Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tanggal 28 Februari negeri ini setiap tahunnya tidak lepas dari peringatan Hari Gizi Nasional. setiap tahun di peringati tetapi nampaknya permasalahan gizi buruk alih-alih berkurang justru yang ada semakin banyak. tentu sebagai warga negara Indonesia kita perlu sekiranya mempetanyakan sejauhmana kesungguhan pemerintah dalam menangani masalah gizi buruk Selama ini. maka tak heran, jika beberapa hari yang lalu banyak kalangan tidak hanya dari agamawan, melainkan tokoh dan kalangan intelektual bersura tentang kegaggalan negara dalam mensejahterakan masyarakat. apalagi dari kalangan mahsiswa yang dengan lantang menyuarakan negara ini telah gagal. bukti kekagagalan negara adalah gagal mensejahterakan masyarakat termasuk diantaranya mengentaskan gizi buruk.
bagaimana mungkin negara ini bisa maju jika generasi-genarasinya mengalami keukurangan giji ,maka dari itu mustahil suatu negara bisa menjadi negara besar jika permasaahan gizi masayarakatnya saja tidak bisa terpenuhi dengan baik. yang ada adalah masyarakat yang penuh dengan pesakitan.
kasus gizi buruk di negeri ini membuktikan potret buram yang senantiasa menghinggapi setiap masyarakat yang ada. seperti yang di alami Muhamad Irfan. Lengan Muhamad Irfan nyaris tak berdaging. Bobotnya cuma 10 kg. Sudah empat minggu tubuhnya panas. Seminggu lalu tungkai kaki kiri terasa amat sakit sehingga tak bisa berjalan. Nurliana Adriati Noor dari Bagian Humas RSUD Abdoel Wahab Sjachranie, Kota Samarinda, mengatakan, Irfan sebelumnya hanya makan nasi, garam, air hangat, dan tak terbiasa minum susu.
Siti Farida, ibunda Irfan, mengaku sulit menyediakan makanan bergizi di rumah. Rusdi (29), suaminya, berpenghasilan Rp 500.000 per bulan dari tempatnya bekerja, persewaan tenda nikah. Karena itu yang lebih sering ada di rumahnya hanya nasi, garam, dan air minum. Kadang-kadang, Farida membeli tempe, tahu, dan ikan. Namun, Irfan tak doyan, lalu minta mi instan. ”Uang habis untuk makan dan bayar listrik, susu tak terbeli,” katanya.
tentu jika kita melihat kasus Muhammad Irfan maka kita tidak lepas dari dampak sistemik gizi buruk selama ini. dikatakan sistemik karena nampaknya permasalahan gizi buruk di negeri ini bukanlah menimpa pada satu atau dua orang, melainkan sudah merambah di hampir wilayah tidak terkecuali di kota besar seperti Jakarta.
permasalahan tersebut tidak lepas dari lingkaran setan kemiskinan yang diakibatkan system kapitalis. masyarakat yang miskin tentu dipastikan tidak akan mampu memenuhi gizi dengan baik. jangankan untuk memenuhi gizi sekedar memenuhi kebutuhan perut saja nampaknya sangat sangat sulit bagi mereka. lalu bagaimana mungkin bisa menghaslikan SDM berkualitas jika gizinya saja tidak terpenuhi, karena hal ini akan mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. begitupun jika masyarakatnya tidak cerdas maka dipastikan tingkat produktivitasnya akan berkurang jika hal itu yang terjadi maka ini akan berpengaruh kepada tngkat pendapatanyan yang pasti berkurang. inilah yang di sebut dengan lingakaran setan kemiskinan (Civius cyle)
inilah yang di sebut dengan lingkaran setan kemiskinan yang saat ini begitu Nampak terlihat jelas. hampir di setiap media masa televisi setiap harinya menggambarkan potret buram kemiskinan dan gizi buruk. yang lebih dahsyatnya hal ini terjadi di hampir negera-negara berkembang yang menganut kapitalis tidak terkecuali Indonesia. di Indonesia kasus gizi buruk tidak hanya menimpa irfan, tetapi kasus yang di alami irfan akibat dari gizi buruk sangatlah besar. sungguh masih ada ribuan bahkan jutaan irfan-irfan lain yang merupakan dampak gizi buruk.
tentu gambaran di atas bisa di jadikan Indikator kegagalan negara dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya. Kasus busung lapar dan gizi buruk mencerminkan hal ini. Yang lebih menyedihkan, secara nasional jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia ternyata sangat besar. Menurut hasil Susenas 2003, seikitar 27.3% balita Indonesia kekurangan gizi. Artinya, dari jumlah 18 juta balita pada tahun 2003, 4.9 juta mengalami masalah gizi buruk. Tahun 2005, sesuai proyeksi/prakiraan penduduk Indonesia oleh BPS, anak usia 1-4 tahun adalah sebanyak 20.87 juta. Jika angka 27.3% digunakan, diperkirakan sebanyak 5.7 juta anak balita mengalami masalah gizi buruk. Balita yang mengalami busung lapar atau kekurangan gizi sangat parah adalah sebanyak 8%, yaitu 1.67 juta balita. Inilah potret kualitas hidup mayoritas rakyat negeri yang kaya-raya ini.
Selain itu data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel (2007) menunjukkan dari total 193.782 anak dan anak balita di Sumsel, sebanyak 2.061 anak balita digolongkan gizi buruk dan 20.278 anak balita kurang gizi.
ketersediannya gizi bagi masyarakat merupakan salah-salah satu dari indicator Indeks Pembangunan Manusia (IPM). jika dilihat dari laporan yang dikeluarkan United Nations development Programs (UNDP), peringkat IPM Indonesia mengalami fluktuaktif dimana urutan yang menempatkan posisi Indonesia selalu naik turun pada tahun 2004 urutan Indonesia berada pada posisi 108 dari 177 negara. Namun pada tahun 2007 posisi Indonesia turun 3 ke posisi 111.
ironisnya Pada saat bersamaan pemerintah selalu memangkas subsidi bagi rakyat, ini terlihat dari belanja fungsi kesehatan dari 19,8 triliun Rupiah di APBN P 2010 menjadi 13,6 triliun Rupiah di APBN 2011. Anggaran yang dialokasikan untuk menanggulangi gizi buruk pada balita hanya Rp 209,5 miliar. Padahal dari berbagai data, di Indonesia terdapat 4,1 juta balita yang mengalami gizi buruk. Artinya, untuk satu balita hanya dialokasikan sekitar Rp 50 ribuan/balita/tahun atau sekitar Rp 4 ribuan/balita/bulan. lalu bagaimana mungkin bisa menghasilkan generasi yang berkualitias dengan biaya 4 ribu? jangankan untuk satu bulan mungkin untuk asupan gizi satu hari perbayi pun akan sangat kurang. tentu ini bagaikan pepatah jauh panggang dari api. menginginkan pengentasan gizi buruk dan melahirkan generasi yang hebat atau tetapi perhatian untuk kearah itu terasa sangat minim.
luar biasanya lagi ternyata kasus ini gizi buruk tidak hanya terjadi di Indonesia. Di seluruh dunia, setiap hari 26.500 anak-anak meninggal. Data ini menunjukkan:
· Seorang anak meninggal setiap 3 detik
· Setiap 1 menit 18 anak-anak meninggal
· Hampir 10 juta jiwa anak-anak meninggal dalam setahun
· Setidaknya 60 juta anak-anak kehilangan nyawa antara tahun 2001-2006
Pembunuh mereka semua adalah kemiskinan, kelaparan, penyakit dan kesehatan yang buruk. Mayoritas dari 9,7 juta jiwa nyawa anak-anak yang melayang berasal dari dua tempat, yaitu: Sub sahara afrika dan Asia selatan.
POTRET MASA DEPAN INDONESIA
Saat ini rakyat Indonesia yang hidup miskin dan hampir miskin (dengan jumlah penghasilan antara US$ 1 s/d US$ 2 per hari atau Rp. 9000,- s/d Rp.18.000,- per hari menurut MDGs), ternyata jumlahnya lebih dari 90 juta orang, atau 42% dari jumlah penduduk. Sedangkan apabila kemiskinan dilihat dari non-pendapatan yakni dari tingkat kesehatan, pendidikan dan pengangguran kondisinya ialah sebagai berikut: Kondisi kesehatan di Indonesia sangat memprihatinkan, bisa kita lihat dari tingginya tingkat kematian ibu pada saat persalinan yakni mencapai 307 kematian dari setiap 100.000 kelahiran hidup. Selain itu menurut “Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia”, terinyata 70% wanita hamil di Indonesia menderita penyakit anemia. Oleh karena itu, tidak heran jika 13 juta anak Indonesia di bawah umur lima tahun menderita kekurangan gizi kronis. Akibatnya 33% dari anak-anak yang berada pada usia sekolah (6 sampai 12 tahu) menderita penyakit anemia (Sumber: United Nation World Food Program).
Karena kondisi kesehatan yang parah akibatnya tingkat pendidikan rakyat miskin di Indonesia juga sangat rendah yaitu hanya 55% dari rakyat miskin yang mampu menyelesaikan pendidikan SMP (Sumber: Making the new Indonesia Work for the Poor, indopov – World Bank). Penduduk diatas usia 15 tahun yang masih buta aksara di tahun 2006 sebanyak 18,2 juta orang dimana 68%nya adalah perempuan. Sedangkan dari tingkat pengangguran, menurut BPS saat ini terdapat 9% dari 110 juta angkatan kerja.
Solusi Islam mengatasi Gizi buruk
Gizi buruk yang menimpa masyarakat Indonesia saat ini tentu tidak lepas dari fakor kemiskinan yang menimpa masyarakat Indonesia. berdasarkan kriteria bank dunia yang menyebutkan berdasarkan criteria kemiskinan sebesar US$ 2/hari atau dibawah Rp 540,000 maka dengan menggunakan data Susenas 2010, sebanyak 63% penduduk Indonesia miskin. Pembanding lain, berdasarkan Survey Rumah Tangga Sasaran Penerima Bantuan Langung Tunai (BLT) oleh BPS tahun 2008 diperkirakan 70 juta orang yang masuk kategori miskin dan hampir miskin (near poor). Angkanya lebih tinggi lagi jika dilihat dari penduduk yang membeli beras miskin pada 2009 yang mencapai 52 persen atau 123 juta orang. (www.hizbut-tahrir.or.id) tentu data tersebut hampir mendekati data yang di berikan oleh bank dunia. Berdasarkan kriteria bank dunia menyebutkan sebesar 108,78 juta atau 49% penduduk Indonesia miskin, karena hidup kurang dari 2 Dollar perhari atau sekitar Rp.19.000.
dalam islam gizi buruk merupakan tanggung jawab negara karena tugas negara adlah memberikan pelayanan yang seaik baiknya. hal ini tentu sesua dengan hadis yang diriwayatkn oleh bukhari dan muslim
“Kamu semuanya adalah penanggungjawab atas gembalanya. Maka, pemimpin adalah penggembala dan dialah yang harus selalu bertanggungjawab terhadap gembalanya.” (Hr. , al-Bukhâri, Muslim, Abû Dâwûd dan at-Tirmîdzi dari Ibn Umar).
Dengan demikian sudah selayaknya dalam islam negara memberikan pelayanan sebaik baiknya kepada rakyat. tentu salah satu diantaranya memberikan asupan gizi yang cukup bagi rakyatnya. Karena itu semua merupakan tanggung jawab negara. dalam sirah pun di ceritakan bagaimana seorang khalifah umar bin khatab setiap malam datang tidak pernah tidur nyeyak. hal ini di khawatirkan karena masih terdapat masyarakatnya kelaparan. maka tidak heran khalifah umar sering melakukan sidak ke rumah-rumah penduduknya untuk melihat bagaimana kondisi rakyatnya. ketika ditemukan terdapat keluarga yang sedang memasak batu, maka khalifah umar langsung bergegas memangku sekarung gandum untuk keluarga miskin tersebut. sungguh luar biasa fenomena yang mungkin jarang bahkan belum pernah dilakukan oleh pemimpin negeri ini. disaat malam datang mungkin mereka tiduk nyeyak berselimutkan kemewahan. itulah gambaran pemimpin kita saat ini. seolah kondisi rakyat di yang bergelimpangan dengan gizi buruk seolah menjadi hal yang wajar. padahal itu semua akan di mintai pertanggung jawabannya di hadapan allah.
oleh karena itu jika kita ingin hidup berkah dan bebas dari gizi buruk maka solusi yang sangat rasional adalah terapkan islam. Allah SWT berfirman:
Artinya
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (TQS. Al A’raf [7] : 96)
Oleh: Julian
(Direktur Pembinaan dan Pengkaderan Pusat Kajian dan Pengembangan Ekonomi Islam FPEB Universitas Pendidikan Indonesia dan Aktivis BKLDK JABAR)

Post a Comment