Hizbut Tahrir Indonesia Sesalkan Bentrokan Ahmadiyah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bentrokan antara Ahmadiyah dengan warga Kampung Pendeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten yang terjadi 6 Februari lalu dan menyebabkan tiga anggota jemaah Ahmadiyah tewas, menurut Hizbut Tahrir Indonesia sebenarnya tidak perlu terjadi, andai pemerintah bersikap tegas menyangkut keberadaan Jemaah Ahmadiyah.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto, dalam press releasenya yang diterima Tribunnews. Bentrokan tersebut adalah bentrokan untuk kesekian kalinya, sebelumnya bentrok serupa terjadi di Ciampea, Bogor, lalu di Desa Manis Lor, Kuningan, dan yang terakhir pada 29 Januari lalu bentrok juga terjadi di Makassar.

Menurutnya, bentrokan di Cikeusik dan yang terjadi sebelumnya dipicu oleh fakta bahwa Jemaah Ahmadiyah memang tidak mengindahkan larangan untuk beraktivitas sebagaimana disebutkan dalam SKB Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri Nomor 199 Tahun 2008.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa yang paling utama, bentrok itu dipicu oleh ketidaktegasan pemerintah dalam hal ini Presiden SBY, yang hingga sekarang tidak juga kunjung mengeluarkan keputusan terhadap keberadaan Ahmadiyah di Indonesia.

Lambatnya Presiden dalam mengambil keputusan bisa dianggap turut membiarkan terjadinya konflik horisontal, karena warga akan mengambil jalan sendiri-sendiri dalam menyelesaikan persoalan Jemaah Ahmadiyah ini. Ketidaktegasan itulah yang kemudian memunculkan gesekan dengan umat Islam di berbagai tempat.

Untuk itu Hizbut Tahrir Indonesia berharap agar pemerintah dalam hal ini Presiden SBY, dapat segera mengeluarkan keputusan tegas, sehingga persoalan Jemaah Ahmadiyah dapat diselesaikan dengan tuntas dan menutup pintu terjadinya bentrok lebih lanjut.