DUBAI (Berita SuaraMedia) – Otoritas Palestina menawari Israel konsesi tanah bersejarah di Yerusalem timur, tapi Israel menolak untuk menyerahkan tanah yang didudukinya di Tepi Barat, menurut dokumen rahasia dari sebuah pertemuan yang dihadiri oleh diplomat Palestina, Israel, dan Amerika di tahun 2008. Negosiator Palestina, Ahmed Qurei, mengatakan dalam pertemuan yang dihadiri oleh mantan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni dan mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice bahwa Israel boleh menganeksasi semua pemukiman di Yerusalem kecuali Jabal Abu Ghneim (Har Homa).
Qurei menambahkan, "Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah bahwa kami membuat penawaran semacam itu, kami menolak untuk melakukannya di Kamp David."
"Kami tidak bisa menerima aneksasi pemukimnan Ma’ale Adumim, Ariel, Giv’at Ze’ev, Ephrat, dan Har Homa."
Qurei memperingatkan bahwa Israel membangun sebuah pemukiman yang dibangun di sekeliling Yerusalem, "Pembangunan dilakukan setiap hari untuk menyelesaikannya."
"Baru kemarin Menteri Perumahan Ze’ev Boim mengumumkan sebuah rencana untuk membangun 1.300 unit hunian di tanah Beit Hanina dengan tujuan untuk menghubungkan pemukiman Giv’at Ze’ev di Yerusalem," ujarnya menambahkan. "Bukan ini caranya untuk mencapai kemajuan dalam negosiasi."
Konsesi tanah Palestina di Yerusalem adalah sebuah isu sensitif karena begitu pentingnya tidak hanya bagi rakyat Palestina tapi juga kaum Muslim di seluruh dunia.
Bagi kaum Muslim, Yerusalem adalah lokasi perjalanan Nabi Muhammad ke surga seperti yang digambarkan oleh Al-Qur'an.
Terlepas dari konsesi tanah, Israel tampak masih tidak bersedia membalas dengan menarik diri dari semua wilayah yang didudukinya di Tepi Barat.
Mantan Menteri Luar Negeri Israel Livni mengatakan pada delegasi Amerika dan Palestina dalam menanggapi tawaran Palestina, "Ketika kami memutuskan aneksasi itu kami menjelaskan pada Palestina bahwa kami tidak akan menggantinya dengan tanah yang sekarang menjadi bagian dari Israel."
Israel menganggap tanah yang didudukinya di Tepi Barat sebagai bagian dari "Israel saat ini" dan telah konsisten menolak untuk menerima solusi dua negara berdasarkan perbatasan tahun 1967, mengatakan bahwa solusi itu harus didasarkan pada realita di lapangan.
"Isunya sekarang adalah bahwa Palestina tidak akan menerima jika beberapa lokasi menjadi bagian dari Israel," ujarnya. (rin/aby) www.suaramedia.com

Post a Comment