Serangan Israel ke atas kapal bantuan menuju Gaza beberapa waktu lalu adalah "tindakan legal" dan harus dipuji, demikian dinyatakan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu seperti dilaporkan media Israel pada hari Senin (9/8). Komentar Netanyahu tersebut diucapkan di hadapan panel komisi Turkel, yang didirikan untuk menginvestigasi serangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara pada tanggal 31 Mei lalu di perairan internasional, serangan tersebut menewaskan sembilan orang aktivis Turki di atas kapal.
"Saya yakin bahwa investigasi yang Anda lakukan akan menemukan bahwa 'negara' Israel dan IDF bertindak 'sejalan' dengan hukum internasional, dan para prajurit IDF di atas Marmara memperlihatkan keberanian yang mengagumkan sambil melaksanakan tugas mereka dan 'melindungi diri' dari 'ancaman' terhadap nyawa mereka," kata Netanyahu kepada panel yang dikepalai mantan hakim Jacob Turkel.
PM Israel tersebut kemudian menambahkan bahwa para menterinya tidak menggelar diskusi secara mendalam mengenai penyerangan tersebut, namun mereka berfokus pada berbagai aspek yang terkait dengan media. Ia menambahkan, "Operasi itu adalah jalan terakhir."
Kepada panel tersebut, Netanyahu mengatakan bahwa pasukan Israel bertanggung jawab atas pengambilan keputusan melakukan penyerbuan, demikian dikabarkan harian Israel, Haaretz.
Menurut Netanyahu, pelayaran Freedom Flotilla bertujuan "memprovokasi" Israel. Ia menambahkan, "Ada sejumlah elemen berbahaya yang menggunakan argumen 'tidak masuk akal' dan menyebut mengenai krisis kemanusiaan guna membongkar blokade laut," kata Netanyahu seperti dikutip situs berita Ynet.
Ia juga mengatakan bahwa Hamas telah mengubah Jalur Gaza menjadi "sarang teror" dengan "dukungan Iran". Ia beralasan, Israel telah meringankan blokade sebelum kejadian tersebut.
Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak dijadwalkan menghadap panel tersebut hari Selasa untuk didengar kesaksiannya.
Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Gabi Ashkenazi mendapat jatah pemanggilan hari Rabu.
Selain Turkel, mantan hakim Mahkamah Agung Israel, komisi tersebut beranggotakan Profesor Shabtai Rosenne, Mayor Jenderal (purn.) Amos Horev, mantan dirjen Kementerian Luar Negeri Reuven Merchav, dan Profesor Miguel Deutch. Dua orang pengamat asing turut bergabung dalam komisi tersebut, mereka adalah David Trimble dari Irlandia Utara, dan mantan perwira militer Kanada, Ken Watkin.
Netanyahu kabarnya melakukan persiapan dengan para stafnya selama beberapa hari, sebagian dengan cara memperkirakan pertanyaan yang akan diajukan. Sejumlah sumber di kantor PM mengatakan bahwa Netanyahu menganggap testimoni tersebut amat serius.
Tapi, perkataan itu bertentangan dengan bukti di lapangan, sebelumnya terungkap bahwa Israel menyembunyikan kebusukannya dalam pembantaian di atas kapal Turki tersebut.
Salah satunya, Israel ternyata telah mengecat lubang-lubang bekas tembakan peluru di kapal Turki, Mavi Marmara, yang diserang pasukan Israel saat tengah berlayar menuju Gaza dan mengantarkan bantuan kemanusiaan, demikian dinyatakan oleh yayasan bantuan Turki, IHH, pada hari Minggu waktu setempat (8/8).
Menurut yayasan itu, setelah memeriksa kapal Marmara – yang ditahan militer Israel bersama dengan kapal-kapal lain yang ikut dalam armada pelayaran Freedom Flotilla tanggal 21 Mei – kemarin, ditemukan bahwa Israel telah mengecat kapal itu agar bukti-bukti yang bisa membahayakan Israel, karena menunjukkan bahwa memang ada tembakan terhadap penumpang kapal, menjadi kabur.
Juru bicara organisasi itu mengatakan, Israel menyembunyikan bukti ribuan peluru yang ditembakkan ke kapal itu. Ia menambahkan bahwa kapal yang sama mungkin saja dipergunakan dalam upaya lain untuk membuka blokade Israel.
Dalam konteks terkait, konvoi bantuan pertama dari persatuan parlemen Arab ke Gaza diberangkatkan hari Minggu (8/8) kemarin dari ibu kota Mesir, Kairo. Para anggota konvoi dijadwalkan tetap berada di Gaza hingga 12 Agustus mendatang. (dn/mn/sm) www.suaramedia.com

Post a Comment