WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Majalah Time AS mengatakan bahwa Mesir memberikan intelijen pada Israel yang berujung pada pembunuhan Muhammad Al Nimnim, seorang komandan yang berafiliasi dengan faksi Army of Islam di Gaza. Sebuah artikel oleh Karl Vick di Yerusalem yang dipublikasikan pada hari Rabu (10/11) di website majalah itu mengklaim bahwa intelijen Mesir mengumpulkan informasi dari anggota lain yang berasosiasi dengan kelompok itu yang ditahan dan diinterogasi di Mesir bahwa kelompok itu merencanakan serangan terhadap tentara AS di gurun Sinai dan menyampaikan informasi itu ke Israel.
Mobil Nimnim menjadi sasaran rudal dari udara ke darat di tengah kota Gaza yang menyebabkan ledakan besar, menewaskannya, dan melukai beberapa orang.
Di hari yang sama, keamanan internal Israel, Shin Bet, menyatakan bertanggung jawab untuk pembunuhan itu. Harian Ibrani, Yediot Ahronot, mengatakan pada saat itu bahwa Nimnim terlibat dalam sejumlah operasi melawan target-target Israel untuk Army of Islam dan bahwa pembunuhan itu dilakukan setelah intelijen Israel mengetahui bahwa dia merencanakan serangkaian serangan bom di Israel melalui semenanjung Sinai Mesir.
Berbagi intelijen tentang Nimnim dengan rekan Israelnya menandai tingkat kerjasama Mesir yang tidak dilihat oleh rezim Yahudi itu dalam waktu bertahun-tahun. "Mesir membantu lebih banyak lagi," ujar sebuah sumber keamanan di kawasan.
Sumber-sumber yang familiar dengan operasi itu mengaitkan perubahan dalam sikap Mesir dengan kemarahan Presiden Hosni Mubarak pada musuh lain Israel, Hizbullah, perlawanan yang berbasis di Libanon.
Mesir dan Israel telah memelihara hubungan diplomatik sejak menandatangani perjanjian damai di tahun 1979. Perjanjian itu mengembalikan semenanjung Sinai ke Mesir yang direbut Israel dalam Perang Enam Hari tahun 1967. Perjanjian itu juga menugaskan pasukan multinasional yang bertanggung jawab mengawasi gurun dari sejumlah pos pengawasan dan dua pangkalan.
Rencana Army of Islam ditujukan pada pangkalan utara, El Gorah, sekitar 12 mil sebelah barat Gaza, tampaknya diharapkan dapat membunuh beberapa orang Amerika.
Normand St. Pierre, kepala kantor MFO di Kairo, mengatakan bahwa Mesir dan Israel berbagi tanggung jawab untuk keamanan pasukan asing di Gaza. "Hubungan antara kedua negara adalah urusan mereka, dan saya pikir mereka tahu bahwa segalanya akan berjalan lebih baik jika mereka bekerjasama," ujar St. Pierre.
Sumber-sumber Israel juga tidak memberikan detail lebih jauh, meskipun dalam mengumumkan serangan terhadap Nimnim seorang juru bicara Pasukan Pertahanan Israel menggambarkannya sebagai bom waktu.
Nimnim, 27, tinggal di kamp pengungsi Shati, dan merupakan bawahan Mumtaz Dughmush, ketua sebuah klan Gaza dan komandan Army of Islam. Di tahun 2006, Hamas dan Army of Islam bekerjasama dalam menangkap Gilad Shalit, tentara Israel yang masih ditawan di Gaza. Tapi setelah Hamas berkuasa di tahun 2007, kelompok itu meluncurkan serangan terhadap Army of Islam dan laporan berita mengatakan bahwa Nimnim baru-baru ini dipanggil oleh Hamas karena menembakkan roket ke Israel. Hamas menghentikan tembakan roket ke Israel setelah serangan militer Israel di tahun 2008 yang menewaskan ribuan orang, termasuk wanita dan anak-anak. (rin/pic/tm) www.suaramedia.com

Post a Comment