Campur Tangan AS Penyebab Kemarahan Rakyat Mesir


KAIRO (Berita SuaraMedia) – Sesaat setelah kemenangan revolusi Mesir, pemrotes pro-demokrasi mendesak pemerintahan mendatang untuk mencegah interferensi asing di dalam urusan domestik negara. Orang-orang menolak meninggalkan jalan-jalan sejak hari Jumat (11/2), ketika Presiden Hosni Mubarak menyerahkan kekuasaan ke Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir. Mereka mendesak penguasa baru militer untuk menyerahkan kekuasaan ke sebuah pemerintahan sipil secepat mungkin.
"Kami tidak bersama Amerika atau pemerintahan lain. Kami bisa menolong diri kami sendiri. Kami tidak butuh Amerika, Perancis, atau Israel. Kami telah membuktikan bahwa kami memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Jika Amerika membutuhkan bantuan, kami bisa membantu. Kami lebih besar daripada Amerika," ujar seorang pemrotes.
Mengecilkan kemarahan rakyat pada tanggal 25 Januari ketika pemberontakan dimulai, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menilai pemerintahan sekutu Afrika Utara itu termasuk stabil. Namun kemudian Washington mendukung transisi kekuasaan ke rakyat saat aksi protes mendapatkan momentumnya.
Para pemrotes juga menyerukan kepada pemerintah mendatang agar tidak melemahkan legitimasinya dengan mengakui Israel.
"Aku rasa Israel bukan negara. Aku tidak mempercayainya. Israel hanya pendudukan. Aku pribadi, sebagai orang Mesir, tidak mengakui keberadaan Israel. Pemerintah Arab mana pun yang berurusan dengan Israel atau bekerja untuk Israel juga tidak aku akui," tambahnya.
Pemerintahan terdahulu mendukung Israel sebagai sebuah "negara" dalam tanda kesetiaan ke Washington dan telah bekerjasama dengan Tel Aviv untuk memblokade Jalur Gaza dengan menutup penyeberangan perbatasan Rafah dengan Gaza, yang merupakan satu-satunya terminal Gaza yang memutari Israel.
"Kami tidak bersama Amerika. Kami adalah orang Mesir dan kami bisa memutuskan nasib kami sendiri. Kami tidak mengakui pemerintahan asing lain mengatakan bahwa mereka akan memutuskan untuk nasib kami. Hanya kami yang memutuskan," ujar pemrotes lain.
Revolusi itu menyusul revolusi serupa di Tunisia, yang mengakhiri 23 tahun kekuasaan Presiden Zine El Abidine Ben Ali.
"Kami menentang interferensi AS dalam pembentukan pemerintah demokratis Mesir. Kami menentang interferensi asing mana pun. Kami menentang keterlibatan Amerika dan Perancis dalam urusan kami," ujar demonstran lain. (rin/ptv) www.suaramedia.com