Datangi Masjid, Korban Selamat Holocaust Picu Kemarahan Yahudi
CALIFORNIA (Berita SuaraMedia) – Sacramento secara perlahan menyuburkan ikatan antar agama sedang dibentangkan pada batasannya oleh seorang korban selamat Holocaust, 86 tahun yang dijadwalkan untuk berbicara di sebuah Masjid lokal tentang Holocaust Nazi dan perlakuan Israel terhadap warga Palestina. Korban selamat Auschwitz, Hajo Meyer membuat perhentian yang ke-11 pada tur nasionalnya yang bertajuk "Never Again for Anyone" (Jangan Pernah Lagi Untuk Siapapun) di Liga Sacramento Pusat Islam Asosiasi Muslim.
Meyer telah menyamakan Holocaust dengan penjajahan Israel terhadap kawasan-kawsan Palestina, menyulut api kemarahan yang intens dari komunitas Yahudi Sacramento dan Liga Anti-Penistaan.
"Membandingkan Israel pada Nazi Jerman adalah hal yang memuakkan, anti-Semitik dan mencemari memori suci dari jutaan orang yang tewas dalam Holocaust," kata Rabi Reuven H. Taff, presiden dari Dewan 13 anggota Rabi Sacramento, dalam sebuah pertukaran surat sipil namun emosional dengan Imam SALAM, Mohamed Abdul Azeez.
Dewan Rabi memuji Azeez karena upaya pembangunan jembatannya dengan komunitas agama lainnya, namun memintanya untuk memboikot acara atau menghentikan acara tersebut terwujud di SALAM. Jika ia tidak melakukannya, Taff mengatakan dalam sebuah surat kepada Azeez, "maka semua pekerjaan baik yang Anda lakukan untuk membantu mendukung hubungan dengan komunitas antar agama akan menjadi sangat terkacaukan."
"Acara tersebut tidak akan digagalkan," kata Azeez, yang mendorong "siapapun teman kami di komunitas Yahudi hadir, bertanya dan keikutsertaan pembicara."
Azeez mencatatkan delapan organisasi nasional dan sembilan organisasi lokal yang mensponsorinya, termasuk dari Florin Japanese American Citizen League dan cabang lokal Jewish Voice for Peace.
Azeez mengatakan bahwa seorang anggota Muslim Amerika untu Palestina memesan balai tersebut dan acara tersebut tidak disponsori oleh SALAM. Ia mengatakan bahwa dewan SALAM menyelidiki pembicara, yang sebagai tambahan untuk Meyer termasuk ilmu politik Universitas California Berkeley Hatem Bazian, seorang Palestina Amerika.
"Anda memiliki seorang korban selamat dari Holocaust berbicara untuk pertama kalinya kepada komunitas Muslim tentang Holocaust dan menempatkannya dalam sebuah konteks modern bahwa hak untuk semua orang seharusnya dihormati," Azeez mengatakan "Dunia sedang berubah, dan ini saatnya untuk kita melakukan lebih banyak dialog tentang idola yang tidak dapat tersentuh tersebut," seperti perlakuan Israel terhadap warga Palestina.
Azeez setuju bahwa rabi tersebut mengajukan sebuah kekhawatiran yang sah – "adanya upaya untuk menyamakan Holocaust dengan apa yang terjadi di Palestina adalah sebuah kejahatan."
Azeez mengatakan bahwa manajemen SALAM tidak akan memperbolehkan para pembicara untuk membandingkan Israel dengan Nazi.
Namun Taff mengatakan pandangan Meyer tidak dapat ditolerir untuk komunitas Yahudi, dan menambahkan bahwa rabi bisa mendapati korban selamat Holocaust bebricara kepada Muslim Amerika tanpa menyulut permusuhan Muslim-Yahudi.
Rabi Nancy Wechsler-Azen dari Jamaah Beth Shalom mengatakan bahwa pidato-pidato Meyer dan tulisan-tulisannya adalah "yang paling menyinggung – program tersebut memajukan kebencian. Ini adalah sebuah upaya untuk mensahkan Israel dan Yudaisme, seperti yang ditentang untuk melakukan sebuah pembahasan yang berarti atas sebuah kebijakan politik."
Wechsler-Azen mengatakan bahwa acara tersebut bukanlah cara untuk menyembuhkan orang-orang " yang memiliki luka semacam itu di antara mereka … kami telah menempa sebuah hubungan yang sangat berarti dengan SALAM, dan kami merasa sedih tentang hal ini."
Meyer, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan kantor berita The Bee, mengatakan bahwa ia selamat setelah 12 tahun berada di bawah Hitler dan 10 bulan berada di Auschwitz.
"Saya memiliki sebuah nomor di tangan saya dan mereka berani memanggil saya seorang anti-Semit?" ia mengatakan.
"Hampir semua organisasi keagamaan Yahudi di dunia telah mencampur Yudaisme – yang universal, humanistis dan ramah kepada siapa saja – dengan zionisme," kata Meyer, yang mendefinisikan Zionisme sebagai sebuah ideologi yang merupakan musuh Arab yang harus dihancurkan.
Jon Fish, presiden Biro Dinas Antar Agama Sacramento menampilkan agama terbesar di kawasan tersebut, mengatakan bahwa Palestina adalah sebuah masalah sosial, bukan sebuah masalah keagamaan.
"Rabi dan imam tersebut telah mengerjakannya," Fish mengatakan, "Namun ini kemungkinan menjadi sebuah situasi yang tidak dapat dimenangkan."
Taff mengatakan bahwa ia menyambut sebuah diskusi antara Yahudi dan Muslim "dalam sebuah atmosfir kolegialitas dan rasa hormat." Namun jika SALAM menjadi tuan rumah sebuah acara yang Taff yakini adalah "anti-Semitik," ia mengatakan, "akan membuatnya menjadi sangat sulit untuk duduk di atas meja yang sama dengan siapa saja yang mendukung atau mengesahkan sebuah program kebencian." (ppt/sbe) www.suaramedia.com

Post a Comment