WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Versi publik dari laporan perkembangan sepanjang satu tahun di Pakistan dan Afghanistan yang dirilis Gedung Putih memperjelas bahwa Presiden AS Barack Obama masih mencari pengaruh yang dibutuhkannya untuk membujuk, atau memaksa, Pakistan menutup lokasi persembunyian gerakan yang membuat para pemimpin al-Qaeda dan Taliban bisa bertahan. Laporan rahasia yang telah direduksi tersebut berisi lebih dari 50 halaman, dan Gedung Putih memegangnya dengan amat erat sehingga tidak mungkin didistribusikan secara luas di Capitol Hill.
Akan tetapi, para anggota senior Kongres AS bisa meminta brifing secara rahasia.
"Intinya, kita tidak banyak punya pengaruh, akses, dan kredibilitas di Pakistan," kata salah satu ajudan Obama seperti dikutip New York Times saat tinjauan tersebut tengah dirampungkan.
"Kami juga masih berusaha dan menata kembali tempat ini sehingga kepentingan mereka dan kepentingan kami sejalan," tambah sang ajudan.
Pada hari Kamis, Obama menyampaikan versi yang lebih halus. Ia berkata, "Perkembangan belum terjadi dengan cukup cepat." Ia menambahkan, AS akan bersikeras mengupayakan "agar sarang-sarang teroris di dalam perbatasan mereka harus diatasi."
Tapi, sejauh ini Pakistan menolak ancaman-ancaman Washington yang menghubungkan bantuan militer dengan tindakan memerangi terorisme.
Surat kabar itu menambahkan, mereka baru sedikit lebih terkesan saat Obama berusaha menciptakan, dalam istilahnya, tingkat bantuan perkembangan dan militer yang "signifikan dan tahan lama" sehingga kedua negara tidak menderita dari satu krisis ke krisis lain.
Kenyataannya, di masa mendatang, AS-lah yang akan berurusan dengan sarang-sarang di tanah Pakistan, tulis surat kabar itu.
CIA telah melancarkan 53 serangan drone Predator pada tahun 2009, jumlah yang lebih banyak dibandingkan yang diizinkan George W. Bush semasa ia menjabat presiden. Angka itu meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini, dan meski para ajudan presiden tidak akan membahas program tersebut, mereka memperjelas bahwa laju serangan akan ditingkatkan.
Itu adalah sebuah strategi untuk memberikan tekanan, tidak hanya pada al-Qaeda dan Taliban, melainkan juga kepada pemerintah Pakistan yang amat sensitif mengenai serangan terhadap kedaulatannya, tambah surat kabar itu.
Saat pemerintahan Obama mulai menaksir perkembangan yang mereka capai di Afghanistan dan Pakistan awal tahun ini, sejhumlah pejabat pemerintahan menyarankan pembalikan kekuarangan birokrasi dan menyebutnya "tinjauan PakAf," alasan yang membuat keberhasilan militer AS di Afghanistan amat bergantung pada hasil akhir di Pakistan, yang setidaknya tidak ditempati pasukan AS.
Bagi mereka, Pakistan tetap menjadi kekhawatiran penting bagi Amerika Serikat dibandingkan dengan Afghanistan mengingat keberadaan senjata nuklir di negara yang paling mudah berubah di kawsan yang mudah berubah pula.
Menurut surat kabar tersebut, munculnya sensitivitas sebagian besar diakibatkan kekhawatiran besar yang ada dalam laporan rahasia, namun sengaja dihindari dan tidak dibahas Obama, Clinton, dan Gates: Yakni, meski pemerintahan sipil Pakistan tengah menyeimbangkan diri, mungkin saja ada orang dalam yang menyelundupkan bahan bakar nuklir dari laboratorium-laboratorium mereka, yang merupakan sumber teknologi bom satu dekade lalu untuk Iran, Korea Utara, dan Libya.
Rasa takut itu tampak jelas dalam kawat-kawat rahasia Departemen Luar Negeri AS yang dirilis WikiLeaks, salah satunya adalah bocoran memo yang dirahasiakan matan duta besar untuk Pakistan, Anne Patterson yang menuliskan, "Yang jadi kekhawatiran terbesar kami bukanlah soal militan yang mencuri seluruh senjata, namun kemungkinan seseorang yang bekerja di fasilitas pemerintahan Pakistan yang pada akhirnya dapat secara bertahap menyelundupkan materi yang cukup banyak untuk akhirnya dijadikan senjata nuklir." (dn/nk) www.suaramedia.com

Post a Comment