WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Taliban merasa geram terhadap Senator Lindsey Graham, dan perwakilan Republikan asal Carolina Selatan tersebut merasa amat senang. "Saya tidak tahu Taliban juga menonton Meet the Press," kata Graham.
Setelah pada hari Minggu lalu muncul di acara pagi NBC dan menyarankan agar AS setidaknya mempertahankan dua pangkalan udara permanen di Afghanistan, Taliban mengatakan bahwa Graham telah mengungkapkan tujuan-tujuan penjajahan tersembunyi AS.
"Saya tidak akan pernah membiarkan sekelompok penjahat mengintimidasi saya,"kata Graham kepada McClatchy. "Jika gagasan saya (mempertahankan dua pangkalan udara AS di Afghanistan) mengancam mereka, maka itu bagus. Itu membuat mereka marah. Saya rasa mereka paham bahwa hal ini akan menjadi perubahan yang amat menentukan dalam masa depan Afghanistan. Mereka pasti tidak ingin rakyat Afghanistan punya kemampuan untuk melawan mereka."
Proposal Graham bertentangan dengan rencana Presiden Barack Obama untuk mengurangi keberadaan militer AS di Afghanistan pada akhir 2014.
"Kita telah mengorbankan banyak darah dan uang untuk memastikan agar Afghanistan tidak jatuh kembali ke tangan teroris," katanya. "Salah satu cara untuk memastikannya adalah menjalin hubungan dengan Afghanistan jika mereka menginginkannya. Hubungan itu akan dilakukan dalam bentuk ekonomi, politik, dan juga militer."
Mempertahankan dua pangkalan udara AS di Afghanistan, kata Graham, akan mengharuskan 2.000 orang prajurit AS bertahan di sana.
Pada hari Rabu (5/1), Taliban menanggapi pernyataan Graham setelah diucapkan pertama kali pada hari Minggu.
Taliban mengecam Graham melalui pernyataan yang dikeluarkan Emirat Islam Afghanistan, nama mereka saat berkuasa di Afghanistan dari 1996 hingga invasi pada Oktober 2001 menggulingkan rezim tersebut.
"Pernyataannya (Graham) jelas membongkar motif-motif kolonialis Amerika, sebuah hal yang coba diperingatkan oleh Emirat Islam agar mendapat perhatian masyarakat dunia," kata Taliban.
"Faktanya, penjajah Ameruka ingin memperlihatkan dominasinya atas kawasan ini dan dunia di bawah dalih perang melawan teror," kata kelompok itu.
Taliban mengatakan, mereka tidak akan pernah menerima pangkalan militer permanen AS di Afghanistan.
"Emirat Islam Afghanistan dipastikan menolak saran senator Republikan itu," kata Taliban. "Niatan Amerika untuk memelihara pangkalan-pangkalan permanen di Afghanistan berarti memperpanjang penjajahan tanpa batas. Tindakan ilegal ini tidak pernah diterima oleh tiap-tiap warga Afghanistan yang Islam dan patriotis."
Graham merupakan pendukung utama keputusan Obama mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 34.000 orang pada November 2009 lalu ke Afghanistan, dan pekan ini Graha memberikan nilai keseluruhan B plus kepada presiden atas kebijakan perangnya di Afghanistan.
Tanggapan Taliban terhadap Graham menjadi ancaman politik bagi para senator lain.
Sebagai seorang pengacara militer dan kolonel pasukan cadangan Angkatan Udara, Graham merupakan satu-satunya anggota parlemen yang pernah bertugas aktif di Irak dan Afghanistan.
Saat tidak tengah mengenakan atribut militernya, Graham juga mengunjungi Afghanistan sebagai anggota Komite Pengawas Pertahanan Senat AS.
Sejak invasi dimulai lebih dari satu dekade lalu, Graham setidaknya dua belas kali datang ke Afghanistan sebagai kolonel atau senator.
"Ada unsur-unsur dalam Taliban yang mungkin menempuh rekonsiliasi dan kembali ke sistem politik, tapi Mullah Omar dan gerombolannya tak masuk dalam kategori itu," kata Graham. (dn/mh) www.suaramedia.com

Post a Comment