan menanyakan hak mereka ?” Dan diantara nasehat Umar kepada para gubernurnya adalah “ Janganlah kamu memukul kaum muslimin, karena dengan itu kamu menistakan mereka. Dan janganlah kamu menghalangi hak mereka, karena dengan itu kamu menjadikan mereka untuk mendurhakai kamu..
  4. Adanya Kestabilan yang tidak mengakibatkan kepada pergolakan dan kegoncangan. Kestabilan politik disini adalah dengan mengharamkan seorang muslim mendurhakai pemimpinnya.
  5. Pengembangan ekonomi ini menuntut adanya sistem manajemen yang memudahkan lajunya roda pengembangan dan menghilangkan rintangan dari jalannya, dimana sebagian bentuk manajemen dan sistem pengawasan yang terdapat dalam fikih ekonomi Umar r.a adalah sbb :
a.Hisbah dan pengawasan pasar
b. Pengawasan harta
c. Pengawasan kerja dan pengaturannya
d. Perlindungan lingkungan
Menurut Fiqih ekonomi tersebut ,bahwasanya ada korelasi antara pengembangan ekonomi dalam kacamata Islam dengan terwujudnya suatu lingkungan yang islami dalam segala aspek kehidupan. Dan dari dua diantara lima pilar-pilar pengembanganan ekonomi ( sebagaimana dikemukakan dalam disertasi Dr Jaribah bin Ahmad dari tesisnya yang membahas mengenai itu) adalah  
  1. Kesalehan ummat
Sesungguhnya kesalahehan ummat adalah dengan mengimani Islam sebagai akidah dan syariah dan pengaplikasiannya dalam segala aspek kehidupan.
Ketika seorang muslim meyakini bahwa dia sebagai Khalifah di bumi, ini akan mendorongnya melakukan pengembangan ekonomi karena ini merupakan hak dan sarana ummat. Dan jika ini dilakukakannya sepenuh hati karena Allah (ikhlas) maka akan menjadi ibadahnya dihadapan Allah Ta’ala.
Disisi lain , ketaatan dan kemaksiatan juga berdampak dalam kehidupan ekono mi umat, dimana ketaatan akan menjadi sebab diperolehnya keberkahan dalamn segala sesuatu, sedangkan kemaksiatan berakibat tercerabutnya keberkahan dari segala sesuatu . Allah berfirman dalam QS al A’Raf : 96
“ jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan  bumi, tetapi mereka mendustakan( ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya..”
Umar Radiyallahu anhu mengegaskan dalam pernyataannya ;”…Sesungguhnya dunia adalah kesenangan yang menawan, maka barang siapa mengambilnya dengan cara ayang benar, dia akan mendapatkan keberkahan di dalamnya, dan barang siapa mengambilnya dengan cara tidak benar maka dia seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang.
 2. Kebaikan sistem
Pemerintah adalah perangkat politik dan apa yang muncul darinya terkait  sistem pemerintah. Sebab dengan kebaikan perangkat politik, konsistensi pemahaman politik bagi individu dan kebaikan hubungan antara rakyat dan pemerintah, maka akan meletakkan laju pesatnya pengembangan ekonomi pada jalan yang semestinya.
Contoh sikap Umar sebagai pejabat negara dapat dilihat dari perkataaan antara lain tehadap para gubernurnya “ Sesungguhnya aku tidak menguasakan kepadamu atas urusan arah, harga diri serta harta kaum muslimin, namun aku mengutus kamu untuk menegakkan shalat, membagi fai’ mereka dan menetapkan hukum dengan Adil.
Kepada para komandan pasukan Umar Radiyallahu Anhu mengatakan : “..Perintahkan manusia agar pergi haji dan barangsiapa yang tidak mampu , maka hajikan dia dari harta Allah..”
Perkataan Umar, ” Sungguh aku sangat berupaya agar tidak melihat kebutuhan manusia melainkan aku penuhinya, selama sebagian kita terdapat keleluasaan atas sebagaian yang lain. Tapi jika demikian itu tidak dapat dilakukan, maka kita memberi contoh dalam kehidupan kita sehingga kita sama dalam kecukupan”
Dalam fikih ekonomi Umar radiyallahu anhu kita dapatkan bahwasanya politik ekonomi dijalankan oleh pemerintah merupakan tolok ukur terpenting tentang baik atau tidaknya sistem pemerintah, sekaligus merupakan karekteristik sistem pemerintah itu. Sebagai bukti hal itu bahwa Umar Radiyallahu anhu mengatakan”’ demi Allah.., aku tidak mengerti apakah aku khalifah atau seorang raja. Jika aku Raja maka demikian itu adalah perkara besar!”   Maka seorang berkata,” Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya diantara keduanya terdapat perbedaan.” Ia berkata,” Apakah itu ? Ia menjawab, ’Khalifah tidak mengambil melainkan dengan cara yang benar dan tidak meletakkannya melainkan dalam kebenaran dan Anda alhamdulillah seperti demikian itu.. Sedangkan raja adalah menindas manusia, lalu dia mengambil dari ini dan memberi yang ini.” Maka Umar pun diam. (Lr)
[www.globalmuslim.web.id]

 Salah seorang filsuf Barat, Nietzsche, mengatakan,”Orang-orang lemah dan tidak mampu, wajib mengetahui hak-hak mereka. Sebab, hak merupakan dasar pertama dari dasar kecintaan kita kepada kemanusiaan. Wajib pula bagi kita untuk membantu mereka dalam hal ini (dinukil dari Al Ghazali, Rakaiz Iman Baina Al Aqli wa Al Qalbi, hal. 318).”
Namun ahli filsafat Islam tak membatasi nilai akhlak yang menjadi ketetapan masyarakat berupa hak yang meliputi setiap sisi manusia. Semua itu tanpa perbedaan warna atau jenis dan bahasa. Ia juga meliputi pedoman yang digunakan masyarakat, memelihara Islam dengan kekuatan syariat. Lalu menjamin aplikasinya, menjalankan hukuman kepada orang yang melanggar nilai akhlak tersebut. Diantara hal itu adalah penjelasan tentang Hak-Hak Lingkungan.
Allah menciptakan lingkungan semesta alam yang indah, damai, manfaat, yang diatur manusia. Merupakan kewajiban penting bagi manusia untuk memelihara habitat atau lingkungan semesta alam. Sebagaimana pentingnya menyeru manusia supaya berpikir tentang ayat-ayat Allah Ta’ala akan kejadian alam semesta, yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Allah Ta’ala berfirman, “Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.(Qaaf: 6-7)249
Karena itu, tumbuh dan terjalinlah hubungan cinta dan kasih sayang antara Muslim dengan lingkungan sekitarnya berupa benda mati dan benda hidup. Memelihara lingkungan alam itu untuk manfaat di dunia. Sebab, dengan memelihara lingkungan alam sekitar, maka akan menimbulkan kehidupan yang indah dan memesona. Sedangkan di akhirat terdapat pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala.
Dalam pendangan Nabi, lingkungan sebagai penguat pada sudut pandang Al-Qur’an yang universal tentang alam semesta, yang menegaskan bahwa di sana terdapat hubungan erat dan timbal balik antara manusia dan unsur-unsur alam semesta. Sedangkan titik temunya adalah terpancarnya keyakinan bahwa jika manusia berbuat buruk atau menggunakan unsur-unsur habitat alam secara membabi buta, maka alam pun akan meledak mengakibatkan kerusakan secara langsung.
Karena itu, syariat Islam dating membawa aturan pada setiap manusia yang hidup di atas muka bumi, agar jangan sampai membawa kerusakan dalam bentuk apapun pada semesta ini. Rasulullah berkata, “Tidak ada kerusakaan tidak pula bahaya…”250 Kemudian syariat Islam mengiringinya dengan kewaspadaan dari pencemaran lingkungan atau kerusakan. Rasulullah dalam masalah ini bersabda, “Bertakwalah kalian dari tiga laknat: bertempur di sumber air, melubangi jalan, dan merusak tempat berteduh.”251
Rasulullah menyatakan, memelihara diri dari tindak gangguan merupakan hak-hak di jalan umum. Diriwayatkan Abu Said Al-Khudri bahwasanya Nabi bersabda, “Hindarilah oleh kalian duduk-duduk di tempat duduk tepi jalan.” Para sahabat bertanya, “Kami tidak bias menghindarinya, karena itu merupakan tempat mangkal dan tempat kami bercakap-cakap.” Lalu Nabi bersabda, “Jika kamu terpaksa duduk-duduk di sana, hendaklah kalian berikan hak bagi orang yang berjalan.” Para sahabat bertanya, “Lantas apakah hak jalan itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Memelihara diri dari menyakitinya…”252 (Memelihara diri untuk tidak mengganggu) ini merupakan kalimat yang menyeluruh pada setiap gangguan dari manusia yang menggunakan jalan umum atau jalan raya.
Secara umum Rasulullah mengikat antara pahala dan pemeliharaan lingkungan, sebagaimana sabdanya, “Telah ditampakkan amalan umatku, baik dan buruknya. Lalu aku mendapati salah satu amalan baiknya adalah menyingkirkan gangguan yang berada di tengah jalan. Aku mendapati salah satu amalan yang buruk di antaranya adalah berdahak di masjid dan tidak dipendam.”253
Beliau secara tegas memerintahkan untuk membersihkan tempat tinggal, sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai yang baik-baik. Allah itu bersih menyukai yang bersih-bersih. Karena itu, sucikan perabot-perabot kalian. Jangan menyerupai orang-orang Yahudi.”254
Sungguh alangkah dalam pengajaran dan syariat yang mneganjurkan kehidupan baik terbebas dari segala macam kotoran. Demikian itu dapat menimbulkan ketenangan jiwa manusia dan sehat sentosa.
Dalam bentuk yang jelas dan gamblang, Islam menetapkan anjuran untuk memelihara lingkungan serta keindahannya, sebagaimana yang tampak dalam sabda Rasul saat seorang sahabat bertanya kepadanya, “Apakah termasuk di antara sikap sombong itu adalah memakai pakaian dan sandal yang bagus? Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu mengingkari kebenaran dan meremehkan manusia.”255 Tidak diragukan lagi bahwa keindahan adalah anjuran untuk menampakkan lingkungan yang telah diciptakan oleh Allah dengan indah dan menawan.
Sebagaimana kita dapati dalam petunjuk Rasul pada kecintaan beliau terhadap wewangian yang harum semerbak di antara manusia, memberinya petunjuk, memperindah lingkungan, menentang lingkungan yang jorok. Karena itu, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menampilkan bau wangi, hendaklah dia tidak menolaknya. Sesungguhnya itu merupakan tempat yang membawa keringanan dengan bau yang wangi.”256
Termasuk di antara keagungan islam sebagaimana disunnahkan dalam syariat, khususnya soal lingkungan, dalam sebuah hadits terdapat anjuran untuk menyuburkan bumi dan menanaminya, sebagaimana sabdanya, “Tidaklah seorang Muslim menanam biji kecuali apa yang dimakan darinya itu merupakan sedekah. Apa yang dicuri merupakan sedekah. Apa yang dimakan oleh binatang buas baginya sedekah. Apa yang dimakan burung baginya sedekah. Tak seorang pun yang menanamnya257 kecuali baginya itu sedekah.”258
Termasuk keagungan Islam adalah bahwa pahala menanam membawa manfaat baik bagi lingkungan yang tinggal di sekitarnya terus-menerus mengalir selagi tanaman itu bias dipetik manfaatnya, meski tanaman itu berpindah menjadi milik orang lain yang menguasainya, atau sebab meninggalnya orang yang menanam.
Syariat Islam telah memberikan upah (hak untuknya) yang dianugerahkan kepada manusia yang menyuburkan bumi yang kerontang. Sebab, menanam pohon, atau menanam biji-bijian, mengairi bumi yang kering dan gersang, termasuk perbuatan baik dan amal kebajikan. Dalam masalah ini Rasul bersabda, “Barangsiapa yang menghidupkan tanah yang telah mati, tanah itu menjadi haknya – yaitu pahalan – dan apa saja yang dimakan oleh Al-Awaafi (Burung dan binatang buas)259 bagi orang tersebut merupakan sedekah.”260
Karena air termasuk salah satu penggerak sumber kehidupan bagi lingkungan semesta alam, maka kita tidak boleh boros menggunakan air. Menjaga kesuciannya merupakan aturan pokok dalam Islam. Rasulullah dalam masalah air ini memberi nasihat supaya tidak berlebih-lebihan. Sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bahwa Nabi bertemu Saad261 sedang dia dalam keadaan wudhu. Beliau bersabda, “Mengapa terjadi pemborosan air ini, hai Saad?” Saad menjawab, “Apakah dalam berwudhu juga termasuk pemborosan?” Beliau bersabda, “Benar, meski kamu berada dalam sungai yang mengalir.”262 Nabi juga melarang mencemari air, dengan larangan kencing di air yang tidak mengalir.263
Inilah pandangan Islam serta peradaban Islam bagi lingkungan semesta alam. Pandangan yang memberikan keyakinan bahwa lingkungan dan berbagai macam ruang lingkupnya itu saling berinteraksi, timbal balik dan saling menyempurnakan, saling mendukung sesuai dengan sunatullah yang berlaku di alam semesta yang telah diciptakannya dalam sebaik-baik bentuk. Karena itu, setiap Muslim wajib menjaga dan memelihara keindahan tersebut. []
Footnote
249 Al-Bahij: Sesuatu yang cantik meiputi keindahan, bahagia, dan sedap jika di pandang. Lihat: Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, Madah Bahaja (2/216).
250 HR. Ahmad dari Ibnu Abbas (2719), Syuaib Al-Arnauth mengatakan, “Hadits ini hasan.” Hakim (2345) dan berkata, “Sanadnya shahih dnegan syarat Muslim dan dia tidak mengeluarkannya.”
251 Lihat: Al-Adzim Abadi, Aunul Ma’bud (1/13).
252 HR. Al-Bukhari dari Abu Said Al-Khudri, Kitab Al-Mazhalim, Bab Afniyatut Daur wa Al-Julus fiiha wa al-Juluus ala Sha’adaa’ (2333). Dan riwayat Muslim, Kitab Al-libaas wa Az-Ziinah, Bab Nahyu anil Juluus fi Thuruqaat wa I’thaa’u thariq haqqahu (2112).
253 HR. Muslim dari Abu Dzar, Kitab Al-Masaajid wa Mawaadhi’us Shalat, Bab An-Nahyu ‘anil Bishaaq fii masjid fii Shalat wa Ghairuha (553), dan Ahmad (21589), Ibnu Majah (3683).
254 HR. At-Tirmidzi dari Saad bin Abi Waqqash, Kitab Al-Adab, Bab Maa Jaa’a fii An-Nazhafah (2799), Abu Ya’la (790), Al-albani mengatakan, “Hadits ini shahih.” Lihat: Misykat Al-Mashaabiih (4455).
255 HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud, Kitab Al-Iman, Bab Tahrim Al-kibr wa Bayaanuhu (91), Ahmad (3789), dan Ibnu Hibban (5466).
256 HR. Muslim dari Abu Hurairah: Kitab Al-faadz min Al-Adab wa Ghairuha, Bab Istikmal Al-Misk (2253), Tirmidzi (2791).
257 Yazra’ahu ahad artinya jangan sampai mengurangi dan mengambilnya. Lihat; Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, Madah Raza’a1/85.
258 HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah, Kitab Al-Masaaqat, Bab Fadhlul Gharsyu wa Zar’u (1552), Ahmad (27401).
259 Ibnu Manzhur, Lisan Al-Arab, Madah Afaa (15/72).
260 HR. An-Nasa’i dari Jabir bin Abdullah, Kitab Ihya’ Al-Mawaat, Bab Hatsu alaa Ihyaa’ Al-Mawaat (5756), Ibnu Majah (5205), Syuaib Al-Arnauth mengatakan, “Hadits Shahih.”
261 Saad bin Abi Waqqash bin Wahib Az-Zuhri adalah salah seorang sahabat Nabi yang di jamin masuk surge dan sahabat yang kematiannya paling akhir. Lihat: Ibnu Atsir, Asadul Ghabah (2/433), Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Ishaabah (3/73 (3196).
262 Ibnu Majah, Kitab Thaharah wa Sunanuha, Bab Maa Ja’a fi Al-Qashar wa Karahiyatu Ta’addaa fihi (425), Al-Albani menghasankan hadits ini. Lihat: Silsilah Ash-Shahihah (3292).
263 HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah, Kitab Thaharah, Bab An-Nahyu Anil Bauli fii Al-maa’I (281), Abu Dawud (69), Tirmidzi (68).
Disusun ulang oleh Tim Redaksi MuslimDaily.net dari buku Raghib As Sirjani, Prof. Dr., Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, Pustaka Al Kautsar, 2011. (Terjemahan dari buku Madza Qaddamal Muslimuna lil ‘Alam Ishamaatu al Muslimin fi al Hadharah al Insaniyah, Mu’asasah Iqra’. 2009.)
[www.globalmuslim.web.id]

Sahabat ,

Allahu Akbar Allah Maha Besar dan Maha Kuasa atas segala ciptaannya.
Allah SWT telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya ciptaan. Dan dibalik ciptaannya itu tersimpan banyak rahasia serta hikmah yang tidak disadari oleh manusia.   
Mengapa tangan kita ada lima jari? Mengapa batang leher kita dijadikan tegak oleh Allah? Mengapa dalam salat mengandung perbuatan berdiri tegak, rukuk, sujud dan duduk antara dua sujud?
 
Inilah tanda-tanda kekuasaan Allah pada diri manusia yang tak jarang disadari oleh kita, seperti:
 
1. Otak manusia seperti orang sujud dalam salat
Bentuk otak manusia pun jika diperhatikan dengan teliti akan kelihatan seperti orang yang sedang sujud. Otak berada di bagian paling atas manusia, tetapi apabila kita sujud, ia berada di tempat paling rendah, menandakan pengabdian manusia pada Allah SWT. 
 
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahawa Al-Qur’an itu benar, dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahawa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Surat Fusshilat : Ayat 53).
 
 
2. Saluran udara pada paru-paru membentuk kalimat tauhid
Ahli sains telah menemukan bahwa saluran-saluran udara di dalam paru-paru manusia membentuk kalimah ‘La ilaha illallah’ (Tiada Tuhan melainkan Allah) dalam tulisan Arab. 
 
3. Nama Allah pada 5 jari tangan
Sesungguhnya Allah, Tuhan yang Maha Agung lagi Maha Bijaksana, Dia telah menunjukkan keagungan-Nya melalui penciptaan lima jari manusia, yang melambangkan huruf-huruf : Alif, Lam, Lam dan Ha yang membentuk kalimah Allah dalam perkataan dan tulisan Arab.
 
4. Jumlah Asmaul Husnah pada telapak tangan
Jika kita balikkan pula tangan, dan melihat ke telapaknya, maka di situ kita akan lihat urat-urat yang akan membentuk tulisan nomor dalam bahasa Arab. Nomornya adalah 81 di telapak tangan kiri dan 18 di telapak tangan kanan. Jika dicampur kedua nomor tersebut, jumlahnya ialah 99.
 
Dan nomor 99 itu adalah simbolik kepada 99 nama Allah, yang dipanggil sebagai Asma-ul Husna (nama-nama yang baik).
 
5. Gerakan dalam salat cerminkan simbol nama Nabi
Berdiri lurus dalam salat melambangkan huruf Alif (ا), ruku’ melambangkan huruf Ha (ح), sujud melambangkan huruf Mim (م), dan duduk melambangkan huruf Dal (د). Ia akhirnya membentuk perkataan Ahmad dalam tulisan Arab, nama Nabi Terakhir yang membawa Perjanjian Terakhir.
احمد = ا + ح + م + د = Ahmad.
 
Ketahuilah bahwa Ahmad adalah salah satu nama lain bagi Nabi Muhammad SAW dan mengikut sejarah, ibunya Aminah menginginkn anaknya itu dinamai dengan nama Ahmad, tetapi kemudian datuknya Abdul Mutalib memberikannya nama Muhammad.
 
Ahmad dan Muhammad di dalam bahasa Arab maksudnya sama yaitu ‘Yang Terpuji’.
 
“Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” …… ” (Surat As-Shaaf : Ayat 6).
 
6. Saat jari telunjuk diangkat pada Tasyahud dalam salat melambangkan nama Allah
Pada duduk tahiyyat akhir dalam salat, suatu sunnah bagi kita untuk mengangkat jari telunjuk ketika membaca kalimah syahadah. Jari telunjuk diangkat menandakan Tuhan yang Esa. Dan perhatikan, pada urat-urat jari itu akan membentuk kalimat Allah dalam Bahasa Arab.
 
“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (Surat Al Infithaar : Ayat 6-8).
 
Berbeda bagi kebudayaan Cina Kuno, tanda-tanda pada telapak kaki dan tangan telah dikenal menjadi titik refleksi, karena setiap titik ada makna dan dipercaya mampu mengobati penyakit.
Sedangkan pada punggung di kenal dengan pengobatan akupuntur dan bekam atau hijamah yang banyak dilakukan umat Islam.
Apakah ini 'Cok gali cok' atau dipas-paskan sesuai selera kita? Wallahu 'alam. 
 
Karena terlepas dari benar atau tidaknya, tetap menjadi rahasia Allah. Toh meskipun tanpa tanda-tanda tersebut diatas pun manusia tetap harus beribadah kepada Allah.
 
Satu kata saja, dengan satu tarikan nafas saja untuk mengucapkannya, yang kita butuhkan untuk menjawab sejumlah pertanyaan di atas. Yaitu: Al Ibaadah. Ya, semua itu Allah lakukan agar kita beribadah kepada-Nya. Dengan tegas Allah menyatakan,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)
Allah pun menyindir kita dengan pertanyaan,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun [23]: 115)
Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Firman Allah, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja)?” “Apakah kaling menyangka bahwa kalian diciptakan tanpa maksud, tujuan dan hikmah?” “Firman Allah, “bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” “Tidak dikembalikan ke negeri akhirat?” (Tafsir Al Qur`an Al Adzim: 5/500)
Jika muncul dalam benak kita pertanyaan, “lalu, mengapa Allah memerintahkan kita untuk beribadah?” Alasan-alasan berikut mudah-mudahan semakin dapat meyakinkan kita mengapa kita harus beribadah kepada Sang Pencipta kita, Allah subhaanahu wa ta’aala.
Karena Allah adalah Pencipta Kita dan Semesta serta Pemelihara Semuanya.
Hal ini sebagaimana pernyataan Allah dalam ayat yang telah lalu penyebutannya (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56, Al Mukminun [23]: 115)
Allah pun berfirman,
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar [39]: 62)
Oleh karena Allah satu-satunya dzat yang menciptakan kita dan juga menciptakan semesta tempat hidup kita, maka kita harus beribadah kepada-Nya, mengabdi sebagai hamba dan bagian dari makhluk-Nya.
Karena Allah menciptakan Kita dengan Bentuk yang Terbaik
Allah tidak menciptakan kita dalam bentuk yang asal-asalan, tapi menciptakan kita dengan bentuk yang terbaik. Perhatikan firman Allah berikut,
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(QS. At Tiin [95]: 4)
As-Si’diy berkata, “Maksudnya adalah diciptakan dengan sempurna, anggota tubuh yang sesuai dan perawakan yang pantas, tidak kurang sesuatu apa pun yang ia butuhkan.” (Taisir Karim Al Rahman: 929)
Karena Allah Memuliakan kita dengan Akal Pikiran
Tidak hanya itu, Allah pun mengistimewakan kita dengan akal pikiran. Allah berfirman,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh kami telah memuliakan anak Adam.” (QS. Al Isra [17]: 70)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa manusia telah dimuliakan dengan akal. (Lihat Tafsir Al Baghawi: 5/108)
Karena Allah yang Mengarunikan kepada Kita Rizki untuk Menopang Kehidupan Kita
Setelah diciptakan, diciptakan dengan bentuk terbaik dan dimuliakan dengan akal pikiran, karunia Allah selanjutnya adalah menurunkan beragam rizki yang dengannya manusia mampu bertahan hidup di bumi ini. Allah berfirman,
أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ
“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezki-Nya?” (QS. Al Mulk [67]: 21)
Itulah beberapa alasan mengapa kita harus beribadah kepada Dzat yang telah mengaruniakan kepada kita segala hal yang kita miliki saat ini dan tanda bagi orang-orang yang mau berfikir dan berakal. Begitulah Allah sering menyinggung nalar kita untuk berfikir di dalam Al Qur`an.
Semoga Allah menuntun kita kepada petunjuk dan keridhaan-Nya. Wallahu a’lam. [nurlail/hasyim/aktl/voa-islam/www.globalmuslim.web.id]


Era dulu, selama dua abad, Eropa sempat dilanda ketakutan terhadap pasukan Islam. Pasukan Islam terus merangsek ingin merebut Eropa. Bahkan Paus sempat mengungsi dari singgasananya di Roma. 

Jakarta- Era sekarang, kala tentara negara-negara Barat berada di kawasan Timur Tengah seolah dianggap peristiwa biasa-biasa saja. Saban hari, pemandangan tentara AS, Inggris, Perancis, Kanada, Italia dan lainnya, dengan peralatan militer lengkap lagi berada di negeri Timur Tengah, dianggap sebagai pasukan perdamaian PBB semata. Dunia menilai kejadian itu bukan suatu hal yang aneh.
Tapi bila mengaca pada sejarah, justru sebaliknya. Di era abad 14 hingga 16, justru pasukan tentara Islam yang berjalan-jalan di daratan Eropa. Pasukan Islam merangsek ingin merebut Eropa. Kejadian ini berlangsung tatkala imperium Utsmaniyah tengah berkuasa.
29 Juni 1453, kapal-kapal pasukan Romawi yang berhasil menyelamatkan diri dari serbuan tentara Utsmaniyah, berlabuh di daratan Eropa. Pasca takluknya kota Konstantinopel, ibukota Romawi (penulis Barat menyebutnya Byzantium), di tangan Sultan Muhammad Al Fatih, Eropa pun dilanda ketakutan. Kabar takluknya Konstantinopel itu pun mulai merangsek ke daratan Eropa.
Awal Juli 1453, tiga kapal tiba di Pulau Crete. Isinya sisa pasukan Romawi yang lolos. Di belakangnya, pasukan Utsmaniyah terus mempersiapkan serbuan. Jatuhnya Konstantinopel digambarkan sebagai peristiwa yang sangat menghantui dunia Kristen. Roger Crowly, peneliti Inggris asal Universitas Cambridge, Inggris, menggambar detail kejadian itu. "Tidak ada peristiwa yang pernah terjadi atau akan terjadi lagi yang lebih buruk daripada ini," tulis seorang Rahib, seperti dilukiskan Crowly dalam bukunya The Holy War for Constantinople and the Clash of Islam and the West. Buku ini sudah diterjemahkan penerbit Alvabet dengan judul "1453 Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam".

Beberapa kapal pasukan Romawi juga hinggap ke Kepulauan Negroponte, Yunani. Kabar jatuhnya Konstantinopel ke tangan Islam, langsung membuat panik warga kota itu. Kepanikan merajalela. Hampir seluruh warga bergerak mengungsi, ingin meninggalkan kota. Yunani panik luar biasa. Mereka ketakutan akan pasukan Islam bakal menyerbu Yunani. Bukan apa-apa, kala itu Konstantinopel dianggap sebagai kota yang sangat kuat, tapi bisa dikalahkan pasukan Islam.
Kabar buruk bagi Eropa itu makin menyebar. Seorang hakim di Yunani, menulis kabar itu kepada Senat di Venesia. Kepanikan pun menular ke warga di Siprus, Rhodes, Corfu, Chios, Modon, hingga Levanto. Malah hingga ke Gerbang Gibraltar, kepanikan itu mengular. Orang-orang Eropa dilanda ketakutan.
Di Venesia, Italia, lebih parah lagi. Begitu surat itu hinggap ke Senat, langsung ditancapkan di panggung kayu di Bacino. Sontak warga kota langsung mengerubung untuk melihat nasib Konstantinopel. Kala tahu Konstantinopel takluk di tangan Islam, "Tangisan dan ratapan pun meledak...semua meninju dada, menjambak rambut, dan menyakari muka, karena ayah, putra dan saudara mereka meninggal dan harta benda terampas."
fotoSenat Venesia yang sejatinya tengah melakukan pemungutan suara, langsung menunda hajatan itu. Mereka meratapi jatuhnya Konstantinopel. Lalu surat pun di kirim ke seantero Italia. Konstantinopel telah jatuh.
Di Bologna, berita itu sampai tanggal 4 Juli. Genoa menerimanya 6 Juli. Roma mendapatkannya tanggal 8 Juli 1453. Italia meradang.
Bisa dibilang, seluruh Eropa berduka. Seorang penulis sejarah Georgia melukiskan, "Pada hari orang Islam merebut Konstantinopel, matahari kelihatan gelap," tulisnya. Kaisar Jerman, Frederick III, malah menangis tersedu kala berita itu sampai kepadanya. "Tanganku gemetar, bahkan saat menulis jiwaku ketakutan," akunya.

Jatuhnya Konstantinopel itu membuat ketakutan seluruh Eropa. Berita itu tersebar secepat sebuah kapal berlayar. Secepat seekor kuda berlari. Dan senyaring sebait lagu dinyanyikan.
Berita buruk itu meluas hingga ke Perancis, Spanyol, Portugal, negara-negara Balkan, Serbia, Hungaria, Polandia, Denmark dan seluruh negeri Eropa lainnya. Eropa pun mengutuk kejadian itu luar biasa. 
Christian I, raja Denmark dan Norwegia, saking emosinya menggambarkan Mehmet II (Sultan Muhammad Al Fatih) sebagai binatang buas yang akan keluar di hari kiamat.
Eropa pun sibuk menggalang kekuatan. Saluran diplomatik antar kerajaan era itu, sibuk dipenuhi berita dan peringatan akan kejatuhan Konstantinopel. Mereka terus merancang pasukan Tentara Salib lanjutan.
Kisah takluknya Konstantinopel itu tak hanya didengar di kastil-kastil kerajaan. Tapi jadi perbincangan di persimpangan jalan, pasar, dan penginapan-penginapan. "Dia tersiar ke sudut Eropa paling jauh dan orang yang paling tertinggal", tulis Crowly lagi.
Takluknya Konstantinopel itu sangat mempengaruhi kehidupan agama, militer, ekonomi dan psikologis. Sosok Sultan Muhammad Al Fatih jadi bayangan ketakutan bagi orang Yunani, Venesia, Genoa, Paus di Roma, Hungaria, dan bangsa-bangsa Balkan. Eropa ketakutan Sultan Mehmet II itu bakal merambah Eropa dan menaklukannya. Karena mereka tahu kekuatan pasukan Islam saat itu sangat luar biasa. Eropa juga sadar kala itu pasukan mereka tak sanggup mengimbanginya.

Menariknya lagi, hampir seluruh warga Eropa mendengar kisah heroik Sultan Muhammad Al Fatih kala kali pertama memasuki Konstantinopel. Kalimat Mehmet II itu begitu mengaung di telinga orang-orang Eropa. "Aku berterima kasih pada Nabi Muhammad yang telah memberi kita kemenangan besar ini. Namun aku tetap berdoa agar diberi umur panjang sehingga bisa menyerang dan menaklukan Roma Lama (ibukota Italia) seperti dia memberiku kesempatan memiliki Roma Baru (Konstantinopel)". 
Kalimat inilah yang didengar seram penduduk Eropa. Mereka yakin Sultan Utsmaniyah itu bakal merangsek Eropa untuk merebut Roma.

Tapi kebencian terhadap orang-orang Turki pun merambah. Eropa begitu sentimen dengan Turki. Di Inggris, sejak 1536, kata Turk dipakai dalam bahasa Inggris, menurut Oxford English Dictionary, diartikan "seseorang yang berperilaku barbar dan biadab".
Ketakutan Eropa makin menjadi kala tentara Utsmaniyah mulai merangsek menuju Roma. Koloni-koloni Genoa dan Yunani satu per satu ditaklukan. Sinop, Trebizond dan Kaffa takluk ditangan pasukan Islam. Pada 1462, tentara Utsmaniyah menyerbu Wallachia. Setahun berikutnya berhasil merebut Bosnia. 1464, Mehmet II berhasil merebut Morea. Lalu 1474, Albania pun direnggut. 1476 giliran Moldova ditaklukkan.
Tahun 1477, prajurit Utsmani menjarah pedalaman kota Venesia, Italia. Venesia dapat merasakan dengusan panas napas Islam dari kerah jubah mereka. Tahun 1481, ratusan pasukan Islam berhasil mendarat di wilayah Italia  dan langsung bergerak menuju Roma. Di Roma, Paus sudah diambang ketakutan. Malah tersiar kabar Paus sempat melarikan diri. Pasalnya kala pasukan Islam merebut Otranto, uskupnya ditebas di atas altar. Tapi kemudian Sultan Muhammad Al Fatih meninggal dunia. Dia belum sempat menuju Roma.
Kematian Sultan Mehmet II ini disambut kegirangan luar biasa oleh Eropa. Malah setiap gereja Katolik di Italia membunyikan lonceng di siang hari sebagai peringatan atas kematian Sultan Utsmani itu. "Sampai kini lonceng itu terus didengungkan," tutur Felix Siauw, seorang penulis buku "1453 Sultan Muhammad Al Fatih" kepada Mahkamah.
Tapi di tahun itu, ratusan tentara Islam sudah berjalan-jalan di daratan Eropa. Mereka sangat ditakuti Eropa. Pasukan Islam dengan teknologi canggih, tak mampu ditandingi pasukan Eropa kala itu.
Kedigdayaan pasukan Utsmani pun terus jadi pembahasan di Eropa. Di Perancis, 80 buku diterbitkan khusus mengulas tentang Utsmaniyah. Kejadian itu di tahun 1480-1609. Buku tentang berdirinya negara Amerika Serikat saja, kala itu hanya dicetak 40 buku. Eropa lebih menggandrungi kisah Utsmaniyah dibanding munculnya negeri USA.
fotoBuku-buku tentang Islam pun banyak bertebaran. Tahun 1603, seorang penulis Inggris, Richard Knolles, menulis buku best seller The General History of the Turk. Kala itu kepustakaan Inggris dipenuhi buku-buku yang mengulas tentang Turki sebagai "teror dunia saat ini."
Kebanyakan, buku-buku Eropa itu mengulas peperangan yang banyak dimenangkan pasukan Utsmaniyah. Eropa kala itu betul-betul dilanda kemaruk mengulas tentang Islam. 
Malah, di tahun 1599, Ratu Elizabeth I, penguasa Inggris, mengajak damai Sultan Mehmet III (pengganti Sultan Muhammad Al Fatih). Elizabeth mengirimkan sebuah hadiah persahabatan, organ. Malahan Ratu itu sampai mengirimkan pembuatnya, Thomas Dallan, langsung ke Istambul (kota Konstantinopel setelah ditaklukkan Islam).
Kala berada di istana Istanbul, Thomas terkesima luar biasa. Dia diajak berkeliling Istana dan ruang tempat Sultan menerima tetamu. Dia terkagum-kagum. "Seluruh pemandangannya mengira saya sedang berada di dunia lain," ujarnya.

Begitulah. Di abad pertengahan itu, Eropa memang dilanda ketakutan akan kekuatan pasukan Islam. Kini tentara Barat berkeliaran di negeri-negeri jazirah. Pasukan AS, Inggris, Perancis, Kanada, Belgia, dan lainnya, saban hari berada di Tunisia, Irak, Afganistan, Arab Saudi dan kawasan Arabia lainnya. Bila menyimak sejarah, tentu keberadaan mereka kini tak bisa dipandang sebagai pasukan perdamaian semata. [mahkamah/www.globalmuslim.web.id]
Powered by Blogger.