WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Pemerintah AS telah menuduh Inggris mengesahkan rejim Gaddafi setelah pembunuhan masal ratusan demonstrator pro-demokrasi di Libya. Louis Susman, duta besar AS untuk London, menyarankan gerakan-gerakan untuk memperbaiki hubungan dengan diktator Libya hanya bertugas untuk memberikan "tingginya mutu yang lebih hebat" pada panggung dunia smentara para pelaku kampanye mengutuk persesuaian tersebut sebagai sebuah kegagalan.
Lebih dari 300 demonstrator diperkirakan telah terbunuh setelah pasukan yang setia kepada Kolonel Muammar Gaddafi menyerang mereka dengan tembakan jitu, pisau dan artileri berat.
Kota bagian timur Benghazi dikatakan berada dalam sebuah posisi "pemberontakan sipil" setelah pasukan tersebut, diyakini adalah tentara bayaran Afrika, menyerang kerumunan massa pemakaman korban tewas dari kerusuhan sebelumnya.
Kerusuhan yang mengikuti penggulingan para penguasa negara tetangga Tunisia dan Mesir dan protes di Bahrain, dikabarkan telah menyebar ke seluruh kota Libya tadi malam.
Downing Street mengatakan bahwa David Cameron "sungguh-sungguh prihatin oleh laporan meningkatnya kekerasan dan besarnya jumlah warga sipil yang tewas". "Kami mengutuk adanya penggunaan pasukan oleh otoritas Libya terhadap para pemrotes damai. Penindasan semacam itu tidak dapat diterima, kontraproduktif dan salah," kata sebuah pernyataan. "Pemerintah Libya harus mendengarkan pandangan-pandangan rakyatnya dan menanggapi mereka."
William Hague, menteri Luar Negeri, menyuarakan kekhawatirannya dalam sebuah telepon pada anak Gaddafi yang bersekolah di Inggris, Saif.
"Dunia tidak seharusnya ragu-ragu untuk mengutuk tidnakan seperti itu," ia mengatakan.
"Apa yang Kolonel Gaddafi seharusnya lakukan adalah menghormati hak asasi manusia mendasar, dan tidak ada tanda bahwa dalam tanggapan yang menakutkan, dari otoritas Libya pada protes tersebut."
Duta besar Libya diharapkan untuk dipanggil ke Kantor Departemen Luar Negeri secepatnya hari ini untuk menjelaskan reaksi kekerasan pada ketidaksepakatan tersebut, sementara para ekspatriat Inggris di negara tersebut sedang didesak untuk pergi kecuali mereka memiliki sebuah kebutuhan "mendesak" untuk tinggal.
Ratusan pemrotes berkumpul di luar kedutaan Inggris di London menyerukan penggulingan rejim tersebut.
Guma El-Gamaty, seorang penulis Libya dan aktivis politik, mengatakan bahwa ia merasa takut sebuah pembunuhan masal yang "belum pernah terjadi sebelumnya di Afrika Selatan" kecuali para pemimpin Barat termasuk Cameron memberikan tekanan akut pada rejim Gaddafi. "Percayalah saya, Gaddafi akan jatuh namun ia tidak akan pergi tanpa membunuh sebanyak mungkin orang," ia mengatakan.
Disamping adanya kecaman kekerasan, keduanya, Hague dan Kenneth Clarke, Menteri Kehakiman, membela perdagangan multi juta dolar yang menghubungkan dengan Libya, membuka "perjanjian Tony Blair di padang pasir" pada tahun 2007. Clarke mengatakan kepada kantor berita BBC: "Saya tidak berpikir bahwa kami telah membuat suatu kesalahan dalam berinvestasi di sana."
Susman mengatakan: "Saya akan menyarankan bahwa untuk berhubungan dengan dirinya, untuk memberinya mutu tinggi yang lebih hebat, kemampuan yang lebih hebat di front dunia untuk agar ia terlihat seperti warga negara yang baik adalah sebuah kesalahan."
Mona Rishmawi, penasihat legal untuk UNHCR, mengatakan bahwa ada sebuah "tanda tanya yang nyata" atas penjualan persenjataan kepada rejim tersebut.
"Kami sangat prihatin tentang kemungkinan kesulitan di dalam pelanggaran hak asasi manusia," ia mengatakan. Pekan lalu Inggris mengumumkan bahwa persitiwa tersebut menarik kembali lebih dari 50 eksport lisensi senjata untuk Bahrain dan Libya, termasuk barang-barang seperti gas air mata.
Daniel Kawczynski, pimpinan Tory dari Dewan Perwakilan komite semua partai di Libya, mengatakan bahwa publik akan merasa "benar-benar penuh kebencian" melakukabn bisnis dengan rejim Libya.
Tadi malam, Libya mengatakan bahwa pihaknya akan menghentikan bekerjasama dengan upaya untuk menghentikan imigrasi ilegal ke dalam Eropa jika Uni Eropa mendorong protes tersebut. (ppt/tlg) www.suaramedia.com

Post a Comment