Seorang petani memetik cabai di kebunnya. Akhir-akhir ini harga cabai melonjak, hingga Rp 100 ribu per kg.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Krisis pangan global mengancam Indonesia. Harga-harga bahan pokok (sembako) saat ini telah melonjak tak terkendali.
Ketua Komisi Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Ketahanan Pangan, Franciscus Welirang mengatakan, akibat perubahan iklim yang tidak jelas pada 2010 hingga awal 2011 menyebabkan krisis pangan di dunia.
Menurutnya harga jagung dunia saat ini telah naik 40 persen. Harga kedelai naik 30 persen dan harga beras naik 40 persen sehingga menyebabkan inflasi.
"Pemerintah saat ini belum mengakui harga beras telah naik, tetapi pada kenyataannya harga beras termurah Rp 7.000 per kg, sedangkan beras cianjur Rp 10.000," katanya saat membuka Indofood Riset Nugraha (IRN) di Jakarta, Senin (7/2/2011).
Pada kenyataannya, di tingkat eceran harga cabai rawit hingga kini masih terus membubung. Cabai rawit merah murni, di pasar harganya masih berkisar Rp 125 ribu. Sedangkan cabai rawit campur di kisaran Rp 100 ribu per kg.
Menurut, lelaki yang akrab disapa Frankie ini, melonjaknya harga bahan baku pokok tersebut telah diluar jangkauan pemerintah, karenaterjadi di seluruh dunia, akibat tidak jelasnya perubahan iklim. Yakni pada musim kemarau lalu tetap terjadi hujan sepanjang tahun.
"Tanaman tidak mampu berfotosintesa dengan sempurna, akibatnya tanaman tidak bisa berbuah, sehingga produksi menurun. Bahkan produksi tanaman sawit saat ini menurun dan kualitasnya menurun,"ujar Frankie.
Kenaikan harga tersebut juga membuat produsen makanan jadi harus semakin efisien. Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk ini mengatakan, harga mie instan pada dua tahun terakhir telah naik dua kali yaitu pada Agustus 2010 dan Februari 2011 ini sebesar Rp 50 per bungkus.
"Untuk produk-produk jadi, harganya sangat relatif. Bisa terpengaruh harga bahan baku bisa juga tidak, yang penting adalah efisien saat berproduksi. Bila efisien, maka harga barang yang bermerk ini tidak akan naik," ujarnya.
Namun demikian, Frankie meminta kepada pemerintah untuk rela memangkas kebijakan-kebijakan yang memberatkan pengusaha dan masyarakat. Sebagai contohnya pajak pertambahan nilai (PPn) sebesar10 persen dari harga, sudah saatnya dipangkas.
"Bahkan negara lain pun telah ada yang memberikan insentif dan kebijakan PPn nol persen," ujarnya.
Frankie juga meminta agar pemerintah membuat standar ketahanan pangan, yaitu membuat ukuran standar terhadap pengolahan bahan baku yang saat ini belum dibuat oleh pemerintah. Dia memberikan contoh, Pemerintah Indonesia tidak memiliki standar penyimpanan jagung, kedelai atau beras yang aman."Padahal negara-negara lain telah memilikinya. Dan ini akan membuat nilai tambah, bagi bahan baku yang memenuhi standar tersebut,"jelasnya.

Post a Comment